3. Desas-desus

1470 Words
"Nih hape yang kemarin lo pesen, jangan lupa bayar ke gue, habis gue entar dimarahin Bang Dimas," kata Melysa sambil mengangsurkan box gawai ke hadapan Dayu yang sedang fokus dengan tugas Matematika Minatnya. Kebiasaan cewek itu memang, dia hampir nggak pernah mengerjakan tugas rumahnya di rumah, melainkan di sekolah. Alasannya, "Rumah bukan tempat buat belajar, tapi tempat buat istirahat, percuma lo merantau dari bangunan satu ke bangunan lain buat cari setitik ilmu, kalau pada akhirnya yang lo lakuin pas pulang sama kayak yang lo lakuin pas merantau. Ya mending di rumah aja kalau gitu, nggak usah ke sekolah, nggak usah keluar duit banyak. Coba deh lo lihat KBBI, arti rumah itu apa, sekolah itu apa." Itu kata cewek yang mengklaim dirinya sebagai salah satu penggemar garis keras Renggala. Dayu memutuskan fokusnya pada soal Persamaan Garis Singgung Lingkaran yang ia kerjakan, lalu melihat Melysa dan box gawai canggih di hadapannya itu bergantian sebelum sedetik kemudian menyengir lebar. "Gue bayarnya nyicil, ya?" Ia mengedip-ngedipkan mata, memperlihatkan puppy eyes-nya yang malah membuat Melysa menonyor kepala cewek itu. "Kebiasaan, bukan gue loh yang punya konter hape, tapi Abang gue. Lo tahu kan gimana dia? Galak parah. Lagian nggak ada duit kenapa sok-sokan beli hape, sih? Hape lo juga masih bagus tuh." Melysa duduk di samping Dayu dan mulai mengeluarkan buku tulisnya. Tanpa meminta izin, cewek itu mengambil buku Dayu dan mulai menyalin jawaban-jawaban dari nomor-nomor yang masih ia biarkan kosong. "Gue ada duit, cuman mau gue gunain buat bayar sekolah dulu. Ada lagi sih, duit dari lomba, tapi nggak cukup. Mungkin nunggu royalti dari buku gue, doain aja laku keras ya," sahut Dayu sambil membolak-balikkan kardus ponsel itu. "Ini sama kan, sama yang gue request kemarin?" "Sama kali, kan bisa lihat di sampul depannya," sahut Melysa yang masih sibuk dengan pensil dan buku tulisnya. "Lagian gue heran, bokap lo kerja di perusahaan yang wow, jabatannya cukup bagus, nyokap lo juga kerja jadi koki di restoran berbintang, masa lo bayar sekolah sendiri, sih?" Dayu tertawa kecil. "Lo kan tahu gue pengin jadi anak mandiri yang nggak bergantung sama emak-bapaknya. Gue pengin semua yang gue lakuin, ya gue lakuin sendiri. Lagi pula gue merasa mampu melakukannya." Melysa sudah nggak lagi menulis, cewek itu menatap serius pada temannya. "Tapi tetep aja, Day, lo masih terlalu muda. Lo masih terlalu anak-anak, nggak sepantasnya lo mengeksploitasi diri lo sendiri untuk melakukan hal-hal yang nggak seharusnya lo lakuin. Lo perlu menikmati waktu lo sebagai seorang remaja Day." Dayu kembali tertawa. "Kesambet apa lo, omongan lo jadi berbobot gitu, tumben banget bijak." "Day, gue serius." Melysa tak menanggapi celetukan Dayu. "Kesannya kayak anak terlantar dong gue kalau lo mikirnya gitu, ha ha. Gini, ya Mel, gue cukup menikmati hidup gue. Apa yang gue lakuin, yang emang gue suka. Bikin cerita, bikin artikel. Gue nggak merasa mengeksploitasi diri gue sendiri. Soal lomba-lomba, itupun bukan keinginan gue, mereka yang milih gue buat ikut ini-ikut itu. Syukur-syukur dapet peringkat, dapet duit. Dan dari semua itu nggak ada yang melibatkan aktivitas fisik, pengecualian buat silat." Melysa cuma berdecak beberapa kali mendengar balasan Dayu yang selalu punya banyak alasan. Sumpah, dia benar-benar nggak tahu jalan pikiran temannya itu meski sudah cukup lama mereka berkawan. "Lagian itu hape bukan buat gue, Mel, tapi buat orang lain." Kening Melysa mengernyit begitu Dayu bilang begitu. "Lo baru ngerusakin hape siapa?" Dayu tersenyum kecut. "Kalau gue bilang sama lo, lo pasti bakal syok berat. Gue aja yang mengalami itu juga langsung syok. Nggak nyangka banget." "Dih, nggak usah bertele-tele, pemborosan kata, nggak efektif," sahut Melysa cepat. "Gue kemarin ngerusak hape Gala." Dayu menjawab kemudian, sementara cewek di sampingnya itu malah memicingkan mata. "Jangan bilang itu cara lo buat deketin dia," tuduh Melysa yang langsung membuat Dayu merotasikan bola matanya. "Apaan sih, cara murahan kayak gitu bukan gue banget." Cewek itu mendesis tidak suka dengan tuduhan temannya yang demikian. "Sampai sekarang aja gue belum kepikiran buat ngedeketin dia, meskipun gue pengen banget. Yang kemarin itu kecelakaan, gue nggak sengaja nabrak dia pas dapet hukuman dari Pak Roem, alhasil hape dia jatuh, terus retak semua layarnya." "Ck! Harusnya lo memanfaatkan kesempatan itu buat deket sama dia." "Udah gue bilang, cara murahan kayak gitu bukan gue banget. Lagian, gue bakal rugi kalau caranya begitu. Itu murni kecelakaan. Gue bahkan berharap kejadian itu nggak pernah terjadi. Sekarang, kesan gue di mata Gala pasti udah buruk banget." Dayu menghela napas. Jatuh cinta itu memang merepotkan, segala sesuatu yang harusnya enggak perlu dipikirkan malah jadi topik utama di kepala. Apa lagi kalau yang diharapkan nggak mengharapkan balik, seperti kasusnya itu. Kalau bisa, Dayu pengin menghindari yang namanya jatuh cinta saja, jadi dia nggak perlu repot-repot sakit hati, nggak perlu repot-repot pusing memikirkan ini-itu, nggak perlu repot-repot bingung harus apa dan bagaimana. Dayu pengin jadi batu saja atau patung juga boleh, kayu pun dia mau. "Su'udzon mulu lo perasaan." Melysa mencebikkan bibir, nggak kaget kalau Dayu bakal berpikir begitu, kepala cewek itu memang penuh elektron. "Udah ah, nggak usah bahas lagi, gue mau ngerjain tugas aja, masih kurang dua nomor," sahut Dayu sambil menyembunyikan box hape itu ke dalam laci meja, lalu merebut buku tulisnya dari Melysa, dan mulai fokus ke soal-soalnya tadi. Selain karena malas membahas topik itu yang membuat mood-nya jauh dari kata baik, anak-anak di kelasnya juga sudah mulai berdatangan. Dayu nggak mau saja obrolan pribadi mereka menjadi konsumsi publik. Terlalu tabu. "Serah deh, serah." **** Dayu melangkahkan kakinya dengan jantung yang sudah jumpalitan tak tahu malu, sangat norak pokoknya. Di tangannya sudah ada box hape yang dia tenteng dengan paper bag yang sebelumnya ia isi buku paket. Dia sedang dalam perjalanan menuju kelas Gala yang beda empat kelas dari kelasnya. Melysa tak menemani cewek itu, dia sudah ngacir ke kantin lima menit sebelum jam pelajaran berakhir dengan alasan pergi ke toilet. Dayu bingung harus memikirkan bagaimana sikapnya nanti di depan cowok itu. Dia tidak tahu harus memulai percakapan mereka dari mana dan harus seperti apa, jangankan begitu, Dayu bahkan tidak yakin suaranya akan keluar nanti begitu ia melihat sosok Gala. "Eh, kalau ngelamun nggak usah di tengah-tengah koridor dong, ngalangin jalan aja. Lo pikir lo lagi syuting video klip?" Dayu terperanjat. Paper bag di tangannya hampir saja jatuh saat suara berat itu tiba-tiba mampir di rungunya. Dia mendongak, menatap cowok jangkung di depannya, lalu menipiskan bibir saat sadar siapa dia. "Sori, gue tadi lagi mikir sesuatu," katanya dengan wajah yang nggak cukup enak, sungkan. Dayu tahu siapa cowok itu, namanya Keenan, saudara kembar Gala. Dayu sungkan kepada cowok itu bukan karena dia sedarah dengan Gala atau memiliki wajah yang mirip dengan cowok yang ia taksir itu. Faktanya, Keenan dan Gala bahkan sama sekali nggak memiliki kemiripan fisik. Cewek itu sungkan karena dulu saat ekskul beladiri, dia pernah diadu dengan cowok itu, dan dengan tidak sengaja Dayu menendang area terlarangnya yang sampai membuat Keenan nggak masuk sekolah dua hari. Dayu yakin betul, Keenan masih menyimpan dendam kesumat padanya, terbukti dari sikap cowok itu yang selalu ketus dan sinis begitu mereka tak sengaja berpapasan atau sedang ada latihan bersama. "Lo punya otak, tapi lo nggak bisa mikir koridor fungsinya buat apa," sindirnya lalu pergi meninggalkan Dayu. Dayu menggigit bibir. Wajah songong dan sikap ketus Keenan sejujurnya membuat cewek itu ingin melayangkan sebuah tinjuan di rahang pemuda itu, minimal Keenan harus kehilangan satu giginya. Selama ini Dayu sudah mencoba baik, tapi respons cowok itu selalu saja negatif. Entah bagaimana nanti kalau mereka menjadi saudara ipar. Dayu menggelengkan kepala, buru-buru meralat pikiran konyolnya. Dia terlalu lancang telah membayangkan sampai sejauh itu. Menghela napas, ia kembali melangkahkan kakinya. Ia harus cepat-cepat menyerahkan ponsel itu pada Gala sebelum bel pelajaran selanjutnya berbunyi. Persetan dengan apa yang harus dia lakukan di depan cowok itu. Toh, Gala pasti tidak akan peduli. Namun begitu sampai di depan pintu kelas cowok itu, ia malah mendengar anak-anak cewek kelas sana yang duduk lesehan dekat pintu masuk tengah mengobrolkan sesuatu dengan menyebut-nyebut nama Gala. Dayu memilih untuk diam di dekat rak sepatu dan mulai mencuri dengar obrolan anak-anak itu. "Masa sih, Gala nggak nerima Riana gara-gara dia punya hubungan sama Bu Sandra?" "Nggak tahu, gue denger ini pun dari anak kelas sebelah. Masuk akal sih, apalagi dia emang kalau lagi istirahat gini langsung ngacir sama Bu Sandra terus." "Ya kan Gala kebetulan suka Kimia, terus Bu Sandra juga guru Kimia. Bentar lagi juga ada olim, masuk akal lah kalau mereka jadi kelihatan deket. Bu Sandra kan juga harus bimbing Gala." "Tapi kata anak sebelah juga, mereka ngelihat Gala sama Bu Sandra pulang bareng. Aneh kan, guru sama murid pulang bareng begitu?" Dayu menggigit bibirnya. Dia jadi teringat dengan kejadian beberapa hari lalu saat Gala sedang melakukan titrasi asam-basa di lab dan Bu Sandra datang, kemudian mereka mengobrolkan sesuatu yang entah apa hingga membuat Gala menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya, cowok itu tertawa begitu renyah. Jadi, benarkah cowok itu memiliki hubungan dengan gurunya sendiri? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD