11. Obrolan menjelang tengah malam

1133 Words
Langit malam ini tampak begitu gulita, tidak ada satu pun benda angkasa yang terlihat menggantung di sana. Namun, lampu-lampu rumah sekitaranya setidaknya mampu menghidupkan suasana. Gala yang tengah duduk di balkon kamar memejamkan mata, menikmati embusan angin malam yang menerpa wajah sembari jari-jemari tangannya memetik senar gitar. Membentuk alunan nada yang terdengar begitu menenangkan. Namun, hal itu tak bertahan lama saat Keenan datang dengan satu mug kopi dan segelas s**u. Cowok itu begitu ribut saat menyuruh kembarannya untuk menggeser duduk. "Haduh, panas, panas, panas! Geser, dong!" Gala cuma melirik. Namun tetap menggerakkan tubuh, memberi ruang kosong untuk adik beda lima menitnya itu. "Noh tuh s**u, baik kan gue?" katanya lagi sambil menaruh segelas s**u yang ia bawa di meja depan Gala. Ia lantas menyesap kopinya sendiri lalu memejamkan mata. Menikmati rasa pahit yang berjalan melewati tenggorokannya. Keenan adalah maniak kopi, mau jam berapa pun kalau ketagihan, dia bakal tetap meminum minuman dengan rasa pahit itu meski setelahnya dia tidak akan bisa tidur sampai esok hari. Seperti malam ini, meski jam sudah hampir menyentuh angka sepuluh, Keenan tetap terlihat dengan mug berisi cairan hitam itu. Gala hanya mengembuskan napas pelan. Tidak meraih susunya dan tetap memetik senar gitar yang sudah sejak tadi ia mainkan. Kepalanya mengangguk-angguk, mengikuti melodi yang ia ciptakan. "Jangan minum kopi terus," katanya di sela-sela itu. "Kasihan lambung lo." Bibir cangkir itu mulai menjauh dari mulut Keenan. Mengabaikan ucapan Gala, cowok itu bersuara, "Gimana perkembangan kasus yang lagi lo tanganin?" Gala mengedik. Tak ingin menjawab pertanyaan Keenan sama seperti cowok itu yang mengabaikan nasihatnya. Ia malah memilih kembali memainkan gitar. Sejujurnya, obrolan seperti itu sangat jarang mereka berdua lakukan. Biasanya Gala lebih suka dengan dunianya sendiri, sementara Keenan akan disibukkan dengan kedua adiknya yang luar biasa nakal. "Dih," Keenan terdengar berdecih. "kalau kasus lo itu udah bener-bener selesai, berarti lo nggak bakal nyamar lagi dong?" "Bisa jadi." "Dih?" Keenan lagi-lagi berdecih sebelum kembali menyesap kopinya. Jawaban Gala terlalu singkat untuk dirinya yang butuh penjelasan lebih. "Kata gue lo sok dingin," komentarnya. Gala memutuskan untuk menghentikan permainan gitarnya lalu meletakkan benda itu di sisi tubuh. "Emang lo mau gue jawab apa?" tanyanya dengan raut malas pada Keenan. "Ya, rencana hidup lo selanjutnya lah. Emang apa lagi? Cewek? Gue nggak yakin di kepala lo ada pikirin buat macarin anak gadis orang." Gala hanya mendengkus untuk itu. "Sebagai saudara yang baik gue cuma mau nanya sama lo?" Gala menyenderkan tubuhnya lalu menatap langit malam. Entah mengapa suasananya jadi sedikit biru, padahal yang mereka obrolkan bukan hal yang menyedihkan. "Gue nggak tahu." Gala menjawab pada akhirnya. Apa yang menjadi mimpinya sudah benar-benar ia genggam, meski ia tidak tahu mengapa ada rasa hampa setelah itu seperti apa yang ia capai bukan apa yang sesungguhnya ia inginkan. Keenan ikut menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi. Ia melihat Gala sebentar, sebelum mengalihkan pandangan pada mug kopinya yang hanya meninggalkan ampas. Diembuskan napasnya panjang. "Coba hidup normal, Gal. Hidup selayaknya anak seusia lo. Konon katanya, masa putih abu-abu itu masa paling indah. Masa di mana lo bakal terpikat sama seseorang, ngelewatin fase bucin abis sampai lo ngelakuin apa pun buat pacar lo biar dia nggak ngambek. Emang gue juga belum ngerasain itu sih, tapi akan. Yang artinya sebentar lagi. Gue rasa gue udah menemukan seseorang yang berhasil menjatuhkan jangkar gue buat gue nggak berlayar ke mana-mana lagi. Dan lo juga harus nemuin seseorang itu." Gala terdiam. Meski tak banyak berkomentar, kepalanya mulai ricuh sekarang. Memikirkan tiap kalimat yang adiknya ucapkan. Ia tidak merasa hidupnya tidak normal. "Jangan lari jauh dulu, Gal. Tunggu gue sama Kak Riaz. Kita bertiga lahir hampir barengan, jadi jangan curang, ya, Mas Gala?" jawabnya dengan menambah embel-embel panggilan seperti yang kedua orang tua mereka berikan. "Tahu juga nggak lo, di umur kita yang hampir delapan belas tahun ini, udah ada banyak hal yang kita lewati, tapi sayangnya hampir nggak ada lo di dalamnya. Nggak ada banyak momen tentang kita yang bisa gue inget-inget dan bisa gue kangenin kalau pas lagi nikmatin senja sama kopi." Benar, terlalu banyak hal yang sudah ia lewati tanpa melibatkan keluarganya, pun sebaliknya. Sudah banyak yang keluarganya lewati tanpa ada dirinya di sana. "Gal," panggil Keenan. "Hm?" "Keren kan gue bisa ngomong kayak gitu tadi," ujarnya sembari menepuk d**a dengan senyum yang lebar. "Keenan, lo terlalu banyak minum kopi." *** Dulu ketika duduk di sekolah dasar, Gala pernah mengikuti kelas akselerasi. Harusnya ia masih duduk di kelas empat. Namun dengan otaknya yang superencer, ia mampu mempersingkat waktu sekolahnya menjadi dua tahun lebih cepat. Pun berikutnya saat ia duduk di sekolah menengah pertama, lagi-lagi ia mengikuti kelas akselerasi sehingga di umurnya yang kedua belas tahun, ia sudah menanggalkan seragam putih birunya. Ia yang sedari awal sudah tertarik dengan film-film sejenis James Bond pun mendaftarkan diri di sekolah khusus untuk menjadi agen negara. Sekolah yang lumayan sulit ditembus dan hanya anak tertentu yang bisa sekolah di sana. Beruntung sekali Gala masuk dalam kualifikasinya. Tiga tahun lulus dari sana, Gala mendapat tugas pertamanya dengan menyamar sebagai salah satu siswa di sekolah yang sama seperti yang kedua saudara kembarnya masuki. Ada banyak kerancuan pada sekolah itu. Korupsi dan peredaran n*****a, Gala harus mengumpulkan bukti-bukti dari kedua kasus itu, tetapi sampai lebih dari satu tahun ia melakukan penyelidikan, hanya sedikit bukti yang ia dapat. Mereka bermain dengan sangat cerdik juga sangat licin. Namun kini ia bisa merasa sedikit lega. Penangkapan tempo hari setidaknya menjadi kunci untuk mengakses bukti-bukti yang ia butuhkan. Setelah itu, mungkin kasus itu akan benar-benar selesai dan ia akan fokus dengan kasus-kasus lain. Keenan tidak berbohong ketika cowok itu mengatakan hanya sedikit waktu yang mereka habiskan bersama. Lebih dari itu, Gala juga kehilangan masa remajanya. Masa di mana ia bisa menciptakan kisah picisannya sendiri, fase jatuh-bangun dan galau karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ya, seharusnya begitu. Namun, Gala memang terlalu fokus pada dunianya sendiri. Ia hampir melupakan eksistensi keluarganya, dan mungkin itu yang Keenan permasalahkan. "Gala, kamu ngantuk, ya, sampai nggak fokus begitu? Kasihan kodoknya, kamu nggak benar tuh belah perutnya." Suara Pak Geraldi menyentak Gala. Cowok itu lantas menatap ke bawah, dan benar saja. Sayatan yang ia buat di perut hewan dari kelas amphibia itu terlalu panjang dari yang seharusnya. "Sana kamu ke toilet, cuci muka dulu." Gala cuma mengangguk dan keluar dari lab Biologi. Ia berjalan menuju toilet yang berada di sebelah laboratorium. Namun, Gala cukup terkejut begitu hendak masuk ia malah berpapasan dengan gadis yang belakangan hampir selalu berurusan dengannya. Baju olahraga yang ia gunakan penuh dengan darah, pun dengan hidungnya yang masih meneteskan cairan merah kental itu. Gadis yang tak lain adalah Dayu itu menyipitkan mata. Mungkin sedang memastikan siapa sosok di depannya dengan pandangannya yang pasti sudah mengabur. Namun sayang, kepalanya yang benar-benar seperti ditekan mengusir kesadaran gadis itu sebelum tahu jika sosok yang ia temui adalah Gala. Detik berikutnya, Dayu malah limbung. Kesadarannya benar-benar hilang sekarang. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD