Keadaan Rumaisyah

1102 Words
'Ya Allah, aku harus jawab apa?' tanya Rumaisyah dalam hati. Bagaimana jika Sultan tahu bahwa dirinya hamil? Apa pria itu ingat kejadian malam waktu itu? Banyak sekali pertanyaan dalam benak Rumaisyah membuat gadis itu masih bertahan dengan diamnya. Sementara Sultan, jantungnya berdebar cepat sekali. Ia bingung, kenapa dia seperti memiliki ketakutan sekarang. Jika Rumaisyah hamil, apa urusannya dengannya, Rumaisyah punya kekasih, hamil sebelum nikah, itu hampir menjadi hal lumrah di zaman sekarang, bukan. "Syah, kok diem, ngelamun?" tanya Sultan. "Kalaupun hamil, tidak masalah, tidak ada larangan di Perusahaan ini, yang penting tetap profesional." "Ti-tidak Pak, saya hanya masuk angin," jawab Rumaisyah pada akhirnya. Rumaisyah yakin, Sultan masih tetap lupa dengan kejadian waktu itu, akan jadi masalah jika kehamilannya terbongkar, Kevan jelas akan mengelak karena mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri, jika Kevan mengelak, tentu akan ada pertanyaan siapa ayah bayi dalam kandungannya dan Sarah, bisa saja curiga pada Sultan nanti, Rumaisyah tidak mau menghancurkan kehidupan Sarah. "Per-permisi Pak," ucap Rumaisyah, ia pamit dan segera keluar dari ruangan bosnya, ia urungkan niatnya mendesak disetujui surat pengunduran dirinya. Sultan menatap kepergian Rumaisyah. Pria itu merasa ada sesuatu yang tengah membebani pikiran sekretarisnya itu. "Sikapnya aneh," gumamnya. Sultan menghela napas panjang. "Apa urusanku?" Sementara Rumaisyah, baru saja duduk di meja kerjanya. "Apa lebih baik aku keluar tanpa resign ya? Lagipula, mungkin dalam waktu dekat aku tidak akan bisa bekerja." Rumaisyah pun berpikir untuk menjual mobil tuanya sebagai bekal kehidupan nganggurnya nanti selama kehamilan, dia pindah dan cari kontrakan, dengan tabungan yang ada, ia akan coba bertahan hidup dengan kehamilannya dan mencoba kerja remot yang mungkin bisa ia temukan di internet seperti penerjemah atau data analis, ia yakin ia punya cukup bekal untuk pekerjaan itu. 'Ya, aku gak bisa nunggu sampai Sultan dapat sekretaris baru, belum nanti butuh waktu buat serah terima pekerjaan sekretarisku ke sekretaris baru, bisa-bisa kehamilanku terungkap nanti.' Akhirnya, Rumaisyah merasa mantap dengan niatnya. Ia mulai memposting di forum jual beli kendaraan bekas, ia yakin untuk menjual mobilnya. *** "Alhamdulillah," ucap Rumaisyah, ia baru saja menerima uang pembayaran penjualan mobil. Gadis itu menatap puas pada saldo rekening di aplikasi e-bangking miliknya. "Kalau begitu, saya bawa mobilnya ya Mba," ucap si pembeli mobil. "Oh iya Pak, terima kasih banyak, saya do'akan mobilnya awet, gak rewel dan bawa selamat buat Bapak dan Ibu sekeluarga," kata Rumaisyah. "Sama-sama Mbak." Rumaisyah menatap sendu pada mobil miliknya. Mobil yang ia beli dengan hasil jerih payahnya setelah satu tahun bekerja sebagai sekretaris Sultan. "Gak apa kehilangan mobil, yang penting aku bisa mempertahankan kamu sayang," gumam Rumaisyah sambil mengusap perutnya yang masih rata. Sayang, ya, Rumaisyah menyayangi bayi dalam kandungannya. Bagaimanapun, bayi itu akan jadi satu-satunya keluarga yang ia miliki nanti. Maka dari itu, Rumaisyah akan berjuang mempertahankannya, melahirkannya dan membesarkan meski dia harus jadi orang tua tunggal. Rumaisyah masuk ke dalam rumah kontrakannya. Ia sudah berkemas semalam. Rencananya, nanti malam dia akan pindah, mumpung Sarah dan Sultan sedang liburan di Puncak, begitu rencananya. Gadis itu sengaja tidak pamit pada Sarah, ia tak mau dicecar pertanyaan, ia khawatir Sarah akan tahu kebohongannya nanti. Bagaimanapun, ia dan Sarah bersahabat dekat sangat lama. Mereka cukup saling mengenal dalamnya hati satu sama lain. Di Puncak, Sarah menggerutu karena ia tak bisa menghubungi Rumaisyah. Pesan yang ia kirim pada sahabatnya itu tak kunjung dibaca oleh sahabatnya itu. "Sayang." Tiba-tiba, Sultan memeluk perut Sarah dari belakang. "Kita liburan, tidak bisakah kamu sisihkan HPmu dulu?" tanya pria itu. "Kamu yang maksa kita liburan, padahal Rumaisyah lagi sakit, aku khawatir sama dia," kata Sarah. Sultan langsung melepas pelukannya. "Apa sahabatmu itu lebih penting dariku?" Sarah berbalik, lalu ia mengangguk. "Tentu saja, ingat, kalau bukan karena Rumaisyah, aku mungkin sudah mati waktu itu!" Sultan berdecak, ia ingat cerita Sarah jika Rumaisyah pernah mendonorkan darahnya sebanyak 2 kantong saat Sarah terkena demam berdarah dulu, saat itu rumah sakit tengah kehabisan stok darah, PMI pun sama. Beruntung ada Rumaisyah yang memiliki golongan darah sama dengan Sarah. Sarah menghela napas panjang melihat ekspresi kecewa di wajah kekasihnya. "Ya udah, aku gak telepon Rumaisyah lagi." Gadis itu lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher kekasihnya, lalu ia berjinjit dan mengecup bibir Sultan dengan lembut. "Mau apa kita?" bisiknya. Sultan pun tersenyum. "Mau itu?" Sarah berdecak. "Kalau itu sabar, tunggu sah," katanya. Sultan menghela napas kasar, ia kesal karena Sarah selalu menolak untuk memberikan makhotanya. Padahal, ia yakin menjamin akan bertanggungjawab menikahi kekasihnya itu. Ia sangat mencintai Sarah, tak akan mengkhianati dan meniggalkan kekasihnya itu. "Sabar sayang, tunggu Papa aku balik dari Jerman, kita lamaran, hmm, sabar, kan 3 bulan lagi," bujuk Sarah. Sultan mengangguk pasrah. "Kalau seperti biasa, boleh?" tanya pria itu. Sarah mencebikan bibirnya. "Dasar omes!" ujarnya. Malam harinya, Sarah baru saja menata makan malam yang ia pesan pada pengurus vila. Ia masih menunggu Sultan yang tengah mandi. Berkali-kali, Sarah memeriksa ponselnya. Pesan yang ia kirim pada Rumaisyah tak kunjung sahabatnya itu baca. "Ya Allah aku khawatir banget sama Rumaisyah, gak tenang ninggalin dia yang lagi sakit," gumam Sarah. "Jangan-jangan Rumaisyah tidur terus?" Kemarin, ia sempat bertemu dengan Rumaisyah, sahabatnya itu terlihat begitu pucat. Sarah benar-benar khawatir karena Rumaisyah hanya tinggal seorang diri. "Harusnya aku paksa dia ke dokter kemarin," gumamnya. Tak tenang memikirkan keadaan Rumaisyah, Sarah kembali mencoba menghubungi nomor sahabatnya itu. Gadis itu duduk di kursi makan dan terus mencoba menghubungi nomor sahabatnya, tetapi panggilan telepon itu tidak juga dijawab oleh sahabatnya itu meskipun panggilan itu terhubung. "Ya Allah Syah, kamu lagi ngapain sih, kamu baik-baik aja, kan?" gumam Sarah, sungguh saat ini hatinya tak tenang terus memikirkan keadaan Rumaisyah. "Kenapa sayang?" Sarah menoleh, kekasihnya, Sultan sudah selesai mandi. "Ini loh sayang, Rumaisyah masih belum bisa dihubungi, aku kan khawatir," jawabnya. "Astaga sayang, bisa tidak kamu abaikan dulu dia, kita nikmati waktu liburan kita, aku menunggu waktu ini loh setelah kita LDR 2 tahun!" ujar Sultan mulai kesal. "Ih, iya iya," jawab Sarah, ia memilih mengalah, tidak mau membuat kekasihnya kecewa, ia pun singkirkan ponselnya, lalu mulai melayani kekasihnya itu untuk makan malam. "Mau pake ayam atau ikan?" tanya Sarah. "Ikan aja," jawab Sultan, pria itu tersenyum melihat bagaimana Sarah melayaninya. Dalam hatinya, ia membayangkan bagaimana saat mereka sudah resmi suami istri, hal seperti ini pasti akan setiap hari ia rasakan. "Kamu juga sayang," ucap Sultan. Mereka pun mulai menikmati makan malamnya. Sampai kemudian, tiba-tiba ponsel Sarah berdering. Gadis itu segera memeriksanya. "Akhirnya, Rumaisyah," ucap Sarah, ia lalu menoleh pada kekasihnya. "Boleh ya sayang aku jawab, biar aku tenang," pintanya. Sultan menghela napasnya. "Ya baiklah, hanya sekali!" ujarnya, jujur ia cemburu pada rasa sayang Sarah pada Rumaisyah yang hanya sahabatnya itu. Sarah tersenyum, lalu ia menjawab panggilan telepon dari Rumaisyah itu. "Halo Syah," sapa Sarah. Tiba-tiba, Sarah berdiri. "Apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD