Garis Dua

837 Words
"Garis dua?" Tangan Rumaisyah gemetar, matanya menatap lekat pada benda kecil panjang di tangannya. Sudah satu minggu lebih, Rumaisyah belum mendapatkan tamu bulanannya. Hal itu membuatnya curiga dan sekarang semua kecurigaannya terjawab. Kejadian satu setengah bulan yang lalu, meninggalkan jejak yang lebih dari sekedar kenangan pahit. Rumaisyah meraba perutnya. Gadis itu menangis. "Bagaimana bisa kamu tumbuh di rahimku?" gumam Rumaisyah. "Kenapa kamu memilihku? Aku tidak akan bisa memberikan kehidupan yang bahagia buatmu?" Rumaisyah menangis, seketika tubuhnya terasa lemas. Gadis itu pun luruh ke lantai. Tespek di tangannya, ia jatuhkan begitu saja. "Kenapa jadi begini?" Sungguh, Rumaisyah sangat bingung sekarang. Pengajuan pengunduran dirinya belum disetujui meski ia sudah mendesak perusahaan. Katanya, tunggu ada sekretaris baru dan sekretaris baru itu tahu semua pekerjaannya, barulah dia boleh mengundurkan diri. "Aku harus bagaimana?" Tangan Rumaisyah yang gemetar, mulai meraba perutnya yang masih rata. Ia pikir, mungkin kandungannya masih hitungan minggu, empat atau lima minggu. Gadis itu pikir, masih aman jika dia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya itu. "Tapi, apa aku sanggup?" Rumaisyah memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di atas lutut. Ia hidup hanya sebatang kara. Mana mungkin ia tega melenyapkan nyawa yang tidak berdosa. Seperti kejadian malam itu yang ia anggap musibah. Dirinya tidak bersalah pada Sultan ataupun Sarah. "Gak, aku gak bisa gugurkan anak ini." Akhirnya, Rumaisyah memutuskan untuk mendesak perusahaan agar pengunduran dirinya segera disetujui agar dia bisa segera pergi sebelum perutnya semakin membesar. Dia akan pergi dan membesarkan anak itu tanpa orang lain tahu. Di tempat lain, dia bisa mengaku sebagai seorang janda nanti, begitu pikirnya. *** "Sabar Syah, Perusahaan sudah buka lowongan sekretaris baru, beberapa sudah tes tertulis, tinggal wawancara senin depan, bisa kan menunggu?" Rumaisyah keluar dari ruang HRD dengan lesu. Dia harus sabar. "Mungkin sampai akhir bulan aku masih harus bersabar," gumamnya. Rumaisyah duduk di kursi kerjanya. Sultan belum berangkat padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. "Mungkin, semalam dia begadang sama Sarah," gumam Rumaisyah. Gadis itu tahu jika semalam, Sultan dan Sarah baru saja merayakan anniversary hubungan mereka yang ke lima di sebuah hotel mewah kota itu. 'Aku harus segera pergi, Sarah pasti akan bertanya-tanya jika tahu kehamilanku,' batin Rumaisyah. "Tolong buatkan kopi!" Rumaisyah terkejut, ia langsung menatap pada pria di depannya. "P-Pak Sultan," ucapnya. Sultan mengernyitkan dahinya. "Kenapa, kau terkejut begitu?" tanya Sultan. Rumaisyah menggeleng pelan. "Ti-tidak Pak," jawabnya. "Buatkan kopi!" perintah Sultan sekali lagi. "Baik Pak." Tiba-tiba, Rumaisyah merasa mual mencium aroma parfum Sultan. Gadis itu tak tahan, ia pun lari meninggalkan bosnya itu. "Eh, dia kenapa?" Sultan menatap bingung pada sekretarisnya, ia pun bingung dan segera menyusul Rumaisyah yang berlari ke toilet. "Huekk ...." Mata Sultan melebar di depan pintu toilet. "Di-dia muntah?" Sultan tiba-tiba merasa panik, pria itu pun pergi bahkan sampai lari masuk ke ruangannya. "Kenapa aku lari?" Tiba-tiba, pria itu teringat dengan kemeja yang dikembalikan Sarah padanya. Jelas dia ingat, waktu itu dia yang bersiap menjemput kekasihnya, dibuat kecewa karena Sarah batal pulang hari itu. Ia yang kesal pergi ke club dan mabuk. Ia ingat, kata temannya, Rumaisyah yang menjemputnya waktu itu. Duduk di kursi kerjanya, Sultan menggeleng, mengenyahkan dugaan yang tidak masuk akal baginya. Saat mabuk, dia memang bermimpi bercinta dengan Sarah. "Bisa aja dia masuk angin, kan?" "Hei, apa yang kau pikirkan?" Sultan mengetok kepalanya sendiri. Tak lama kemudian, Rumaisyah masuk ke dalam ruangan Sultan sambil membawa secangkir kopi yang bosnya minta. "Ini Pak kopinya." Sultan yang sudah membuka berkas pekerjaannya mengangguk, ia melirik pada Rumaisyah yang tak kunjung pergi. "Ada apa?" Akhirnya, Sultan menatap sekretarisnya yang tengah menutup hidungnya. Sungguh, Rumaisyah tidak tahan dengan bau parfum Sultan hari ini. "Kenapa kau menutup hidung? Aku bau?" tanya Sultan sambil mengendus bagian lengannya. "Ti-tidak Pak, em saya agak pilek," jawab Rumaisyah berbohong. "Terus, ada apa, kenapa kamu masih berdiri di sini?" tanya Sultan. Rumaisyah menghela napasnya perlahan, ia harus bisa tahan, ia harus meminta Sultan menyetujui surat pengunduran dirinya secepatnya. "Maaf Pak, saya mau tanya soal pengajuan pengunduran diri saya," kata Rumaisyah pada akhirnya. Sultan mengernyitkan dahinya. "Soal itu, bukannya sudah ada prosedurnya. Paling cepat setengah bulan lagi itu pun kalau sekretaris baru sudah siap," jawab Sultan. Rumaisyah terdiam, sebenernya ia sabar menunggu, hanya saja ia takut kehamilannya akan terbongkar sebelum ia pergi. Soal perut, ia bisa beralasan sedang naik berat badan, tapi sejak kemarin, ia benar-benar tidak tahan dengan rasa mual, serta hidungnya begitu sensitif, belum lagi dia yang merasa lemas dan mengantuk. "Saya mohon Pak, izinkan saya resign sebelum ketentuan," ucap Rumaisyah, ia menatap sendu pada Sultan. Sultan pun bingung ada apa dengan sekretarisnya. Ia sudah bertanya pada Sarah dan kekasihnya itu tak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya selain hanya alasan ingin mencari tempat dan pengalaman kerja baru. "Apa kau sakit?" tanya Sultan. "Tadi aku lihat kau muntah-muntah." Mata Rumaisyah langsung melebar. Gadis itu bingung harus menjawab apa. "Syah, selain bosmu, aku ini calon suami sahabatmu, kau bisa cerita padaku kalau ada apa-apa, ya anggap saja aku menjaga seseorang yang Sarah anggap adiknya, kau bisa bilang kalau ada masalah." "Sa-saya sehat, Pak," jawab Rumaisyah. "Yakin, kalau sehat, kenapa kau muntah-muntah tadi, kau tidak ... hamil, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD