"Mungkin kamu memang sudah menguasai mata pelajaran saya, cuman jangan seenaknya sendiri Grezzitha. Jam pelajaran saya adalah hak saya. Ketika saya masuk dan mengajar di sini, maka kamu atau siapa pun yang berada di kelas saya, tidak berhak untuk berbicara sendiri atau sampai tertidur seperti yang barusan kamu lakukan. Kamu tidak bisa berbuat semau kamu sendiri. Ketika saya mengajar, kamu atau kalian semua wajib menghargai saya."
Dayu meneguk ludahnya susah payah setelah pria setengah baya di depan tak lagi bersuara dan hanya menatapnya dengan sorot menakutkan. Cewek itu meremas tangannya kuat-kuat sambil menggigit bibir bagian dalamnya. Ia lalu mendongak, menatap lelaki yang hampir seluruh rambutnya memutih itu dengan takut-takut. "Eung, ma-maaf Pak, saya, saya, tidak bermaksud begitu," cicitnya pelan sambil kembali menunduk.
Rasanya tidak kuat menatap Pak Roem yang sedang dikelilingi oleh aura yang mematikan. Biasanya tidak seperti itu. Dayu sering tertidur di jam pelajaran Matematika, bukan hanya mapel itu sebenarnya, tapi hampir semua mapel yang ada, kecuali Biologi yang memang sangat ia minati. Namun baru kali ini Pak Roem terlihat semarah itu. Beliau tidak pernah mempermasalahkan tidur di kelas sebelum-sebelumnya, asal si murid mengerti, ya silakan. Tapi hari ini auranya terlihat berbeda sekali.
"Saya tidak butuh maaf dari murid sombong kayak kamu," sahut beliau dengan pedasnya, membuat anak-anak lain yang sedari tadi hanya menyimak itu dibuat terheran-heran, lantaran terlalu terkejut mendapati sifat gurunya yang benar-benar berbeda dari biasanya. Entah di rumah tidak mendapat jatah dari istri ketiganya yang masih sangat belia, atau ada masalah tak terduga yang muncul, seperti kesulitan membagi upahnya yang hanya sebagai seorang pengajar kepada istri-istrinya di rumah yang menuntut dimanjakan dengan uang. Atau bisa jadi, saat di jalan tadi Pak Roem bertemu dengan seorang penyihir jahat yang mengiming-imingi uang milyaran asal lelaki paruh baya itu mau menjadi budaknya.
Ini bahaya, mereka harus waspada kalau tidak ingin mendapat masalah seperti yang sedang Dayu alami.
"P-pak, tapi saya-"
"Keluar dari kelas saya, bersihkan toilet dan daun-daun yang ada di sekitar kolam renang."
"Tapi Pak-"
"Kalau lusa kamu masih mau mendapat pelajaran saya, lakukan perintah saya, Grezzitha," pungkas Pak Roem tidak ingin dibantah.
Dayu menghela napas panjang. Ia lalu melirik teman-temannya yang tidak berani berucap dan kemudian menatap Melysa yang duduk di sampingnya sambil menjukkan deretean gigi-giginya yang dipagari kawat. "Sori banget," ringis cewek itu pelan.
Dayu mendengjus dengan wajah sangat masam, lalu menghela napas untuk ke sekian kalinya. Ia tidak masalah membersihkan toilet, tetapi lain hal dengan kolam renang, sekali pun tugasnya hanya membereskan dedaunan kering yang berhamburan di atas kolam. Tetapi melihat air dalam jumlah yang sangat banyak hanya akan membuat trauma cewek itu kembali muncul. Dan Pak Roem tampaknya sedang tidak ingin menerima penolakan, entah dengan alasan apa pun.
Ah, Dayu jadi menyesal karena tadi malam lebih memilih membaca novel sampai jam dua dini hari daripada tidur lebih awal. Dan sekarang, tidak seharusnya cewek itu merasa keberatan, sebab memang begitulah konsekuensinya.
***
Begitu selesai dengan urusannya membersihkan kamar mandi, Dayu langsung bergegas menuju kolam renang yang terletak di samping sekolah. Kolam itu adalah kolam terbuka yang beberapa meter di dekatnya ada satu pohon besar yang cukup rindang, jadi sudah pasti ada banyak dedaunan kering yang tak sengaja tertiup angin dan memenuhi permukaan kolam.
"Harusnya lo emang nggak tidur tadi, s**l begini kan jadinya?" desah cewek itu dengan perasaan campur aduk.
Selama satu tahun lebih mengenyam pendidikan di sekolah itu, Dayu belum pernah menginjakkan kakinya di kolam renang. Ia selalu memilih membuat esai untuk mengganti jam pelajaran yang ia lewatkan dan guru olah raganya selalu maklum dengan hal itu. Dan kini, dengan berat hati ia harus melangkahkan kakinya ke tempat yang sangat ia hindari sebelumnya.
"Lo harus tenang, Day. Jangan khawatir, di sana nggak ada apa-apa. Lo nggak akan kenapa-kenapa dan nggak akan ada yang kenapa-kenapa juga."
Sepanjang jalan Dayu hanya sibuk meyakinkan dirinya bahwa ia akan baik-baik saja, tidak ada hal buruk yang akan menimpa cewek itu. Namun, belum juga sampai di kolam renang, rupanya ia malah mendapati kesialan. Terlalu fokus dengan rasa resah dan takut membuat cewek itu masa bodoh dengan jalan yang ia lewati, hingga saat di persimpangan koridor, tanpa ia kehendaki, kening sempitnya itu membentur tepat di kancing baju seseorang. Sepersekian detik kemudian, bunyi jatuh terdengar bersamaan dengan aduan yang keluar dari mulutnya.
"Bisa nggak sih kalau kamu jalan pakai mata!" bentakan itu sontak membuat Dayu mendongakkan kepalanya. Jantung cewek itu nyaris jatuh sampai kaki begitu tahu yang ia tabrak adalah sosok cowok yang diam-diam ia sukai. Tidak berhenti di sana, rupanya bunyi jatuh tadi adalah ponsel Gala yang hampir seluruh layarnya pecah, pantas saja cowok itu membentaknya tadi.
"S-sori, g-gue, gue, gue nggak sengaja," cicit Dayu dengan suara takut dan gugupnya. Takut karena melihat wajah Gala yang memerah saga dan gugup karena ini adalah kali pertama bagi Dayu berada di jarak sedekat itu dengan Gala. Hanya satu langkah dan jantungnya sudah heboh sendiri.
"Maaf nggak akan bikin hape saya balik kayak semula," sahut Gala dengan pedasnya, membuat Dayu ketar-ketir sendiri. Masalahnya dia memang tidak sengaja, tapi tampaknya Gala tidak mau tahu.
"G-gue, gue bakal ganti hape lo." Dayu menggigit bibirnya tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa. Gala masih memandangnya sinis, sebelum membungkuk dan memungut gawai pintarnya kembali.
"Kamu ganti pun nggak bakal balikin isi hape saya yang mungkin aja ikut hilang gara-gara kamu jatuhin." Gala masih berujar dengan pedas, sebelum berlalu dan meninggalkan cewek itu dengan kaki yang menghentak sarat emosi.
Dayu menatap punggung Gala yang semakin menjauh. Rasanya ia ingin menangis dan meraung dengan kencang. Astaga, kenapa s**l sekali nasibnya, harusnya kesan pertamanya dengan Gala tidak buruk seperti ini.
Cewek itu lantas dengan enggan menghela kakinya menuju kolam renang yang harus ia bersihkan. Ia sudah tak lagi menikirkan fobianya dnegan air dalam jumlah banyak. Sekarang benarknya dipenuhi kata ceroboh dan hatinya membenarkan hal itu. Kesan Dayu di mata Gala saja sudah buruk, lantas bagaimana ke depannya nanti kalau-kalau cewek itu mau mencoba mendekati pujaan hatinya itu? Apakah Gala akan tetap menerimanya atau langsung menolaknya mentah-mentah?
Astaga, untuk yang terakhir Dayu tidak ingin hal itu terjadi, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras. Apa kabar dengan hatinya kalau seumpamanya yang otaknya pikirkan itu benar-benar terjadi?
Dayu menggigiti ujung kuku kedua ibu jarinya, menahan diri untuk tidak berteriak kencang. Dalam hati ia berharap, semoga masih ada kesempatan untuk dirinya bersama Gala.
TBC