Sejujurnya Gala tahu perihal berita burung yang beredar di seantero SMA 127, perihal dirinya dan Bu Sandra yang memiliki hubungan khusus. Tidak satu atau dua anak yang menggosipkan dirinya. Namun, tidak sedikit juga yang membelanya dan mengatakan bahwa semua itu hanya konspirasi yang dibuat oleh anak-anak yang iri dengannya.
Gala sendiri tidak pernah mengkonfirmasi hal itu atau bahkan membela dirinya sendiri dengan menepis berita yang beredar. Ia membiarkan hal itu begitu saja. Terserah mereka mau apa, Gala tidak mau memusingkan hal-hal yang tidak berguna.
Ia memang memiliki hubungan dengan Bu Sandra, tetapi bukan hubungan seperti yang mereka pikirkan. Di lingkungan sekolah, keduanya adalah guru dan murid. Namun di luar itu, mereka adalah partner kerja. Mengabdi pada negara, dan menjadi salah satu anggota BIN. Ya, ia adalah satu dari sekian banyak orang yang diberi kepercayaan untuk bergabung dengan Badan Intelijen Negara.
"Tangkep, Gal!"
Bu Sandra melempar kantong berisi es batu pada Gala. Cowok itu dengan sigap menerimanya dan mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Ada beberapa titik lebam di wajah Gala, sementara sudut bibirnya terdapat luka kecil.
"Geraldi mana?" tanya wanita itu sambil mendudukkan dirinya di samping Gala. Keduanya sedang duduk berdua di bangku depan sebuah minimarket, beristirahat setelah merampungkan tugas mereka.
"Lagi ngobrol sama pihak kepolisian." Cowok itu mengedikkan dagunya pada kumpulan orang yang berdiri tak jauh dari gerbang sekolah, sebelum menempelkan kantong es itu ke pelipisnya yang lebam.
Suasana di sana sudah lumayan sepi dari hiruk-pikuk anak yang mengikuti olimpiade, hanya lalu-lalang kendaraan di depan mereka, juga beberapa angkot yang sedang ngetem.
Mereka baru saja melakukan penangkapan pada beberapa oknum yang sudah mereka awasi dari berbulan-bulan yang lalu terkait pengedaran n*****a di kalangan anak sekolah. Berbekal dengan informasi yang mereka kantongi, Gala dan beberapa rekannya berhasil menangkap oknum-oknum yang tengah melakukan transaksi. Seorang guru dari sebuah sekolah dan beberapa murid dari sekolah-sekolah di ibukota yang merupakan bandar kecil.
Mereka cukup cerdik melakukan transaksi dengan memanipulasi kegiatan mereka seolah-olah sedang mengikuti olimpiade. Beruntung pihak BIN bisa melacak sejumlah transaksi mencurigakan yang kemudian mereka awasi pergerakannya selama beberapa bulan belakangan, dan juga meretas akun dari seseorang yang mereka curigai hingga mendapat informasi seputar transaksi itu.
Ada sedikit baku hantam saat penangkapan terjadi, untung saja pihak BIN dan kepolisian begitu sigap meringkus mereka meski harus sampai menarik pelatuk.
"Habis ini kamu mau pulang?"
"Mungkin. Nggak ada rapat lagi kan Bu habis ini?"
"Nggak ada sih. Kamu dibebastugaskan sama pimpinan sampai sebulan ke depan. Buat istirahat. Lagian, ada ulangan tengah semester juga, kan?"
Gala cuma mengangguk beberapa kali, sebelum melempar kantong es yang mulai mencair itu ke tong sampah di dekatnya. Udara yang panas membuat es di dalamnya mencair dengan cepat.
"Kalau begitu saya pulang dulu ya Bu," katanya seraya bangkit dan mencangklongkan tas yang ia taruh di atas meja tadi ke bahunya.
"Nggak nunggu Geraldi dulu?"
Gala menatap Pak Geraldi sebentar yang masih sibuk mengobrol dengan pihak kepolisian sebelum menggelengkan kepalanya. "Enggak, Bu. Saya pamit dulu."
Hari ini ayah dan ibunya akan berangkat ke Palu untuk menjadi relawan medis. Entah keduanya sudah berangkat atau belum, Gala pun tidak tahu. Hari ini ia disibukkan dengan olimpiade dan misinya di balik itu sampai-sampai lupa bertanya kapan mereka akan berangkat. Bisa jadi keduanya sudah tidak ada di rumah.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit, ia tiba di rumahnya dan memarkirkan motor bebeknya di samping motor bebek Keenan.
Masuk ke dalam rumah, tumben-tumbenan ruang keluarga tampak tak seberantakan biasanya.
Di luar, ia bisa mendengar kedua adiknya yang sedang bersorak. Entah apa yang membuat mereka bahagia. Bisa jadi karena lelucon Keenan karena kalau Riaz, sudah pasti hanya akan ada tangis.
Gala melangkahkan kakinya menuju pintu yang berbatasan langsung dengan samping rumahnya. Begitu sampai di sana, bukan kedua adiknya yang menjadi fokus Gala, melainkan seorang gadis dengan kedua tangan yang mencoba meraih-raih sesuatu dari dalam kolam dengan kepala sesekali menyembul ke permukaan.
Gala tak mendengar jelas kata-kata yang keluar dari mulut perempuan itu karena sudah lebih dulu teredam oleh air dan benar-benar tenggelam tak terlihat.
Gala tidak perlu waktu lebih dari dua detik untuk mencerna apa yang terjadi. Cowok itu sudah bisa menyimpulkan semuanya. Meski sejujurnya ia bertanya-tanya mengapa gadis yang sama dengan gadis yang dihukum dengannya berminggu-minggu yang lalu itu bisa ada di sana.
Tanpa melepas seragam sekolahnya, ia langsung berlari dan secepat kilat menceburkan diri ke dalam kolam dan meraih tubuh si gadis yang sudah benar-benar tenggelam di dasar kolam.
Gala mencoba menggerakkan tubuhnya di dalam air secepat yang ia bisa. Meraih pinggang si gadis begitu ia bisa menjangkaunya, lalu membawanya ke permukaan.
Ia segera membaringkan tubuh Dayu ke tepi kolam sementara ia langsung naik ke atas. Cowok itu lantas mendekatkan telinganya ke hidung Dayu, mengecek pernapasannya. Tidak merasakan apa pun, Gala segera memeriksa nadi gadis itu. Masih ada, tetapi sangat lemah.
Gala tidak menunggu waktu lebih lama untuk melakukan pertolongan pertama. Ia segera melakukan CPR dengan menekan beberapa kali d**a gadis itu, tak peduli jika kedua adiknya tengah merajuk dan menyayangkan sikap heroiknya.
"Kamu harus bangun, buka mata kamu, tolong." Gala tetap melakukan CPR. Namun, beberapa detik berlalu, ia masih belum merasakan pernapasan gadis itu. Kemungkinan, paru-parunya sudah penuh dengan air.
Harapan terakhir, Gala mencoba memberi napas buatan pada Dayu. Ia menjepit hidung gadis itu, mengambil napas normal, lalu menutupi mulut si gadis dengan mulutnya untuk membuat segel kedap udara. Setelah dadanya terangkat, ia segera memberi napas padanya.
Tak lama setelah itu, ia terbatuk beberapa kali dengan air yang keluar dari mulutnya. Gala menghela napas lega. Ia lalu memandang kedua adiknya yang sudah pasti bertanggung jawab atas hal itu karena tidak mungkin juga orang yang tidak bisa berenang menceburkan diri dengan sukarela ke dalam air.
Mungkin kedua adiknya memang masih kecil, tetapi sikap nakal mereka tidak bisa ditolerir lagi. Masalahnya, mereka hampir menghilangkan nyawa seseorang.
"Mas mau ngomong sama kalian berdua." Dan suara berat itu adalah perintah mutlak pada kedua adiknya.
Gala tidak ingin menjadi kakak yang galak, ia hanya ingin menjadi kakak yang tegas yang bisa membimbing adiknya.
***
Sudah lebih dari lima menit, hanya ada keheningan di ruang keluarga itu. Gala yang sudah berganti pakaian hanya duduk dengan diam. Namun matanya tak lepas menatap kedua saudara kembarnya yang cuma menunduk sambil masing-masing memainkan tangan itu.
Gala kecewa, Gala marah, dan Gala sangat menyesali perbuatan Riaz juga Keenan yang sama sekali tak bertanggung jawab dan malah menyerahkan kewajiban mereka pada orang lain sehingga membuat orang itu hampir meregang nyawa.
Cowok itu benar-benar tak habis pikir. Ia jadi membayangkan kedua adiknya yang masih kecil harus menyandang status sebagai kriminal karena keteledoran kakak-kakaknya. Anak sekecil mereka tentu butuh bimbingan juga perhatian yang lebih. Apalagi mereka juga tahu, baik Gema ataupun Gena cukup jahil dan nakal.
"Mas, serius. Jangan diem aja tapi natapnya tajam kayak silet. Gue nggak ada maksud ninggalin Dayu sama dua curut, gue emang lagi ngerjain tugas gara-gara tugas gue dirusak sama mereka," kata Riaz yang sudah tak terlalu tahan dengan atmosfir beku yang tercipta di ruangan itu. Kalau dia tahu akhirnya bakal begini pun Riaz lebih memilih menjaga kedua adiknya supaya tidak melakukan hal-hal nakal seperti tadi.
Serius demi apa pun, dia syok ketika tahu gadis yang Keenan bawa sudah berwajah pucat dengan tubuh yang dari atas sampai bawah sudah basah oleh air. Pun saat ia melihat Gala, Riaz bahkan tak sempat berpikir macam-macam ketika adik kembarnya itu langsung menyemprotnya dengan kalimat tajam.
"Gema sama Gena tanggung jawab kita, Ayah sama Bunda udah pasrahin mereka buat lo, gue, sama Keenan. Terlepas ada orang lain yang bisa kalian pasrahin, bukan berarti kalian bisa seenak jidat kalian. Tanggung jawab itu masih ada di kalian. Seenggaknya kalian bisa awasin mereka dari jauh. Paham maksud gue?" Gala membuka suaranya untuk pertama kalinya setelah hanya berdiam diri sejak tadi.
Tidak ada intonasi berarti dari kalimat-kalimat sumbang yang ia lontarkan, pun raut wajahnya yang membuat Riaz tanpa sadar bergidik ngeri saking takutnya ia. Masalahnya, aura Gala lebih seram dari Mbak-Mbak rambut panjang yang katanya sering nangkring di pohon beringin samping lapangan komplek perumahan mereka.
Sementara itu, Keenan sama sekali tak membuka suaranya. Dia tahu, di sini dia yang paling salah. Dia yang sudah membawa Dayu, dia yang sudah memasrahkan kedua adiknya pada cewek itu, dan dia pula yang meninggalkan mereka hanya untuk tidur. Keenan benar-benar bersalah dalam hal itu. Dan dia jugalah yang bertanggung jawab kalau semisal ada sesuatu yang buruk yang menimpa Dayu. Keenan merasa bahwa dia adalah manusia tertolol di dunia.
"Gue kecewa sama lo pada. Kita udah bukan anak kecil lagi, kan? Kita udah dewasa. Kita udah di usia legal. Harusnya kita udah bisa mikir gimana-gimananya nanti sama hal yang mau kita lakuin atau yang kita rencanain. Di sini gue nggak nyalahin kalian, tapi yang kalian lakuin itu memang salah. Nggak, bukan berarti gue bener. Gue pun salah karena gue juga nggak bertanggung jawab di sini."
Baik Riaz dan Keenan tahu, kalau Gala sudah berbicara sepanjang itu, maka masalah mereka bukan masalah yanh ecek-ecek, yang sering keduanya perdebatkan, melainkan lebih serius dari itu. Usia mereka mungkin memang sama, tetapi untuk urusan bersikap, Gala lah yang paling juara.
Cowok itu punya pemikiran yang lebih dewasa dari kedua saudara kembarnya, dan baik Riaz maupun Keenan sama sekali tidak keberatan jika apa yang meraka lakukan dikritik habis-habisan oleh Gala. Toh, keduanya tahu niat Gala cuma ingin yang terbaik untuk mereka.
"Gue harap ini nggak keulang lagi," kata cowok itu, tampaknya ingin mengakhiri perbincangan mereka, "dan lo, Key, anterin cewek yang lo bawa, pulang ke rumahnya."
Setelah itu Gala beranjak dari sana, tak lagi mengatakan sepatah-dua patah kata pada kedua saudara serahimnya. Ia masih harus memberikan konseling pada dua adik kecilnya yang ia perintahkan untuk berdiam diri di kamar dan merenungi kesalahan mereka.
Keduanya memang masih terlalu belia, tetapi bukan berarti Gala tidak berhak mengambil sikap seperti itu. Toh, yang ia lakukan juga tidak membahayakan Gema dan Gena. Tujuannya pun baik, ia berharap mereka mengerti jika yang mereka lakukan adalah kesalahan fatal, yang tidak bisa ditolerir lagi. Dan Gala juga tidak bisa membiarkannya begitu saja kalau dia tidak ingin Gema dan Gena terjerumus ke hal yang salah.
Gala ingin yang terbaik untuk adik-adiknya.
***
"Gue minta maaf," kata Keenan begitu ia masuk ke dapur dan mendapati Dayu yang sudah berganti pakaian dengan pakaian Riaz, duduk di salah satu kursi sambil sesekali menyesap cokelat panas yang sempat ia buatkan sebelum disidang Gala. Wajah gadis itu sudah tak sepucat tadi. Pipinya sudah dipenuhi rona kemerah-merahan.
"Hmm, gue nggak papa. Nggak murni kesalahan lo juga," sahut Dayu sambil kembali menyesap minumannya yang tinggal sedikit.
Sejujurnya, dia sempat mendengar Gala mengomeli Keenan dan Riaz. Dia sama sekali tidak menyangka cowok itu bakal sedewasa itu. Tidak salah Dayu mengaguminya.
"Tapi lo hampir mati gara-gara adik gue."
"Iya kan hampir. Sekarang alhamdulillahnya gue masih napas. Nih, gue masih ada di hadapan lo, belum traveling ke alam lain," sahut cewek itu sambil memberikan tatapan datarnya.
Kalau boleh jujur, Dayu mau marah, tetapi anak sekecil mereka mana paham kalau apa yang mereka lakukan bukan hal yang benar?
"Enak banget lo kalau ngomong. Traveling-traveling, kayak lo mau keliling Indonesia aja. Mau banget mati."
"Ya terus gue harus gimana? Toh, gue masih hidup sekarang. Emang sih, apa yang dua adik lo lakuin salah, tapi gue harus apa? Mereka anak kecil, mau semarah apa pun gue, mereka mungkin nggak akan paham maksud gue. Jadi, nggak papa. Kalau lo masih ngerasa bersalah, ya udah, lo harus bisa didik adik-adik lo lebih baik lagi ke depannya," sahutnya panjang lebar.
"Lo baik banget."
"Gue emang baik kok, lo aja yang nuduh gue yang enggak-enggak."
"Gue nggak nuduh lo, tapi faktanya lo emang hampir bikin gue kehilangan masa depan gue." Keenan berkata dengan jengkel. Cowok itu berdecak, agak menyesal juga sudah memuji gadis itu baik. Nyatanya, Dayu termasuk golongan cewek menyebalkan.
"Hampir, masih hampir, masa depan lo masih ada," katanya. "Gue hampir lupa. Ngomong-ngomong soal insiden tahun lalu, kita anggap impas aja gimana? Gue nggak perlu jadi babu lo lagi."
"Eh, mana bisa gitu? Tetep ya, lagian lo bilang gue nggak murni salah, jadi lo masih ada utang kesalahan sama gue. Lo masih harus jadi babu gue buat sebulan ke depan."
"Kok lo curang?"
"Kok lo curang?"
Dayu menghela napas. Keenan memang menjengkelkan lebih dari apa pun. Harusnya dia tahu itu.
"Lagian, lo kan bisa menikmati kegantengan gue. Jarang-jarang kan, lo bisa deket manusia yang punya wajah good looking begini?"
Dayu memicingkan kata, keningnya berkerut dengan sendirinya begitu mendengar ucapan penuh percaya diri dari Keenan. "Nggak salah lo? Gantengan juga saudara lo."
"Gala? Cowok kaku kayak dia? Dih, mentang-mentang dia yang nolongin lo, lo jadi muji dia lebih ganteng dari gue."
Ah, iya. Dayu hampir lupa dengan fakta itu. Gala lah menyelamatkannya. Tanpa sadar Dayu memegang bibirnya. Cowok itu tadi memberinya napas buatan. Itu berarti mereka pernah berciuman, kan?
Dayu mendadak merasakan pipinya yang memanas. Dia tidak peduli dengan Keenan yang menatapnya aneh. Paru-parunya sedang kembang kempis dengan irama yang lebih cepat sekarang, pun dengan jantungnya yang berdetak tak sesuai aturan.
Astaga, Dayu tidak bermimpi, kan? Kalau iya, tolong jangan bangunkan dia.
Tbc