Rindu yang Salah

1259 Words
"Dengar Qiara. Aku memang salah, tapi bukan berarti kau membalas dengan cara seperti ini," ucap Rendra, wajahnya terlihat sangat kusut. "Lantas? Apa aku harus menerima semua perlakuanmu, Bang?" jawab Qiara, matanya melotot pada Rendra. "Bukan Qiara. Jangan salah paham. Jika kau membalas kesalahan dengan melakukan kesalahan yang sama, lalu kapan masalah kita akan selesai?" Alis Rendra bertautan. Ia sangat berharap Qiara dapat mengerti. "Selesai? Kita memang sudah lama selesai, Bang. Di hari kau menikahi wanita itu. Kau telah mengalahkanku dengan sangat telak." Tubuh Qiara melemas, ia pun terduduk di lantai. Bahunya terguncang, ia menangis. Erik yang berada di balik pintu, ikut pula menangis melihat ibunya. “Papa, kau sangat jahat!" Erik menatap Rendra dengan penuh kebencian. "Qiara maafkan aku." Rendra ikut duduk di dekat Qiara. "Qiara, kau lihat. Selama ini aku sudah menurutimu, bahkan aku tidak pernah lagi mencari Ya ...." "Cukup! Jangan sebut nama w************n itu di depanku. Aku tidak sudi mendengar namanya dari bibirmu," potong Qiara sambil merentangkan kelima jarinya. "Tolong tinggalkan aku sendiri. Biarkan aku hidup di dalam duniaku sendiri. Jangan lagi kau mencoba untuk masuk ke dalam hidupku, Bang," ujar Qiara membuat wajah Rendra mengernyit. Tanpa banyak kata. Rendra beringsut dari hadapan Qiara. Bukan untuk meninggalkannya, ia tahu Qiara butuh waktu. Saat di depan pintu kamarnya, ia bertemu dengan Erik yang berdiri dengan berlinang air mata. Rendra terkejut, ia tak tahu sejak kapan Erik berdiri di tempat itu. "Erik, ada apa, Nak?" tanya Rendra. Ia mencoba meraih pundak Erik. Erik tak menjawab. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan berlari menuju kamar. Rendra hanya bisa menatap punggung Erik yang semakin menjauh. Rendra pun membiarkan Erik. Ia memilih untuk duduk di kursi meja makan. Duduk merenung Rendra di tempat itu. Kehidupannya benar-benar kacau. Tidak ada lagi ketenangan semenjak Qiara mengetahui hubungannya dengan Yani. Berkali-kali Rendra meremas rambutnya dengan kasar. Hatinya lelah. Masalah seakan tiada pernah usai. Ah, tidak. Beberapa tahun terakhir hidupnya sudah mulai tenang. Meski Qiara bersikap dingin, tetapi Rendra merasa tenang. Akan tetapi, semenjak kehadiran Teddy. Rumah tangganya kembali runyam. Bahkan, nama Yani yang belakangan terlupakan kini kembali kepermukaan. *** Hari berlalu dengan keheningan juga kegelisahan dari hati Rendra. Sesekali ia memantau Qiara di dalam kamar. Rendra takut, Qiara akan melakukan hal yang salah seperti dulu. Ia duduk di sofa sambil menikmati segelas kopi hitam buatan Mbok Darsih. Hingga tak lama kemudian, Rendra dikagetkan dengan suara bel yang di tekan seseorang. Rendra yang malas untuk berjalan keluar pun meminta Mbok Darsih membuka pagar dan melihat siapa yang datang. "Pagi, Pak Rendra," sapa seseorang yang datang. Dia Teddy, Mbok Darsih yang tidak tahu menahu saat melihat Teddy datang langsung dipersilakan masuk. "Kau. Untuk apa kau ke sini?" tanya Rendra kesal. Ia pikir, Lelaki yang berdiri di depannya ini tidak datang lagi. Namun, nyatanya Teddy seakan serius dengan ucapannya kemarin untuk bisa merebut Qiara. "Pak, aku masih harus bertanggung jawab, bukan? Kalian sudah menggajiku sebulan lebih, sedangkan baru sepuluh hari di bulan ini aku mengajar erik," ujar Rendra dengan senyum tipis di bibirnya. "Tidak perlu. Silakan pergi! Aku sudah mencari guru yang baru," usir Rendra, ia ingin Teddy segera pergi sebelum Qiara dan Erik yang menyambutnya. "Tidak perlu, Pa. Aku hanya ingin Om Teddy yang mengajari," sela Erik yang muncul dari kamarnya. Teddy pun tersenyum dengan penuh kemenangan. Ia melihat wajah Rendra yang merah karena kesal. Tanpa menunggu persetujuan dari Rendra, Erik langsung menarik tangan Teddy masuk ke dalam kamarnya. Rendra hanya bisa menatap keduanya yang menghilang di balik pintu kamar. Dengan napasnya yang tersengal, ia duduk di kursi dan segera meminum habis kopi hangat di gelasnya. Tanpa ia pikir rasa hangat itu bisa saja membakar lidahnya. Tak lama kemudian, Qiara turun dengan penampilan berbeda. Ia hanya menggunakan baju tidur yang tipis bahkan terlihat lekukan tubuhnya. Di dadanya pun terlihat sesuatu yang menonjol seakan menantang siapa saja yang melihatnya. "Tadi aku mendengar suara Teddy. Di mana dia?" tanya Qiara pada Rendra yang masih tampak sangat kesal. "Ganti bajumu, Qiara!" perintah Rendra, ia tidak ingin Qiara menemui Teddy dengan pakaian yang sangat terbuka. Qiara melengos, ia tidak menghiraukan apa yang baru saja Rendra katakan. Ia berjalan menuju kamar Erik. Namun, Rendra segera menarik tangan Qiara dan membawanya ke dalam kamar. "Apa kau sudah gila, Qiara?" Rendra menghempaskan Qiara ke atas kasur di dalam kamar. Qiara tersenyum. "Bukankah aku memang gila, Bang? Untuk apa kau tanyakan lagi," ucapnya kemudian. Melihat Qiara yang seakan menantang. Jiwa kelakian Rendra pun bangkit. Di tambah pakaian yang Qiara kenakan terlihat begitu menggiurkan. Ia mulai mendekati Qiara dan naik ke atas tubuh istrinya itu. Inci demi inci, tiada terlewatkan oleh lidah Rendra yang liar seakan haus akan rasa surga dunia itu. Beberapa kali, Qiara menggelinjang saat menerima perlakuan dari Rendra. Detak jantung keduanya berpacu dengan gairah yang tidak bisa mereka tahan lagi. Deru napas mereka tersengal-sengal menahan sesuatu yang mendesak untuk segera dituntaskan. Tak lama kemudian, Qiara menggelinjang hebat diiringi desahannya yang panjang. "Ouhhh, Yani," desah Rendra membuat mata Qiara melotot menatap Rendra yang berada di atas tubuhnya. Rendra yang belum menyadari desahannya barusan masih terus memacu gerakan turun naiknya. Bahkan, ia tidak menyadari jika Qiara menatapnya tajam penuh kebencian. Qiara tak lagi membalas perlakuan Rendra. Ia bak boneka, hanya diam di bawah tindihan Rendra yang sedang mengarungi surga dunia. Desakan demi desakan yang Rendra lakukan tiada terasa nikmat lagi. Qiara seakan mati rasa, bahkan perlakuan Rendra seakan menyakiti bagian bawahnya yang terus dihunjami keperkasaan Rendra. Rendra masih terus melanjutkan aktivitasnya, tanpa memedulikan Qiara yang tidak meresponsnya lagi. Ia sibuk menyusuri setiap inci area sensitif Qiara. Hingga akhirnya, ia melepaskan sesuatu yang begitu terasa hangat. Seiring dengan erangan kepuasannya. Rendra membiarkan tubuhnya tetap berada di atas Qiara dan memgatur napasnya yang tersengal. Sesekali ia mencium pipi Qiara dan memeluk tubuhnya. "Kau puas, Bang?" tanya Qiara. Rendra menatap wajah Qiara dan tersenyum. "Aku sangat puas, Sayang. Terima kasih," jawabnya lalu mencium bibir Qiara. "Terima kasih? Untuk apa?" tanya Qiara lagi. "Untuk yang barusan kau berikan. Aku merasa semua berbeda, begitu terasa nikmat," bisik Rendra di telinga Qiara. "Aku tidak memberikan apa pun padamu, Bang. Kau puas dengan khayalanmu sendiri," ucap Qiara, membuat alis Rendra bertautan. Ia menggeser tubuhnya tepat di samping Qiara. Kemudian Rendra bertanya, "Maksudmu apa, Qiara? Tolonglah, jangan kau mulai lagi." "Kau yang memulainya, Bang. Apa kau belum juga menyadarinya?" tanya Qiara dengan sangat dingin. "Apa kau begitu merindukan Yani, Bang. Hingga namanya yang kau sebut?" Rendra terkejut mendengar ucapan Qiara. Ia berusaha mengingat lagi, ia benar-benar tidak ingat apa saja yang ia katakan. Sudah lama, ia tidak merasakan nikmat seperti tadi. "A-aku tidak Qiara, a-ku tidak merindukannya." Rendra terbata-bata, ia benar-benar tidak ingat dan tidak sama sekali menyadari apa yang ia katakan tadi. Tanpa menjawab lagi, Qiara bangkit dan menuju kamar mandi tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Ia menangis dan membiarkan tubuhnya basah oleh air yang mengalir dari shower. Rendra pun segera meraih pakaiannya dan mengenakannya kembali. Ia sungguh tidak menyadari apa yang ia katakan. Rasa rindu terhadap Yani membuatnya tidak sadar, jika ia menyebut nama yang salah. Satu jam berlalu. Qiara belum juga keluar dari dalam kamar mandi. Rendra yang menunggunya mulai merasa tak sabar. Ia tahu, Qiara pasti duduk di bahwa shower sambil menangis. Karena itu yang terjadi setiap kali Rendra mendesak untuk dilayani. Rendra yang semakin tak sabar pun mendorong pintu kamar mandi. Ia melihat Qiara yang tanpa busana tak sadarkan diri di bawah guyuran shower yang mengalir. Rendra segera mengangkat tubuh Qiara yang terasa dingin. Rendra menyeringkan tubuh istrinya dan menutupinya dengan selimut. Ia pun menatap iba pada Qiara. “Maaf Qiara, rasa rindu terhadap Yani membuatmu terluka lagi,”bisik Rendra di dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD