10. selain repot, ternyata juga aneh

1037 Words
Pagi ini Dayu terlihat berbeda. Rambut sebahunya yang biasa ia ikat, ia gerai dengan penjepit yang ia pasang di atas telinga. Hari ini dia harus tampil lebih menarik sebelum menemui Gala untuk berterima kasih sekaligus memberikan cowok itu ponsel baru untuk mengganti ponselnya yang lama, yang sudah ia hancurkan. Ia tidak lupa dengan keteledorannya tempo hari yang tanpa sengaja menjatuhkan ponsel Gala hingga rusak. "Day, lo nggak pantes banget sih gerai rambut gitu. Jadi kelihatan kayak cewek banget," komentar Melysa dengan kening mengernyit. "Gue cewek?" "Tapi lo tomboy!" "Sekali-kali tampil gini emang nggak boleh?" Dayu merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Sejujurnya ia agak risi juga berpenampilan seperti itu. Cuma, entah kesambet apa dia pagi tadi sampai punya pikiran menggerai rambut. Mungkin sudah bawaan alaminya sebagai gadis yang tengah dimabuk asmara. "Ya, boleh, sih. Cuman, aneh aja gitu," katanya. "Gue nggak biasa lihat lo berpenampilan kecewek-cewekan begini." "Gue tetep kelihatan nggak cantik, ya?" "Gue nggak bilang lo jelek, Day. Cuman bagi gue yang lihat lo nggak berpenampilan begini, ya aneh aja." Kedua bahu Dayu otomatis terkulai lemas. Meski Melysa tak mengatakan dirinya jelek, ucapan cewek itu membuat kepercayaan dirinya anjlok drastis. Kepalanya mulai berpikir macam-macam, apakah Gala nanti akan menganggapnya aneh? Bisa jadi cowok itu bakal langsung ilfeel kan? "Emang apa sih motif lo dandan kayak gini? Gala?" tebak Melysa tepat sasaran. Dayu cuma bisa menghela napas. "Gue pengen tampil beda aja, siapa tahu Gala bakal suka. Ya, emang sih, kalau dibandingin Riana gue nggak ada apa-apanya. Cuman, ya siapa tahu aja?" "Buseeet, jadi diri sendiri aja kenapa, sih? Ya percuma aja kalau semisal Gala suka sama penampilan lo, tapi lonya nggak nyaman. Jangan bohongin diri lo sendiri dengan jadi orang lain," kata Melysa dengan bijak. "Lagian, kalau si Gala emang beneran ditakdirin buat lo, mau lo cosplay jadi Nyai Grandong, dia bakal terima lo apa adanya. Kalau enggak, ya emang lo sama dia nggak ditakdirin sama-sama." "Tapi ya Day, gue salut sama lo. Itu artinya lo ada perkembangan. Lo kan insecure abis awalnya, sampe-sampe nggak ada keberanian buat deketin dia. Eh, sekarang malah nyoba tampil menarik. Ya, seenggaknya lo mau usaha, nggak cuma ngehaluin dia yang bakal suka lo balik tanpa usaha." Dayu tidak membalas. Ia malah memikirkan kalimat Melysa sebelumnya. Bagaimana kalau dirinya dan Gala memang tidak ditakdirkan bersama? Cowok itu terlalu jauh untuk ia jangkau, juga seperti kedalaman samudra, yang sulit ia selami. Jangankan menyelam, untuk menyentuhkan kaki ke permukaannya saja, Dayu tidak yakin kalau dia berani. Terlebih lagi, bisa jadi sudah ada sosok lain yang menempati hati Gala. Bu Sandra bisa jadi? Dayu bahkan hampir lupa saat kemarin tanpa sengaja ia melihat cowok itu masuk ke dalam toilet bersama guru Kimia mereka. Sesuatu yang tentunya bukan hal yang umum. Namun, Dayu yakin Gala tidak sebodoh itu. Pasti ada sesuatu yang mereka lakukan, tetapi bukan hal yang tidak baik. Pada akhirnya, garis-garis imajiner yang tersusun rapi di otaknya berubah menjadi garis abstrak yang rumit, yang membuat kepalanya mendadak berdenyut sakit. Kalau tahu jatuh cinta bisa semerepotkan ini, Dayu akan lebih memilih untuk tidak mencintai siapa pun. *** "Ada apa?" Gala mengerutkan keningnya saat mendapati sosok yang kemarin sempat ia tolong, berdiri persis di hadapannya. "Itu, soal kemarin," jawab Dayu. Ia menjeda sebentar ucapannya, mencoba menyusun kembali kalimatnya yang sudah ia siapkan. Namun malah buyar saat berada di hadapan cowok itu. Gala terlihat begitu tampan meski rambutnya terlihat acak-acakan, dan jantung Dayu rasanya mau copot dari tempatnya. "Hng, gue mau bilang makasih sama lo. Makasih karena kemarin lo udah nolongin gue. Kalau nggak ada lo, mungkin gue udah pindah ke alam lain sekarang." Ia menyambung pada akhirnya. Gala hanya mengangguk tanpa ada niatan untuk membalas ucapan sosok di depannya meski hanya dengan satu kata. Diam-diam Dayu mendesah kecewa. Gala terlalu pasif, padahal sebelumnya ia sudah berekspetasi tinggi akan respons cowok itu. "Ada lagi?" tanya Gala saat Dayu tak kunjung menyingkir dari hadapannya dan malah bengong sendiri. "Eh?" Cewek itu mengerjapkan matanya beberapa kali, agak terkejut dengan pertanyaan Gala yang sama sekali tak ia duga sebelumnya. Ia lantas mengangsurkan paper bag berisi ponsel baru pada cowok itu. Agak canggung. Namun Dayu mencoba percaya diri. "Ini buat lo. Isinya HP sebagai ganti yang kemarin nggak sengaja gue jatuhin," katanya. Gala hanya melirik paper bag itu dan membiarkannya menggantung begitu saja. Sejujurnya, dia tidak terlalu mempermasalahkan kalau seandainya cewek itu tidak mengganti ponselnya. Ia punya tabungan sendiri untuk membeli yang baru. Namun, bukan itu yang membuat Gala marah besar. Ada banyak data penting yang ia simpan di sana dan belum sempat ia pindah ke tempat lain. Jika ia kehilangan data-data itu, maka segala usaha yang ia lakukan akan berakhir sia-sia. Tidak mendapat respons yang berarti dari Gala, Dayu menarik tangannya dengan senyum canggung. Demi apa pun, Gala sangat pasif. Dayu sampai dibuat malu. Baru tahu dia, ada spesies macam Gala di dunia ini. "Maaf. Yang kemarin itu gue nggak sengaja," kata Dayu pada akhirnya. Dia sudah tidak tahu harus bersikap seperti apa dan berucap bagaimana lagi di depan cowok yang sayangnya selalu ia selipkan asmanya dalam setiap harap yang ia ucap. Heran saja sebenarnya, bagaimana bisa ia jatuh hati pada cowok yang serupa es di Kutub Utara itu? Rupanya, selain merepotkan, jatuh cinta itu juga aneh. Dayu tidak paham prosesnya bagaimana, mendadak saja jantungnya berdetak tidak normal. Ada sesuatu pula yang bereaksi di perutnya, seperti ada hal tak kasat mata yang tengah menggelitikinya. "Kamu bisa simpan itu sendiri." "Eh? Kenapa?" "Saya udah beli yang baru." "Maaf kalau gue telat ngasihnya," sesal Dayu. "Tapi lo bisa nerima ini kan? Gue harus tetap tanggung jawab." "Saya nggak mau menyimpan sesuatu yang nggak akan saya gunakan, jadi kamu simpan itu buat diri kamu sendiri." Untuk pertama kalinya, Gala membalas ucapan Dayu dengan kalimat yang lumayan panjang. "Udah, kan? Kalau begitu, tolong minggir. Saya mau lewat. Jangan bikin waktu saya terbuang percuma buat ngeladenin kamu." Kalimat pedas itu otomatis membuat Dayu menggeser tubuhnya, dan mempersilakan Gala untuk menghela kaki menjauhi dirinya. Ada sesuatu yang bergemuruh di d**a Dayu. Dayu tidak mengerti mengapa rasanya bisa sesesak itu hingga bernapas saja ia kesulitan. Jangankan untuk masuk ke hidup Gala dan menjadi salah satu lakon penting dalam drama romansa cowok itu. Ia sudah lebih dulu ditendang sebelum berhasil mengetuk pintu hatinya. Miris sekali dia. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD