"Lo nggak jadi kasih ini HP buat Gala, Day?"
Melysa mengedikkan dagunya ke arah benda yang ia maksud, bertanya pada Dayu yang kini tengah sibuk menyoret-nyoret materi yang ia anggap penting di buku Biologi Monokulernya.
Tempo hari gadis itu ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam olimpiade Sains tingkat nasional di kotanya. Sejujurnya, ia bukan siswi yang paling pandai dalam pelajaran itu, meski ia sangat menyukainya. Namun, berhubung kandidat paling kuat berhalangan pada hari H, pihak sekolah mencari kandidat lain, dan Dayu lah yang terpilih.
"Bingung, Mel, gimana cara ngasihnya? Selama tiga hari ini gue udah ngerancang skenario pertemuan yang pas sama Gala dan apa yang harus gue omongin di depan dia nantinya, tapi begitu ngelihat dia dari jauh aja, jantung gue udah norak dan tenggorakan gue serasa disumbat pakai batu. Gue nggak bisa ngomong dan melakukan apa pun di detik itu juga, gue kayak auto jadi patung."
Mungkin kesannya Dayu sangat hiperbola, tetapi memang begitulah yang sering cewek itu alami begitu sosok Gala memasuki pandangannya. Apalagi mengingat tingkah manis cowok itu saat mereka dihukum bersama beberapa hari lalu. Dayu serasa hilang akal dan rasa sukanya pada cowok itu semakin besar layaknya guliran bola salju.
"Hidih, lebay." Melysa kemudian mencibir dengan sinis.
Namun, tak urung cewek itu tetap memberikan sudut pandangnya pada Dayu. Siapa tahu kata-katanya itu mampu membabat habis hutan lebat yang tumbuh memenuhi otak kawan kentalnya itu hingga membuatnya d***u.
"Tapi, kalau lo emang mau dia benar-benar jadi pacar lo, lo harus lebih berani, lo harus lawan respons lo yang ew, cringe abis itu. Gala nggak bakal ngelirik atau bahkan jatuh hati kayak yang lo lakuin ke dia. Dia bakal anggap semua orang yang nggak ada interaksi sama dia cuma sebatas figuran, syukur-syukur naik satu tingkat jadi pemeran tambahan."
Dayu mendesah panjang. Sejujurnya, ucapan Melysa tidak berpengaruh apa-apa padanya karena nyatanya ia akan tetap bereaksi demikian.
Melysa tidak mengerti karena hampir delapan belas tahun umur cewek itu, dia belum pernah merasakan jatuh cinta. Jadi wajar saja kalau dia menganggap semua segampang gadis itu bercengkerama dengan saudara laki-lakinya, padahal kenyataannya lebih dari sekadar menemui guru killer.
"Udah deh, Mel. Nggak usah bahas begituan, gue nggak lagi mau mikirin tentang Gala. Gue mau fokus ke olim gue duluan, tinggal seminggu lagi nih. Gue nggak mau kesempatan yang pihak sekolah kasih malah gue sia-siain gitu aja. Lumayan kalau gue jadi juara, gue nggak perlu nyicil HP ini ke abang lo lagi," pungkas cewek itu dengan wajah tanpa minat.
"Dah, pergi gih, melipir ke kantin sana. Biasanya juga gitu pas istirahat." Dayu lantas mendorong-dorong tubuh Melysa menggunakan ujung pensilnya yang tumpul, mengusir cewek itu untuk segera beranjak dari sana.
Melysa memutar bola mata jengah. "Dah lah, bye! Emang percuma ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta."
Melysa benar-benar beranjak dari sana, meninggalkan Dayu yang menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala beberapa kali. Melysa tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti perkara hati orang yang sedang jatuh cinta kalau cewek itu belum merasakan apa yang ia rasakan.
***
Hari ini seharusnya Dayu masih berada di lingkungan sekolah sambil menerima bimbingan dari Pak Geraldi, guru Biologinya. Namun karena hari ini ia memiliki jadwal lain yang tidak bisa ia lewatkan, terpaksa Dayu meminta izin pada gurunya itu.
Dayu menghela kaki, menelusuri koridor rumah sakit dengan senyum tipis yang terbit di wajahnya. Sesekali ia membalas dengan ramah sapaan suster yang cukup mengenal dirinya.
"Mbak Day!" sapa gadis kecil di ujung lorong dengan kursi roda dan senyum lebarnya sambil melambaikan tangan ke arah Dayu.
Dayu tersenyum, turut melambaikan tangan, lalu menghela langkah mendekati gadis kecil itu. "Kanya!" sapanya dengan senyum lebar sambil mengusap pipi tirus gadis bernama Kanya itu. Ia lantas menatap wanita pertengahan tiga puluhan yang berdiri di belakang gadis itu dan mengangguk sambil menyunggingkan senyum untuk menyapa. "Mbak Ansa," sebutnya.
"Mau nebus obat lagi, Yu?"
"He he, iya Mbak, biasa. Sekalian jenguk Kanya juga," sahutnya sembari memberi cengiran.
Wanita dengan kerudung cokelat itu menghela napas. "Kamu nggak bisa bergantung sama obat terus, nggak baik sama ginjal kamu juga. Kamu harus operasi, Yu."
Dayu masih mempertahankam cengirannya. "He he, nggak dulu deh, Mbak. Belum parah juga, minum obat pereda nyeri aja udah cukup."
"Kamu nggak bisa nunggu sampai parah, Yu. Kamu juga butuh pengobatan. Kalau masalah biaya, Mbak bisa bantu kamu."
Dayu lantas menggeleng cepat. "Ih, apaan sih, Mbak? Jangan gitu, ah! Aku nggak papa kali. Masih sehat banget, sakitku itu nggak ganggu aku sampai yang berlebihan gitu."
"Kamu kalau butuh apa-apa, bilang aja sama Mbak. Mbak bakal bantu kamu."
"Iya Mbak, iya, siap pokoknya mah, tapi kalau aku banyak ngerepotin entar jangan nyesel lho ya," katanya sambil bergurau di ujung kalimat.
Ansa tahu bahwa gadis di depannya itu tidak benar baik-baik saja. Kemungkinan Dayu tidak ingin membuat semua orang mengkhawatirkannya. Ansa lantas tersenyum kecil sambil menepuk bahunya beberapa kali.
"Mbak Day, ih!" Dayu menunduk saat merasakan tangan kurus Kanya menarik-narik tasnya. Ia hampir lupa dengan gadis kecil itu.
"Apa, Nya?" Dayu bertanya.
"Mbak Day ke mana aja? Kanya kangen," rajuk gadis itu dengan bibir mengerucut dan tangan yang bersedekap di depan d**a.
Dayu terkekeh. Ia lantas mendongak dan kembali melihat Ansa. "Mbak, Kanyanya boleh nggak, main sama aku?"
"Boleh, tapi kayak biasa ya, Yu, Kanyanya jangan sampai kecapekan."
Dayu tersenyum dan menganggukkan kepala. "Siap, Mbak! Palingan aku bakal ngajak Kanya jalan-jalan ke taman sama main bentar, udah kangen banget, nih."
Wanita yang merupakan ibu Kanya itu tersenyum kecil dan kembali menepuk bahu Dayu beberapa kali sebelum beranjak dari sana. Setelahnya, Dayu lantas duduk bersimpuh di depan Kanya yang masih setia mengerucutkan bibir. "Maafin Mbak ya, jadi jarang jenguk kamu. Mbak lagi ada banyak tugas sekolah."
"Sekolah?" Anak itu menatapnya berbinar, lalu sedetik kemudian berubah sendu. "Kanya jadi kangen sekolah, kangen sama temen-temen Kanya," kata anak itu.
Dayu tersenyum. "Nanti kalau Kanya udah sembuh, Kanya bakal sekolah lagi dan ketemu temen-temen Kanya." Dayu menarik pelan hidung Kanya. Ia dan gadis kecil itu bertemu beberapa bulan lalu, kemudian begitu saja mereka menjadi dekat. Kanya adalah seorang anak pengindap sirosis hati, yang jelas tidak bisa dianggap remeh dan enteng.
"Wah, Kanya harus cepet sembuh kalau gitu," sahut gadis itu sambil mengepalkan tangannya erat-erat.
Dayu mengangguk, dan dengan cepat ia mengusap matanya yang tiba-tiba berembun. Ia salut dengan semangat Kanya. Gadis sekecil itu harus menanggung rasa sakit yang tak main-main di usianya yang masih cukup belia.
"Mau Mbak ajak jalan-jalan ke taman, nggak?"
"Mau! Mau! Mau!" Kanya menyahut dengan semangat. Segera saja Dayu berdiri, lalu berjalan ke belakang gadis cilik itu dan mendorongnya menyelusuri koridor yang sebelumnya sudah ia lewati. Perkara ia yang ingin menebus obat, bisa ia lakukan nanti.
Namun, dari kejauhan ia melihat Gala dan Bu Sandra duduk berdampingan di lobi. Yang menjadi pertanyaan Dayu, ada urusan apa mereka di rumah sakit?
Tbc