Pagi yang cerah itu, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang makan untuk menyantap makanan yang telah dibuat oleh Bu Vivian. Sebagai anak, Gesya dan Richard akan berkontribusi menghabiskannya. Pak Niko yang lebih dulu berada di ruang makan tersebut, segera memanggil dua anak tersayangnya.
“Richard … Gesya … ayo cepetan sarapan. Udah mau jam tujuh nih,” panggil Pak Niko dan mengarahkan wajahnya ke lantai dua, tempat di mana kamar kedua anaknya itu berada.
“Iya … Papiiii, ini gue udah mau selesai kok,” timpal Gesya yang turun dari lantai dua, ia sedang mengalungkan syal berwarna abu-abu.
“Abang Richard mana? Udah siap belum?” tanya Pak Niko.
Gesya mengangkat kedua bahunya dan mengambil duduk di samping Bu Vivian. “Selamat pagi, Mami … makanan apa pagi ini?” seru Gesya sembari mengecup kening Bu Vivian.
“Aduh Richard … kebiasaan deh ya, mentang-mentang udah jadi atasan, dia seenaknya pergi ke kantor,” keluh Pak Niko menggelengkan kepalanya. “Gak lama Papi turunkan aja jabatannya jadi cleaning service,” timpal Pak Niko lagi.
“Hello Papiii! Jangan gitu dong, gue udah siap dari tiga puluh menit yang lalu, kok. Tadi lama gara-gara cari dasi doang, hehe, happy breakfast!” Richard pun tiba-tiba datang tanpa terdengar ketukan sepatunya, dan mengambil posisi duduk di samping Pak Niko.
“Papi jangan turunin jabatan gue ke cleaning service, ya …” rengek Richard seraya menyatukan kedua telapak tangannya guna menciptakan rasa iba dalam diri Pak Niko.
“Halah, Papi itu malas banget kalau lihat kamu lama begini. Ketika semua sudah siap, kamu belum. Ibaratnya tuh ya, semua orang sudah masuk ke kereta, kamu masih cari angkot buat ke stasiun,” timpal Pak Niko.
“Ah, Papi bisa aja. By the way gue gak pernah naik kereta api, Pi. Pernahnya jet pribadi, hehehe,” lanjut Richard.
“Udah udah, Papi, Richard, ayo cepetan sarapan dulu jangan ngomong terus. Ngomongnya bisa dilanjut di mobil saja. Mau Mami ambilkan makanannya?” tawar Bu Vivian yang selalu mengatakan demikian, di kala makan pagi bersama itu tiba.
“Boleh, Sayang …” Pak Niko tersenyum dan menyerahkan piring kosongnya pada istrinya tersebut.
Bu Vivian mengambil piring yang telah disodoran oleh Pak Niko. “Papi … ayamnya mau bagian apa?” tanya Bu Vivian.
“Dhaa—dhaa aja, Mam,”
“Eh jangan, Pi. Bagian dhaa-dhaa ayam itu punyaku,” Richard langsung mengambil bagian ayam itu sebelum Bu Vivian menyeroknya dengan sendok.
Pak Niko menggelengkan kepalanya. “Astaga Richard … kamu yang datang terakhiran malah ngambil punya Papi, Ya udah Mi, ambil bagian paha aja,” pinta Pak Niko.
“Maaf, Papi. Pahanya sudah diambil sama Gesya tadi, dua lagi,” timpal Bu Vivian. “Papi ambil punggung aja ya,” Bu Vivian menyerok ayam yang sudah dibumbui kecap manis itu.
“Punggung adalah bagian ayam yang paling Papi gak suka. Dagingnya sedikit sekali,” piring itu telah dipenuhi nasi dan lauk pauk, berada di hadapan Pak Niko.
“Udah, Papi gak usah protes kayak anak kecil, ya. Sekarang di makan yuk!” ajak Bu Vivian yang lebih mencairkan suasana tersebut.
Pagi itu acara sarapan bersama berjalan khidmat. Udah kayak upacara aja ya gengs, khidmat. Semua anggota keluarga pun menelan habis makanan yang ada di atas piring mereka. “Yok, langsung berangkat kerja aja,” ujar Pak Niko yang duluan beranjak dari kursinya.
“Papi berangkat sama Gesya dulu ya, soalnya gue mau antar Marsha bentar,” seru Richard.
“Bang! Jarak dari kantor sama butik itu jauh banget! Mana macetnya parah banget kalau jam segini. Mending lo aja deh, gak usah pakai acara jemput cewek itu,” tolak Gesya.
Richard mengeluarkan sebuah kunci dari kantong celananya. “Gak bisa, gue udah janji. Nih kunci mobilnya!” dan kunci mobil itu dilemparkan ke arah Gesya. HAP!
Gesya melihat kunci tersebut, ia langsung manyun. “Ini kan mobil lama Papi, emang masih bisa jalan?”
“Masih bisa kok! Kemarin udah gue coba kelilingin komplek. Udah pakai aja,” seru Richard.
“Papi …. Serius?” Gesya melempar pertanyaan serius ke Papinya karena tidak yakin dengan jawaban Richard.
“Masih aman sih, bensin, rem juga aman. Tapi yang kurang aman itu klaksonnya. Kamu harus teriak kalau mau notice orang yang ada di depan,” jelas Pak Niko seraya tertawa.
“Ih! Gak mauuuu, Papiiii. Bang, gue pakai mobil lo aja lah!” pinta Gesya.
“Jangan, mobil gue habis bensin,” balas Richard.
“Gue mau pakai mobil gue sendiri aja kalau gitu!”
“Gak bisa! Udah gue booking untuk pagi ini. Duluan yaaa!” Richard langsung beranjak dari tempat duduknya, mengambil tas kerjanya dan pergi keluar rumah. “Bye semua!”
Sementara itu Gesya masih menggerutu karena harus mengantar Pak Niko ke kantor menggunakan mobil butut punya Pak Niko waktu masih bujang dulu. Ceileh, orkay banget Pak Niko, masih bujang udah punya mobil saat itu.
“Papiii! Mamiiii! Kok Bang Richard gak dilarang sih pakai mobil gue!?” kesal Gesya menghentak-hentakan kakinya.
“Biarpun dilarang, Abangmu pasti marah gak jelas, Sya. Ngalah ya anak Mami paling cantik …” ujar Bu Vivian yang langsung mengecup kening anak perempuannya yang manyun itu.
“Mana mobilnya Papi yang ini klaksonnya rusak lagi, hih!” balas Gesya lagi.
***
KRING! KRING! KRING! Alarm berbentuk rumah-rumahan yang berada di bawah bantal Alana itu berdering. Deringan dari alarm, membuat Alana auto terduduk dari tidurnya. “HAH!? KERJA YOK KERJA?!” seru Alana. Kedua mata Alana pun turut terbelalak karena alarm itu menusuk tepat di telinganya.
Alana langsung turun dari tempat tidurnya, dan bergegas mandi. BYUR! BYUR! BYUR! Air di kamar mandi yang mengguyur tubuh Alana itu, menjadikan tubuh Alana semakin merasakan dinginnya air pagi ini. “Gue paling benci kalau airnya terlalu dingin. Gue bukan beruang kutub yang bisa tahan sama kedinginan ini!!!” gerutu Alana ketika air itu terhempas ke ujung kepala sampai ujung kaki.
Alana adalah perempuan yang cekatan. Ia selalu sat set sat set ketika melakukan apapun, dan tetap memperhatikan ketelitiannya. Kurang lebih selama lima menit, Alana keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuhnya. “Selamat pagi dunia, semangat membara untuk hari ini, menyelesaikan program kerja di butik!” seru Alana yang menyemangati dirinya sendiri.
Alana yang sudah lama menjadi anak yatim piatu ini, terbiasa melakukan apapun sendirian dan mengandalkan dirinya sendiri. Untungnya saja, ditengah kesedihan ini ada keluarga Bu Vivian yang setia menolongnya, hingga akhirnya Alana bisa sarjana dan mempunyai bisnis fashion. Kalau tidak karena keluarga Bu Vivian, Alana tidak tahu seperti apa nasib di masa depannya.
“Dress berwarna cokelat s**u dengan asesoris kalung berwarna hitam. Udah! Begini saja,” seru Alana yang memutarkan tubuhnya di depan cermin bundar itu.
Tidak lama kemudian, ponsel Alana pun berbunyi. Ada nama Gesya di sana. Dengan senyuman, Alana mengangkat telepon itu. “Halo, Sya … ada apa?”
“Al, gue udah ada di depan rumah lo, nih. Cepetan keluar,” seru Gesya.
“Oh ya? Kok lo gak bunyiin klakson, sih?” tanya Alana sembari mengintip dari jendela tentang kebenaran yang dilontarkan Gesya itu.
“Iya, klakson mobilnya rusak. Ini gue pakai mobil lawas Papi gue. Maklum lah, mobil butut yang minim perawatan. Gue tunggu di depan ya, gak usah kebanyakan dandan, ntar Abang gue suka loh, hahaha,” celetuk Gesya yang belum saja dibalas oleh Alana, Gesya buru-buru mengakhiri teleponnya.
Di depan rumah Alana, tampak mobil sedan berwarna hitam terparkir. Alana mempercepat memakai alas kaki dan ngacir menuju mobil sedan tersebut. “Hallo, Sya!” Alana melambaikan tangan di depan jendela mobil yang kacanya terbuka.
“Buruan, masuk, gak usah sok imut lo!” seru Gesya.
“Iya, iya. Galak amat lo yaaa!” pekik Alana dan segera masuk ke dalam mobil.
“Cuss butik! Cari cuan buat nikah!!!!!” seru Gesya yang mulai melajukan mobilnya.
“Emang lo sudah punya calon?” tanya Alana yang tersendak.
“Beloooom! Hahahaha,” Gesya geli.
Alana dan Gesya adalah dua perempuan lulusan tata busana. Setelah mereka lulus kuliah, mereka melanjutkan mimpi dengan membuka butik, yang isinya adalah desain baju mereka sendiri. Butik ini baru berjalan sekitar delapan bulan, namun Gesya dan Alana bersikeras untuk terus mengembangkan bisnisnya itu. Gesya yang menjadi orang super mood-moodan itu terkadang lalai dengan tugasnya dan program kerja kedepannya. Akan tetapi tidak perlu khawatir, Alana bisa mem-back up kerjaan apa saja yang belum selesai. Top global, Alana!
“Eh Sya, gue baru lihat deh mobil ini,” tukas Alana.
“Iya, ini mobil udah lama banget waktu bokap gue masih bujang. Dia gak rela jual mobil ini karena ketika pertama kali ketemu nyokap gue, ya pakai mobil ini. Songong banget gak tuh bokap gue?!” beber Gesya yang malah menjelaskan soal kedua orang tuanya.
“Oh gitu … berarti dari zaman dulu itu bokap lo udah jadi crazy rich ya?” tanya Alana.
“Mungkin kali ya … gue juga gak begitu paham hidup bokap dan nyokap gue di masa lalu sih …” jawab Gesya.
Alana pun manggut-manggut. “Oh ya, terus kenapa lo gak pakai mobil lo? Pasti mobil lo mogok lagi karena jarang lo service kan?!” Alana cepat sekali menuduhnya.
“Ih, jangan sok tau lo ya! Mobil gue itu gak pernah telat kalau soal perbaikan. Emang lo, gak punya mobil!!!!” celetuk Gesya yang membuat Alana tertawa.
CITTTTT! Gesya dengan spontan menginjak bagian rem, yang membuat ia harus mengerem mendadak. Wajah dari Alana dan Gesya itu turut terhantup di dashboard mobil karena rem tadi. “Sya … hati-hati dong!” pekik Alana yang mengelus keningnya karena sedikit sakit.
“Maaf ya Al, maaf gue gak sengaja,” balas Gesya.
Pandangan kedua mata Gesya itu menajam ke arah kanannya. Alana juga mengikuti arah pandang itu, dan melihat ada seorang perempuan berbaju tanktop hitam dengan rok di atas lutut. Perempuan yang mereka lihat dari belakang itu, masuk ke dalam mobil yang sering dipakai Gesya.
“Loh itu mobil lo, Sya … dan perempuan itu siapa?” Alana bertanya mengerutkan dahinya. Ia merasa pernah melihat perawakan perempuan itu. “Kayaknya gue pernah lihat deh …”
“Sssst! Diem, jangan berisik!” pinta Gesya yang tetap menajamkan pandangannya menuju perempuan itu.
Mobil milik Gesya itu melaju ke arah kiri, dan Gesya ikut-ikutan mengarahkan mobilnya ke sana. Alana cengo, "Heh, kenapa lo malah balik ke sini sih? Kan butik kita bukan ke arah sini," seru Alana.
"Udah Al, sebentar ya. Gue mau ngikutin kemana mobil gue pergi," kata Gesya dengan raut wajah yang tegang.
"Emangnya mobil lo itu sebenernya dipakai siapa, sih?" tanya Alana lagi. Alana kebanyakan nanya nih ya, padahal Gesya lagi mode serius.
"Please deh Al, lo diem sebentar ya. Nanti gue ceritakan semuanya secara detail di butik. Sekarang, mending lo diem, duduk tenang, dan berdoa kita gak kenapa-kenapa," NGENG! Gesya pun menancap gas tiba-tiba hingga mobil lawas itu melaju kencang.
"PELAN PELAN SYA!!!!" seru Alana yang menutup kedua matanya, tak ingin melihat sebuah kehebohan yang ada di depannya.