Keenan menghentikan motor bebeknya begitu tiba di depan sebuah rumah besar dengan gerbang tinggi di depannya. Cowok itu membunyikan klakson motornya beberapa kali. Kemudian, tak lama setelah itu, seorang lelaki di pertengahan kepala tiga muncul.
"Wih, Aden. Udah berani bawa pacarnya ke rumah mentang-mentang Tuan sama Nyonya nggak ada di rumah," kata lelaki itu sambil melemparkan senyum menggoda ke arah Keenan yang cuma memutar bola matanya malas.
"Apa, sih, Pak? Bukain aja deh gerbangnya. Udah panas nih, entar kulit saya gosong, nggak keren lagi," sahut cowok itu dengan nada jengkel. "Lagian, dia ini babu saya, Pak. Saya bawa ke sini buat jaga dua krucil." Ia meneruskan dengan nada jengah. Tampaknya, meski hubungan mereka adalah pekerja dan majikan, keduanya cukup dekat sampai-sampai bisa sesantai itu saat mengobrol.
"Halah, Aden. Nggak bisa ya Aden tipu-tipu saya. Saya nggak bakal percaya. Mau iya-iya kan, Aden?"
Keenan berdecak, sementara Dayu yang berada di belakang cowok itu langsung bersemu mendengar guyonan si satpam yang terlalu frontal itu. Dayu tidak sedang membayangkan hal-hal yang kotor dan liar kok, tetapi ucapan satpam itu memang cukup tabu baginya. Untung saja ada helm fullface Keenan, jadi ia bisa menyembunyikan rasa malunya itu.
"Bapak nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh, mau saya iya-iya mau saya enggak-enggak, itu urusan pribadi saya ya Pak."
"Ya ampun Den, saya kan cuma bercanda. Kayak nggak kenal aja sih, Den. Lagian, kalau mau apa-apa mah, itu ya terserah Den Keenan. Dosa yang nanggung juga Aden sendiri. Cuman kalau hamil Mbaknya kan ya, berabe. Aden masih sekolah."
"Buka gerbangnya atau mau saya patahin leher Bapak?"
"Ya Allah Den, s***s bener." Lelaki itu lantas segera mendorong pintu gerbang hingga memberikan celah yang cukup untuk Keenan lalui.
Keenan tidak lagi membalas, cuma membunyikan klaksonnya berkali-kali dengan sangat nyaring lalu melajukan motor bebek itu memasuki perkarangan rumahnya yang luas. Dayu yang berada di belakang Keenan bisa dengan jelas mendengar dumelan cowok itu yang tak berhenti sejak beberapa puluh detik lalu.
"Dah nyampe, turun lo!" Keenan masih berbicara dengan nada sengak begitu motor cowok itu berhenti di carport samping rumah.
"Iya ...," sahut Dayu sembari menahan gemas sambil mencopot helm yang ia pakai.
Ingin sekali rasanya menendang p****t Keenan, kalau perlu sampai Antartika. Sejak di halte tadi, sikapnya tidak ada baik-baiknya. Dan Dayu kemungkinan harus menghadapi cowok itu sampai sebulan ke depan untuk menebus kesalahan yang tidak ia sengaja di masa lalu. Padahal jelas-jelas itu kecelakaan, meski memang cukup fatal.
"Abaaaaaaaang! Huwaaaaaaaaa!" Teriakan melengking dari dua anak yang berdiri di ambang pintu itu langsung menyambut Dayu begitu menginjakkan kakinya di teras rumah Keenan.
Kedua anak yang terlihat seumuran itu langsung menghambur ke arah Keenan dan memeluk pinggang cowok itu dari di sisi kanan dan kiri.
"Kenapa nih, kok tiba-tiba nangis?" tanya cowok itu dengan kening berkerut, sementara Dayu hanya menonton dari samping.
"Kak Riaz jahat, bentak-bentak Gema sama Gena kayak kemarin. Kan sedih," aduh si anak lelaki.
"Emang kalian bikin ulah apa lagi?"
"Iiih, Abang! Kok gitu ngomongnya?! Gema sama Gena nggak ngapa-ngapain kok, iya kan Gen?" Anak yang Dayu tebak bernama Gema itu meminta persetujuan gadis manis di sampingnya.
"Iya tahu, Bang. Kita cuma gambar-gambar sama warnain buku Kak Iaz doang, kok, nggak lebih. Nggak kasih permen karet di rambut Kak Iaz kayak kemarin. Seriusan, kita-kita nggak boong," sahut anak itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali, membuat poni yang menutup dahinya dengan sempurna bergerak naik-turun dengan lucu.
"Dih, apaan?! Kalian nyoret-nyoretin buku tugas Kakak, padahal udah Kakak rangkum dari beberapa hari lalu. Tahu nggak, Kakak harus nulis ulang!" sahut sosok yang dimaksud setelah muncul tiba-tiba dari dalam rumah, berkacak pinggang dan menatap dua anak itu dengan tatapan tajamnya.
"Iih, kan kita mana paham Kak? Kita kan masih anak kecil," sahut Gena dengan bibir mengerucut.
"Kalian udah enam tahun! Udah bukan anak umur satu tahun yang nggak ngerti apa-apa! Nggak usah pake jurus tipu daya, Kakak nggak bakalan percaya! Kalian udah ngerencanain ini, kan? Dasar, bisa nggak sih jadi anak nggak nakal kayak gini? Kebanyakan nonton Pinochio kalian." Cewek yang Dayu tahu bernama Riaz itu terlihat marah besar. Bahkan tak segan-segan meneriaki dua adik kecilnya.
Dayu paham bagaimana dongkolnya Riaz. Cewek itu harus merelakan pekerjaan yang dia bikin selama beberapa hari dan harus membuatnya ulang. Itu benar-benar menyebalkan. Dia pasti juga akan marah jika berada di posisi Riaz.
"Udahlah Yaz, biarin aja. Mereka emang masih kecil kok. Pengang kuping gue denger lo marah-marah mulu," ujar Keenan sambil melepaskan pelukan kedua adiknya.
"Ya nggak bisa dibiarin dong mereka. Mereka nggak cuma satu kali, dua kali, ya, ngerjain gue, tapi berkali-kali. Catat, berkali-kali. Rasanya gue mau refund dua krucil jengkelin ini ke Tuhan." Gadis itu menyahut masih dengan wajah masam.
"Kak Iaz jahat, aduin lho sama Ayah sama Bunda," kata Gema.
"Aduin sana, aduin, wong Ayah sama Bunda lagi ada dinas ke Palu, terus pasti baliknya lama. Lagian, mana mau mereka belain anak-anak nakal kayak kalian?" sinis cewek itu pada kedua adiknya.
"Iiih, jahat!"
Keenan hanya mengembuskan napasnya dengan lelah. Kedamaian hanya akan jadi wacana kalau di rumah mereka masih ada spesies macam Riaz dan kedua adik bontotnya yang punya kadar kenakalan tinggi.
Kebetulan sekali, hari ini kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai dokter mendapat tugas untuk menjadi relawan medis di Palu selepas bencana besar yang menyerang kota itu. Membawa Gema dan Gena ke sana tentu bukan pilihan yang bagus. Jadi, sepasang anak kembar itu tetap ditinggal di rumah bersama ketiga kakaknya. Lagi pula, kedua anak kecil itu juga sudah masuk sekolah dasar yang pastinya tidak bisa ditinggal begitu saja.
Itulah alasan di balik ia menghubungi Dayu tadi dan menjadikan cewek itu sebagai pengasuh Gema dan Gena. Riaz dan kedua adiknya adalah bencana yang tidak bisa dikombinasikan, dan Keenan juga bukan termasuk manusia yang punya kesabaran ekstra menghadapi tingkah laku menjengkelkan dua krucil itu.
Jangan singgung soal Gala, baik Gema dan Gena cukup takut dengan cowok itu. Gala cuma diam dan menatap mereka saja, keduanya pasti bakal lari ketakutan, seolah cowok itu adalah monster yang menakutkan.
"Eh, bentar, bentar. Gue baru sadar, anjir. Lo nggak bakal ninggalin dua anak ini kan buat pacaran?"
Keenan memutar bola matanya. "Dia babu gue, buat jagain tuh bocah-bocah nakal," katanya. "Dan please ya, jangan ngomong onjar-anjir. Entar krucil-krucil ini niruin lo, kayak nggak tahu mereka aja. Entar kita lagi yang kena."
"Anjir!" seru Gema dan Gena dengan kompak.
"Tuh, baru mingkem."
Riaz berdecak, lalu menatap kedua anak kecil di depannya penuh peringatan. "Jangan niru, entar nggak Kakak kasih makan."
"Aduin Ayah sama Bunda, wleee ...."
"Mau Kakak jewer kuping kalian?" Cewek itu menatap tajam sambil bersiap-siap menjewer telinga kedua adiknya itu.
Gema dan Gena berpandangan. Kedua anak itu lantas menyunggingkan senyum penuh makna, kemudian menatap kakak tertuanya. Dua detik setelahnya, dengan kompak sepasang anak kembar itu menginjak masing-masing kaki Riaz hingga membuat gadis itu berteriak nyaring.
"SAKIT ANJIR!"
Dayu yang cuma diam sejak tadi cuma bisa meringis. Suara keras Riaz memang luar biasa. Sementara itu, Keenan cuma memutar bola mata dan mengembuskan napas lelah. Kalau bisa, dia mau refund saudara saja. Lama-lama bisa stres menghadapi orang-orang macam mereka.
***
"Digaji berapa lo sama Keenan, pake mau-mau aja jagain dua bocah nakal itu?" tanya Riaz saat keduanya berada di ruang tamu dan membereskan segala kekacauan yang Gema dan Gena timbulkan, mengembalikan mainan yang berserakan ke dalam sebuah kotak.
Keenan sendiri sudah naik ke lantai dua. Entah apa yang cowok itu lalukan, bisa jadi tidur, bisa jadi juga main game. Sementara Gema dan Gena sedang ngemil di depan televisi, menonton kartun kesukaan mereka.
"Eh?" Dayu menggaruk kepalanya. "Enggak dibayar sih. Cuma ini bisa dibilang kompensasi karena dulu pernah nggak sengaja nyelakain Keenan. Tahu kan, yang sampe dia nggak masuk gegara insiden di tempat latihan beladiri? Itu gara-gara gue."
"Wah, hebat juga lo bisa ngalahin dia," pujinya. "Eh iya, abis ini gue ke kamar dulu ya, mau ngerjain tugas rangkuman yang dirusak sama tuh dua anak. Anggap aja rumah sendiri, kalau laper sama aus, tinggal minta aja sama Bibi."
Dayu cuma tersenyum tipis dan mengangguk. Sejujurnya agak canggung juga mengingat keduanya tidak begitu mengenal.
Selesai dengan kegiatan mereka, Riaz langsung menuju kamarnya sementara Dayu mulai kebingungan. Keenan sudah menjelaskan tugasnya sebenarnya, menunggu dan mengawasi kedua adik cowok itu kalau-kalau mereka kembali bertingkah.
"Hai, Kakak boleh kenalan?" sapa Dayu pada kedua anak itu sembari mendudukkan dirinya di dekat Gema dan Gena.
Kedua anak itu tak lantas menggubris Dayu, malah saling menatap. Sesaat kemudian, senyum terbit di wajah kedua.
Mereka kembali menatap Dayu dan mengangguk dengan semangat. "Boleh," kompak mereka.
"Nama aku Gema. G-E-M-A. Ini Gena. G-E-N-A. Aku sama dia kembar," kata si anak laki-laki sambil mengeja nama keduanya.
"Hai Kak!" Si anak gadis melambaikan tangan sambil menunjukkan gigi gigisnya.
"Hai juga, Kakak namanya Kak Dayu."
"Kakak mau main sama kita?"
"Eh?"
Dayu terkejut. Secepat itukah mereka mengakrabkan diri dengan orang yang baru mereka kenal? Kalau ada penculik, keduanya bakal mudah diperdayai.
"Ayo Kak, jangan diem aja!"
Kedua anak itu sudah bangkit dari posisinya, mengambil tangan Dayu dan menarik-narik cewek itu untuk berdiri.
Dayu menurut dan mengikuti langkah kedua anak itu yang membawanya ke sisi rumah. Cewek itu agak terkejut begitu yang mereka tuju adalah sebuah kolam renang. Sekelebat memori buruk berputar di kepalanya, membuatnya merasa lemas mendadak.
Ia belum sempat bereaksi dan menjauh dari sana saat kedua anak itu mendorong tubuhnya hingga membuatnya tercebur ke dalam kolam renang.
Dayu gelagapan, mencoba menjejakkan kaki ke dasar. Namun ia tercebur di bagian kolam yang dalam, bukan yang dangkal. Air kolam sudah masuk ke dalam mulut Dayu. Hidung dan dadanya terasa panas, sesak, dan sakit. Memori masa lalu yang membuatnya trauma berputar bak kaset rusak di kepalanya. Ia sudah tak memikirkan bagaimana sesaknya ia sekarang. Melainkan mencoba melawan ketakutan yang menyerangnya.
"Hap ... hmp ... hah ... t-oloph ...."
Pada akhirnya Dayu menyerah. Tubuhnya benar-benar tenggelam sekarang.
Namun, sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, ia sempat melihat seseorang menceburkan diri ke dalam kolam renang. Setelah itu, semuanya gelap. Ia sudah tidak bisa mendengar dan merasakan apa pun.
Mungkin semuanya akan tamat sampai di sana.
Tbc