Motor yang Keenan kendarai kini sudah memasuki pelataran rumah cowok itu. Dari luar saja Dayu sudah bisa mendengar suara berisik adik-adik Keenan yang entah tengah merebutkan apa.
"Turun gih," ujar Keenan.
Dayu segera turun dari motor cowok itu dan melepaskan helm di kepalanya lalu menaruhnya di spion.
"Yuk, masuk. Tuh adek gue udah berisik banget," ujarnya lalu memimpin Dayu untuk masuk ke dalam rumah.
Tiba di dalam, Dayu disuguhkan dengan ruang tamu yang super berantakan. Ia tidak kaget karena tempo hari sudah melihat hal itu, dan pelakunya tentu kedua adik Keenan yang sangat nakal.
"GEMAAAA! GENAAAA! BISA NURUT NGGAK? NANTI MAINAN KALIAN KAKAK BAKAR, YA!" teriak Riaz yang tampak frustrasi mengurus dua adiknya. Gadis itu berkacak pinggang di depan televisi, menatap tajam kedua adik bungsunya yang tengah berebut mobil-mobilan, bahkan gadis itu masih terlihat mengenakan seragam sekolahnya.
"Kenapa sih Yaz? Pengang kuping gue denger teriakan lo," ujar Keenan berjalan mendekat.
"Tuh, adek lo tuh. Tahu nggak mereka tadi abis ngapain? Berantem! Terus tahu juga nggak akibatnya apa? Guci Bunda pecah! Gue pula yang harus beresin itu. Udah gitu capek sekolah, eh malah harus ngurus dua krucil biadab ini," jawab Riaz penuh emosi.
"Guci yang deket tangga?" sahut Keenan yang dibalas anggukan tak bersemangat dari Riaz. "Mampuslah, itu kan guci kesayangan Bunda."
"Makanya, gue pusing banget! Mana tuh bocah kayak nggak ngerasa bersalah dan malah rebutan mobil-mobilan. Pusing gue, sumpah!" Riaz mengacak rambutnya frustrasi. "Dah lah, abis ini lo aja yang urus tuh bocah dua. Gue capek, mau ngdemin otak dulu," ujarnya kemudian seraya berlalu dari sana.
"Eh, enak aja! Mereka kan tanggung jawab lo!" teriak Keenan tidak terima.
"Gue nggak mau tahu, gue udah beresin guci yang mereka pecahin ya, selanjutnya tugas lo yang jaga mereka!" balas Riaz sebelum naik ke lantai dua.
Dayu yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan pun hanya meringis. Sejujurnya baik Keenan dan Riaz dengan Gema dan Gena sama saja, sama-sama suka ribut.
"Untung deh gue tadi bawa lo. Nah, tugas lo urus deh tuh anak dua. Kalau mereka ada indikasi kayak tempo hari, lo sangat amat boleh kalau mau jewer telinga mereka. Gue mau ke kamar dulu, bye!" kata Keenan yang sudah menghadap dirinya.
"Tapi—"
"Udah, entar gue balik ke sini. Lo kan babu gue, nah tugas lo jaga mereka," pungkas Keenan tidak ingin dibantah.
Dayu hanya menghela napas, mau tidak mau menuruti perintah Keenan yang kini sudah berlari ke lantai dua. Dayu hanya berharap kejadian kemarin tidak terulang lagi.
Ia pun lantas berjalan menghampiri kedua anak kembar itu yang sekarang duduk berdempetan sambil berbisik-bisik.
"Hai," sapa Dayu sambil mengulas senyum canggung.
Kedua anak itu tidak menanggapi Dayu dan tetap dalam posisinya tadi yang berbisik-bisik. Mata kedua anak itu pun tak lepas dari wajahnya, membuatnya salah tingkah dan bingung harus berbuat apa.
"Kalian udah makan?" tanya Dayu lagi.
Kedua anak itu menjauhkan diri. Mereka beranjak lalu berdiri tepat di hadapannya. "Kakak yang kemarin itu kan? Yang nggak bisa berenang?" ujar si gadis cilik sambil menatap tubuh Dayu dari atas sampai bawah.
Dayu hanya berdeham dan mengangguk kecil. Mulai was-was, mungkin saja kedua anak itu tengah merencanakan sesuatu di luar nalar.
"Gema sama Gena minta maaf ya! Gara-gara Gema sama Gena, si Kakak hampir meninggal. Huft, Gema sama Gena takut deh soalnya kemarin Mas Galanya marah, serem. Enggak lagi deh nakal sama Kakak," ujar Gema dengan ekspresi takutnya yang terkesan lucu.
Dayu mengusap tengkuknya. Sedikit menyesal sudah berpikiran buruk pada mereka. Meski Gema dan Gena sangat nakal, tetapi mereka mau meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
"Ehm, nggak pa-pa kok, tapi lain kali jangan begitu lagi ya, entah sama siapa pun itu. Bahaya, main yang wajar-wajar aja."
Gena memiringkan kepalanya. "Main yang wajar-wajar itu yang gimana?" tanyanya.
"Hm, yang nggak nakal dan yang nggak bahayain kayak kemarin."
"Gitu ya? Oke deh, yuk Gema kita main yang wajar-wajar," ujar Gena dan kembali mengajak Gena kembali ke tempat mereka tadi.
Entah mereka paham atau tidak apa yang dia maksud, tetapi Dayu berharap mereka tidak berbuat nakal lagi seperti kemarin.
Sisa sore itu Dayu gunakan untuk menemani Gema dan Gena bermain. Keenan tidak lama turun dan mengajaknya untuk makan siang. Dayu sedikit mencuri pandang ke seluruh penjuru rumah, mencari keberadaan Gala. Namun, pria itu tak menampakkan diri. Entah pria sudah pulang dan tengah mengurung diri di kamar atau masih di luar, Dayu tidak tahu. Tidak ada informasi apa pun yang ia dapat, bahkan sampai ia pulang.
Tidak hanya di hari itu, tetapi di hari-hari setelahnya pun tetap sama. Setiap dirinya ke sana, ia tidak mendapati sosok Gala, yang ada hanya Riaz dan Keenan. Kedua remaja itu juga sama sekali tidak menyinggung soal Gala. Entahlah, Dayu tidak mengerti.
***
"Kamu dari mana jam segini baru pulang?"
Langkah Dayu terhenti di anak tangga pertama saat suara berat itu masuk ke telinganya. Saat ia memutar tubuh, rupanya ada sang ayah yang duduk santai di ruang tamu dengan mata yang fokus pada layar tablet. Dayu tidak sadar ada sosok sang ayah di sana, ia terlalu sibuk memikirkan Gala tadi.
"Dari rumah temen," jawab Dayu pada akhirnya. Sejujurnya ia merasa malas meladeni sang ayah, tetapi tidak menanggapi pria itu bukan sikap yang tepat. Pria itu pasti akan semakin marah dan ia akan diamuk.
"Jam segini? Jangan berani-berani bohongi saya, ya."
Dayu menghela napas panjang mendengar hal itu. "Bohong gimana sih, Pa? Aku udah jujur, terserah mau percaya apa enggak. Nggak ada gunanya juga buatku kalau bohong," pungkasnya dan segera berjalan cepat menuju kamarnya.
"Siapa tahu kamu seperti mamamu yang tidak tahu diri itu," ujar papanya tak acuh.
Dayu turun dari tangga itu dan berjalan beberapa langkah mendekati sang ayah. Tangannya terkepal kuat. "Maksud Papa apa ngomong kayak gitu?"
Ayahnya menurunkan kacamata yang membingkai matanya, menatap sang putri dengan datar. "Ya mungkin saja kamu jadi anak nakal yang suka main-main dengan pacarmu, persis mamamu."
Dayu mengepalkan tangannya semakin erat. "Atas dasar apa Papa nuduh aku begitu? Aku nggak seperti apa yang Papa tuduhkan! Bisa-bisanya Papa ngomong begitu!"
"Kenapa tidak? Bukannya buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya? Kamu pulang malam begini buat apa kalau tidak main begituan dengan pacarmu?"
Air mata Dayu menetes begitu saja tanpa bisa ia tahan. Ia tidak tahu mengapa ayahnya sendiri, ayah kandungnya bisa memiliki pemikiran seperti itu pada anaknya sendiri. Pria itu bahkan tidak hadir hampir dalam semua perjalanan hidupnya selama delapan belas tahun ini, dia tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
Dayu menghapus air matanya. Menatap papanya penuh amarah. "Papa bahkan nggak tahu apa pun tentang aku, tapi Papa malah nuduh aku begitu. Seenggaknya kalau nggak jadi papa yang baik, Papa diem aja. Papa udah nyakitin hati aku." Setelah mengucapkan hal itu, Dayu segera pergi dari sana, keluar dari rumah tanpa menunggu respons sang ayah.
Dayu terlalu muak berada di rumah. Terlebih dengan sang ayah yang sudah menyakiti hatinya.
Kaki Dayu membawanya tiba di sebuah halte yang tidak begitu jauh dari kompleks perumahannya. Ia tidak ingin ke mana-mana, ia hanya ingin di sana, duduk diam dan menyendiri meski mungkin beberapa orang yang lewat menganggapnya aneh karena menangis malam-malam.
"Kamu kenapa?"
Dayu mendongak saat mendengar suara yang tidak lagi asing di telinganya itu. Di depannya sudah ada Gala dengan penampilannya yang berantakan. Entah pemuda itu dari mana dan baru apa.
Bukannya menghentikan tangisnya, air mata Dayu semakin keras turun. Ia tidak tahu mengapa ia bisa menangis sekeras itu di depan Gala, tetapi yang jelas di detik itu ia ingin menupahkan segala perasaan sesaknya.
"Hei, kamu nggak pa-pa?" tanya Gala yang sedikit panik.
Isak tangis Dayu semakin kencang dan itu membuat Gala tergerak untuk semakin mendekati gadis itu dan mendekap tubuhnya. Ia usap punggung yang terus bergetar itu berulang kali, berharap Dayu akan tenang. Gala tidak tahu bagaimana cara menenangkan seorang wanita yang tengah menangis, tetapi ia harap yang ia lakukan cukup untuk membuat Dayu lebih tenang.
Malam itu Gala tetap mendekap tubuh Dayu dalam waktu yang cukup lama. Butuh waktu yang tidak sebentar sampai Dayu tenang. Namun, entah mengapa Gala tidak merasa keberatan. Ia sama sekali tidak melepas pelukannya sampai Dayu lebih tenang.
Selanjutnya, tidak ada percakapan di antara keduanya. Gala tidak bertanya lebih lanjut perihal apa yang membuat Dayu menangis, bukan kapasitasnya pula untuk tahu. Ia hanya mengantar Dayu sampai gerbang rumah gadis itu dan setelahnya pulang ke rumahnya sendiri.
Gala tidak mengerti, tetapi yang jelas Dayu berhasil mengalihkan atensi otaknya.
Tbc