7. Olimpiade

1398 Words
Dayu menunggu dengan tangan yang saling bertaut. Cukup deg-degan ketika pengawas olimpiade mulai menarik lembar jawaban yang sudah ia isi tadi. Cewek itu tidak berharap bisa mendapatkan nilai yang sempurna sebab memang ada beberapa soal yang tidak ia yakini jawabannya dan sengaja ia biarkan kosong agar tak mengurangi poin yang sudah ia kumpulkan dari jawaban yang benar. Peraturan nilai pada olimpiade memang begitu. Jawaban benar bernilai dua, tidak mengerjakan nol, dan salah minus dua. "Sekarang kalian bisa keluar. Untuk soal boleh kalian bawa pulang." Suara keras pengawas yang berada di depan ruangan mengalihkan perhatian Dayu. Cewek itu lantas segera membereskan segala peralatan tulisnya yang tadi masih ia biarkan berserakan. Ketika ia sudah berada di luar, gadis itu bisa melihat Gala yang sedang mengobrol dengan Bu Sandra dan juga Pak Geraldi. Wajah mereka tampak serius. Dayu sama sekali tidak merasa penasaran dengan topik yang mereka bicarakan. Ya mungkin hanya seputar keluh-kesah Gala perihal soal-soal Kimia yang seratus persen tidak gampang itu. Namun, bagaimanapun juga Dayu merasa tidak enak kalau harus berdiri sendirian seperti itu. Ia merasa canggung. Cewek itu kemudian memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Namun, begitu tinggal beberapa langkah, baik Bu Sandra dan Gala kompak meminta izin untuk pergi lebih dulu meninggalkan Pak Geraldi. Dari penglihatan Dayu, cewek itu bisa melihat bayangan Gala dan Bu Sandra yang berjalan beriringan dengan saling melemparkan senyum kecil yang menurut Dayu memiliki arti tersendiri. Entahlah, cewek itu tidak cukup tahu, tetapi melihat hal semacam itu membuat hatinya bergejolak. Ia tidak bisa menangkis rasa cemburu yang tiba-tiba menyusup ke hatinya. Apalagi ketika tubuh sepasang guru dan murid itu lenyap tertelan pintu yang ia ketahui adalah toilet. Dayu sangat tidak menyukai hal itu. Namun, beberapa saat kemudian, gadis itu melebarkan matanya. Ia lantas mengerjap beberapa kali, berusaha mencerna hal yang tertangkap indranya tadi. "Hah? T-toilet? Gala sama Bu Sandra masuk toilet? Ber-berdua? Mau ngapain?" Dayu bergumam pelan dengan suara yang terbata juga kening yang berkerut dalam. Memang apa yang akan dilakukan seorang laki-laki dan perempuan dalam bilik yang sama dengan ukuran yang tak begitu luas? Dayu juga pernah mendengar, entah dalam hadis atau sekadar dari ceramahan yang tak sengaja ia perdengarkan, kalau di dalam toilet itu banyak setan jahatnya. Dayu menggelengkan kepalanya berkali-kali, mencoba mengenyahkan pikiran negatif yang menggeluti benak dan pikirannya. Entah mengapa, Dayu merasa hatinya mulai tidak tenang. Nggak, Gala nggak bakalan ngelakuin hal bodoh semacam itu, Gala cowok baik-baik. Cewek itu mencoba memberi sugesti pada dirinya sendiri, tetapi bukannya tenang, ia malah semakin uring-uringan. "Grezzitha!" Suara Pak Geraldi yang menyebut namanya membuat gadis itu kembali fokus dan meninggalkan benaknya yang tengah berperang. "Kamu kenapa diam saja kayak patung?" Pak Geraldi bertanya dengan heran sembari mengamati wajah anak didiknya dengan kening berkerut. Dayu menggigit pipi bagian dalamnya. Bingung harus menjawab apa sebab tidak mungkin juga ia mengatakan pada laki-laki itu perihal benaknya yang disibukkan oleh segala praduga tentang apa yang Gala dan Bu Sandra lakukan di dalam toilet. "Apa ada masalah dengan soal olim kamu tadi?" tanya lelaki itu lagi saat tak kunjung mendapat jawaban dari Dayu. Dayu berdeham lalu memaksakan seulas senyum. "Iya, Pak. Banyak nomor yang saya kosongin tadi," sahut cewek itu tak sepenuhnya berbohong. Pak Geraldi lalu menepuk bahu Dayu. "Udah, nggak pa-pa kalau nggak lolos ke semifinal, kamu kan sudah berusaha. Lagi pula kamu belajarnya juga dalam waktu yang cukup mepet. Kita doa saja soal-soal yang kamu kerjakan betul semua, jadi tidak ada poin yang harus dikurangi karena jawaban yang salah." Guru muda itu tersenyum, memberi kata-kata positifnya untuk Dayu yang mau tidak mau membuat gadis itu merespons dengan hal yang sama. "Udahlah, daripada kamu ngegalau begini, saya traktir kamu makan bakso deh. Entar kamu bisa pesan sepuasnya," kata lelaki itu sambil menarik ujung almamater sekolah Dayu dan membawa gadis itu menuju parkiran. Dayu menghela napas. Baiklah, semoga bakso traktiran Pak Geraldi mengalihkan kegalauannya. *** Dayu sedang duduk di halte bus yang tak jauh dari gedung sekolah yang menjadi tempat berlangsug olimpiadenya tadi. Di sana ia duduk sendirian dengan kedua telinga yang ia sumbat dengan earphone dan mata yang fokus menatap layar ponsel, memainkan sebuah game online, berharap rasa bosannya hilang. Bus yang ia tunggu-tunggu sejak Pak Geraldi menurunkannya di sana sebab alasan mendesak yang tak ia tahu apa, tak kunjung datang juga. Membuat cewek itu hampir mati kebosanan. Untung saja perutnya sudah ia isi dengan dua mangkok bakso dan segelas es cendol. Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Dayu yang mau tidak mau membuat cewek itu menghentikan permainannya. Ia menekan tombol tengah, keluar dari aplikasi game itu, lalu menekan ikon w******p. Dayu tidak tahu siapa yang menghubunginya sebab hanya nomor saja yang tertera sana. Gadis itu mengerutkan kening. Namun tak urung membuka pesan itu juga. +62 829-3389-xxxx Oi Lo udh balik ngolim? Oi P P P Dayu Kamu siapa? +62 829-3389-xxxx Dih Gue majikan lo Pake nanya Jangan-jangan lo gak simpen nomor gue Dayu Keenan? +62 829-3389-xxxx Nah Itu lo tau Dayu Lo dapet nomor gue dari mana? +62 829-3389-xxxx Dari duit seribuan Lo beneran gak simpen nomor gue? Dayu Gak. Gue gak tahu nomor lo +62 829-3389-xxxx Ya kan ada di grup beladiri Inisiatif cari dong Lo kan tau Gue majikan lo Sementara lo babu gue Dan sebagai seorang babu Lo wajib hukumnya buat simpen nomor bos lo Dayu menghela napas dan hanya membiarkan begitu saja pesan itu. Sama sekali tidak berniat membalasnya. Ia baru hendak menekan tombol kembali. Namun pesan dari Keenan kembali masuk. +62 829-3389-xxxx Eanjir Cuma centang dua biru L o belum jawab gue Lo udh kan ngolimnya? Dayu kembali menghela napas. Keenan bikin emosi saja. Cowok itu memang sangat berbeda dari Gala. Kalau Gala kalem, Keenan beda lagi. Meski mereka tidak dekat, tetapi Dayu cukup tahu. Cowok itu sangat pecicilan. Tidak ingin diberondong dengan chat beruntun dari Keenan, Dayu menjawab singkat pesan cowok itu. Dan belum sampai lima detik, balasan baru masuk. +62 829-3389-xxxx Share loc Gue butuh lo jadi babu gue hari ini Sekali lagi, Dayu hanya mengiyakan keinginan Keenan. Dia tidak bisa mendebat sebab itulah kesepakatan di antara mereka sebelumnya. Ia kembali menarik napas dalam-dalam. Sejujurnya cewek itu masih sangat amat galau. Meski gendang telinganya dipenuhi musik yang enerjik, juga game kekinian di ponselnya yang terlalu seru untuk dilewatkan, atau percakapan singkatnya dengan Keenan, sama sekali tidak bisa mengalihkan pikiran Dayu dari Gala. Apa yang cowok itu lakukan di toilet bersama Bu Sandra? Mereka tidak mungkin kan, berbuat yang aneh-aneh? Dayu memilih menyenderkan tubuhnya pada tiang penyangga atap halte. Sembari menunggu Keenan, bus yang tadinya ia tunggu berhenti di depannya. Mengeluarkan beberapa orang yang ingin berhenti di sana, sebelum kembali melanjutkan perjalanannya lagi. Beberapa menit berselang, Keenan datang dengan motor bebek dan juga helm fullface-nya yang sejujurnya terlihat tidak matching dengan kendaraan yang cowok itu pakai. "Naik," titahnya sambil membuka kaca helmnya dan mengedikkan dagu ke belakang. "Helmnya mana?" "Cuma satu." "Terus, kalau entar kena tilang gimana?" "Ya nggak gimana-gimana. Emang harus gimana?" sahut cowok itu dengan gaya tengilnya. Dayu menghela napas. "Kalau kita kecelakaan juga gimana?" "Ya gue sih nggak bakalan kenapa-kenapa, soalnya gue pakai helm. Palingan kepala lo doang sih yang bocor." "Kalau gitu gue nggak ikut." "Tapi lo masalahnya babu gue." "Gue nggak mau ngorbanin kepala gue buat lo." Keenan terdengar menghela napas kasar. Cowok itu lantas turun dari motor lalu mencopot helmnya kemudian memasangkannya ke kepala Dayu. "Dah. Lo pake helm. Sekarang naik, emak-bapak gue mau pergi bentar lagi. Dan gue butuh lo buat jaga dua curut aka adek gue," katanya yang sontak membuat mata Dayu membelalak. "G-gue harus ke rumah lo?" "Yoi, cepet naik," sahut cowok itu sambil kembali menaiki motor bebeknya. Dayu terdiam dengan mulut menganga. Ada beberapa hal yang memenuhi otaknya. Bukan perihal ia harus menjaga dua adik cowok itu, melainkan fakta bahwa ia akan berkunjung ke rumah Gala, cowok yang demi apa pun sangat ia sukai. Otak Dayu benar-benar nge-blank. Seolah ada banyak file yang dijejalkan ke sana yang membuat semua sistem dalam kepalanya terganggu. Bahkan suara Keenan yang memanggilnya atau sirine mobil polisi yang lewat di depannya sama sekali tak membuat cewek itu sadar. Baru setelah Keenan menyentil keningnya, Dayu bereaksi. Dan dengan sendirinya, cewek itu duduk di jok belakang. Sepanjang perjalanan, dia cuma bengong saja. Dayu tidak tahu harus bersikap bagaimana. Jantungnya memompa dengan sangat norak dengan darah yang berdesir tiap detiknya. Mendatangi rumah Gala adalah hal yang tak pernah terlintas di otaknya. Apalagi bertemu dengan keluarganya yang lain, meski sejujurnya yang membawanya ke sana bukan Gala, melainkan Keenan. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD