Kekasih

849 Words
Rumaisyah hanya duduk diam di samping Sultan yang fokus mengemudi. Jantung gadis itu berdebar-debar. Apa yang sudah menimpanya, membuatnya selalu was-was dan waspada. "Tolong telepon Pak Mintoro!" ujar Sultan membuat Rumaisyah terkejut. "Katakan padanya, meeting besok ditunda karena aku ada kepentingan." Tak mendengar jawaban dari sekretarisnya, Sultan pun melirik pada Rumaisyah. "Kenapa diam? Astaga, cepat telepon!" ujar Sultan. "I-iya Pak," jawab Rumaisyah, dengan sedikit gemetar ia mengambil ponselnya dan menyalakannya. "Astaga, lama, ini pakai hp-ku saja!" kata Sultan, ia mengulurkan ponselnya. Rumaisyah pun bingung, tapi ia dengan ragu segera menerima ponsel Bosnya itu. Melihat sikap sekretarisnya, Sultan pun menggelengkan kepalanya. "Kenapa dia?" gerutunya lirih. Tak lama mereka pun sampai di tempat tujuan. Sebuah Bandara Internasional di ibukota. Sultan mengajak Rumaisyah untuk menjemput Sarah, kekasih Sultan yang tak lain adalah sahabat dekat Rumaisyah. "Astaga, lelet banget, bisa cepet gak sih Syah jalannya!" tegur Sultan. "I-iya Pak." Rumaisyah segera mempercepat langkahnya, menyusul langkah kaki panjang Bosnya itu. Mereka menunggu di terminal kedatangan. Rumaisyah hanya diam. Dia sedikit menjaga jarak dari Bosnya. Sultan terlihat gelisah menunggu kedatangan kekasihnya. "Kalau bukan karena Sarah memintamu ikut, malas sekali aku mengajakmu," ujar Sultan melirik kesal pada Rumaisyah. Rumaisyah hanya diam dan menggigit bibirnya. Ia sudah kenal betul karakter Bosnya yang begitu arogan padanya, juga pada bawahannya yang lain di kantor. Hanya pada Sarah pria itu bisa bersikap begitu lembut. Sarah kekasih Sultan adalah sahabat Rumaisyah sejak SMP. Mereka sangat dekat, tetapi Sarah sibuk di luar negeri untuk menyelesaikan pendidikan S2 nya. Sesekali Rumaisyah melirik pada Sultan yang terlihat tidak sabar. Bagaimana tidak sabar, mereka, Sultan dan Sarah sudah menjalani hubungan jarak jauh selama dua tahun sejak Sarah memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2 nya di luar negeri dan hanya sesekali mereka bertemu. "Ah,itu dia!" seru Sultan, pria itu segera berlari menghampiri kekasihnya. Rumaisyah hanya diam terpaku di tempatnya, ia memeluk lengannya dan menatap betapa bahagianya sepasang kekasih yang lama tidak bertemu itu. Sultan dan Sarah saling berpelukan begitu erat. Sultan memang sangat baik pada Sarah, begitu memanjakannya. Berbeda dengan Kevan terhadapnya yang perhatian hanya dalam bentuk uang saja. Kevan begitu mendedikasikan dirinya pada pekerjaan. Mau bagaimana, Kevan tulang punggung keluarganya, ayahnya meninggal dengan meninggalkan hutang milyaran karena perusahaan ayahnya bangkrut waktu itu. "Rumaisyah!" seru Sarah membuat Rumaisyah tersadar, ia pun segera memasang senyumnya, tak mau membuat Sarah khawatir jika melihat ia murung. "Syah, aku kangen banget sama kamu," kata Sarah yang langsung memeluk sahabatnya. Rumaisyah pun membalas pelukan sahabatnya itu. "Aku juga kangen Sarah," balas Rumaisyah. Pelukan itu terurai. Sarah menatap penuh kerinduan pada Rumaisyah yang sudah ia anggap adiknya sendiri. Gadis itu membelai lembut pipi sahabatnya. Sarah sangat menyayangi Rumaisyah, mereka hanya berbeda satu tahun saja. "Kamu kurusan Syah, kok badan kamu panas?" tanya Sarah cemas. "Aku sedang demam Sarah, gak apa," jawab Rumaisyah. Mendengar itu, Sarah langsung menatap tajam pada kekasihnya. "Sayang, kamu kok tega sih? Rumaisyah lagi demam, kok kamu tega sih ngajak dia ke sini?" "A-apa, demam?" Sultan menatap heran pada sekretarisnya. "Aku mana tahu kalau dia lagi sakit? Dia tidak bilang kalau dia demam." Rumaisyah tersenyum kecut, padahal dia sudah tidak ke kantor tiga hari dengan izin sakit. Namun, siapa dia, mana mungkin Sultan memperhatikan sekretaris yang sering membuat pria itu kesal. Jika bukan karena Sarah, ia yakin Sultan sudah sejak lama memecatnya. "Harusnya kamu peka dong," tegur Sarah. "Tuh lihat, mukanya aja pucet, gimana sih!" Kemudian Sarah memeluk lengan sahabatnya. "Ayo Syah, kita pulang, biarin bos arogamu itu bawa koper-koperku." "Eh, sayang!" seru Sultan. "Udah kamu bawa aja koper-koperku itu!" balas Sarah meninggalkan kekasihnya. Rumaisyah merasa sedikit tidak enak hati pada Sultan, tetapi ia terus mengikuti langkah sahabatnya yang terus menggapit lengannya. Sepanjang perjalanan, rumaisyah duduk di kursi penumpang belakang, ia sedikit canggung di antara kemesraan sepasang kekasih yang sejak tadi terus mengungkapkan rasa rindu. "Sayang, kita antar Rumaisyah dulu ya," pinta Sarah. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Rumaisyah. "Makasih ya Sarah," ucap Rumaisyah. "Duh Syah, kamu kayak sama siapa aja, udah yok turun," ajak Sarah. "Sayang, kamu pulang duluan aja ya, aku masih mau kangen-kangenan sama Rumaisyah." "Loh kok gitu?" Sultan protes dengan nada tidak suka. "Ih, udah kamu jemput aku nanti malam aja," kata Sarah. Rumaisyah merasa tidak enak pada bosnya, tetapi ia tahu, Sarah pasti akan memaksa. Sultan pun berdecak kesal, lalu setelah melihat Sarah dan Rumaisyah masuk ke dalam rumah, pria itu segera menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah Rumaisyah itu. Di dalam rumah, Sarah menahan tawanya. "Kamu kok gitu banget sih Sarah, kasihan kan Pak Sultan," ucap Rumaisyah. "Ih, udah biarin aja, biar dia belajar sedikit lebih sabar. Kamu tahu kan gimana dia, nggak punya rasa sabar. Nunggu aku 2 tahun aja dia bisa, masak nunggu beberapa jam lagi buat berduaan sama aku nggak bisa," kata Sarah. Sarah lalu melihat ke sekelilingnya. "Di sini panas ya Syah, aku mau mandi dulu deh, tapi koper aku di mobil Sultan. Aku pinjem baju kamu ya," kata Sarah. "Oh iya, aku bikin minum dulu ya." Rumaisyah pun pergi ke dapur sementara Sarah masuk ke dalam kamar sahabatnya. Sarah membuka lemari untuk mengambil baju ganti milik sahabatnya itu. Namun tiba-tiba, sesuatu menarik perhatian Sarah. "Kemeja ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD