HANYA DI DEPANKU!

1083 Words
Mike merasakan ketenangan Helena, lantas ia bertanya, "Sudah tenang?" Helena tidak menjawab. Mike membuka kedua matanya, ia melihat Helena yang sudah terlelap dengan nafas teratur. "Bisa-bisanya dia tidur," gumam Mike, pria itu lantas membawa Helena menuju kamar pribadi yang ada di pesawat. Setibanya di sana, Mike membaringkan tubuh Helena dengan lembut. Mike menatap Helena yang lelap, pria itu menghela nafasnya perlahan, ia ingin beranjak bangun. Namun Helena menarik tangannya, membuatnya jatuh di atas tubuh Helena. "s**t," umpat Mike, pria itu ingin bangun kembali. Tapi, saat melihat wajah cantik Helena termasuk bibir sexynya. Membuat Mike menelan salivanya dengan susah payah. Pria itu nampak tergoda dengan bibir Helena, Mike tersenyum smirk. Pria itu menunduk, dan menyambar bibir sexy Helena. Memangutnya dengan penuh kelembutan, tangan besarnya pun terulur mengelus puncak kepala Helena. Hingga Mike melepaskan pangutannya ketika merasakan pergerakan Helena. Mike menegakkan tubuhnya, pria itu terkekeh saat sadar telah melakukan hal bodoh. Mike mengusap sudut bibir Helena yang terdapat jejak salivanya. "Gila, bagaimana bisa kau berbuat gila seperti ini. Mike," ucapnya dengan terkekeh, pria itu berdiri dan segera melangkah menuju kamar mandi. Keesokan harinya, Setelah mengudara selama beberapa jam, kini pesawat pribadi Mike sudah mendarat dengan sempurna di Airport. Mereka berdua sudah sampai di Paris, Mike duduk di bibir ranjang, ia menatap Helena yang masih terlelap. Semalam, mereka kembali tidur bersama. Sebab, Helena belum terbiasa. "Helena, bangun. Mau sampai kapan kau tidur huh?" Mike menepuk-nepuk pipi Helena, pria itu mendesah kasar saat Helena tidak kunjung bangun. "Bangun, Helena. Atau aku potong gajimu," ancam Mike, pria itu mencubit hidung Helena. Sampai akhirnya Helena bangun. "T-tuan? Kita dimana?" tanya Helena, wanita itu langsung beranjak bangun. Membuat kepalanya pusing. Mike mendengkus. "Kita sudah sampai, kau tidur sejak tadi. Sekarang bangunlah sebelum aku memotong gajimu," ancam Mike, Helena melotot. Wanita itu langsung melompat turun, membuat Mike menggelengkan kepalanya. Kini Mike, dan Helena pun sudah berada di dalam mobil. Mobil mewah yang akan membawa keduanya di apartemen milik Mike. Setibanya di kawasan apartemen, Mike mengajak Helena untuk turun, mereka segera melangkah masuk ke dalam apartemen. Sesampainya di apartemen, Mike menunjukkan kamar milik Helena. "Kau bisa tidur di kamar itu, dan di depan sini kamarku. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa mengatakannya kepadaku," ujar Mike, Helena mengangguk. Mike, dan Helena masuk ke dalam kamar masing-masing. Keduanya pun sama-sama membersihkan tubuh di kamar masing-masing, setelah membersihkan tubuh. Helena kini memakai sepasang dalamannya berwarna merah menyala, dan outer transparannya. Wanita itu mendekati nakas saat mendengar ponselnya berbunyi. "Melodi," gumam Helena saat melihat nama Melodi tertera di layar ponselnya, ia segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga. "Ya, kenapa kau menelfonku? Apakah kau sudah merindukanku?" tanya Helena, Melodi mendengkus di sebrang sana. "Kau terlalu percaya diri," cibir Melodi, Helena terkekeh. "Jadi apa tujuanmu menelfonku?" tanya Helena, wanita itu melepaskan outernya, dan duduk di bibir ranjang. Helena memainkan sepatu boots nya, kemudian memakainya. Helena tersenyum puas saat melihat penampilannya yang sexy di hadapan cermin besar di depannya. "Apakah kau sudah sampai di Paris?" tanya Melodi. "Sudah, aku baru saja sampai. Apakah ada masalah di sana?" "Tidak ada, semuanya aman. Hanya saja aku ingin memastikan jika kau sampai dengan selamat, mengingat jika kau tidak pernah naik pesawat. Aku takut kau m*ti karena ketakutan," "Sialan! Berdosa sekali mulutmu itu, Melodi," kesal Helena, Melodi tertawa. "Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar khawatir, aku tau kau pasti ketakutan. Jadi bagaimana perjalananmu semalaman?" tanya Melodi dengan serius, Helena menggigit bibir bawahnya saat mengingat kejadian di pesawat tadi. "Helena ... kau mendengarku bukan?" panggil Melodi ketika Helena tidak segera menjawab pertanyaannya. "Ya, aku mendengarmu. Kemarin—Tuan Mike membantuku, dia menenangkanku. Sampai akhirnya ... aku ketiduran," ungkap Helena, Melodi tertawa di sebrang sana. "Oh astaga, Helena, itu sangat memalukan. Tapi tidak apa-apa, setidaknya Tuan Mike mau membantumu. Jadi sedang apa kau sekarang?" "Aku baru saja selesai, mand—" "Helena, saya sejak tadi memanggil dan mengetuk pintumu. Kenapa kau tidak menyahut hu—" ucapan Mike terhenti, pria itu terkejut, dan menelan salivanya dengan susah payah saat melihat penampilan sexy Helena. Helena sendiri terkejut, wanita itu sampai menjatuhkan ponselnya. Membuat Melodi di sebrang sana bingung, dan mematikan sambungan telefonnya. "T-tuan? Maafkan saya yang tidak mendengar." Helena sontak berdiri, karena terkejut dan terburu-buru. Helena tidak sadar, jika saat ini wanita itu hanya memakai br* dan underwear saja. Mike memejamkan kedua matanya sejenak, pria itu membuka kedua matanya saat Helena berada di dekatnya. Dengan gerakan cepat, Mike merengkuh pinggang Helena. Helena terkejut, wanita itu memberontak. "Tuan apa yang Anda ... hmmppthhh." Helena tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Mike membungkam bibirnya dengan ciuman, pria itu memangut bibir Helena dengan tangannya yang menahan tengkuk Helena. Helena mencoba memberontak, tapi Mike menahannya dengan kuat. Pinggang, dan tengkuknya, bahkan kini Mike menggigit bibir bawahnya. Membuat bibirnya terbuka, dan menjadikan Mike leluasa melesatkan lid*hnya. Lid*hnya mengeksplore rongga mulut Helena, lid*hnya membelit lid*h Helena. Membuat wanita itu meremang, dan mencengkram pinggang Mike. Mike sendiri semakin memperdalam pangutannya, ia melumat bibir Helena dengan gerakan menuntut. Ntah sadar atau tidak, tapi melihat Helena yang sangat menantang dan menggoda. Menjadikan ia kelepasan. Helena pun sama, wanita itu kini nampak menikmati ciuman Mike. Bahkan kini keduanya berciuman secara sadar, dengan Helena yang turut membalas pangutan Mike. Meskipun gerakannya terlihat sangat kaku. Lama keduanya larut dalam pangutan tersebut, sampai akhirnya Mike tersadar dan melepaskannya. Pria itu menempelkan keningnya dengan kening Helena, nafasnya menderu. "Kau berniat menggodaku, Helena?" tanya Mike dengan suara serak, dan beratnya. Helena menggelengkan kepalanya, wanita itu menjauhkan wajahnya dari Mike. Wanita itu menatap berani Mike—yang menatapnya sayu. "M-maafkan saya, Tuan. Saya tidak berniat menggoda Anda, saya tidak mendengar jika Tuan memanggil saya," ucapnya terbata, Mike mendengkus. "Jika begitu, kenapa pintu kamarmu tidak terkunci?" cibir Mike, tangannya masih saja merengkuh pinggang Helena. Rengkuhan itu akan terasa menekan, jika Helena memberontak. "S-saya lupa, Tuan. Maafkan saya," mohon Helena, wanita itu nampak ketakutan akan tatapan Mike. Tatapan yang membuat tubuhnya merinding, dan tenggorokannya tercekat. "Lupa eh? Bagaimana bisa lupa, Helena? Bahkan kini kau hanya memakai pakaian seperti ini, apakah kau mengira aku bukan pria normal yang tidak akan tergoda denganmu?" tekan Mike, Helena menggelengkan kepalanya. "Untuk apa kau memakai pakaian seperti ini, hm? Kau ingin menggoda siapa, Helena?" "Saya tidak berniat menggoda siapapun, Tuan. Saya memang suka memakai pakaian seperti ini jika di kamar sendirian," jawabnya, Mike menyeringai. "Begitu ya?" Helena mengangguk, Mike semakin mengeratkan rengkuhannya. Membuat Helena menahan d**a bidang Mike dengan kedua tangannya, bahkan kini ia memejamkan kedua matanya, dan menahan nafasnya saat wajah Mike mendekat ke wajahnya. "Kalau begitu mulai sekarang pakai pakaian seperti ini hanya di depanku!" Glek!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD