Helena menelan salivanya dengan susah payah, wanita itu menatap Mike yang kini menatapnya dengan sayu, dan senyum smirk membingkai bibirnya.
Helena terkejut, dengan gugup ia bertanya, "A-apa maksudnya, Tuan?" Mike terkekeh. Pria itu merunduk, dan dalam sekali gerakan.
Mike menyesap kulit Helena di sekitar belahan d**a wanita itu, membuat Helena memejamkan kedua matanya. Menggigit bibir bawahnya, agar tidak mengeluarkan suara desahannya. Helena juga mencengkram pinggang Mike.
"Bagus," puji Mike terhadap karyanya, pria itu mendongak. Menatap Helena.
"Aku sangat menyukainya, Helena. Kali ini anggap saja sebagai perkenalan dariku, sekarang lebih baik kau segera pakai pakaianmu dan keluarlah. Ada sup di dapur," ucap Mike, jemarinya bergerak mengelus bibir ranum Helena.
"Sexy," pujinya, sebelum akhirnya pria itu melangkah pergi.
Seperginya Mike, Helena memegang dadanya sendiri yang berdebar. Jemarinya pun mengusap tanda kissmark di dadanya.
"Gila, bagaimana bisa Tuan Mike melakukan hal seperti ini denganku?" gumam Helena, wanita itu duduk di bibir ranjang. Mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang.
Sementara Mike, ia tengah menunggu Helena. Pria itu terus tersenyum saat mengingat kegilaannya tadi.
"Damn! Aku sangat menginginkannya," erang Mike, pria itu duduk di sofa miliknya.
Tak lama kemudian, Helena datang. Wanita itu menunduk hormat saat melihat Mike.
"Tuan,"
"Duduklah, dan nikmati supnya," titah Mike, Helena mengangguk. Wanita itu segera mengambil sup di depannya, dan menikmatinya.
Begitu pula dengan Mike, pria itu menikmati supnya dengan sesekali melirik Helena. Setelah menghabiskan sup tersebut, Helena, dan Mike kembali ke kamar masing-masing. Jika Helena bisa tidur nyenyak, maka tidak dengan Mike. Pria itu terus memikirkan Helena.
Mike meraih ponselnya, pria itu menghubungi Alvin.
"Halo, kenapa. Mike?" tanya Alvin di sebrang sana.
"Aku ingin meminta tolong kepadamu, cari tau tentang Helena, dan retas ponselnya. Berikan sandinya kepadaku agar aku bisa melihat segala isi ponselnya," titah Mike, membuat Alvin heran di sebrang sana.
"Jangan bercanda, Mike. Untuk apa kau meretas ponselnya? Apakah kau menyukainya?"
"Ya, aku menyukainya. Jadi bisakah kau melakukannya sekarang, dan jangan banyak bicara? Aku akan memberikan bonus untukmu," ucapnya.
"Gila, kau sangat gila. Mike, bagaimana bisa kau menyukai wanita lain—sementara kau sendiri memiliki istri," Jawab Alvin, namun jemarinya langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh Mike.
"Satu jam lagi aku akan mengirimkan semua pasword yang ada di ponselnya, kenapa tidak sekalian saja kau pasang CCTV di apartemennya," ujar Alvin dengan mendengkus.
"Ide bagus, kau harus melakukannya untukku. Alvin,"
"Kau benar-benar gila, Mike,"
"Aku memang sangat menggilainya, Vin. Jika kau sudah menjalankan tugasmu, katakan saja—aku akan segera memberimu bonus." Mike mematikan sambungan telefonnya, pria itu menaruh ponselnya di atas nakas.
"Bagaimana pun caranya aku harus menjeratmu, Helena," gumam Mike.
Keesokan harinya,
Mike sudah siap dengan pakaiannya, pria itu mengambil dasinya, dan berniat meminta Helena yang membantunya. Mike melangkahkan kedua kakinya menuju keluar kamar, setibanya di luar. Mike mengetuk pintu kamar Helena, tak lama kemudian Helena keluar dengan gaun berwarna hitam dan coatnya.
"Sudah siap?" tanya Mike, Helena mengangguk.
"Sudah, Tuan," jawabnya.
"Kalau begitu bantu aku pasang ini." Mike memberikan dasinya ke arah Helena, Helena menerimanya dengan ragu. Wanita itu menatap Mike.
"Mendekatlah, Tuan," pinta Helena, Mike mendekat.
Setelahnya, Helena berjinjit. Wanita itu mulai memasangkan dasi milik Mike dengan jantung yang berdegup dengan kencang, Mike sendiri menatap Helena dengan serius.
"Sud—"
"Cantik, kenapa kau memakai coat?" tanya Mike dengan tangannya yang merengkuh pinggang Helena, yang semakin membuat jantung Helena berdegup dengan kencang.
"D-dingin, Tuan. Nanti ketika sampai di restauran saya akan melepasnya," jawabnya terbata, Mike mengangguk.
"Kalau begitu kita pergi sekarang." Mike mendekatkan wajahnya ke arah Helena, membuat Helena memejamkan kedua matanya. Wanita itu juga menahan nafasnya, hingga kedua matanya melotot saat Mike mengecup bibirnya.
"Morning kiss," bisik Mike tanpa dosa sebelum akhirnya pria itu melangkah terlebih dahulu keluar dari apartemen.
Helena memegang dadanya sendiri, wanita itu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Tuan Mike sangat tidak aman untuk kondisi jantungku, bisa-bisa aku menjadi gagal jantung jika terus berdekatan dengannya," gumam Helena.
L'Ambroisie, 10.00 PM.
"Bonjour, Monsieur Mike et Madame Helena—Selamat datang, Tuan Mike, Nona Helena," sapa Pierre, pria tampan berkulit putih salju itu mengulurkan tangannya ke arah Mike, dan Helena.
"Merci pour votre réception, Monsieur Pierre. Pouvons-nous commencer la réunion maintenant?—Terima kasih atas jamuannya, Tuan Pierre. Bisa kita mulai rapatnya sekarang?" Mike membalas jabat tangan Pierre, pria bernama Pierre itu mengangguk, dan mempersilahkan Mike, serta Helena duduk.
"Tuan," panggil Helena dengan berbisik, Mike menoleh. Pria itu menaikkan alisnya.
"Bolehkah saya membuka coatnya? Saya baru ingat," bisik Helena, Mike mengangguk. Helena menatap Pierre.
"Maafkan saya, Tuan Pierre. Saya ingin melepas coat sebentar," izin Helena, Pierre tersenyum.
"Silahkan Madame," ucap Pierre, Helena segera berdiri dan menjauh. Wanita itu melepaskan coatnya dan segera kembali ke kursi.
"Wah, vous êtes très belle. Mademoiselle Helena—Anda sangat cantik, Nona Helena," puji Pierre, membuat Helena tersipu. Sementara Mike menoleh.
'f**k! Bagaimana bisa dia memakai pakaian seperti ini?' batin Mike, pria itu mengeraskan rahangnya. Tangannya mencengkram erat paha Helena—saat kedua matanya melihat bagaimana gundukan sintal Helena yang meluber. Helena sendiri meringis dan menoleh.
"Tuan, s-sakit," rintih Helena saat Mike semakin kuat mencengkram pahanya.
"Tunggu hukuman dariku, Helena," bisik Mike dengan tatapan tajamnya, membuat Helena bergidik ngeri.
Tak lama kemudian, mereka mulai membahas tentang proyek kerja sama yang berjalan. Sejak meeting berlangsung, Mike nampak tidak fokus, dan Pierre menyadari itu. Sedangkan Helena, wanita itu beberapa kali meringis saat selesai berbicara dengan Pierre.
"Terimakasih atas pertemuannya kali ini, Tuan Mike. Saya sangat berkesan, apalagi penjelasan Nona Helena sangat singkat, dan dapat di mengerti dengan cepat. Kalau begitu—bagaimana jika besok kita langsung meninjau proyeknya?" tanya Pierre, Mike mengangguk.
"Ya, boleh. Besok kita akan meninjau proyeknya, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu." Mike langsung membawa Helena pergi sebelum Pierre menjawabnya.
Setibanya di mobil, Mike langsung menarik Helena di atas pangkuannya dan mencium wanita itu secara brutal. Helena terkejut, wanita itu mencoba memberontak. Namun Mike menahan kedua tangannya di belakang tubuhnya, sementara tangan kanan Mike menahan tengkuknya.
Mike melumat bibir Helena dengan menuntut, pria itu juga menggigit kecil bibir Helena. Sampai akhirnya, Mike melepaskan ciumannya, pria itu menatap Helena dengan sayu dan tersirat kemarahan. Helena sendiri mengatur nafasnya dengan menatap takut Mike.
"Siapa yang memintamu memakai pakaian seperti itu huh?" tanya Mike dengan suara beratnya, Helena menggeleng.
"Tidak ada, Tuan. Semuanya keinginan saya," jawab Helena.
"Mulai sekarang kau tidak boleh memakai pakaian seperti itu selain di depanku!" titah Mike, Helena mengernyit.
"Kenapa? Apa hak Anda melarang saya, Tuan? Bukankah di kontrak pekerjaan tidak ada larangan dalam berpakaian?" protes Helena, membuat Mike menggeram marah.
"Aku ada hak melarangmu, Helena! Karena mulai sekarang kau kekasihku!" tegasnya.
"Hah?"