First Time

1300 Words
Gesya masih memfokuskan kedua pandangannya untuk mengejar mobil setan sedan miliknya itu. Tadi pagi, Richard berterus terang kalau ingin menjemput Marsha, yang digadang-gadang adalah kekasihnya sendiri. Akan tetapi, Gesya yang muak ketika abangnya itu bersama perempuan lain, ingin terus menguntit sampai mengetahui hubungan Richard dan Marsha sampai ke akar-akarnya. Yang ada di pikiran Gesya dan ibunya adalah … buatlah Richard jatuh cinta pada Alana dan sebaliknya. Cinta tidak bisa dipaksakan, cinta itu akan mengetahui di mana mereka menemukan juaranya. Juara pemenang di dalam hati, yang bisa menjadi hal yang patut diperjuangkan. “Sya lo harus tenangin pikiran lo dulu, ya. Jangan sampai lo kebawa emosi waktu lagi nyetir, bahaya loh,” Alana masih sempat-sempatnya memberi nasihat pada Gesya, di kala dirinya sendiri juga merasa takut. Gesya tak menjawab. “Sya … lo ngerti sendiri kan kalau kita berdua itu belum sukses, belum nikah, belum punya anak, bahkan investasi aja gak punya. Lo mau tiba-tiba kita mati konyol di jalanan, gitu?” Alana terus mencoba memberi peringatan pada Gesya yang sudah menginjak gas mobilnya hingga enam puluh lima kilometer per jam. CITTTT! GUBRAK! Betul saja, Gesya langsung mengerem mendadak. Kepala milik Gesya dan Alana terbentur di dashboard mobil yang tidak bersalah itu. “Tuh kan … untung aja gak cidera, Sya. Cuma benjol tipis-tipis doang,” Alana membasuh keningnya yang terbentur itu dengan rambutnya. Biasalah, orang-orang zaman old kan selalu usap kening menggunakan rambut kalau terhantup. Malah biasanya harus pakai rambut ibunya. Ada yang sepengalaman?! Gesya mengatur napasnya naik turun, seraya kedua sorot matanya itu kian memancarkan api tajam. Kalau ada anak indigo nih ya, kedua mata Gesya sudah dari tadi sudah dilihat mengeluarkan lahar gunung merapi. “Santai, Sya … santai …” Alana mengelus pundak Gesya. “Lo tadi lihat kemana mobil gue pergi, gak?” tanya Gesya dengan bibirnya yang memutih. Alana menggeleng. “Gimana mau liat kemana mobil lo pergi, Sya. Lo aja nyetirnya gak santai begitu bikin gue ketakutan dan istighfar dari tadi. Ya gak mungkin gue bener-bener perhatiin lah, gue malah fokus sama hidup gue! Selamat apa kagak!” Gesya terkekeh sebentar. “Maaf ya, gue udah kebawa emosi banget. Sampai-sampai gak bisa ngejar abang gue …” “Hah? Jadi sedari tadi kita ini ngejarin abang lo?” tanya Alana. Gesya mengangguk. “Seriusan itu abang lo? Abang Richard, kan?” Alana memastikan. “Iya, Al. Richard Alex Nicholas. Siapa lagi abang gue selain Bang Richard? Nyokap bokap gue gak punya anak laki-laki lagi selain Bang Richard,” Gesya menerangkan sampai menyebutkan nama lengkap kakaknya. “Hehe, kali aja ada yang lain Sya—“ “Eh mulut lo! Serem amat kalau bokap nyokap gue punya anak laki-laki lagi,” timpal Gesya. “Hahah, iya maaf maaf. Terus kalau itu beneran Bang Richard, ngapain kita kejar-kejaran kayak Fast and Furious? Lo bukan Mia di FF Sya!” gerutu Alana. “Mana sudah bikin kepala gue merah-merah gini …” Alana masih mengusap keningnya. “Maaf, Al. Sejujurnya gue itu begitu kepo dengan kehidupan Bang Richard …” tukas Gesya dengan nada merendah. Gesya pun menunduk. Alana jadi cengo, kenapa raut wajah Gesya bisa berubah seratus delapan puluh derajat secara mendadak?! Apakah ada jin tomang yang lewat sini dan merasuki tubuh Gesya? “Eh, Sya … lo kenapa?” tanya Alana yang ikut-ikutan dengan suara lemahnya. “Kita cerita di butik aja ya, gak enak di pinggir jalan gini. Mana mataharinya nembus kaca mobil gue lagi …” jawab Gesya. Gesya pun memutar balik mobilnya ke arah butiknya berada. *** TING! TONG! Pintu butik itu terbuka ketika Alana berhasil memutarkan kunci di gagang pintunya. Butik yang sudah lumayan rapi itu, siap untuk dibuka hari ini. “Selamat datang di Queen’s Boutique. Tempat di mana kalian bisa mendapatkan busana impian kalian, dengan style masa kini, dan pastinya murah meriah!” seru Alana dengan semangatnya, sembari melebarkan kedua sayapnya tangannya. “Heh! Jangan bilang murah meriah, ntar kita gak balik modal,” timpal Gesya. “Oh iya, bukan murah meriah. Tapiiii, kita akan kasih para pelanggan diskon jika beruntung,” Alana jadi merevisi ucapannya. Udah kayak tugas akhir aja ya pakai revisian segala. Gesya langsung duduk di kursi kerjanya, dan menaruh tasnya. Namun, Alana masih melihat wajah Gesya yang begitu sendu. Apa ya yang sebenarnya terjadi sama Gesya? Kok gak seheboh biasanya sih … batin Alana. “Sya, lo gak bantuin rapiin gantungan baju yang ada di belakang?” tanya Alana yang sengaja membuka pembicaraan. Gesya menoleh ke arah belakang, tempat di mana gantungan yang dimaksud Alana itu berada. “Masih rapi tuh, gak usah buang-buang tenaga buat beresin …” balas Gesya lesu. Alana menelan ludahnya, sangat tidak epic melihat rekan kerjanya hari ini tidak bersemangat. Kalau Gesya sudah menampilan wajah seperti itu, otomatis badmood sedang melanda hatinya. Dan ditarik lagi kesimpulan, orang yang sedang badmood itu akan tidak fokus bekerja, atau melakukan ketelitian apapun. Alana menghampiri Gesya. Ia menggeser kursi kosong dan duduk di hadapan Gesya. Alana memegangi kedua tangan Gesya. “Sya … lo kenapa murung begitu? Yuk cerita yuk sama gue,” ujar Alana dengan tatapannya yang nanar, mengirim sebuah sinyal peduli pada Gesya. Gesya pun membalas tatapan Alana jua. “Gue mau cerita sama lo. Dan semoga gue gak cerita dengan orang yang salah ya, Al.” “Orang yang salah? Maksud lo itu gue orang yang salah untuk dicurhatin ya?” sejenak Alana terkekeh. “Enggak dong, lo kayak gak kenal gue aja Al. Kita berdua kan sudah lama kenal dan deket sampai sejauh ini. Gak mungkin gue ngelakuin hal yang buat lo kecewa … apalagi menjadi orang yang salah untuk lo,” seru Alana. Alana yang selalu bisa membuat Gesya berterus terang tentang apa yang dialaminya, akhirnya buka suara. “Ini masalah abang Richard sama bokap nyokap gue sih, Al. Akhir-akhir ini, Bang Richard gak begitu perhatian lagi sama keluarga. Dia terus-terusan sensitif sama semua orang di rumah, kecuali satpam. Apapun yang ia mau, harus dilakukan, tak peduli bagaimana resikonya …” terang Gesya. Alana mengerutkan dahinya. Hal ini tidak sesuai dengan cerita Gesya beberapa bulan lalu, ketika pertama kalinya Gesya mengenalkan Richard pada Alana. Flashback. Hari ini Gesya dan Alana telah lulus sidang skripsi. Sebagai hari yang penuh kebahagiaan, Gesya membawa Alana ke sebuah restoran mahal yang belum pernah didatangi Alana sebelumnya. Awalnya Alana tidak mau, karena uangnya pasti tidak cukup. Dan … Alana gak mau minta uang bulanan lagi ke Bu Vivian. Namun, Gesya yang sudah menganggap Alana itu kakak sendiri, mengurungkan niat Alana. “Udah, lo gak usah khawatir berapa habisnya. Yang penting malam ini lo seneng,” seru Gesya. “Iya, gue senang. Tapi kalau senangnya bikin dompet gue kering, gimana dong? Sama aja hari hari berikutnya gue gak bisa makan,” balas Alana yang selalu berpikir realistis, dan perhatian dengan nasibnya di kemudian hari. “Kan gue bilang jangan khawatir, Al! Ada abang gue yang bayarin!” bisik Gesya pada Alana. “Hah? Abang? Gebetan lo maksudnya? Gebetan lo yang anak Teknik Arsitektur itu?” timpal Alana. “Bukan!!!” Gesya menggeleng. “Ya abang kandung gue, dong. Namanya Richard Alex Nicholas. Dia pebisnis muda sukses dan tidak pelit kalau soal traktiran begini.” “Oh ya?” Alana masih setengah percaya, secara restoran yang didatanginya ini adalah restoran yang terkenal mahal. Harga air mineralnya aja bisa mencapai seratus sembilan puluh lima ribu rupiah. Gimana dengan makanan berat yang lain? “Nah, itu Abang gue.” Seru Gesya. “Bang! Gue di sini!!!!!!” Gesya melambaikan kedua tangannya sambil tersenyum ke arah pintu masuk restoran yang bertuliskan. "Bienvenue" Melihat Gesya yang melambaikan tangan, spontan saja pandangan mata dari Alana itu mengikutinya. Mata Alana yang masih normal tanpa minus, plus, atau silinder itu, memandang jelas laki-laki tinggi sekitar seratus delapan puluh dua sentimeter di depan pintu. “Richard?” ucap Alana pelan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD