"Syah, beneran kamu mau resign?"
Rumaisyah menoleh, ia tengah makan di kantin perusahaan. Sarah datang seorang diri.
"Syah, kenapa kamu keluar?" tanya Sarah sekali lagi.
"Aku, em ...." Rumaisyah berpikir, ia sudah menduga jika Sarah akan cepat tahu perihal pengunduran dirinya.
"Aku ingin cari pengalaman lain," jawab Rumaisyah pada akhirnya.
Sarah mengernyit. "Beneran?" tanya gadis itu.
Rumaisyah tersenyum. "Iya," jawabnya.
Sungguh, ia tak nyaman lagi bekerja bersama Sultan. Gadis itu terus teringat dengan bagaimana Sultan menggagahinya minggu lalu.
"Bukan karena Sultan terlalu galak sama kamu, kan Syah?" tanya Sarah.
"Enggak, lagian Pak Sultan itu bukan galak, dia tegas dan disiplin, akunya aja yang lelet jadi kadang bikin dia kesel," jawab Rumaisyah.
"Lagian Sar, kan kamu udah di sini, mau kerja di sini juga, kan? Jadi gak perlu aku lagi buat ngawasin Sultan."
"Aku tetap butuh kamu Syah," kata Sarah. "Aku gak bisa percaya sama cewek lain kalau dia harus ada sekretaris cewek, bisa-bisa dia godain Sultan nanti."
Mendengar itu, Rumaisyah langsung merasa bersalah pada Sarah karena dia sudah pernah menghabiskan waktu dengan Sultan meski pria itu sedang dalam kondisi mabuk. Apalagi, sepertinya Sultan lupa akan kejadian itu.
"Sar, Pak Sultan itu cinta banget sama kamu, jadi dia gak akan khianati kamu," ucap Rumaisyah.
'Bahkan malam itu, dia menyebut nama kamu Sar, aku yakin, dia melihatku sebagai kamu, bukan aku,' batin Rumaisyah, sesak sekali dadanya, ia ingin menangis.
Sarah melihat air mata menggenang di mata sahabatnya. "Syah, kamu nangis?" tanya gadis itu penasaran.
Bulir air mata pun turun ke pipi Rumaisyah. Gadis itu segera menghapusnya. "Dua tahun lebih aku kerja di sini, rasanya berat juga," ujarnya.
"Tapi, aku harus cari pengalaman lain, kan?"
Sarah menghela napasnya, menurutnya Rumaisyah ada benarnya. "Yang penting jangan jauh-jauh pindah kerjanya ya Syah, biar weekend kita bisa ketemu," pintanya dan Rumaisyah hanya tersenyum saja.
Rumaisyah baru saja kembali ke meja kerjanya setelah makan siang. Tiba-tiba, Kevan datang.
"Sayang, aku dengar kamu mau resign?" tanya pria berkacamata itu.
"Hmm." Hanya itu jawaban Rumaisyah.
Kevan duduk di depan Rumaisyah. "Kenapa?" tanya pria itu lagi.
"Gak apa, aku mau cari pengalaman lain aja," jawab Rumaisyah.
Kevan mengernyit dahinya. "Kamu gak akan menjauhi aku, kan Syah?"
Rumaisyah langsung menatap pada kekasihnya. Sudah cukup lama ia menunggu kepastian hubungan pada Kevan, apa pria itu berniat menikahinya atau tidak. Namun, Kevan tak pernah menyinggung soal pernikahan dengannya. Pria itu hanya terus mengeluh soal hutang-hutangnya dan selalu menolak jika Rumaisyah ingin datang ke rumahnya dan mencoba menarik hati ibunya.
Rumaisyah menghela napasnya, ia harus membuat keputusan. Ia sekarang bukan lagi gadis terhormat. Mungkin, dia dan Kevan memang tidak berjodoh. Bukan hanya karena restu ibu Kevan yang Rumaisyah yakin tak ada untuknya, tetapi juga kondisi dirinya yang tak lagi perawan membuat Rumaisyah merasa malu, tak pantas untuk Kevan yang seorang bujang.
Baru saja Rumaisyah akan membuka mulut dan bicara, gadis itu urungkan dan melirik pada seseorang yang datang, Sultan.
"Pak Sultan," sapa Kevan.
Sultan hanya melirik pada Kevan, lalu Rumaisyah begitu saja dan melewati meja sekretaris itu.
Baru saja Sultan akan membuka pintu ruangannya, pria itu mendengar sesuatu yang tiba-tiba membuatnya penasaran.
"Kita putus."
"A-apa Syah?" tanya Kevan kebingungan.
"Ya Mas, kita putus," ucap Rumaisyah kembali.
Kevan benar-benar kebingungan. "Putus? Tiba-tiba?"
Kevan menggeleng. "Syah, hubungan kita baik-baik aja, ka-kamu marah karena aku terlalu sibuk? Syah, kan kamu tau alasannya."
"Aku tanya, apa Mas berniat menikahi aku?" tanya Rumaisyah.
Kevan terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Selama ini, Rumaisyah tak pernah menuntut untuk dinikahi. "Ke-kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti itu Syah?"
Rumaisyah menghela napasnya. "Sudah lah Mas, aku rasa lebih baik kita putus saja. Mas bisa fokus ke keluarga Mas aja."
"Syah." Kevan menatap sendu gadis di depannya. Sungguh, dia mencintai Rumaisyah. Namun, dia tidak berani mengajak Rumaisyah menikah. Hutangnya masih banyak, ibunya pun tidak setuju hubungannya dengan Rumaisyah yang yatim piatu.
"Jam istirahat sudah habis, lebih baik Mas kembali kerja," ujar Rumaisyah.
Kevan terdiam, menatap lekat pada Rumaisyah. "Ya sudah, mungkin kamu sedang bingung. Nanti kita bicarakan ini lagi," ujarnya yang kemudian pergi meninggalkan Rumaisyah.
Rumaisyah menitikan air matanya. Dia tahu Kevan adalah laki-laki yang baik meski pria itu terkesan cuek, tetapi Rumaisyah paham alasannya. Semua karena pria itu begitu gigih dalam pekerjaannya.
Sementara itu, Sultan baru saja masuk ke dalam ruangannya. Pria itu kebingungan, kenapa tiba-tiba sekretarisnya meminta putus dari Kevan, belum lagi rencana resign Rumaisyah yang tiba-tiba.
"Apa Rumaisyah ada masalah?" gumam Sultan.
Pria itu duduk di kursi kerjanya, mencoba berpikir tentang Rumaisyah. "Coba aku tanya Sarah."
Namun, tiba-tiba Sultan teringat dengan apa yang dikatakan Sarah kemarin malam.
'Ini kemeja kamu.'
'Kemajaku?'
'Iya, aku ambil dari lemari Rumaisyah, katanya dia numpahin kopi ke kemeja kamu di kantor, lain kali kalau kemeja kamu kotor, jangan minta Rumaisyah cucikan, dia sekretaris kamu, bukan pembantu.'
"Kapan Rumaisyah numpahin kopi?" gumam Sultan.