1: PRIA MENYEBALKAN DAN GADIS MENYEDIHKAN

1353 Words
Heathrow Airport tampak ramai seperti biasanya. Borne menyapu pandangannya ke semua sudut Waiting Room, mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuknya bersantai sembari menunggu dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat. Baru saja ia mengeluarkan Graphic Tablet-nya, seorang perempuan duduk dengan kasar di sampingnya. Borne tak menatap wajah perempuan itu, hanya melihat ke bagian kakinya. Perempuan itu memakai sneakers berwarna putih. Tetapi bukan itu yang menarik minat netranya, melainkan sepasang kaos kaki berbeda warna, panjang dan model yang digunakannya. 's**t! Orang stress lagi! Kaya ga ada tempat kosong yang lain aja!' gerutu Borne di benaknya. Borne diam saja, kembali asik dengan Graphic Tablet-nya, menggambar segala sesuatu yang ada di hadapannya. Hal yang selalu menjadi kesukaannya, bukan memfoto melainkan merekamnya dalam goresan-goresan gambar di tablet-nya. Perempuan itu tak henti menangis sedari ia duduk di samping Borne. Berulang kali menyapu air mata dan cairan kental dari hidungnya. Orang-orang menatap mereka berdua seolah mempertanyakan tanggung jawab Borne pada perempuan yang menangis itu. 'Astaga! Come on guys, bukan gue yang bikin dia nangis! Ini cewek kenapa sih musti nangis di sini!' batinnya lagi. Borne melirik ke tangan perempuan itu, tissue di atas pangkuannya habis, membuatnya bolak baik menghisap masuk ingusnya yang terus ikut mengalir seiring dengan air matanya. "Astaga!" gerutu Borne. Kesal! Perempuan itu memalingkan wajahnya menatap Borne. Borne belum menatapnya, melainkan membuka bagian depan ranselnya, mengambil travel tissue. Lalu membuka sling bag-nya mengambil satu pack mint candy dan satu batang milk chocolate. Borne menyerongkan badannya, menatap wajah perempuan di sampingnya yang terlihat sangat kacau. Perempuan itu pun menatapnya, sedari tadi. "Nih! Tissue lo abis!" ujar Borne seraya mengulurkan tangannya memberi tissue, permen dan coklat pada perempuan itu. "Borne..." ucap perempuan itu. Ia mengambil ketiga benda yang disodorkan Borne. "Thanks." ucapnya lagi. "Hmm!" "Lo kenal gue?" tanya perempuan itu. "Ngga. Cuma tau aja. Lo temannya Vio kan?" "Sahabatnya." Borne mengangguk. Ia kembali menggores layar tablet-nya. "Lo sengaja duduk di samping gue?" Debby diam sesaat. "Sorry! Gue pindah kalau lo keganggu." Debby menyampirkan handbag-nya di pundak, berdiri, bersiap untuk melangkah. Borne menahannya, menarik lengan cardigan Debby. "Lo sadar ga kalau lo kelihatan kacau banget?" Debby terdiam. "I'm ok. Lagian dari tadi orang-orang udah mandang gue seolah gue pacar yang ga bertanggung jawab karena ngebiarin ceweknya sesenggukan!" lanjut Borne lagi. Ia menepuk-nepuk kursi yang tadi Debby duduki. Debby duduk kembali. "I'm sorry!" lirih Debby. "It's ok! Mmm, ngomong-ngomong nama lo siapa?" "Debby. Ivana Debby Arthur." "Pretty name!" Debby tersenyum. "Thanks!" "I'm Borne. Borneo Nata Adi." "Borne, gue tau lo kok." Ujar Debby. "Liburan?" Tanya Borne lagi. "Iya. Elo?" "Sama." "Kemana?" "Naples. Lanjut ke Sorrento. Elo?" "Sama. Naples. Tapi dari situ ga tau mau kemana." Lirih Debby seraya meremas-remas jemarinya sendiri. "Liburan dadakan?" Debby mengangguk. "Lo kaya anak anjing yang ga diajak main tau ga!" Ketus Borne. Sebenarnya ia hanya bercanda, hanya saja pembawaan Borne yang dingin membuat candaannya justru terdengar menyebalkan. Debby menghentakkan napas, lelah. "Ne..." "Hmm" "Gue boleh pinjam bahu lo?" Borne menatap Debby. Bingung. Ada degup aneh yang ia rasakan di dadanya. "Bahu lo aja, Gue ga minta dipeluk." Borne menganggukkan kepalanya. Debby segera menyandarkan kepalanya di pundak Borne begitu saja. "Gue baru putus, Ne! Dia nipu gue. Ternyata dia udah nikah. Anak dan istrinya di Jakarta." Borne menarik napas panjang. Ia mematikan tablet-nya, lalu memasukkan benda itu ke dalam sling bag-nya. "You'll be alright!" "Gue dan dia udah hidup bersama lebih dari setahun, Ne. Gue ga tau gimana caranya lupain dia." "Itu bakal terjadi gitu aja Deb! Just like that! Lo akan baik-naik aja, ga usah maksain diri harus ngelupain dia sekarang juga." Debby meneteskan lagi air matanya. "Lo ga cape apa nangis mulu?" Ketus Borne lagi. "Lo nyolot banget sih Ne!" ujar Debby tanpa emosi. Ia sudah terlalu lelah jika harus meladeni sikap dingin Borne. "Gue bukan orang yang mudah berempati." Debby terkekeh pelan. "You don't even know yourself! Lo orang yang peka banget, Ne." "Hah?" "Lo diem aja pas gue nangis di samping lo. Gue tau lo terganggu, orang-orang juga mandang lo ga enak gitu kan. Tapi lo diem aja, lo ga ngomong apapun, dan lo ga pindah. Lo ngebiarin gue numpahin tangisan gue, lo diam nemenin gue. Padahal lo ga kenal gue." 'Karena gue tau rasanya sendirian.' "Awas naksir lo sama gue! Gue ga mau dijadiin pelampiasan!" Ujar Borne lagi. Debby tertawa. Ia mengangkat kepalanya dari pundak Borne. Memandang Borne lekat. "What?" sulut Borne. "She's so damn lucky!" "Siapa?" "Yang bakal jadi cewek lo!" "Tadi kacau sekarang gila, hah?" Debby tertawa lagi. Dan di saat yang sama, pemberitahuan bahwa pesawat mereka akan berangkat beberapa saat lagi diumumkan. Borne dan Debby berdiri dari tempat duduknya, berjalan beriringan memasuki pesawat yang akan mengantarkan mereka ke Naples. *** Debby melamun sambil menangis, menatap ke luar jendela. Borne mendekati baris tempat duduknya dan menepuk pelan bahu pria yang duduk di samping Debby. Pria itu menatapnya, lantas berdiri berhadapan dengan Borne. “Dia kekasih saya. Ada kesalahpahaman dan dia lari begitu saja. Apakah bisa kita bertukar tempat duduk? Kecuali Anda mau mendengarkan tangisannya sepanjang penerbangan.” ujar Borne pelan. Pria yang memang sedari tadi sudah risih dengan tangisan Debby menganggukkan kepalanya. Ia bergegas beranjak ke window seat yang ditunjuk oleh Borne. Borne pun duduk di samping Debby, tangannya terulur menutup tirai jendela. Debby memalingkan wajahnya, menatap Borne penuh tanda tanya. Borne balas menatapnya, tersenyum, lalu duduk baik kembali dan menepuk-nepuk pundaknya, tak sedikit pun memberi penjelasan pada Debby. Debby masih menatap Borne dengan netra sembabnya. Ia duduk bersandar, kemudian menyandarkan kepalanya ke pundak Borne lagi. Debby ikut menatap layar tablet di atas pangkuan Borne, melihat bagaimana pria itu menorehkan stylus pen-nya membentuk gambar deretan kursi di samping dan depan mereka. Borne mengangkat tangan kirinya, menepuk pelan samping kepala Debby. "Tidur aja. Nanti gue bangunin." Ujarnya lembut. "Ne..." "Apa?" "Hmm... Itu..." "Hadeeeh! Deb, mendingan lo tidur deh. Simpen tenaga lo. Lo butuh tenaga untuk liburan tanpa rencana!" Debby terkekeh. "Gue ikut lo aja ya Ne?" "Gue backpacker-an Deb! Gue ga yakin lo nyaman nangis-nangis di ranjang sempit!" "Tapi gue ga mau sendiri!" "Allahu Akbar!" Debby mengangkat kepalanya, menatap Borne lekat. Borne memutar bola matanya. "Kalau gue bilang gue ga mau liburan sama lo, lo bakal tetap ngintilin gue kan?" Debby mengangguk. "Terserah lo lah Deb! Gue liburan santai! Gue ga suka nunggu cewek belanja belinji. Gue ga suka cewek cengeng yang baru jalan dikit udah ngeluh pegal. Gue ga suka liat cewek pake heels! Gue ga mau ngurus orang mabuk! Gue ga mau ribet ngurus orang yang makannya pilah pilih. Gue ga mau ketimpaan ngurus orang yang punya kemungkinan kejangkit cinta lokasi. Dan gue ga mau bayarin lo untuk apapun itu! Paham?" Debby mencengir. Menganggukkan kepalanya. "Ya Allah, ujian apa ini?" gerutu Borne pelan yang membuat Debby terkekeh lagi. Tatapan Debby masih lekat pada Borne yang sudah mengalihkan pandangannya lagi ke tablet-nya. "Apaan lagi?" gumam Borne. "Ne..." "Apa Debby?" "Pacaran yuk, Ne!" Debby sendiri bingung kenapa ia bisa dengan bodohnya mengajak Borne pacaran di hari pertama mereka bertemu. Sebegitu putus asanya kah dirinya? Sebegitu butuhnyakah ia sandaran baru? Borne bahkan sampai tegang membeku. Pria itu terdiam sesaat. "Ne?" tegur Debby lagi. "Mending lo tidur aja deh!" Omel Borne. Debby terpancing. "Lo nolak gue?" Balas Debby. "Iya!" "Karena ga mau gue jadiin pelampiasan?" Borne menarik napas panjangnya. Mencari kata-kata yang tepat di benaknya. "Karena gue ga mau bikin lo kayak gini!" "Kayak gini?" "Hmm! Pergi ga tau arah karena sakit hati. Ngajak pacaran orang asing yang baru aja lo temui beberapa jam lalu. Lo sadar ga sih seberapa bahayanya itu?" "Maksud lo?" Borne kembali terdiam. Memandang lekat netra deep blue di hadapannya. Susah payah ia menahan diri agar tak jatuh cinta pada pemiliknya. Sedari awal. Sedari Dirga sahabatnya berkenalan dengan Viona sahabat Debby. Borne yang bahkan belum bisa berdamai dengan amarahnya. Borne yang urusan kekecewaannya pada wanita belum juga selesai. Borne dengan keadaan dirinya yang kacau. Menahan diri untuk tak mencinta benar-benar bukan hal mudah untuknya. Dan kini, takdir seolah menguji kekuatan hatinya. "Debby... Hidup gue kacau, Deb! I'm a mess!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD