“Please deh Rob! Jangan sampai lo jadi b***k atasan mulu! Gak capek lo?! Gitu sih ya, lo kalau gak mau rahasia lo sama Mirna terbongkar, segera cabut surat untuk Alana itu dan—”
“Der … gak bisa main cabut gitu aja, Der! Itu sudah masuk dalam tugas pokok gue,” sela Robert.
“Gue gak peduli, sih. Yang penting lo harus bisa batalin surat itu dan gak ada syarat lain. Kurang mudah apa, coba?” timpal Dera.
“Der—”
“Gak usah manggil-manggil nama gue terus, udah ya Rob, segera cabut surat itu dan rahasia lo aman. Bye, gue balik dulu,” seru Dera yang melambaikan kelima jarinya ke arah Robert yang kebingungan.
BRAK! Dera meninggalkan Robert dengan syarat yang begitu sulit untuk dilakukan Robert. Robert mengepalkan tangannya dan menonjok sofa empuk yang ada di belakangnya. Ahelah cuma nonjok sofa, tembok dong! Berani lo? Bisa lo? Cemen.
“Ah sialan! Kenapa bisa kepergoknya sama Dera, sih? Mana itu perempuan gak mempan kalau disogok pakai duit. Ah!” Robert kesal memegangi kepalanya yang ingin sekali pecah. Robert berada diantara dua kegalauan yang memuncak. Yang pertama, soal rahasia kelamnya bersama Mirna yang jelas-jelas dilakukannya hari ini, dan yang kedua soal permintaan Dera yang tak mungkin bisa diamini.
Dera melangkahkan kaki menuju mobilnya yang terparkir di halaman gedung kantor. Dera senang sekali hari ini bisa mengancam Robert dengan ancaman yang sungguh tidak disengaja. “Rasain lo, Rob! Laki-laki yang suka sekali main perempuan, kini kena batunya. Gue lagi yang tahu! Hahaha,” batin Dera cekikikan.
***
Alana telah berada di kamar tidurnya, ia mengistirahatkan diri untuk menyambut esok hari. Seperti anak-anak muda pada umumnya, Alana pun ikut scroll Tok Tok dan apapun yang berbau video dagelan. Biasanya nih ya, inspirasi dari desain baju itu bakal muncul dari video-video konyol yang Alana tonton.
Tak lama kemudian, Alana tidak sengaja menekan sebuah video pemilik akun @cucidirisendiri. Dari username-nya sih gak jelas ya. Tapi hal itu membuat Alana meneruskan menonton video yang dipenuhi quotes-quotes kehidupan itu.
Kesempatan hanya datang sekali, tidak ada yang bisa membayar untuk kesempatan kedua. Jikalau kamu sedang diberikan sebuah kesempatan, ada baiknya kamu menimbang kembali baik buruknya. Jangan sampai dengan seenaknya kamu menolak, dan akan merindukan kesempatan itu berpihak padamu lagi – quotes malam yang gabut dari akun @cucidirisendiri.
“Kesempatan? Kesempatan yang mengarah pada masa depan memang patutnya tidak diabaikan,” seru Alana.
Seketika saja Alana terbayang-bayang kata-kata dalam surat yang dibacakan Dera tadi sore. “Ini sih kesempatan bagus buat karir gue kedepannya. Gue yakin banget sih, soal pemecatan gue dulu itu ada campur tangan karyawan lain yang tidak sehat. Dan gue yakin juga kalau tiap perusahaan pasti ada yang lalai dalam membuat kebijakan, so waktu itu mungkin gue lagi kena apes-apesnya,” Alana masih saja positive thinking dengan keputusan perusahaan yang memecatnya beberapa bulan yang lalu.
“Berhubung atasan meminta gue balik ke kantor itu lagi, apa gue terima aja, ya? Soalnya gue punya goal untuk bikin desain baju yang bisa dipentaskan ke kancah Internasional. Dan di Indonesia ini hanya perusahaan konveksi itulah yang punya akses ke pameran luar negeri,” Alana menimbang kembali, nilai-nilai positif yang bisa diperolehnya ketika bekerja kembali di PT. Anaconda Konveksi.
Alana menjentikan jemarinya. Alana seperti mendapat cahaya ide setelah menonton video tersebut. Ia langsung duduk bersandar di atas tempat tidurnya dan menelpon rekan kerjanya yang paling manja di butik, siapa lagi kalau bukan Gesya Amarta Nicholas.
Nada sambung milik Gesya kali ini berbeda dengan kebanyakan orang yang hanya berbunyi tut … tut … tut. Gesya telah memasang nada sambung terbarunya, biar orang-orang yang menelpon tidak sepenuhnya bengong menunggu dirinya mengangkat telepon. Kuingin kau tahu diriku di sini menanti dirimoe— udah ya lagunya diterusin sendiri, hehe.
“Halo Alana cantik, ada apa?” sapa Gesya di teleponnya.
“Hmm kenapa tiba-tiba manggil gue cantik, nih? Lo pasti ada maunya, ya?” timpal Alana yang tak biasanya mendengar Gesya menyebut namanya cantik.
“Eh? Kenapa lo negative thinking mulu sama gue, Al? Padahal gue ngomongnya dari lubuk hati setengah dalam, hiks,” balas Gesya,
“Hahaha tuh kan, memang gak pernah jujur kalau muji gue cantik, tuh katanya setengah dalam,” decak Alana.
“Hehe, bercanda, Al. Ada apa sih malam-malam nelpon? Lo mau ngabarin kalau kerjaan desain di butik udah selesai, ya? Syukurlah kalau begitu Al, terima kasih ya, lo memang partner kerja gue yang—”
“Dih! Pengen amat kerjaan lo gue selesain? Kagak dong, kerjaannya belum selesai. Dan gue nelpon lo bukan untuk bahas soal kerjaan,” Alana sergap memotong ucapan Gesya yang ngelantur itu.
“Yah, gak seru lo ya. Kenapa sih gak sekalian diselesaiin?” rengek Gesya.
“Gak mau lah, biar lo aja yang selesaiin sekalian belajar buat desain festival tahunan. Tapi lo tenang aja, lo gak ngerjain banyak kok, bagian atasan bajunya udah gue yang desain. Lo tinggal mikirin gimana headpiece-nya dan bawahannya,” terang Alana.
Akhir-akhir ini Alana tidak terlalu menyelesaikan secara detail tugas yang harusnya dikerjakan oleh Gesya. Alana tidak ingin Gesya terlena dengan kebingungannya, dan menyebabkan Gesya lalai dengan pekerjaannya sendiri. Toh menurut Alana, Gesya adalah anak yang tak kalah kreatif dan selalu menemukan pemikiran-pemikiran yang segar.
“Enak kan lo? Tinggal nerusin doang …”
“Ahelah Al, tanggung amat sih. Ngerjain headpiece hanya bentar, kenapa gak lo lanjutin aja sih? Ish,” kesal Gesya yang mengalami penambahan tugas.
“Hahaha, gak mau. Biar lo aja. Gue kangen lihat desain headpiece dari karya lo. Eh ngomong-ngomong gue mau ngomongin sesuatu nih. Tadi kita malah bahas kerjaan, duh,” Alana segera mengalihkan pembicaraannya.
“Ho oh. Apaan tuh?” balas Gesya.
“Gini, lo masih ingat kan kantor konveksi tempat gue magang selama kuliah?” tanya Alana.
“Inget. PT. Ular sawah konveksi itu, bukan?” jawab Gesya dengan ngawurnya.
“Bukan, Sya! PT. Anaconda Konveksi, yang kantornya ada di tengah-tengah ibukota, lo jangan main asal ganti nama perusahaan deh, walaupun memang namanya mendekati spesies ular-ularan,” sahut Alana.
Gesya pun terkekeh. “Astaga maaf, Al! Iya maksud gue PT. Anaconda Konveksi itu, haha. Gue kenapa langsung ngomong ular sawah ya? Hahaha.”
“Entah, lo demen uler kali ya. Oke deh lupakan, nah barusan aja nih tadi sore rekan kerja gue yang namanya Dera itu datang ke butik dan ngasih sebuah surat yang isinya bikin gue tercengang banget. Isi suratnya itu—”
“Apa Al?! pasti isinya positif banget, kan? Apaan tuh? Mereka mau kerjasama bareng butik kita? Boleh banget! Mereka mau modalin butik kita? Hmm, apalagi itu! Terus, lo jawab gimana Al kalau mereka mau kerjasama bareng kita?” Gesya ujuk-ujuk memaparkan hal yang seharusnya gak dia omongin. Gesya tuh kalau sudah dengar nama perusahaan besar yang nangkring atau datang ke butiknya, pikirannya udah bisnis melulu.
“Bukan Sya, bukan … gue langsung jelasin ya. Tadi itu Dera datang ke butik kita dan ngasih gue sepucuk surat cinta. Isinya itu meminta gue untuk kembali bekerja di PT. Anaconda Konveksi tersebut,” terang Alana yang untungnya tidak dipotong sama Gesya sama sekali.
“Bentar, itu perusahaan pernah ngepecat lo secara sepihak, kan? Waktu lo baru kerja tiga bulan di sana. Betul apa betul, Al?” timpal Gesya.
“Iya benar. Tuh lo masih ingat ceritanya,” jawab Alana.
“Astaga Al! kocak banget sih perusahaan itu udah ngelepeh lo, terus mau mungut lo lagi. Terus, lo terima, gitu? Aduh Al, kalau katanya Kinan di layangan putus, itu udah menyangkut harga diri! Harga diri lo yang harusnya gak boleh diinjak-injak apalagi dipermainkan kayak gitu,” beber Gesya yang kali ini omongannya waras.
Alana jadi dilema, padahal Alana ingin menanyakan sebuah saran yang cenderung mengikuti quotes tadi, “Kesempatan kedua tidak seharusnya dihindari.” Alana terdiam mendengar kata demi kata yang lancar sekali keluar dari bibir Gesya.
“Kalau gue nih Al, paling anti sama perusahaan atau orang-orang toxic yang seenaknya bikin aturan. Lo juga punya pikiran yang sama kayak gue kan, Al?” tambah Gesya lagi.
“Hmm, mung … kin … be … gi … tu,” samar-samar jawaban Alana tak yakin.
“Udahlah, mending lo lupain aja itu surat dari perusahaan PT. Anaconda Konveksi. Kita kan sudah bangun bisnis fashion bareng-bareng yang dimodalin orang tua gue, jadi ini saatnya tugas kita berdua untuk mengembangkan lebih jauh. Gak usah deh buang-buang tenaga untuk kontribusi di kantor yang pernah jatuhin harga diri lo,” jawab Gesya lagi.
Alana menurunkan ponselnya ke pipi, yang sebelumnya ada di depan telinganya. Alana tidak menyangka Gesya tidak menyupport dirinya kali ini. Dan baru kali ini juga, pendapat antara Gesya dan Alana berbeda. /
"Al ... Al ... hallo, lo masih di telepon, kan? Apa lo ketiduran nih? Kok diem aja?" seru Gesya yang tidak mendengar balasan apapun dari Alana.
Satu menit kemudian, Alana belum juga menyebutkan satu kata pun. Gesya yang selalu punya pikiran real kepada Alana itu, menyimpulkan kalau Alana sudah mengantuk dan harus on the way ke pulau kapuk alias tidur di kasurnya. "Al, kayaknya lo harus istirahat deh karena tadi ngerjain kerjaan banyak di butik. Ya udah deh, gue tutup ya, gue juga mau lanjutin chatingan sama gebetan baru gue, hahaha. Bye!" Gesya langsung mengakhiri telepon itu dan Alana masih dalam keadaan membisu.