SEKRETARIS BARU

1459 Words
Di apartemennya, Helena masih tak percaya bahwa ia telah kehilangan mahkota yang selama ini sudah ia jaga. Tentu saja ia tidak bisa menyalahkan pria itu. Helena mulai mengingat jelas jika ia yang sudah menggoda pria yang sama sekali tak dikenalnya itu untuk membantunya meredakan gairah yang terasa panas pada tubuhnya. Melodi menghampiri Helena, ia mengelus pundak Helena. "Mau sampai kapan kau memikirkannya? Besok kau sudah harus bekerja, Helena." "Entahlah, rasanya sedih sekali. Bagaimana jika laki-laki yang akan jadi suamiku nanti tidak menerima keadaanku yang sudah tak lagi perawan?" "Kau tenang saja! Jaman sekarang, beberapa laki-laki tak memikirkan itu. Lagi pula jika dia mencintaimu, dia pasti akan menerimamu apa adanya tanpa menuntut lebih. Helena, aku tau apa yang sedang kau pikirkan, tapi kau tidak bisa terus larut dalam kekecewaan, aku sendiri kecewa karena membiarkanmu malam itu.” Melodi teringat malam di mana ia kehilangan Helena karena terlalu asyik dengan seorang pria yang baru ia kenal di club, padahal keduanya pergi bersama. Helena mendongak, menatap Melodi, lalu memeluk sahabatnya itu. "Aku akan coba melupakannya." Melodi yang merasa bersalah pun sekali lagi menenangkan Helena. Beberapa kalimat bijak terlontar dari mulut wanita itu hingga berhasil membuat Helena sedikit lebih tenang. *** Keesokan harinya, di sebuah ruang kerja yang terbilang cukup megah dan luas dengan segala fasilitas mewah di dalamnya. "Kau sudah mencari sekertaris baru, Vin?" tanya Mike, pria itu menatap asistennya dengan tatapan datar, nyaris tanpa ekspresi. "Sudah, seharusnya dia datang hari ini karena aku memberitahunya jika dia bisa mulai bekerja hari ini," jawab Alvin yang langsung disambut sebuah anggukan kepala oleh Mike yang tengah melangkah menuju mini bar yang berada di sudut ruangan. Mike mengambil sebuah gelas kristal dan sebotol wine, lalu menuangnya dan langsung meminumnya sampai tandas tak tersisa. "Sekretaris itu akan bekerja di sini, satu ruangan denganku!” perintah Mike. “Baik, nanti biar office boy yang memindahkan meja dan kursinya.” "Hm, kau mau?" tawar Mike, ia menyodorkan gelas kristal kosong ke arah Alvin. Alvin menerimanya, ia menuangkan wine pada gelas kristal lain, kemudian meminumnya. "Bagaimana dengan Aileen, Mike?" Mike mengedikkan kedua bahunya acuh. "Entahlah, biarkan saja!” ujar pria itu malas sambil meletakkan gelas kristal yang sudah kosong dan melangkah menuju kursi kebesarannya. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mike menekan tombol pada sebuah remote hingga pintu ruangan pun langsung terbuka. Tampak seorang wanita cantik melangkah masuk. "Maafkan saya, Tuan Alvin, Tuan Mike. Tapi saya ingin memberitahu jika sekertaris baru Tuan Mike sudah datang," ujarnya dengan menunduk hormat. "Perintahkan dia masuk ke ruangan ini karena dia akan bekerja satu ruangan dengan Tuan Mike!” "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi.” "Tunggu Melodi," cegah Alvin, wanita yang tak lain adalah Melodi itu mendongak menatap Alvin. "Ya, Tuan?" "Panggilkan office boy juga, perintahkan dia menata meja dan kursi kerja untuk sekertaris baru Tuan Mike!” "Baik, Tuan. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Melodi ramah. "Tidak ada, pergilah!" Melodi pun mengangguk patuh. Setelah izin pamit pada Mike dan juga Alvin, ia segera keluar dari ruangan. Selesai memberi tahu seorang office boy untuk menata meja dan kursi kerja di ruangan Mike sesuai perintah Alvin, Melodi langsung menemui sekretaris baru yang akan mulai bekerja hari ini untuk datang bertemu dengan Mike di ruangannya. Pintu ruang diketuk oleh Melodi. Suara berat itu terdengar memberi perintah. Meminta pada siapa saja yang ada di depan ruangan itu untuk masuk. “Maaf mengganggu, Tuan, ini sekretaris yang akan bekerja itu, Tuan.” Melodi memperkenalkan seorang wanita yang tampak cantik dengan balutan blazer berwarna maroon. “Perkenalkan, Tuan, saya ….” Wanita itu menghentikan ucapannya. Menatap dengan kedua mata yang membulat saat sosok pria itu memutar kursi kebesarannya tak lagi membelakangi. Bukan hanya Helena, Mike sama terkejutnya saat melihat Helena. “Kamu kenapa, Helena?” bisik Melodi merapatkan mulutnya agar pertanyaannya tak didengar oleh Alvin maupun Mike. “Laki-laki itu ….” Tiba-Tiba suara dehaman terdengar. Membuat Melodi kembali melihat atasannya, lalu cepat-cepat memperkenalkan Helena–wanita yang memang ia rekomendasikan sebagai sekretaris baru Mike. "Perkenalkan dia adalah Helena, Tuan. Dia yang akan jadi sekretaris baru Tuan Mike," ujar Melodi. Coba mencairkan suasana meski ia sendiri juga tidak mengira jika ternyata sahabat dan atasannya sudah pernah saling mengenal. Helena sampai menelan salivanya dengan susah payah sementara Mike tampak menyeringai penuh isyarat. "Apa kau tidak berniat memperkenalkan dirimu sendiri?" Suara itu terdengar dingin. Tatapan tajam Mike membuat Helena meremang di posisinya. Wanita itu semakin gugup. Lidahnya terasa semakin kelu untuk berucap. Melodi sampai menyenggol sedikit lengan Helena agar wanita itu segera memperkenalkan diri karena ia tahu jika atasannya itu paling tidak suka dibantah. "Per-kenalkan saya … Helena Rutherford, Tuan," ucapnya dengan gugup, terlebih saat melihat Mike tersenyum smirk. “Bukankah jalang kecil yang sangat menarik? Malam itu seperti kucing liar, sekarang terlihat seperti kucing penurut,” batin Mike menilak sikap Helena saat ini yang sangat berbeda tak seperti semalam. "Silakan duduk dan baca surat perjanjian kerjamu untuk kau tanda tangani!” sahut Alvin yang memang tidak tahu jika keduanya saling mengenal. Helena pun mengangguk patuh saat mendengar perintah Alvin. Suara pria itu seketika membuyarkan sesaat rasa gugupnya. Wanita itu langsung duduk di sebuah sofa yang memang ada di seberang meja kerja Mike. Baru saja sejenak mereda, rasa gugup semakin menjadi saat Mike meminta Melodi keluar dari ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya. “Kenapa harus laki-laki itu yang akan jadi bos-ku?” batin Helena mulai membaca poin demi poin yang tertera pada surat kontrak kerjanya. “Bagaimana ini? Apa aku harus tetap bekerja di sini? Tapi … aku sangat butuh pekerjaan ini.” Tak punya pilihan lain, Helena akhirnya membubuhkan tanda tangannya pada surat perjanjian itu setelah menghela napas kasar. "Saya sudah tanda tangan, Tuan," ujar Helena pada Alvin. Pria itu pun langsung mengulurkan tangan ke arah Helena. "Selamat bergabung di perusahaan ini, aku berharap kau bisa bekerja sebaik mungkin.” Helena memaksakan senyum itu tetap terlihat tulus. Wanita itu menatap tangan Alvin dan membalas jabat tangan sang asisten Mike. "Terimakasih, Tuan,” jawabnya menepikan sejenak rasa gugup yang sejak tadi mengusiknya. "Baiklah, aku pergi dulu. Kamu sudah bisa langsung bekerja sekarang, di sana mejamu, ya! Selamat bekerja." Alvin menepuk pundak Helena, lalu melangkah pergi sambil membawa surat kontrak kerja yang sudah ditandatangani Helena. Setelah kepergian Alvin, Helena yang sudah duduk di kursi kerjanya hanya menunduk. Wanita itu merasa takut karena harus satu ruangan dengan Mike. Bagaimana tidak takut, sejak tadi Mike terus menatapnya dengan tajam tanpa teralihkan sedikit pun. "Apakah aku memperkerjakanmu hanya untuk duduk dan diam saja?" Pertanyaan itu terdengar ketus keluar dari mulut Mike. Helena pun sontak terkejut. Wanita itu langsung berdiri. Mengangkat kepala untuk melihat Mike dan langsung menggeleng berulang kali. "Ti-dak, Tuan. Maafkan saya." Mike mendesah pelan, ia juga berdiri, kemudian melangkah mendekati Helena setelah mengambil beberapa berkas dan menyerahkan pada Helena. "Periksa berkas itu, aku kasih waktu sepuluh menit!” perintah Mike dengan suara beratnya. “Apa?! Sepuluh menit?” Helena bermonolog sendiri. Pekerjaan pertama yang sudah langsung membuatnya tertekan. “Bagaimana? Bisa, kan?” "Ba-ik, Tuan." Helena pun langsung mengangguk patuh. Kembali duduk pada kursi kerjanya sambil menghembuskan napas perlahan. "Semangat Helena, kau pasti bisa! Lupakan kejadian semalam, fokus Helena! Semoga saja Tuan Mike lupa dengan apa yang terjadi malam itu,” batin Helena berharap agar Mike tak mengingat apa yang terjadi semalam. Namun, harapan itu ternyata jauh dari kenyataan karena Mike sama sekali tak lupa dengan apa yang terjadi. “Mungkin malam itu bisa terulang lagi.” Mike langsung menggelengkan kepala. Membuang pikiran yang tiba-tiba muncul. “Sial, jangan aneh-aneh, Mike!” gumamnya kesal. Cepat-Cepat ia mengambil sebuah berkas yang menumpuk di atas meja, lalu langsung membacanya demi menjaga kewarasan dari ingatan soal malam panas itu. Lama mereka larut dalam pekerjaan masing-masing hingga Mike kembali memperhatikan Helena setelah selesai membaca salah satu berkas penting yang memang harus dipelajarinya. "f**k!" umpat Mike dengan lirih saat melihat rok mini Helena yang tersingkap, menampilkan paha mulusnya. Tidak hanya itu, Mike mengerang saat melihat Helena yang memainkan bolpoin dengan menggigit ujungnya terlihat begitu sensual di mata Mike hingga membuat pria itu jadi membayangkan jika bolpoin itu adalah bagian inti miliknya. Mike sampai memejamkan kedua mata, ia menyentuh celananya saat sesuatu mulai mengeras. "Tuan, kenapa?" panggil Helena, ia menoleh ke arah Mike. Pria itu dengan terkejut membuka kedua mata, lalu tiba-tiba menatap Helena dengan sorot mata yang sulit diartikan hingga bolpoin dalam genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. Mike begitu canggung saat kepergok memperhatikan Helena. Pria itu coba mengalihkan pandangan. Namun, entah kenapa, kedua matanya kembali melihat sang sekretaris yang tengah mengambil bolpoin dengan membungkuk ke lantai. “Sial!” Mike menggerutu kesal saat melihat bagian d**a Helena terpampang nyata lewat celah kemeja yang terbuka di bagian atasnya. "Damn!" umpat Mike merasa kesal sementara Helena begitu terkejut karena tak mengerti apa yang dipikirkan oleh sang bos. "Anda kenapa, Tuan?” Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD