Dayu melangkah lesu, ia tak jadi menyerahkan ponsel itu pada Gala karena mood-nya yang terjun bebas. Ia malah melipir ke taman belakang sekolah yang sepi dan tak terawat, duduk pada sebuah undakan tangga.
Kepalanya mendongak, menatap dedaunan kering yang memilih menjatuhkan diri ke tanah karena masanya yang sudah habis. Ia tidak mengerti mengapa dirinya bisa semelankolis ini. Seharusnya Dayu tahu bahwa rasa cintanya pada Gala bukan perasaan yang sesungguhnya. Sebut saja cinta monyet. Namun, mengapa rasanya semenyesakkan itu? Mengapa pula hatinya terasa tak baik-baik saja?
Cewek itu mengembuskan napasnya. Kini, ia menunduk, menatap ponsel baru yang bahkan belum lunas ia beli. Bagaimanapun juga ia harus menyerahkan barang itu pada Gala sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Namun, apa yang harus ia lakukan sementara mendengar nama cowok itu saja ia sudah berdarah-darah?
Dayu terlalu terbuai dengan benaknya hingga tak menyadari waktu yang bergerak dengan cepat atau keadaan di sekelilingnya. Hingga sebuah suara bariton mengagetkannya dari belakang. "Heh! Kamu bolos, ya?!"
Cewek itu tersentak kaget. Ia menoleh dan mendapati guru kesiswaan tengah berdiri dengan tangan berkacak pinggang, tatapan beliau begitu nyalang padanya.
Dayu menepuk dahinya dengan keras, seketika lupa dengan hatinya yang sedang patah. Ia lantas berdiri, menghadapkan tubuhnya pada lelaki setengah baya dengan kacamata tebal dan bulat itu. Ia buru-buru meminta maaf dan menjelaskan pada lelaki setengah baya dengan nametag Saripudin itu bahwa ia hanya mencari angin saja di tempat itu.
"Saya nggak mau tahu alasan apa pun. Kamu cuma mengada-ngada. Sekarang kamu berdiri di depan bendera, hormat sampai istirahat kedua nanti, sementara saya akan membuat laporan ke guru yang sedang mengajar di kelas kamu," tegas Pak Pudin.
"Tapi Pak-"
"Saya nggak mau tahu. Segera kerjakan perintah saya atau saya tambah hukuman kamu, Grezzitha Handayu?" potong beliau tak ingin dibantah.
Dayu menghela napas panjang. Ia tak punya pilihan lain. Pada akhirnya ia menjawab dengan pelan dan enggan, lalu segera berlalu menuju tempat yang gurunya itu maksud. Dalam hati, tak henti-hentinya ia merutuki diri.
Jatuh cinta lalu patah hati, kemudian mendapat hukuman seperti ini memang paket lengkap untuk menambah kesialan hidup. Namun, begitu sampai di lapangan, ia tak menyangka mendapati Gala juga berada di sana dan tengah melakukan hal yang sama seperti yang akan ia lakukan.
Dayu lantas menghela langkah, mendekat pada Gala dengan jantung yang kembali berdetak tak beraturan. "H-hai, l-lo dihukum juga?" sapanya saat sudah berada di samping cowok itu sambil menatap Gala dengan tatapan yang tidak bisa didefinisikan.
Gala menoleh sekilas. Satu detik, dua detik, lalu detik-detik berikutnya tidak ada jawaban dari cowok itu. Dayu mengembuskan napas, segera memposisikan dirinya dan hormat pada bendera di depannya itu.
Tak lama, cowok itu bergerak mendekat padanya. "Wajah lo pucet," kata cowok itu dengan datar dan tanpa melihat ke arahnya.
Dayu mengerjap beberapa kali, berusaha mencerna maksud cowok itu sebelum beberapa detik kemudian paham bahwa tubuh besar Gala sedang mencoba menutupi dirinya dari sinar matahari.
Astaga, benarkah pemuda yang barusan bersikap manis meski ucapannya terlampau datar itu adalah Gala? Seseorang yang diam-diam ia suka?
Dayu lantas menunduk, menatap paper bag berisi ponsel di tangan kirinya dengan senyum tertahan. Mendadak perasaannya menghangat.
"Makasih," cicitnya pelan.
Ini bukan kesialan, melainkan berkah, ralatnya dalam hati dengan perasaan berbunga-bunga. Padahal baru beberapa menit lalu ia berdarah-darah.
****
"Gal, denger-denger lo tadi dihukum hormat bendera, ya?" Riaz, kembaran Gala yang tertua, mengambil posisi di samping cowok itu dan mulai mengenakan sepatu hitamnya yang jelas berasal dari salah satu merk sepatu ternama. Keduanya baru saja keluar dari musala sekolah setelah menenuaikan kewajiban mereka.
Gala mendengkus pelan. Berita tentang dia yang dihukum ternyata menyebar dengan sangat cepat. Mungkin karena ini pertama kalinya juga untuk cowok itu. Jadi orang-orang membuat hal itu seolah-olah menjadi sangat langka dan patut dibicarakan ke khalayak ramai.
"Iya." Cowok itu menjawab dengan singkat pada akhirnya. Ia tampak sibuk membuat simpul pada tali sepatunya yang legam.
"Kok tumben?" Riaz kembali bertanya, merasa sama sekali tak puas dengan jawaban kembarannya itu. Tentunya dia sedang menuntut kejelasan yang sejelas-jelasnya dari Gala. Tetapi, sepertinya cowok itu tidak memiliki niatan sedikit pun untuk bercerita perihal mengapa ia dihukum pada kakak perempuan satu-satunya itu.
Selesai mengikat tali di sepasang sepatunya, Gala lantas berdiri. Ia mengabaikan pertanyaan saudaranya karena menganggap hal itu tidak penting. Dan apa pun yang tidak penting, bagi Gala hanya membuang-buang waktu saja.
"Anjir, gue dikacangin!" umpat cewek itu lumayan keras, membuat sebagian anak yang masih memenuhi teras masjid itu mengalihkan atensi mereka padanya.
Riaz meringis malu dengan wajah putih yang dipenuhi dengan rona merah. Ia lalu menggumamkan beberapa kali kata maaf sambil menyunggingkan senyum kaku. Duh, salahkan saja mulutnya yang tidak bisa dikontrol itu atau telinganya yang kalau diberi nasihat suka mendadak tuli.
Tak ingin lebih lama berada di situ, ia buru-buru melenggangkan kakinya, mengabaikan cibiran-cibiran yang terlontar untuknya. Ia mencoba mensejajarkan langkahnya dengan langkah Gala.
"Dih Gal, kalau ditanya kakaknya yang cantiknya minta ampun itu, mbok ya dijawab, nggak usah sok bisu. Orang bisu aja pengen ngomong, lo yang nggak bisu malah nggak mau ngomong. Perlu ya, gue gorok leher lo, terus gue ambil pita suara lo, biar lo sekalian nggak bisa ngomong selama-lamanya apa?"
Mendengar ucapan panjang lebar dari sang kakak, membuat Gala dengan kesadaran penuh merotasikan bola matanya yang sebening madu itu. Cowok itu jengah, muak, dan terlalu malas untuk menanggapi ucapan unfaedah Riaz.
"Oh, gue tahu, gue tahu. Denger-denger, tadi juga ada anak cewek yang seangakatan sama kita yang dihukum kayak lo kan? Jangan-jangan lo berbuat asusila sama dia, ya? Terus pihak sekolah pada tahu, terus mereka ngehukum lo, jemur lo biar lo bisa jadi barbeque terus musnah dari peradaban. Kan seenggaknya, satu---eh dua, maksud gue, generasi b****k ekstra micin di muka Bumi ini bisa dikurangin."
Gala sama sekali tak berniat menyahut ucapan ngaco ala Riaz. Dia juga tidak ingin membenarkan, biarkan saja kakaknya itu berasumsi sesuka hatinya. Gala akan mempersilakan cewek itu menegakkan hak asasinya, mengemukakan pendapat di depan umum.
Dan, soal Gala yang bisa kena pun, sebenarnya cuma gara-gara kesalahpahaman guru piket yang tepat sedang berkeliling ketika ia kembali ke kelas tadi.
Cowok itu sudah menjelaskan apa alasannya keluar dari kelas, tapi sayangnya Pak Saripudin---guru yang sama yang menghukum Dayu, tak menerima apa pun penjelasan cowok itu. Mau tak mau Gala harus berdiri di depan tiang bendera dengan sikap hormat.
"Gala, ih! Kakak sentil ginjalnya nanti!"
Gala mengembuskan napas kasar. "Salah paham," katanya kemudian. Namun, tak urung tetap menjelaskan garis besar mengapa dia bisa dihukum. Kakaknya manggut-manggut dengan bibir mengerucut karena argumentasinya tadi tidak benar.
"Ah nggak asik. Harusnya lo bener-bener berbuat asusila biar orang-orang rumah sama Om-Tante tahu kalau lo nggak sesempurna apa yang mereka bilang," sahut cewek itu sambil mendengkus kecil. Ia lalu tanpa pamit memutar haluan dan kembali ke kelasnya yang berlawanan arah dengan kelas Gala.
Gala menghela napas panjang. Ingatkan ia bahwa kakak yang jarak kelahirannya tak lebih dari lima menit itu memang sangat ajaib.
Mengembuskan napas pelan, Gala lebih memilih meneruskan langkah kaki menuju kelasnya yang masih perlu melewati dua kelas lagi. Biasanya, anak-anak cewek yang duduk lesehan di depan kelas akan mulai mencari perhatiannya. Namun, Gala tidak akan pernah peduli. Prinsip hidupnya, ia tidak akan berusaha acuh pada apa pun yang tidak berguna.
Namun, ingatannya kembali tertuju pada gadis yang dihukum bersamanya tadi. Gadis yang tempo hari menjatuhkan ponselnya hingga rusak total, membuat seluruh data di dalamnya turut hilang. Sejujurnya tidak ada yang spesial dari gadis itu, ia tidak begitu cantik, tubuhnya sedikit pendek---hanya sampai bahunya, dan tentu sedikit berisi, tetapi dari cara gadis itu menatapnya, ada satu hal yang aneh pada hatinya. Gala tidak tahu itu apa.
TBC