12. Dari Gala

1065 Words
Dayu terbangun dengan kepala yang masih luar biasa sakit. Pandangan pertama yang netranya tangkap adalah plafon ruang UKS yang sudah sangat ia hafal karena sejujurnya ini bukan kali pertama ia tiba-tiba pingsan di sekolah. Dayu mengerjap-ngerjap beberapa kali karena pandangannya itu yang masih sedikit kabur. Ini pasti karena penyakitnya yang terus menekan syaraf-syaraf di otaknya. "Shhhh ...." Dayu meringis kesakitan saat rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Ia merasa kepalanya seperti ditusuk-tusuk dengan jarum. "Eh, lo oke?" Suara berat itu mengalihkan atensi Dayu. Ia baru sadar ada sosok lain di ruangan itu. Dayu tidak bisa melihat jelas siapa sosoknya karena pandangannya yang masih mengabur. Namun, ia cukup familier dengan suara itu. "Hmm?" Dayu tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya bergumam sambil terus menahan rasa sakit di kepalanya. "Ada apa?" Suara lain yang sepertinya baru datang kembali terdengar di telinga Dayu. Kali ini ia mengenali suara itu sebagai suara Gala. "Nggak tahu, sadar-sadar dia kesakitan gitu." Cowok yang tidak lain Keenan itu menjawab, ia ikut meringis saat melihat Dayu tak berhenti merintih. Tadi ia melihat Gala yang kesusahan membopong Dayu dengan kondisi seragam yang berlumuran darah. Keenan otomatis membantu saudaranya itu membawa Dayu ke UKS. "Kita bawa ke rumah sakit," ujar Gala. Seragamnya yang tadi terkena darah Dayu sudah ia ganti dengan seragam olahraga. "Shhh ... jangan, to-tolong panggilin temen gue aja, Me-Melysa namanya. Jangan bawa gue ke rumah sakit," cegah Dayu. "Tolong suruh dia ke sini dan bawain tas gue," lanjutnya. "Tapi lo kayak parah gitu, tadi juga abis mimisan. Nggak pa-pa emang kalau nggak dibawa ke rumah sakit?" tanya Keenan dengan bodohnya sembari menatap Dayu tidak yakin. "G-gue oke kok, i-ini cuma karena sakit kepala aja. Hm ... mi-minum obat aja pa-pasti langsung sembuh, kebetulan obat gue ada di tas," jelas Dayu berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan kesakitannya. "Ah, oke deh. Gue panggil temen lo dulu. Lo kelas IPA 2, kan?" Dayu mengangguk, setelah itu Keenan berlari keluar. Kini, tinggal Gala dan Dayu di ruangan itu, dan ada penjaga UKS juga di depan. Tatapan Gala sedikit lama di wajah pucat Dayu, entah apa yang pemuda itu pikirkan. Dayu yang ditatap demikian tak sempat merasakan salah tingkah seperti ketika ia di keadaan normal. Rasa sakit di kepalanya sudah mengambil seluruh atensinya. "Lo mau minum?" tawar Gala setelah keheningan yang cukup lama di antara mereka. Dayu belum sempat membuka mulut saat Melysa datang dengan napas terengah-engah. Wajah gadis itu penuh dengan kekhawatiran. "Day! Ya ampun, gue baru tahu lo masuk UKS, gue kira tadi lo nggak ke kelas karena ada urusan sama Pak Geraldi, tahunya lo di sini. Lo nggak pa-pa, kan? Kepala lo oke kan? Udah gak sakit lagi, kan? Kok bisa sih lo sampe mimisan gitu?" "Buset, nyerocos amat lo. Satu-satu kali kalau mau tanya. Kasihan tuh temen lo, udah tahu baru sadar, masih sakit gitu, malah lo cecar sama banyak pertanyaan," komentar Keenan dengan sinis. Melysa tidak menggubris cowok itu, ia kini membantu Dayu untuk duduk tegap. "Gue oke kok Mel, paling gara-gara tadi olahraga terus kecapekan, makanya gini. Nggak usah sekhawatir itu," kata Dayu menenangkan. "Ya gimana nggak khawatir? Lo mimisan sampe baju lo merah kayak gini. Terus lo pingsan juga, bangun-bangun kata Keenan lo kesakitan," ujar Melysa sambil melotot pada Dayu. "Gue nggak pa-pa, minum obat juga nanti udah oke. Lo jangan omelin gue gitu dong." "Duh, gereget gue sama lo. Itu temen lo lagi khawatirin lo, ya kalau kondisi lo beneran oke, sah-sah aja lo ngomong gitu. Masalahnya lo tadi parah. Jangan bebal gitu deh," ujar Keenan berkomentar lagi. Dayu menghela napas, tidak membalas lagi dan memilih meminta obatnya yang ada dalam tas yang Melysa bawa. "Makan ini dulu sebelum minum obat," ujar Gala yang sedari tadi hanya diam sambil meletakkan kantong plastik putih berisi sebotol air mineral dan sebungkus roti di ujung kaki Dayu. Ia sempat membelinya setelah berganti pakaian tadi. Dayu belum sempat merespons, tetapi cowok itu sudah kembali berbicara, "Semoga cepet sembuh, gue duluan," ujarnya lalu berlalu keluar. "Tumben tuh anak gitu," gumam Keenan pelan sambil melihat punggung kembarannya itu menjauh sebelum tertelan pintu. "Eh iya, makan itu dulu gih. Moga cepet sembuh ye, gue duluan juga. By the way, yang babu itu masih lanjut ya sampai tiga minggu ke depan. Hari ini sama besok gue kasih kompensasi nggak masuk lagi deh. Dah, bye!" ujarnya lagi lalu berlari keluar. "Dih, apaan tuh cowok? Padahal dia yang paling vokal bilang lo sakit, eh dia juga yang memperlakukan lo dengan nggak manusiawi," ujar Melysa sinis. "Udah Mel, obat gue boleh?" kata Dayu. Sejujurnya ia ingin mengatakan banyak hal, tetapi denyut di kepalanya yang tak berkesudahan membuatnya enggan berbicara lebih banyak lagi. "Eh iya, tapi makan dulu roti yang dibeliin Gala. Abis itu minum obat," kata Melysa. "Iya." Dayu tidak banyak bicara, ia hanya mengangguk dan menerima kantong plastik yang diambilkan Melysa. Gadis itu sempat menatapnya selama beberapa detik, kemudian mengulas senyum simpul. Hari ini interaksinya dengan Gala ada kemajuan lagi. Gala menolongnya lagi dan membelikannya roti serta air mineral. Meskipun hanya begitu, tetapi yang Gala lakukan cukup manis menurutnya. "Udah deh, tadi katanya mau minum obat? Bukan waktunya lo makin kesengsem sama si Gala," ujar Melysa menyadarkannya. "Iya, iya," kata Dayu dan mulai membuka bungkus roti itu. *** Dua hari sudah berlalu, Dayu sempat tidak masuk kemarin dan baru masuk lagi hari ini. Ia tengah berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu Keenan yang sedang mengambil motornya di parkiran. Seperti yang cowok itu mau kemarin, hari ini ia harus tetap menjadi babu pria itu, tentu untuk menjaga dua bocah nakal yang tempo hari hampir membuatnya tenggelam. Sejujurnya Dayu masih cukup takut dengan adik-adik Keenan. Pasalnya mereka sangat nakal dan bisa saja hal-hal seperti kemarin akan terulang kembali. "Nih, gue kali ini bawa helm dua," ujar Keenan sambil menyodorkan helm pada Dayu yang tengah bengong. "Ah, lama lo," katanya lalu memasangkan helm itu di kepala Dayu tanpa menunggu respons dari gadis itu. "Lo juga lama ambil motornya," kata Dayu. "Ya lo pikir gampang ngeluarin motor dari banyaknya motor yang keparkir? Apalagi motor gue di dalam banget, kudu nunggu motor-motor yang lain keluar," bela Keenan. "Dah, lo cepet naik gih. Atau mau gue gendong ala bridal dulu ke motor?" "Apaan sih?" Dayu mendengkus, lalu duduk di jok belakang motor bebek Keenan. "Pegangan gih, gue mau ngebut." Dayu tidak langsung menurut, baru setelah Keenan menarik gasnya kencang, ia memegang tas cowok itu kencang. Memang ada gila-gilanya cowok satu itu, Dayu tidak habis pikir. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD