Helena menatap Mike dan bertanya, “Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu, Tuan?”
Mike langsung menggeleng. Pria itu memutuskan untuk beranjak menuju ruang pribadinya. Mike tak bisa menahan diri jika berlama-lama di sana, entah ada apa dengannya. Namun, saat melihat Helena hari ini, pria itu jadi sangat b*******h. Mike bahkan sampai melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik, napasnya begitu tercekat. Ia pun memutuskan untuk mandi. Berdiri di bawah guyuran shower berharap dinginnya air bisa meredakan hasratnya yang mulai b*******h.
"f**k! Semuanya karenamu, Helena. Bagaimana bisa kau membuatku b*******h seperti ini hanya karena melihatmu saja?”
Sangat gila bukan? Hanya karena melihat Helena seperti itu, Mike tidak bisa menahan diri. Libidonya melesat naik tak bisa ditahan, padahal biasanya Aileen bersikap liar di depannya lebih dari Helena. Namun, hanya Helena yang membuatnya jadi sefrustasi itu.
Berbeda dengan Mike, Helena yang tengah menunggu Mike tak kunjung keluar dari kamar pribadinya merasa heran dibuatnya. "Apa Tuan Mike tidur di jam kerja seperti ini?" gumamnya. Wanita itu pun berdiri, ia melihat kembali berkas yang sudah selesai ia periksa.
"Sudahlah, lebih baik aku menunggunya saja." Helena kembali duduk, ia lebih memilih fokus dengan berkasnya dan memeriksanya lagi agar tidak ada kesalahan yang dapat membuatnya mendapat masalah di hari pertama bekerja.
Tak lama kemudian, Mike keluar dari kamar mandi. Wajah pria itu terlihat sangat segar, pakaiannya pun sudah berbeda dari sebelumnya.
"Helena," panggil Mike dengan suara berat, dan seraknya. Helena mendongak.
"Iya, Tuan?"
"Cek jadwalku besok!" perintah Mike. Pria itu mengenyahkan pikiran kotornya saat melihat wajah Helena yang seperti ini.
"Baik, Tuan. Oh ya, saya sudah memeriksa beberapa berkas yang tadi Tuan berikan." Helena mengambil berkas-berkasnya, ia melangkah mendekati Mike yang sudah duduk di kursinya.
"Ini berkasnya, Tuan." Helena meletakkan berkas itu ke atas meja.
Mike tidak menjawab, tetapi pria itu langsung mengambil berkas yang diberikan Helena.
“Dasar nyebelin!” gerutu Helena mencebikkan bibirnya saat tidak mendapatkan sahutan dari Mike. "Oh ya, aku lupa kalo dia emang pria dingin," lirih Helena ketika sudah duduk di kursinya sendiri.
Setelahnya, mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun, sesekali Mike melirik ke arah Helena yang terlihat fokus dengan pekerjaannya, bahkan wanita itu tampak sangat menikmatinya.
Waktu bergulir dengan sangat cepat. Tanpa terasa, sudah sore menjelang berakhirnya jam kerja Helena di hari pertama.
"Tuan, saya lupa ingin memberitahu jika besok Anda ada kunjungan proyek yang ada di Paris selama satu minggu," ucap Helena ketika wanita itu membereskan beberapa berkasnya sebelum pulang.
Mike pun terdiam sejenak, tiba-tiba saja bayangan kotor kembali menghinggapi pikirannya. Mike menggeleng, kemudian menatap Helena.
"Kalau begitu beritahu Alvin agar menyiapkan perjalanan kita karena kau sudah menjadi sekretarisku jadi kau juga harus ikut ke Paris," ucap Mike seolah tak bisa dibantah.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya akan memberi tahu Tuan Alvin dan mempersiapkan segala keperluan untuk besok. Apakah ada barang-barang atau sesuatu yang harus saya siapkan untuk Tuan?"
"Bawakan aku dua pakaian dan jasnya karena aku akan membeli pakaian di sana, jangan lupa berkasnya juga!”
"Baik, Tuan. Apakah ada lagi?"
"Tidak ada, pergilah!” usir Mike terdengar angkuh. Semakin menambah rasa kesal di hati Helena.
Mendengar perintah atasannya, Helena pun pamit pergi setelah sempat menggerutu dalam hati.
"Jadi besok kau ke Paris bersama Tuan Mike?" tanya Melodi setelah mendengar cerita dari Helena begitu tiba di apartemen.
"Ya, besok malam aku berangkat."
"Tapi Melodi, bukankah Tuan Mike sangat dingin dan cuek. Rasanya kesal sekali aku melihat wajahnya yang datar itu," gerutu Helena kesal.
Mendengar keluhan Helena, Melodi tertawa lucu, lalu menggelengkan kepala. "Tuan Mike memang begitu, Helena. Wajahnya selalu datar tanpa ekpresi. Ucapannya pun terkadang bikin kita tersinggung kalo kamu baru mengenalnya.”
"Ya, kau benar. Kalo aku jadi pacarnya, pasti sudah aku cabik-cabik wajahnya," kesal Helena dengan raut menggemaskan hingga membuat suara tawa Melodi terdengar semakin renyah.
Keesokan harinya, Helena baru saja tiba di dalam pesawat pribadi Mike, wanita itu mencari keberadaan sang bos yang entah di mana. Sampai akhirnya, pandangan Helena berhasil melihat Mike yang sedang sibuk dengan ponselnya di salah satu tempat duduk VIP.
Pria itu terlihat sangat tampan dengan kaos polonya berwarna hitam, melihat Mike yang memakai pakaian non-formal. Membuat Helena terpesona, wanita itu tersenyum tipis dan melangkah ke arah Mike.
"Tuan Mike," panggil Helena, Mike mengalihkan tatapannya ke arah Helena.
Mike menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya terasa tercekat. Dadanya tiba-tiba berdebar dengan kencang, tubuhnya terasa panas dingin saat kedua matanya menatap penampilan Helena. Apalagi melihat bagian gundukan sintalnya yang seakan-akan ingin tumpah.
“s**t! Bagaimana bisa dia memakai pakaian seperti itu?” batin Mike, pria itu mengerang kesal.
Helena memang terlihat sangat sexy sampai-sampai membuat hasrat Mike kembali membuncah.
"Apakah saya datang terlambat, Tuan?" tanya Helena yang langsung menyadarkan Mike.
"Tidak, duduklah!”
Helena mengangguk, wanita itu menatap sekeliling pesawat. Ia menggigit bibir bawahnya. Terlihat wajahnya menampilkan raut cemas.
"Ada apa?" tanya Mike, meskipun terlihat acuh. Mike tetap memperhatikan Helena.
"Saya belum pernah naik pesawat, Tuan. Maaf, saya sedikit bingung dan takut sebenarnya.”
"Duduklah di sini," Mike menunjuk kursi yang ada tepat di sampingnya, di dekat jendela.
Helena pun menuruti perintah sang bos. Tanpa menolak, wanita itu segera duduk di sana.
"T-tuan, bisakah ban—"
Helena tidak dapat melanjutkan ucapannya, wanita itu menahan napasnya saat Mike mendekatkan tubuh ke arahnya.
"Bernapaslah, aku tidak mau mendengar berita jika sekertarisku meninggal hanya karena sabuk pengaman," cibir Mike seolah tahu jika Helena saat ini tengah gugup karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Terima kasih, Tuan.”
Mike tidak menanggapi. Pria itu lebih memilih fokus dengan ponselnya kembali. Ia tidak ingin terlalu berlama-lama fokus pada Helena. Bisa-bisa gairahnya akan sulit ia tahan dan bukan tidak mungkin ia bisa melampiaskan pada Helena di dalam pesawat.
“Ingat, Mike. Kau sudah punya istri. Jangan sampai kau melakukan untuk kedua kalinya!” Mike bermonolog dalam hati. Menahan diri agar pandangannya tak tertuju pada Helena yang seolah sudah menjadi candu untuknya.
Tak lama kemudian, pesawat pribadi milik Mike mulai lepas landas mengudara. Helena terkejut, wanita itu memejamkan kedua mata dengan tubuh menegang. Tangannya bahkan sampai mencengkram kuat pegangan kursi.
Mike yang menyadari itu sontak menoleh, rasa khawatir menyeruak ke benaknya melihat Helena yang ketakutan. Dengan cepat, Mike menggenggam tangan Helena untuk menyingkirkan pembatas kursi dan menarik tubuh wanita itu hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Tidak perlu takut, ada aku di sini. Tidak akan terjadi apa-apa.” Pria itu coba menenangkan Helena. Dengan lembut, ia mengusap punggung wanita itu yang kini sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Terima kasih, Tuan.” Dengan jarak yang sedekat itu, Helena mengatakannya. Bibir ranum yang seksi itu tampak jelas di mata Mike sampai membuatnya menelan salivanya dengan susah payah. Keduanya saling menatap, terpaku diam tanpa suara.
“Kenapa jantungku berdetak tak karuan seperti ini, ya?” batin Helena yang mulai nyaman dalam dekapan Mike. Wanita itu tidak tahu jika kedekatannya saat ini akan menimbulkan masalah dikemudian hari, terlebih dengan status Mike yang sudah memiliki seorang istri. Hal yang sampai saat ini belum diketahui oleh Helena.
Bersambung