Flashback (2)

1229 Words
Kala itu, Alana tidak henti-hentinya memandang laki-laki yang muncul dari balik pintu restoran. Laki-laki itu tersenyum manis ke arah Gesya, bukan ke Alana. Tapi, kenapa Alana jadi ikutan tersenyum ya? Apakah senyuman yang dibuat oleh laki-laki bernama Richard itu nular? Richard segera mendatangi meja di mana Gesya dan Alana berada. “Maaf ya gue telat. Lo sudah lama nunggu?” Richard langung menyapa Gesya. Namun tidak mengarahkan pandangan sama sekali ke Alana. “Lumayan sih …” balas Gesya. “Gimana, sudah pesan makanan belom?” tanya Richard dan mengambil buku menu yang sudah terbuka di atas meja. Gesya menggeleng. “Al, lo mau pesan apa?” Gesya melempar pertanyaan ke Alana. “Bentar gue lihat-lihat dulu,” Alana memutuskan untuk menunggu Richard membaca buku menu. “Oh iya Bang, ini temen gue namanya Alana, kenalin dong,” seru Gesya ke Richard. Richard yang masih membaca buku menu, hanya konsen ke buku menu yang ia pegang. “Hai, gue Richard.” Perkenalan singkat dituturkan oleh Richard. “Iya, gue Alana.” Balas Alana yang mengulurkan tangannya ke Richard. Tapi, Richard tidak begitu menghiraukan uluran tangan dari Alana. Entah karena Richard tidak tertarik, atau tidak melihat bahwa Alana sedang mengulurkan tangannya. Melihat pemandangan yang sangat tidak diharapkan oleh Gesya, Gesya pun bertindak. “Bang! Ini teman gue mau kenalan. Lo jangan asyik baca buku menu, napa!” Gesya menarik buku menu dari hadapan Richard dan menunjuk Alana yang masih tersenyum. “Eh sorry loh, gue kalau lihat buku menu harus detail, karena menurut gue makanan yang gue makan harus punya gizi seimbang!” seru Richard yang terus menomorsatukan kualitas, tanpa melirik harga. “Sombong amat lo! Ribet mulu hidup lo!” pekik Gesya yang meraih tangan kanan Richard dan tangan kanan Alana. Alana dan Richard cengo saja dan mengikuti permainan Gesya.  “Hai, gue Alana,” Alana mengulang ucapannya. “Hai, nama gue Richard,” balas Richard yang tak lupa tersenyum. Yang kemudian melepaskan tangannya dari Alana. “Nah gini kan enak, sudah sama-sama paham dan kenal. Jadi kita makannya gak canggung, yuk lanjutin baca buku menunya. Kita belum ada mesan satu pun, takutnya diusir sama pelayannya karena dikira gak mesan,” sekarang giliran Gesya yang membaca buku menu itu. Suasana menjadi hening. Alana dan Richard masih diam-diaman walaupun sudah mengetahui nama satu sama lain. Gesya menurunkan buku menunya, sepertinya ada yang tidak beres. Padahal sepegetahuan Gesya, Alana dan Richard adalah orang yang supel baik terhadap orang lama atau baru. Gesya ikutan tersenyum ketika melihat Alana dan Richard masih memandang satu sama lain. Mereka berdua merasa kalau waktu terasa berhenti. “WOY! PESAN WOY! MALAH LIHAT-LIHATAN DOANG!” dengan reseknya Gesya membuyarkan lamunan Alana dan Richard. Seketika saja Richard dan Alana canggung dan menggaruk kepala mereka secara bersamaan. Gesya yang sudah membunyai kebiasaan jahil sejak kecil, langsung ceng-cengin mereka. “Ehem … rasanya gue mau nyanyi nih, kurasa ku telah jatuh hati pada pandangan yang pertama, sulit bagiku untuk bisa berhenti mengagumi dirinya~~~” “Sya, suara lo soak! Gak bagus,” seru Richard. Alana yang menjaga image dan mengedepankan rasa toleransi skill (?) malah tepuk tangan. “Bagus banget suara lo, Sya. Tapi maaf lagu itu lagi gak menwakilkan kondisi saat ini,” “Iya nih, udah belum lo baca buku menunya!?” Richard langsung mengalihkan pembicaraan. “Uluh-uluh, ada yang deg-degan nih, jantungnya berdebar-debar karena bertemu perempuan cantik,” lagi-lagi Gesya menggoda Richard, dan mencolek dagu Alana. Richard meraih buku menunya kembali hingga menutupi sebagian besar wajahnya. “Bang, perasaan lo tadi sudah baca buku menunya deh. Kok baca lagi sih? Giliran Alana keleus!” tutur Gesya yang langsung merebut buku menu itu dan diserahkannya pada Alana. “Lo kalau salah tingkah, bilang, Bang!” lanjut Gesya yang tak henti-hentinya membully Richard. Tidak lama kemudian, pertemuan singkat itu berlangsung baik. Gesya sebagai pengguncang suasana malam itu menjadikan tidak ada kecanggungan sedikitpun. Berkali-kali pula Richard terus melempar konyolan-konyolan untuk membalas pernyataan Gesya. “Bang, lo tau gak sih tadi ada dosen muda baru yang gak bisa gambar! Gambar garis lurus aja miring-miring, kok bisa ya begitu jadi dosen?” ujar Gesya sembari menyuapkan steak ke mulutnya. “Ya mungkin ada sisi bagus dari dosen itu, misalnya saja dia mau menjadi simpanan pejabat kampus biar keterima jadi dosen, hahaha,” balas Richard. “Emang begituan masih musim, Bang? Dan keuntungannya langsung dapat pekerjaan, gitu?” tanya Gesya lebih lanjut. “Woah! Menjadi simpanan pejabat kampus itu keuntungannya plus plus, bisa dapat duit kuliah buat delapan semester tuh!” seru Richard yang sebenarnya mengadi-ngadi. “Serius?” Gesya membelalakan matanya. “Jadi gak usah pinter-pinter dong kuliahnya?” “Iya lah! Yang penting cakep dan hot. Kenapa lo kepoin soal simpanan pejabat kampus? Lo tertarik? Tapi maaf nih ya Sya, kayaknya lo gak masuk kriterianya,” timpal Richard. “Idih! Siapa juga mau jadi simpana orang. Najis! Karma itu berlaku loh!” gerutu Gesya sembari mempercepat kunyahannya. “Hahaha. Kalau Alana sendiri, apa ada dosen yang menarik perhatian lo?” pertanyaan pertama kalinya yang dilontarkan Richard pada Alana, setelah beberapa menit yang lalu Alana hanya sibuk makanin apa yang ada di hadapannya. “Hmm, kalau gue sih yang menarik perhatian hanya dosen-dosen yang punya keahlian di atas rata-rata. Misal diajari sama dosen tersebut, semangat gue terpacu lebih cepat dan ingin sekali belajar lebih,” beber Alan yang jago sekali melihat keahlian seseorang. “Nah! Kayak Alana dong, dia malah lihat yang baik-baiknya dari dosen tersebut. Pasti Gesya kalau di kelas itu ada dua kemungkinan yang dikerjakannya. Pertama, ngelihat sisi buruk dari dosen, dan yang kedua tidur doang sampai pelajaran selesai! Hahaha,” celetuk Richard yang membuat Gesya refleks melempar garpunya ke Richard. “Santai! Kalau lo marah berarti bener loh …” sahut Richard yang berhasil menyelamatkan wajahnya dari lemparan garpu itu. “Kagak! Kagak! Emang gue mahasiswa malas, gitu? Kagak lah Bang!” pekik Gesya. “Gue selalu perhatiin semua omongan dosen dan selalu gue catat dengan rinci di buku catatan. Terus itu kalau ada tugas nih ya gue langsung ngerjain tanpa ba bi bu lagi! Bahkan gue rela begadang sampai subuh supaya tugas itu kelar …” jelas Gesya untuk meyakinkan Richard. “Ah serius?” Richard memincingkan kedua matanya tak percaya. “Serius banget Bang! Seratus persen!” tukas Gesya. “Hmm, Alana, apa yang dibicarakan Gesya itu benar?” Richard mencari pembenaran lewat Alana. Alana sedikit terkekeh dan menyelesaikan kunyahannya terlebih dahulu. “Untuk yang pertama dan kedua itu benar. Gesya terus memperhatikan dosen saat menerangkan dan mencatat apapun yang dijelaskan dosen. Tapi anehnya, sampai saat ini dia gak mau ngasih lihat catatannya. Hahhaa,” terang Alana yang membuat Gesya melotot ke arahnya. “Tuh kan, di sini sudah ada tanda-tanda kedustaan,” seru Richard. “Lanjut Al! lanjut!” Richard semakin tertarik dengan pembahasan ini. “Selanjutnya … soal tugas itu, Alana memang mengerjakannya sampai subuh. Tapi—“ Alana melirik Gesya yang sudah menatapnya sinis. “Al! Al! diem Al!” sahut Gesya. “Wah ada tapinya nih, apaan Al? Tapi apa?” Richard memaksa Alana untuk mengatakan yang sejujurnya. “Al! lo milih nyebar aib gue di depan abang gue?” ujar Gesya. Alana kegelian. “Tapi semua kerjaannya bagus semua kok! Nilainya selalu A! yey!” Alana heboh dan tepuk tangan sendiri. “Halah, bohong nih, gak seru! Gak mungkin banget kerjaan Gesya beres seratus persen,” Richard kecewa dan melanjutkan makan malamnya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD