Dua minggu berlalu, Rendra tak kunjung kembali. Hati Yani mulai dirundung rasa cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada suaminya itu. Belum lagi, banyak tetangga yang mengatakan lelaki kota mudah untuk meninggalkan satu wanita demi wanita yang lain.
Setiap hari dihabiskannya untuk duduk merenung menunggu kedatangan Rendra. Meski tak jua tampak kedatangan suaminya itu.
Malam ini entah mengapa cuaca menjadi mendung. Gemuruh petir dan angin kencang membuat Yani ketakutan. Ia meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk guling. Namun, sayup-sayup ia mendengar suara pintu yang diketuk.
Yani mencoba menajamkan lagi pendengarannya. Ia merasa yakin, bahwa pintu rumahnya yang memang sedang di ketuk seseorang dari luar. Perlahan Yani bangkit dan berjalan menuju pintu. Pintu di ketuk berkali-kali dan semakin keras. Yani mengintip dari balik tirai jendela.
Alangkah terkejutnya Yani, saat ia melihat seseorang di luar sana adalah Rendra. Dengan hati yang riang gembira dibukanya pintu itu. Yani mempersilakan Rendra masuk. Pakaiannya basah kuyup terguyur hujan.
Bergegas Yani menghangatkan air guna Rendra mandi. Setelah itu, sambil menunggu Rendra yang mandi Yani membuatkan teh manis hangat. Juga menyiapkan beberapa kue sebagai teman minum teh.
"Bang, kenapa lama sekali di Jakarta?" tanya Yani saat Rendra sudah mandi dan duduk di meja makan.
"Aku ada sedikit pekerjaan, Yani. Maaf ya, jika kau menunggu lama," ucap Rendra tersenyum lalu menyesap teh hangat buatan Yani.
Rendra terus menatap wajah Yani. Dua minggu berlalu tanpa Yani, membuat hatinya begitu amat rindu. Istri pertamanya di kota tidak mau Rendra kembali ke Pantau. Itulah sebabnya, Rendra lama sekali tidak pulang ke desa ini.
Semakin lekat Rendra menatap wajah polos Yani. Ia merasa wanita itu begitu amat cantik malam ini. Detak jantungnya semakin berdentum keras setiap Yani tersenyum dan menampilkan wajah yang amat manis. Jiwa kelakian Rendra pun berontak seakan menuntut haknya yang telah lama ia tahan.
Malam ini, mungkin malam yang amat berarti bagi Yani. Setelah dua bulan lebih kebersamaannya bersama Rendra akhirnya ia menjadi istri seutuhnya. Ia melihat cahaya cinta dari tatapan mata Rendra. Hati Yani begitu berbunga-bunga ketika sentuhan demi sentuhan Rendra mendarat di tubuhnya.
Suasana hujan dan udara yang dingin seakan menjadi pelengkap bagi dua insan yang sedang bersatu menggapai surga dunia. Desahan demi desahan tercipta dari bibir keduanya. Hingga akhirnya mereka merasa berada di puncak awang-awang dan melayang melepas beban yang selama ini mereka tahan.
Terutama Rendra. Ia tidak sanggup lagi untuk tidak menyentuh Yani. Selama di kota saat ia melakukannya bersama sang istri, wajah Yani lah yang tergambar. Bahkan, Rendra tidak lagi merasa kepuasan dari sang istri karena selalu terbayang wajah cantik nan polos milik Yani.
Rendra beringsut ke samping tubuh Yani. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya dan Yani yang masih di penuhi keringat. Rendra mengecup kening Yani dan memeluknya erat.
"Terima kasih, Sayang," ucap Rendra dan menghujani wajah Yani dengan kecupan demi kecupan.
Yani tersenyum bahagia. Wajahnya terus saja merona. Kebahagiaan yang ia rasakan malam ini mengalahkan rasa nyeri di bagian bawahnya. Ia pun membalas pelukan Rendra dengan hangat. Malam ini pun, Yani merasa menjadi istri yang sempurna untuk Rendra. Perasaan gundah di hatinya seketika pudar, pergi entah kemana.
***
Perlahan-lahan matahari mengintip desa pantau. Cuitan burung bersahut-sahutan merdu berpindah dari satu tangkai pohon ke tangkai yang lain. Hingga membuat tetesan air hujan yang masih tersisa di daun-daunnya terjatuh.
Rendra yang sudah membuka mata enggan untuk bangkit. Ia masih menatap wajah Yani yang masih terlelap di dalam pelukannya. Rendra berharap suasana ini tidak cepat berlalu.
"Bang, sudah siang." Tiba-tiba Yani terbangun dan terkejut melihat sinar mentari yang semakin meninggi.
"Lepas, Bang. Aku mau mandi. Abang pasti lapar, Kan?" Yani mendorong tubuh Rendra yang malah semakin memeluk tubuhnya dengan erat.
"Sebentar lagi," bisik Rendra di telinga Yani.
Yani pun tersenyum geli.
"Bang ini sudah siang. Memangnya Abang tidak membuka toko?" tanya Yani beralasan. Sesungguhnya ia pun masih ingin menikmati kebersamaan ini.
"Ah, itu nanti saja." Rendra semakin menempelkan tvbuhnya dengan Yani. Kemudian ia berbisik di telinga Yani, "Sekali lagi."
"Ih, nakal." Yani mencubit pinggang Rendra kemudian tersenyum malu.
Melihat sikap manja Yani, Rendra tak kuasa menahan sesuatu yang mendesak untuk segera di tuntaskan. Ia kembali menghujani kecupan di wajah Yani. Kembali, Rendra dan Yani menggapai surga dunia pagi ini. Di iringi nyanyian burung-burung pagi di luar sana.
Setelah dua kali menggapai indahnya memadu kasih, Yani bangkit meninggalkan Rendra yang katanya ingin tidur sebentar lagi. Yani masuk ke kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang sudah ia siapkan sebelumnya. Wajahnya yang biasanya murung kini merona dan tergambar senyum tipis dari bibirnya.
Hari ini, Yani terlihat begitu cantik dengan baju dress yang Rendra belikan saat di pekan raya. Kemudian ia keluar menuju warung tempat biasa ia berbelanja. Ia ingin memasak makanan yang banyak untuk Rendra.
Setibanya di warung, ibu-ibu telah ramai. Biasanya Yani orang yang pertama berbelanja di warung itu. Namun, kali ini ia malah orang yang terakhir dan sialnya warung sedang ramai. Hal yang sering Yani hindari saat berbelanja, kini malah ia datangi.
"Wah, Yani tumben cari sayuran siang begini," goda pemilik warung saat melihat Yani.
Yani tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan tangannya cepat memilih berbagai macam bahan makanan.
"Rendra sudah pulang?" tanya salah satu tetangganya yang memang sangat tersohor di kampung itu. Bukan karena kehebatannya, tetapi karena ia sangat ahli jika harus menggunjing orang lain.
"Sudah, Wak," jawab Yani singkat.
"Untunglah. Aku pikir kau akan ditinggal," celetuk Wak Sam. Dia yang banyak orang kenal mempunyai bibir yang pedas saat menggunjing orang.
Mendengar ucapan dari Wak Sam ibu-ibu yang lain ikut tertawa. Mereka sangat suka jika Wak Sam sudah mulai dengan aksinya.
"Tolong dihitung, Bu," pinta Yani sambil menyodorkan belanjaannya. Ia enggan berlama-lama di warung itu.
"Duluan, Bu, Wak," pamit Yani saat belanjaannya telah dihitung dan ia bayar.
"Buru-buru amat," sahut Wak Sam. Sepertinya ia masih ingin mengorek info untuk bisa ia jadikan bahan pergibahan.
Yani tidak menjawab pertanyaan Wak Sam. Ia hanya tersenyum tipis kemudian berjalan cepat menuju ke rumahnya. Ia tahu, dari semenjak ia dekat dengan Rendra hingga akhirnya menikah banyak sekali orang-orang yang kesal. Hingga akhirnya, Yani menjadi bahan obrolan di desa Pantau. Dari pemuda, para gadis hingga ibu-ibu seperti Wak Sam.
Mereka mengatakan Yani telah mengguna-gunai Rendra. Mereka memang sangat tidak suka dengan Yani. Terutama para gadis yang merasa tersaingi oleh Yani. Padahal, Yani tidak pernah mengusik mereka. Sekali pun saat ini, meski ia harus jadi bahan olok-olokan Yani tetap diam dan tak membalas.
Yani telah memasak beberapa hidangan. Ia menyiapkan makanan yang masih berasap di atas meja. Kemudian Yani berjalan ke dalam kamar hendak membangunkan Rendra.
"Bang, bangun." Dengan lembut Yani membangunkan Rendra.
Rendra yang merasa usapan lembut tangan Yani pun mengerjapkan mata. Ia tersenyum dan meraih wajah Yani kemudian ia kecup. Yani tersenyum malu-malu kemudian tertunduk-tunduk menyembunyikan senyum bahagianya.
Rendra pun bangkit dan langsung menuju kamar mandi. Sedangkan Yani menunggunya di meja makan.
Rendra yang telah selesai dengan aktivitas mandinya berjalan menuju meja makan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Yani dengan senyum tipis di wajahnya. Hati Rendra merasa begitu amat bersalah. Namun, ia tidak ingin berbuat kasar lagi terhadap Yani. Ia tahu, yang ia lakukan sebelumnya salah. Tak sepantasnya ia memperlakukan Yani sebegitu buruk.
Ia melanjutkan langkahnya dan memeluk Yani dari belakang. Yani terkejut dan mencubit tangan Rendra yang mengalung di lehernya.
Yani bangkit dan meminta Rendra untuk duduk. Ia melayani Rendra makan dengan sesekali saling melempar pandang. Yani seakan tak percaya dengan yang ia alami dari semalam. Rendra yang kini berubah sangat lembut dan begitu mesra. Di dalam hatinya ia berharap Rendra tidak akan berubah ketus lagi terhadapnya.