5. BOM!

2004 Words
    -Samudra Atlantik-     Angelica menekuk lututnya dengan hati yang terasa sedih sekaligus bingung dan putus asa. Sedih karena ia tidak bisa mengingat apapun dan bingung karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pikirannya kosong dan ingatannya tidak berbekas. Siapa dirinya? Siapa pria itu? Di mana mereka sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tidak ada secercah ingatanmu di dalam otaknya?     Caleb bangkit berdiri dan memberikan separuh dari roti bagiannya kepada Angelica. Ia terlihat tidak peduli dengan apa yang Angelica rasakan sekarang.     “Makanlah. Kita membutuhkan tenaga karena perjalanan kita masih jauh.”     Angelica terpaksa mengambil roti itu dan memakannya secuil. Perutnya memang terasa lapar beberapa saat yang lalu. Tapi saat ia terus memikirkan identitasnya dan tidak menemukan jawaban, selera makannya hilang. Berganti dengan rasa sedih yang muncul.     Ia memandang pria di hadapannya. Cahaya temaram yang masuk dari celah-celah ventilasi hanya mampu menyinari sebagian dari wajah pria itu. Yang Angelica tahu pria itu memiliki alis yang tebal, mata yang tajam dan wajah yang bersih tanpa kumis atau jenggot. Angelica sungguh ingin tahu situasi apa yang dihadapinya hingga mereka harus bersembunyi seperti itu di dalam kapal barang?     “Apakah aku boleh bertanya?” tanya Angelica setelah menelan potongan rotinya yang terasa kasar di mulutnya itu. Caleb hanya meliriknya sekilas tapi Angelica mengartikannya sebagai “boleh”.     “Siapa aku? Dan siapa kau? Lalu mengapa kita ada di sini?”     Pria itu terdiam sejenak sambil berpikir jawaban apa yang harus dikatakannya pada Angelica. Mereka sekarang sedang dalam keadaan yang sulit dan identitas mereka harus dirahasiakan hingga sampai di tujuan. Tapi di sisi lain ia ingin memberikan rasa nyaman pada Angelica, bagaimanapun ia sudah bersama dengan Angelica sejak lama.     “Aku sungguh merasa sangat tidak aman jika aku tidak tahu situasi apa yang sedang kita hadapi sekarang. Entah mengapa aku merasa takut. Jadi setidaknya tolong beritahu aku semuanya itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku merasa pernah mengenalmu bahkan dekat denganmu tapi aku tidak bisa mengingat siapa dirimu?” rengek Angelica dengan air mata frustasi yang sudah menetes di pipinya.     Oke, Caleb kalah. Ia tidak bisa tinggal diam melihat seorang wanita menangis, terlebih wanita itu adalah Angelica. Caleb mendekati wanita itu lalu menghapus air matanya.     “Maafkan aku. Aku tidak bisa memberitahumu saat ini. Kondisi kita sedang tidak aman. Bersabarlah hingga kita sampai di tempat tujuan. Satu yang pasti, aku yang akan menjagamu karena ada banyak orang yang sekarang sedang mengincar nyawamu. Jadi, kumohon percayalah padaku.” Caleb cukup lama mempertimbangkan hal ini. Menyebutkan namanya pada siapapun akan menjadi masalah bagi dirinya dan Angelica kelak. Mungkin lebih baik tetap merahasiakannya hingga keduanya aman.     “Mengincar nyawaku? Untuk apa? Apa yang sebenarnya terjadi? A-aku…”     Caleb menatap Angelica dengan serius.     “Kumohon jangan bertanya lagi. Seberapa kuatpun kau bertanya, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Hanya satu yang bisa kukatakan padamu, kita sedang ada dalam bahaya dan kita tidak dalam kondisi bisa mengungkapkan identitas kita. Cukup diamlah dan tunggu saat kapal ini bersandar, maka aku akan menjelaskan semuanya. Percayalah padaku, aku tidak akan menyakitimu.”     “Setidaknya beri aku sebuah jawaban. Siapa namamu? Aku hanya ingin merasa nyaman.”     Pria itu meneguk ludahnya kasar. Bibirnya hendak mengucapkan namanya tapi tiba-tiba…     BOOOMMMM!!!!     Terdengar suara ledakan dari atas kapal dan membuat badan kapal bergoyang hebat. Angelica memekik dengan keras dan Caleb langsung mendekapnya. Pintu gudang dibuka oleh seseorang. Itu Scott.     “LARII!! SELAMATKAN DIRI KALIAN. ADA BOM…”     Belum sempat mereka berdua pergi tiba-tiba…     BOOOMMMMMM!!!!     Sebuah ledakan kembali terjadi dan kini membelah bagian tengah kapal menjadi dua. Sebagian besar awak kapal sudah lompat ke dalam air dan sebagian lagi sudah tidak bernyawa karena ledakan yang mengenai tubuh mereka.     Caleb menarik tangan Angelica untuk segera keluar. Tidak peduli berapa banyak pasang mata yang melihat mereka saat ini, yang ia tahu ia harus membawa Angelica pergi dari sana.     Mata Caleb menangkap sebuah pelampung yang tergantung di atas kapal dan belum tersentuh siapapun. Ia mengambilnya lalu memasangkan cepat pada tubuh Angelica.     “Bagaimana dengan dirimu?”     “Jangan cemaskan aku. Kau harus selamat!” ucap Caleb cepat lalu menarik tangan Angelica lagi. Caleb menarik tangan Angelica dan berlari lagi. Tapi Angelica terjatuh karena bagian tubuh kapal mulai terangkat ke atas. Caleb menahan tangan Angelica agar tidak terjatuh. Angelica melihat sebuah pelampung yang perlahan terjatuh ke arahnya. Ia mengambil pelampung itu lalu memberikannya pada Caleb.     “Kau juga harus pakai ini.”     “Tidak ada waktu! Kita harus pergi dari sini,” teriak Caleb lalu membantu Angelica berlari menuju ujung kapal sementara tangan sebelahnya membawa pelampung itu.     Bagian tubuh kapal yang satu kini hancur berkeping-keping. Kobaran api ada di mana-mana sekarang. Tidak ada tempat berlindung bagi mereka. Semua orang masih terlihat panik di bagian tubuh kapal yang lain. Perlahan kapal menunjukkan karam. Bagian belakangnya masuk mulai ke dalam air hingga bagian atasnya perlahan terangkat.     Caleb dan Angelica berlari dengan kencang menghindari kepanikan semua orang yang ada di sana. Mereka harus mencapai ujung kapal sebelum semuanya terlambat. Ia membantu Angelica untuk berpegangan pada sisi kapal. Mereka bertahan di sana untuk sekian menit sambil dengan cekatan Caleb memasangkan pelampung pada tubuhnya.     Setelah dirasa bagian kapal mulai tenggelam, Angelica mulai merasa panik. Caleb harus bertindak jika tidak ingin mereka berdua mati tenggelam.     “Dalam hitungan ketiga kita akan lompat!” Angelica mengangguk.     “3!” Tanpa menghitung terlalu lama, Caleb menarik tangan Angelica untuk lompat ke dalam air. Mau tidak mau Angelica pun ikut melompat. Dan…     BOOOMMMMM!!!!     Ledakan yang lain meledak persis di belakang kedua orang itu. Gandengan mereka terlepas dan tubuh mereka terhempas berlawanan arah karena tekanan kuat dari bom yang meledak. Mereka terpisah dan keselamatan nyawa mereka masih menjadi pertanyaan. ****     Di tempat lain, beberapa saat setelah ledakan kapal,     Pria mengerikan itu tertawa melihat kapal yang ia lihat hancur berkeping-keping. Seluruh awak kapal dan penumpangnya berserak di lautan. Dapat ia lihat dari rekaman drone bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari kapal itu.     Tapi tidak dengan Lewis, ia memandang kosong ke depan layar. Ingin menangis rasanya melihat kapal yang ditumpangi putra satu-satunya rata dengan tanah. Ia sendiri tidak tahu di mana dan bagaimana keberadaan putranya, Caleb. Tanpa terasa setetes air mata meleleh di pipinya. Tidak ada yang tahu Lewis menangis karena seluruh orang tertegun dengan apa yang mereka lihat di layar lebar saat ini.     “KAU IBLIS! TERKUTUKLAH DIRIMU! b******n! b*****t!” Kali ini terdengar makian dan teriakan seorang pria bermata biru yang didudukkan paksa di salah satu kursi. Pria itu menyaksikan sendiri bagaimana kapal itu diledakkan dan bagaimana kedua orang yang disayanginya itu dilenyapkan. Dialah Bernard Davis.     Pria mengerikan itu tertawa mendengar makian Bernard. Tangannya memberi tanda pada bodyguard-nya untuk menghajar Bernard habis-habisan setelah ini. Para bodyguard itu mengikuti perintahnya. Setelah dirasa tidak berdaya, pria jahat itu berdiri di hadapan mereka lalu menepuk-nepuk pipi Bernard.     “Jangan pernah mengkhianatiku lagi! Aku tidak menerima pengkhianatan. Sekali lagi kau melakukan itu, semua orang yang kau sayangi akan habis. Ingat itu!” katanya pada Bernard lalu ia melirik operator itu. Ia masih belum puas sebelum memastikan dengan mata kepalanya sendiri.     “Sisir seluruh area dan pastikan tidak ada yang tersisa,” perintah Cody, tangan kanan sekaligus pimpinan bodyguard. Sebagai kepala divisi keamanan, ia hanya ingin melakukan perintah atasangannya dengan sempurna.     Operator muda itu melakukan apa yang diminta Cody. Belum sempat menyisir seluruh area ledakan kapal, sebuah pesan muncul di depan layar.     [Battery low]     “Sir, mohon maaf drone kita harus kembali karena baterainya akan habis. Jika tidak, mereka akan jatuh tanpa terdeteksi radar kami,” ucap Ahmed, sang operator berdarah Irak itu.     Pria berambut putih, berwajah mengerikan itu menghela nafas lalu mengangguk dan Ahmed menjalankan sesuai perintah. Tapi ia tidak bisa menutupi perasaan puasnya sekarang seakan tidak ada lagi pengganggu dalam rencana besarnya.     Pria bengis itu bangkit berdiri dari kursinya lalu keluar dari lab. Sebelum keluar, ia memberikan isyarat pada Cody untuk melakukan apa yang diperintahkan sebelumnya. Cody pun mengangguk. Ia meminta dua orang anak buahnya untuk melakukan perintah.     Kedua pria itu langsung menarik tangan Ahmed ke belakang dengan tiba-tiba.     “Ada apa ini? Hei… Hei…. Ada apa ini?”     “Ikut kami atau nyawamu dan keluargamu akan berada dalam bahaya!” ucap salah satu pria dan menarik Ahmed untuk berdiri dan mengikutinya.     “HAH? APA INI??? HEIIII… HEIII…” Ahmed terus meronta hingga sosoknya hilang dari balik pintu. Rupanya Cody tidak mengikuti atasannya, dia masih berdiri di depan pintu lab. Ia menyeringai saat Ahmed terus dibawa oleh anak buahnya menuju ruangan interogasi.     Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.     “Pastikan rekaman kami lenyap.”     KLIK! Ia lalu berjalan keluar, kembali melindungi bosnya. ***     ­- Di Tengah Samudra Atlantik-     Sesosok wanita terlihat berusaha naik ke atas puing-puing kapal. Ia terlihat kelelahan karena diterjang ombak. Tubuhnya basah kuyup dan rambutnya yang indah tak jelas seperti apa bentuknya sekarang. Untung saja ia memakai pelampung sehingga ia tidak tenggelam.     Sekarang ia terbatuk-batuk di atas puing-puing itu. Rasa asin air laut sepertinya masuk terlalu banyak ke dalam tubuhnya. Ia menatap sekelilingnya dan tidak terlihat sosok manusia yang masih hidup. Ia mulai putus asa. Diombang-ambing di dalam lautan yang luas ini sendirian adalah hal buruk.     Bagaimana jika ia tidak ditemukan seseorang? Bagaimana jika ikan hiu menyerangnya? Bagaimana jika ia mati di sana? Apa yang harus ia lakukan sekarang?     “TOLOOOONGGGGG!!!! TOOLLLLOONGGGGG!!! ADA ORANG DI SINI!”      Ia berteriak sekuat tenaga. Tapi tidak ada siapapun di sana yang menjawab teriakannya. Ia mulai terisak, merasakan sedih dalam kesendiriannya. Ia meneguk ludahnya dan kali ini ia tidak boleh menyerah. Ia yakin di seberang sana ada orang yang bisa mendengarkannya.     “TOLOONGGG!!! AKU DI SINI!” teriaknya yang kesekian kali. Ia mulai putus asa dan hanya bisa meratapi nasibnya. Ia tidak ingat siapapun dan ia hanya tahu dirinya seorang diri yang hidup di tengah lautan luas dan gelap ini.     “TOLONG… AKU DI SINI!” ucapnya lirih. Hingga akhirnya sudut matanya melihat seseorang yang juga hanyut terbawa air. Ia mengenal orang itu dan terlihat orang itu sedang berusaha naik ke atas puing-puing kapal seperti dirinya. Senyuman penuh harapan mengembang di bibirnya.     Ia turun dari tempat ia berada lalu berenang menuju orang itu.     “Hei… Hei…” sapanya dengan antusias pada orang itu. Walau ia tidak tahu namanya, tapi ia tahu pria itu ada bersamanya di dalam kapal. Kondisinya terluka. Kepalanya berdarah, tangannya juga tergores dan terluka bakar. Ia terlihat kebingungan di tengah laut di malam gelap seperti ini.     Caleb terkejut melihat Angelica. Ia bersyukur wanita itu masih selamat. Ia mengayuh potongan badan kapal yang dinaikinya mendekat lalu menarik tubuh Angelica naik ke atas puing-puing kapal bersamanya.     “Kau masih hidup? Syukurlah!” Pria itu memeluk Angelica dengan mata berkaca-kaca. Seolah harapannya tidak hilang. Wanita itu masih hidup.     “Apa ada orang lain yang masih hidup yang kau lihat?”     “Aku tidak menemukan siapapun. Sepertinya hanya ada kita di sini,” jawab Angelica.     “Aku juga. Kita harus bertahan di sini setidaknya hingga matahari terbit. Aku yakin tim penyelamat pasti akan mencari semua korban kapal yang masih hidup.”     Angelica mengangguk. Ia menggosok-gosok telapak tangannya yang terasa dingin. Kakinya mulai terasa mati rasa karena dinginnya angin malam dan tubuhnya yang basah. Ia menggigil. Tapi ia harus bertahan. Caleb juga melakukan hal yang sama. Ia menarik tangan Angelica dan menggosok punggung tangan Angelica. Mereka berdua saling memeluk untuk berbagi kehangatan dari panas tubuh mereka.     Angin di laut itu terasa sangat kencang. Lebih kencang dari sebelumnya. Puing-puing tempat mereka berdiam digoyang oleh ombak. Ombak yang datang ternyata lebih besar dari sebelumnya. Mereka bergoncang dan mulai kehilangan keseimbangan. Sekali lagi ombak datang dan menghempaskan mereka kuar-kuat hingga tubuh mereka jatuh ke dalam air.     Keduanya masih berusaha bernafas di atas permukaan air, tapi lagi-lagi ombak menggulung mereka. Mereka terdorong ke dalam air. Angin dan ombak badai membuat keduanya menjauh. Makin jauh hingga akhirnya terpisah satu sama lain.     Tubuh Angelica naik ke permukaan laut, tapi wanita itu tidak berdaya. Terlalu banyak air yang ia minum dan ia tidak sadarkan diri. Ia terhanyut hingga ke daratan. Tak tahu siapa yang akan menolongnya saat ini. Semoga nyawanya selamat.  A/N: Jangan lupa tap love dan follow untuk tahu kelanjutannya ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD