Jangan lupa tap love dan follow ya! Cerita ini bakal seru kalau kalian ikutin waktu masih On Going. Trust Me! Jadi pastikan selalu ikutin update-nya.
-St. Ives, Inggris-
“Are you ready for today, Doc?” sapa Harris pada Nico. Mereka berdua akan masuk ke dalam rumah sakit tempat mereka menjalani masa orientasi mereka.
“I always ready,” ucap Nico sambil menutup pintu kamarnya. Keduanya lalu berjalan beriringan dari rumah dinas mereka menuju ke rumah sakit. Mereka tinggal bersama dalam sebuah rumah sederhana yang letaknya tak jauh dari rumah sakit, tempat mereka menjalankan praktiknya.
Di tengah jalan para penduduk sekitar yang baru saja melihat sosok Nico lagi-lagi terlena dengan ketampanan wajah itu. Bahkan ketika kedua pria itu sedang bersenda gurau, setiap wanita yang berpapasan dengan mereka pasti terpaku selama beberapa detik melihat senyuman di bibir Nico.
Sesekali Nico menatap mereka dan mengangguk sebagai tanda kesopanan dan seketika itu juga para wanita yang sudah terkesima dengan Nico pasti langsung tersipu malu.
“Aku iri padamu, kawan! Di mana-mana semua wanita begitu terkesima denganmu. Padahal aku sendiripun tidak kalah. Wajahku tampan mirip Tom Cruise, tubuhku berotot seperti Chris Hemsworth dan otakku secemerlang Einstein. Tapi mengapa tatapan mata para wanita hanya tertuju padamu?” ucap Harris sirik. Tentu saja itu hanya ungkapan bercanda karena memang Harris tidak mempedulikan semua itu. Ia hanya terheran dengan semua tingkah para wanita yang ia lihat sepanjang jalan ini. Mereka terlena pada keindahan sosok Nico di sampingnya.
Nico terkekeh.
“Ini yang namanya takdir. Mungkin pada kehidupan sebelumnya aku telah banyak berbuat kebaikan dan mungkin kau menjadi penjahat,” balas Nico dengan nada bercandanya.
“Hei, aku tidak suka jika menyangkut hal ini,” balas Harris dengan nada kekanak-kanakannya. Keduanya lantas tertawa sepanjang perjalanan.
Tanpa sadar kini mereka telah sampai di depan rumah sakit. Rumah sakit itu dibangun menghadap lautan lepas dan didirikan di tengah padang rumput yang luas. Di samping rumah sakit ada sebuah chapel kecil dengan arsitektur khas abad 18 yang sangat indah saat matahari terbenam. Sungguh sebuah pemandangan yang tenang dan damai. Belum lagi taman kecil di sekitar rumah sakit dengan bunga-bunga, tanaman perdu, pepohonan yang ditata sedemikian rupa. Oh, jangan lupakan kolam ikan kecil dengan air mancur berukiran khas Yunani yang ada di tengah taman menambah kesempurnaan tempat itu di kala senja.
Rumah sakit ini sebenarnya adalah rumah sakit kelas menengah yang memang difungsikan sebagai sarana penelitian berbagai macam penyakit langka atau baru dari seluruh dunia. Para ahli medis di dalamnya merupakan para ahli medis terpilih yang ditugaskan untuk menemukan penyebab penyakit hingga metode penyembuhannya. Selain itu, rumah sakit ini juga berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan bagi penduduk sekitar.
Keduanya melangkahkan kakinya ke dalam rumah sakit. Lagi-lagi Nico yang menjadi sorotan utama setiap orang. Dokter tampan, jangkung nan atletis itu sungguh mempesona setiap orang di sana.
“Selamat datang di Rumah Sakit Peaceful Health! Dokter…” sapa seorang dokter wanita berusia awal lima puluh tahunan yang terlihat cantik dan keibuan pada kedua pria itu. Ia menjabat tangan Nico terlebih dahulu dan terlihat sebuah cincin emas polos tersemat di jari manisnya, tanda bahwa ia sudah menikah.
“Oh, kau pasti Nicolas Johnson. Benar kan?” tebak dokter wanita itu sebelum Nico menjawab pertanyaannya. Nico jelas terkejut ia belum mengenalkan dirinya tapi ia sudah dikenal. Atau mungkin ia memang terkenal?
“Betul. Saya Nicolas Johnson. Bagaimana Anda bisa mengenal saya?” tanya Nico penasaran.
Dokter wanita itu tertawa sejenak.
“Banyak yang sudah mengatakan padaku kalau dokter rekrutan baru kami salah satunya berwajah tampan, bahkan paling tampan di St Ives aku rasa. Dan aku langsung mengenalinya begitu kau datang.”
Nico terkekeh. Dokter wanita itu tersenyum lalu mengalihkan jabat tangannya pada Harris.
“Dan kau? Dokter Harrison Adams?”
“That’s me!” Acara jabat tangan itu selesai. Kini dokter wanita itu yang memimpin pembicaraan.
“Perkenalkan namaku Eleanor Holley. Kalian bisa memanggilku dokter Holley. Selama kalian praktik di sini, aku yang akan bertanggung jawab untuk kalian. Semoga kita bisa bekerja sama di unit ini dengan baik. Dan aku akan tunjukkan ruangan kalian. Ikuti aku!” sapa Eleanor, kepala unit bedah syaraf di rumah sakit ini. Selama ini ia menjadi dokter bedah syaraf satu-satunya di rumah sakit ini.
Jumlah pasien bedah syaraf baru-baru ini meningkat cukup drastis di rumah sakit itu sehingga ia sendiri cukup kewalahan melayani pasien – pasien yang berdatangan. Oleh karena itu ia mengirimkan permohonan pada Badan Kesehatan Dunia untuk mencari rekrutan baru yang bisa membantunya dalam unit ini. Dan jadilah dua dokter yang baru saja lulus itu yang ditempatkan.
“Ini adalah ruangan untuk kalian. Kalian bisa memilih ruangan mana yang akan kalian tempati setelah itu kita akan melanjutkan untuk perkenalan berikutnya.”
Nico memilih sebuah ruangan yang jendelanya menghadap ke arah laut. Ia begitu menyenangi suara laut dan baginya suara itu bisa memberikan ketenangan. Harris pun mengalah dan memilih ruangan yang lain. Setelah menentukan pilihan, Dokter Eleanor mengenalkan mereka pada seluruh jajaran staff dan perawat rumah sakit. Dan lagi-lagi Nico yang mendapat sambutan hangat dan paling meriah dibandingkan dengan Harris. Lagi-lagi ini karena masalah ketampanan dan pesonanya yang membuat setiap wanita terlena.
“Baiklah. Sekian perkenalannya dan kalian bisa mulai menata barang-barang kalian di ruangan masing-masing. Besok kita akan bertemu lagi dan aku akan memperkenalkan standard layanan serta standard operasi rumah sakit ini. Pertemuan selesai,” ucap Eleanor mengakhiri orientasi hari itu.
“Orientasi ini hanya tiga jam tapi entah mengapa hawa liburan begitu kuat di sini?” kata Harris sambil menarik kedua tangannya ke atas untuk pereganggan. Nico terkekeh.
“Kita mau apa setelah ini?” tanya Harris.
“Apalagi? Tentu kita harus pulang dan menata ruangan kita agar siap untuk digunakan esok hari,” jawab Nico dan lagi-lagi ia melangkahkan kakinya meninggalkan Harris yang terpesona dengan seorang perawat yang baru saja lewat.
“Lho, Nic…Hei, tunggu aku!”
***
Saat kembali kedua kalinya di dalam rumah sakit itu, beberapa orang perawat sudah berjejalan, menunggu di depan ruangan Nico. Mereka berusaha mengintip ruangan Nico yang sebenarnya masih kosong itu. Nico melihat pemandangan itu dan ia sendiri tidak heran dengan semua perlakuan yang ia terima. Di manapun ia berada, kerumunan wanita yang ingin mendekatinya tidak juga berkurang.
Sambil membawa kardus barang-barangnya, ia menghela nafas panjang. Ia melangkahkan kakinya menuju ke depan ruangannya sendiri.
“Ehem…” Seketika rombongan perawat itu berjingkat. Wajah mereka langsung tersipu malu saat Nico sudah berdiri di hadapan mereka. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka maju dan memberanikan diri untuk mengambil barang-barang Nico.
“Permisi, saya mau lewat,” ucap Nico sopan dan menerobos barisan para wanita itu. Tapi belum juga sampai di depan pintu, para wanita itu berjejalan untuk berkenalan dengan Nico. Seorang di antara mereka mendahului untuk membukakan pintu bagi Nico.
“Silakan, Dok!” Nico tersenyum kecut lalu melangkah masuk ke dalam dan meletakkan barang-barangnya. Perawat berambut pirang yang membukakan pintu bagi Nico langsung masuk mendahului yang lain berada di barisan terdepan.
“Nama saya Joanna, Dok. Saya di bagian IGD.”
Tak mau kalah, perawat yang lain lagi datang dan memperkenalkan dirinya.
“Saya Shena,” ucap wanita berambut keriting dengan mengedipkan sebelah matanya. Belum juga selesai menggoda seorang lagi maju ke hadapan Nico.
“Jika membutuhkan bantuanku di Unit ini, panggil saja Kattie dan aku akan datang,” ucap wanita yang lain dengan nada genitnya.
Nico meladeni mereka satu per satu dengan senyuman, tanpa memberikan respon berlebihan karena ia tidak ingin menodai hubungan professional mereka. Dan alasan utamanya, Nico tidak pernah tertarik dengan wanita lain selain Angelica.
“Maafkan saya para perawat yang cantik. Saya harus mengatur ruangan saya. Terima kasih atas perhatian dan kunjungan kalian,” usir Nico halus sambil menutup pintu ruangannya. Ia menghela nafasnya lega karena hal yang mengusik ketenangannya sudah berakhir.
Nico mengeluarkan semua barang-barang di dalam kardus dan menatanya satu per satu di dalam ruangan kerja barunya. Sambil menata barang-barangnya ia mendengarkan siaran televisi yang sedang berlangsung.
“Breaking news, terjadi ledakan sebuah kapal kargo Sea Master yang berasal dari Amerika di Samudra Atlantik malam tadi. Menurut keterangan, kapal kargo tersebut memuat mesin-mesin elektronik keluaran terbaru dari perusahaan teknologi raksasa dunia, Cybertech.”
Mendengar nama Cybertech, Nico terkejut. Ia tahu perusahaan itu adalah milik ayah Angelica. Matanya kini tertuju pada layar televisi.
“Juru bicara Cybertech membenarkan bahwa kapal yang mengalami ledakan tersebut mengangkut kargo milik mereka untuk pemerintah Inggris. Hingga saat ini pihak kepolisan dan tim penyelamat masih menyelidiki dan mengumpulkan korban. Sampai dengan malam ini, korban kecelakaan yang dinyatakan belum ditemukan tercatat sebanyak 50 orang, termasuk di dalamnya putri Gregory Roberts, pendiri Cybertech, Angelica Roberts.”
Kaki Nico lemas seketika begitu berita menyebutkan nama Angelica. Ia terduduk di kursinya, menahan cemas dan kuatirnya pada Angelica. Bagaimana nasib wanita yang dicintainya itu?
Tiba-tiba pintunya diketuk seseorang.
“Masuk,” jawabnya dari dalam.
Pintu itu terbuka. Datanglah seorang pria lain dengan jas dokter dan stetoskop yang menggantung di lehernya. Pria itu nampak tergesa-gesa. Nafasnya tersengal-sengal dan memandang Nico dengan panik.
“Dokter Johnsons, darurat! Terjadi sebuah kecelakaan kapal dengan skala besar dan seluruh korbannya dibawa ke sini. Kita membutuhkan semua ahli medis!” ucap pria itu dengan tergopoh-gopoh.
Nico bergegas mengambil jas dokter dan stetoskopnya lalu berlari menuju ruang gawat darurat. Ia bisa melihat Harris juga telah siap untuk membantu menolong para korban.
Puluhan ambulance menurunkan korban-korban kapal itu masuk ke dalam rumah sakit secara bergantian. Setiap ahli medis menangani dua hingga tiga korban sekaligus. Begitu juga Nico. Nico menghampiri salah satu korban dengan sigap lalu memeriksa kondisi pasien itu. Setelah selesai memberikan langkah penanangan, ia beralih menuju ke pasien lainnya yang belum tertangani dengan cepat.
Hingga ia menangkap sosok wanita yang sedang terbaring tak sadarkan diri, dengan kondisi tangan dan kakinya terluka bakar cukup parah dan mengeluarkan banyak darah yang sedang didorong masuk ke dalam ruang penanganan.
Ia berlari mendatangi brankar yang membawa wanita itu dan berusaha untuk memberikan penanganan. Ia mengecek kondisinya sampai akhirnya ia menatap wajah korban kecelakaan kapal itu.
“ANGELICA???”
Brankar itu ditangani oleh dokter lain dan pasien lainnya berdatangan untuk ditangani oleh Nico. Dalam kesibukannya, Nico masih mempertanyakan sungguhkah Angelica yang dilihatnya barusan?
***
A/N: Reuni yang tragis. Tapi di sinilah kisah mereka berdua dimulai. Tap love dan follow ya!