Dengan sangat terpaksa. Rendra memakan sayur yang sudah bercampur dengan nasi di dalam piringnya. Ia khawatir Qiara akan tersinggung jika ia menolak untuk makan. Ia melihat binar bahagia dari wajah Qiara saat ia memakan masakannya. Itulah sebabnya, dengan susah payah Rendra menghabiskan isi dalam piringnya.
Tidak perlu waktu yang lama. Rendra pun memegang parutnya yang terasa kram setelah memakan habis isi di dalam piringnya. Ia merasa perutnya kembung dan seperti hendak mengeluarkan gas.
"Bang, kenapa?" tanya Qiara dengan senyum di wajahnya ketika melihat Rendra berlari menuju kamar mandi sambil memegangi perutnya.
Qiara terus tersenyum, tetapi matanya menggenang buliran bening. Ia menghentikan aktivitasnya menyuapi Erik. Di raihnya mangkuk berisi sayur yang hanya setengah Rendra makan. Ia pun membuang sayur tersebut dengan yang baru.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Qiara. Rasa sakit hatinya membuat ia bertindak kejam. Namun, di sisi lain ia begitu menyayangi Rendra dan tidak ingin kehilangan suaminya itu.
"Kau masukkan apa ke dalam sayur itu Qiara?" tanya Rendra setelah selesai dari kamar mandi.
"Tidak ada, Bang. Seperti biasa aku membuat sayur asam." Qiara kembali menyuapi Erik. "Lihat, Erik saja makan dengan sangat lahap."
Rendra memandang Erik yang memang makan dengan lahap. Ia pun hanya diam sambil sesekali memegang perutnya yang terus saja berbunyi seakan hendak mengeluarkan segala isinya.
Di sudut lain. Mbok Darsih memperhatikan majikannya dengan tatapan sedih. Ia mengetahui ulah Qiara yang memasukkan cuka ke dalam sayur Rendra. Namun, lagi-lagi Mbok Darsih hanyalah saksi bisu dalam keluarga itu.
***
Hari pun berlalu. Qiara memang tidak lagi mengamuk. Namun, selalu ada saja kesialan yang Rendra alami. Ia pun merasa Qiara memang sengaja melakukan itu padanya.
Akan tetapi, demi menjaga keharmonisan rumah tangganya Rendra pun mengalah dan tetap menerima apa pun yang Qiara lakukan. Semua itu hanya demi mwnwbus semua kesalahannya.
Erik kecil pun mulai beranjak remaja. Ia mulai masuk ke sokolah menengah pertama. Namun, guru-guru selalu mengeluh dengan sikap Erik yang tidak mau bergaul atau pun berbicara. Ia hanya diam dan akan marah jika guru menegur.
"Pak, saya rasa anak Bapak ada masalah," ucap kepala sekolah pada Rendra. Dewan guru sengaja memanggil orang tua Erik untuk memberitahukan keadaan Erik saat berada di sekolah.
"Maksud Bapak? Anak saya kelainan?" tanya Erik sedikit kesal.
"Bukan, Pak. Tapi ... coba periksakan dulu. Kami khawatir Erik akan mencelakai murid lain. Saat ia marah, ia tak segan-segan untuk menyakiti temannya," adu kepala sekolah pada Rendra.
Rendra menghembuskan napas berat. Ia pun berpamitan pada guru dan berjanji akan memberi Erik pengertian dan bisa merubah sikapnya.
Setiba di rumah. Rendra langsung masuk ke kamar Erik. Di sana ternyata ada Qiara yang sedang duduk dan entah membicarakan apa pada Erik. Yang jelas saat Rendra masuk, ia tampak sangat terkejut dan menjadi salah tingkah.
"Erik. Sebenarnya kau niat untuk sekolah atau tidak?" tanya Rendra, ia berusaha untuk menahan agar tidak emosi.
"Tidak, Pa. Aku ingin di rumah saja bersama Mama," jawab Erik dengan tegas.
Rendra membuang napas dan memejamkan matanya. Ia tidak ingin marah pada Erik. "Baiklah, aku akan memanggilkan guru ke rumah ini. Kau sekolah dari rumah saja." Rendra berharap Erik menolak rencananya itu. Namun, di luar dugaan Erik tersenyum dengan bahagia.
"Baik, Pa," jawab Erik mengangguk-angguk.
Rendra pun pergi meninggalkan Erik juga Qiara di dalam kamar itu. Sungguh Rendra sangat kesal dan hampir tidak bisa menahan amarahnya lagi. Namun, mau tak mau ia harus tetap menahan.
Rendra duduk di dalam kamarnya sambil menatap langit dari jendela. Ia memikirkan Yani di desa. Entah apa kabar wanita yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan itu. Ia tidak pernah lagi mengirim surat sekedar memberi kabar. Padahal dalam surat terakhirnya, ia mengatakan akan secepat mungkin menemui Yani.
"Aku sungguh rindu dengan kelembutan kelembutan sikapmu, Yani," bisik Rendra dalam hatinya.
Qiara yang masuk mengalihkan pandangan Rendra. Ia terkejut dengan kemunculan Qiara yang tiba-tiba.
"Bang, aku kenal dengan seorang guru. Ia terkenal handal dalam mengajar. Aku rasa dia pasti bisa mengajari Erik dengan baik," ucap Qiara memberi saran.
"Jika menurutmu baik. Silakan Qiara, aku juga masih berpikir untuk mencarikan Erik guru," jawab Rendra.
"Baiklah, mulai besok artinya dia sudah bisa datang mengajar Erik 'kan Bang?" tanya Qiara memastikan.
Rendra mengangguk tanda setuju.
Qiara pun tersenyum dan melangkah pergi. Akhir-akhir ini Rendra merasa sikap Qiara sangat berubah. Ia lebih sering tertawa dan menunjukkan wajahnya yang merona. Sangat berbeda jika saat ia bersama Rendra. Bahkan, Rendra tidak lagi mendapat kepuasan batinnya dari Qiara apa lagi Rendra memang selalu terbayang wajah Yani.
Hal itu membuat Rendra semakin merasa rindu pada Yani. Berkali-kali Herman asisten-nya menawarkan untuk mencari tahu kabar Yani. Namun, Rendra menolak karena ia memilih untuk tidak mengetahui kabar Yani. Semua ia lakukan agar ia tidak ada lagi rasa ingin kembali pada Yani.
Hari berganti. Guru yang Qiara maksud pun telah datang. Rendra melihat Qiara menyambut kedatangan guru tersebut dengan hangat seolah mereka sudah lama saling mengenal. Rendra pun penasaran dan diam-diam memperhatikan Qiara dan juga seorang guru yang nantinya akan mengajari Rendra.
Sesekali Qiara menunduk dan tersenyum seolah sedang malu-malu. Entah apa yang mereka bicarakan, Rendra tidak dapat mendengarnya karena jarak yang sedikit jauh dan mereka yang bicaranya sedikit berbisik. Hal itu membuat Rendra curiga. Ia yakin, guru itu tidak sekedar guru privat untuk Erik.
Melihat Qiara dan guru tersebut yang semakin akrab. Rendra pun mendekati mereka berdua.
"Jadi, dia guru yang akan mengajari anak kita, Sayang?" tanya Rendra, ia sengaja memanggil Qiara dengan sayang.
"Iya, Bang. Dia yang akan mengajarkan Erik. Aku yakin, Bang Teddy bisa membuat Erik jadi anak yang pintar," jawab Qiara sambil matanya terus menatap guru yang bernama Teddy tadi.
"Oh, jadi namamu Teddy. Sepertinya kalian sudah saling mengenal?" selidik Rendra, ia kesal dengan Qiara yang seolah mengagumi Teddy.
"Kebetulan, iya. Kami memang sudah saling mengenal. Kenalkan aku Teddy," jawab Teddy sambil mengulurkan tangannya.
"Rendra," sambut Rendra menggenggam tangan Teddy sambil menatapnya lekat.
"Baiklah, aku harus segera mengajar Erik." Teddy melihat benda yang melingkar di tangannya. Ia pun merasa tatapan Rendra sedikit aneh.
"Mari aku antar ke kamar Erik, Bang," ajak Qiara dengan suara lembutnya.
Rendra yang melihat sikap Qiara pun semakin kesal. "Tidak, biar aku saja. Kau lebih baik buatkan Erik makanan di dapur," cegah Rendra dan langsung berjalan mengajak Teddy menuju kamar Erik.
Qiara tersenyum puas. Ia senang melihat sikap Rendra yang menandakan bahwa ia sedang cemburu. Ia pun pergi ke dapur dan hendak membuat kue.
"Ini Erik anakku. Tolong ajari dia dengan baik, " ucap Rendra saat tiba di kamar Erik.
Teddy mengangguk dan langsung menghampiri Erik. Rendra pun memperhatikan Erik yang tampak bersahabat dengan Teddy. Padahal, baru kali ini Erik bertemu dengan Teddy. Namun, mereka tampak begitu sangat akrab. Bahkan, lebih akrab dari pada Rendra dan juga Erik yang berstatus ayah dan anak.
Rendra meninggalkan Erik bersama Teddy di dalam kamar. Ia hendak melihat Qiara. Namun, Rendra di kejutkan kembali dengan senandung lirih yang Qiara nyanyikan. Sambil sibuk tangannya membuat kue pie.
"Kau mau buat kue buat siapa, Sayang?" tanya Rendra dan memeluk Qiara.
"Ini buat Bang Teddy," jawab Qiara dengan senyum manis di wajahnya.
"Sebenarnya siapa Teddy? Kenapa kau tampak begitu mengaguminya?" tanya Rendra dengan heran.
"Kenapa kau tidak tanya padanya langsung, Bang?" jawab Qiara dengan entengnya. Sedangkan tangannya terus sibuk membuat kue.
Rendra menatap tajam pada Qiara dan melangkah pergi dengan hati yang begitu geram. Ia benar-benar kesal melihat istrinya yang seakan begitu mengagumi sosok Teddy yang baru saja pertama ia temui.