-Swiss, 6 bulan kemudian-
“Dan berikut adalah daftar lulusan terbaik kita tahun ini,” ucap pembawa acara wisuda dengan semangat. Seketika lampu auditorium digelapkan dan layar di atas panggung berubah menunjukkan foto beserta profil wisudawan yang disebut sebagai lulusan terbaik.
Tawa riuh serta tepuk tangan membahana ketika para wisudawan dengan predikat terbaik itu maju ke atas panggung dan menerima penghargaan dari Sang Rektor. Tak terkecuali dokter tampan, Nicolas Johnson. Kini bahkan ia sudah berdiri di depan podium untuk memberikan sambutannya sebagai perwakilan mahasiswa predikat terbaik.
Nico pun memulai memberikan pidatonya di hadapan rekan-rekannya serta seluruh tamu undangan dan keluarganya. Ia sudah menyusun kata-katanya dengan sangat baik sebelum naik ke atas podium. Bahkan saking indahnya banyak pasang mata yang tak segan meneteskan air mata karena terharu. Kini ia sudah sampai pada penghujung pidatonya.
“Dan sekarang mari kita menyambut dunia kita yang sesungguhnya. Jadilah dokter terbaik yang menyelamatkan ribuan bahkan jutaan nyawa. Selamat menempuh perjalanan dan selamat bertugas!” ucapnya dan seluruh peserta wisuda melempar topinya ke udara. Tanda kelulusan mereka.
Keluarga Nico sudah menyambutnya di luar auditorium. Mereka memberikan selamat atas kelulusan Nico. Kini ia siap menjadi dokter bedah syaraf yang akan melayani di manapun ia ditempatkan nantinya.
“Uncle Nico sudah jadi dokter ya? Princess sayaanggg Uncle Nico!” ucap gadis kecil, keponakan Nico. Keponakan yang paling ia sayang. Dengan gemas Nico mengangkat tubuh gadis lima tahun itu dan menaikkannya ke atas pundaknya. Senyuman dan tawa merekah di atas bibir setiap wisudawan.
Kini keluarga Nico telah berada di ruangan VIP sebuah restoran. Malam ini adalah acara selebrasi kelulusan Nico serta perayaan atas kelahiran anak kedua Cassie yang baru saja lahir beberapa hari lalu di atas pesawat. Karena acara kelulusan Nico, Cassie memaksakan diri untuk datang di saat ia sudah hamil tua. Walau para dokter sudah mengingatkan untuk lebih baik di rumah saja, tapi Cassie tidak ingin melewatkan momen seperti ini.
Brandon pun tidak bisa melarang keinginan Cassie. Akhirnya mereka sekeluarga berangkat ke Swiss dan persalinan pun tidak bisa dihindarkan. Perut Cassie mengalami kontraksi yang hebat dan tak menyangka ia harus bersalin di atas pesawat. Bersyukur putra mereka lahir dengan selamat. Oleh karena itu kini mereka ingin merayakan rasa syukur itu bersama.
Nico menggendong putra Cassie dengan penuh kasih sayang. Meskipun berhati dingin, Nico sangat menyukai anak kecil.
“Namanya siapa?” tanya Nico pada Brandon sambil mengayun-ayunkan bayi mungil yang sudah terlihat mengantuk itu.
“Arthur Dellano Martinus. Artinya pemberian dari Tuhan,” jawab Brandon yang berdiri di sisi Nico saat ini sedangkan Cassie sibuk menyuapi Princess yang berlarian ke mana-mana.
“Bagaimana kabar Angelica?” tanya Brandon lagi. Ia tahu Nico sedang dekat dengan wanita itu dari Cassie. Cassie sudah menceritakan segalanya pada Brandon mengenai Angelica dan Nico. Bagaimana mulainya pertemuan mereka berdua hingga hubungan mereka sekarang.
Wajah Nico menampakkan senyuman yang merekah saat mendengar nama Angelica. Enam bulan tanpa bertegur sapa dengan Angelica terasa begitu panjang. Tapi semua penantian itu akan berakhir. Ia akan bertemu dengan wanita yang dicintainya diam-diam itu sebentar lagi. Dan di saat itu juga ia akan mengungkapkan perasaannya pada wanita itu. Nico memang bukanlah pria yang mudah berterus terang masalah perasaannya. Bahkan saat ia mencintai Cassie waktu itu pun, ia tidak berani mengungkapkan secara langsung jika bukan Cassie yang memojokkannya.
Entah apa yang di pikiran Nico hingga ia mampu menahan ungkapan hatinya selama bertahun-tahun ini pada Angelica. Tapi kali ini ia sudah membulatkan tekad. Ia akan menemui Angelica dan mengungkapkan bagaimana perasaannya pada Angelica sampai saat ini. Sudah cukup bagi dirinya untuk menjadi pengecut.
“Nic? Halo…” Brandon mengayunkan tangannya ke depan wajah Nico hingga Nico tersadar.
“Hah? Oh… itu. Hmm… kami… ASTAGA! Dellano sepertinya mengompol!” Nico berseru karena merasakan cairan panas dari popok Dellano meluber keluar ke bajunya. Seketika seisi ruangan menjadi gempar. Brandon segera mengangkat Dellano dari tangan Nico.
“Astaga, maafkan aku Nic! Aku yang lupa mengganti popok Dellano,” ucap Cassie penuh dengan penyesalan.
“It’s okay. Wajar jika bayi mengompol. Aku akan membersihkan diriku di toilet.” Nico tersenyum lalu melenggang masuk ke dalam toilet dan membersihkan bajunya.
Drrtt… drrrrttt
Ponsel Nico berdering. Ia sudah berharap bahwa yang menghubunginya Angelica, tapi ia salah. Deretan angka yang tak terdeteksi ponselnya muncul di layar. Yang ia tahu, nomer itu adalah nomer sebuah instansi. Ia mengangkat ponselnya.
“Halo… Iya benar, saya Nicholas Johnson.”
“…”
“Baik. Tapi mohon maaf apa boleh saya meminta dispensasi untuk mulai praktik sepuluh hari setelahnya? Karena kebetulan saya sudah punya sebuah rencana.”
“...”
Senyuman merekah tercetak di bibir Nico membayangkan apa yang akan terjadi saat izin liburannya diterima. Tunggu, berlibur? Mungkin lebih tepatnya menemui seseorang di belahan dunia lain. Tentu saja, ia sudah menyiapkan rencana untuk membuat kedatangannya di Amerika menjadi kejutan bagi Angelica. Dan ia sudah menyiapkannya sejak enam bulan yang lalu.
***
Nico memasukkan lukisan yang ia beli dari pelukis jalanan waktu itu ke dalam kardus berukuran besar yang ia sudah letakkan di atas meja. Ia memasukkan semua buku pelajaran dan agendanya ke dalam kotak tersebut. Ia berhenti sejenak dan membuka buku yang terakhir ia masukkan. Tiba-tiba saja bibirnya terangkat saat mengambil foto Angelica dari buku agendanya.
“Angelica, sebentar lagi aku akan datang. I miss you so much!”
Tanpa sadar pintu ruang dokter residen diketuk seseorang dan sekarang orang itu sudah bersandar di pintunya yang dibiarkan terbuka.
“Ehem…” pria di depan pintu itu berdeham dan membangunkan Nico dari lamunannya.
“Memikirkan wanita itu lagi?” tanya Harrison yang juga hendak berkemas. Keduanya sudah mendapatkan lokasi penempatan kerja sukarela mereka. Kebetulan keduanya berada dalam rumah sakit yang sama di St Ives, sebuah kota kecil di tepi laut yang terletak di Inggris Barat Daya. Rumah sakit berukuran sedang yang dibangun oleh Badan Kesehatan Dunia sebagai bentuk tanggung jawab sosial pada masyarakat.
Nico menghela nafasnya.
“Yah, begitulah,” ucap Nico sambil memasukkan barang-barangnya lagi ke dalam kardus. Harris masuk ke dalam kamar dan menepuk pundak Nico.
“Sampai kapan kau akan memendam perasaanmu sendiri? Tidakkah kau ingin mengutarakannya? Kau… huffttt!!!” kata-kata Harris terhenti karena Nico menepukkan sebuah buku kecil ke bibirnya. Harris terkejut lalu menarik buku kecil yang di dalamnya sudah terselip selembar kertas.
Mata Harris terbelalak. Buku kecil itu adalah paspor dan lembaran kertas itu adalah hasil cetak tiket pesawat atas nama Nicolas Johnson dari Inggris ke New York. Tertulis di tiket bahwa ia akan berangkat dalam dua hari untuk menjemput impiannya, menemui seorang Angelica Roberts dan meminta wanita itu menjadi kekasihnya.
“Apakah ini artinya kau…”
Nico menyunggingkan senyumannya yang merekah dan Harris langsung memeluknya saking bahagianya mendengar kabar bahwa sahabatnya akan pergi menjemput cintanya.
“AKHIRNYA, NIC! Kau melakukan hal yang tepat. Aku turut bahagia dan aku juga tidak sabar menunggu kabar bahagia darimu,” seru Harris kegirangan sambil memeluk Nico lagi. Tapi tiba-tiba Harris teringat sesuatu.
“Tunggu! Apa pihak Yayasan menyetujui izin dispensasimu?”
Raut wajah Nico berubah. Ia masih belum mengetahui hasil permohonan yang ia ajukan. Ia hanya bisa berharap semoga izin itu diterima tepat waktu agar ia makin cepat bertemu dengan Angelica.
***
-New York-
Angelica POV
Di mana aku? Mengapa mataku tidak bisa melihat apapun? Aku merasakan nyeri di sekitar tubuhku tapi aku tidak bisa bergerak. Aku sepertinya terikat. Oh tidak, apa yang harus aku lakukan? Aku panik. Aku tidak bisa berbuata apapun.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tuhan tolong aku! Seseorang tolong aku!
Aku berteriak tapi tidak ada yang bisa mendengar suaraku. Tidak… Tidak… ada sebuah kain yang diikatkan pada bibirku hingga aku tidak bisa bersuara. Di mana aku? Bahkan ketika aku menangis seperti ini pun tak ada seorangpun yang tahu.
Tunggu, aku mendengar suara derap langkah kaki. Langkah kaki itu begitu jelas. Sepertinya ada seseorang menuju kemari. Aku harus berusaha meminta tolong. Dia mungkin bisa saja menyelamatkanku, tapi jangan-jangan dia bisa juga… membunuhku.
Tuhan, keadaan apa yang kualami sekarang?
Tidak bisa! Aku harus segera melepaskan diri dari sini. TOLONG AKU! TOLONGG…
Seketika penutup mataku terbuka. Mataku tidak tahan melihat sinar yang langsung menusuk pandanganku. Samar-samar aku mulai bisa melihatnya. Aku terkejut saat menatap wajah itu. Pria berusia enam puluh tahunana, bermata biru di balik kacamatanya dan dengan rambut yang mulai beruban. Wajah itu wajah yang selalu membuatku merasakan damai. Itu…
“Professor!” ucapku dengan jelas walau mulutku masih dibekap kain.
Pria itu memberikan tanda padaku agar aku tidak menjerit atau mengatakan apapun. Aku yakin dia pasti akan menyelamatkanku. Selama ini hanya dia yang bisa menolongku mengatasi semua masalahku. Kali ini aku yakin dia pasti akan menyelamatkanku.
“Jangan mengatakan apapun karena telinga mereka ada di mana-mana. Aku hanya punya waktu yang singkat dan apa yang kulakukan sebentar lagi adalah untuk menyelamatkan nyawamu. Berjanjilah padaku untuk tetap hidup bagaimanapun caranya. Bisakah kau melakukannya?” tanya pria bermata biru yang kupanggil professor itu. Aku mengangguk walau aku bisa merasakan genangan air mata sudah jatuh dari pelupuk mataku. Aku takut… sungguh takut.
Aku bisa melihat Professor mengambil sebuah botol kecil dan mengambil cairan di dalamnya dengan suntikan lalu menyuntik lenganku.
Mataku terasa berat. Kepalaku seringan kapas. Ada apa ini? Sepertinya aku mengantuk.
***
Entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi aku masih tidak bisa merasakan apapun pada tubuhku. Apa yang Profesor lakukan padaku?
Samar-samar aku mendengar suaranya.
“Baiklah. Aku tahu.” Jawabnya lalu ia seperti menutup panggilan pada ponselnya. Aku bisa melihat Professor sedang menatapku dengan lembut lalu mengelus pucuk kepala Angelica dengan penuh kasih.
“Tetaplah hidup. Aku akan melakukan segala cara untuk membuatmu tetap hidup. Bertahanlah hingga aku datang dan menyelesaikan semuanya.”
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali tapi rasanya semuanya masih terasa ringan. Aku sepertinya ingin tidur saja. Sebentar lagi.
***
-Author POV -
Pria itu menarik turun tali pengikat mata dan bibir Angelica hingga Angelica bisa melihatnya jelas dengan kedua matanya sendiri. Matanya terbelalak melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.
“Dengarkan baik-baik, Angelica. Kau sudah melakukan kesalahan fatal sebelumnya dan kau harus menerima hukumanmu. Aku sudah pernah mengampunimu sebelumnya tapi kali ini aku tidak bisa mengampunimu lagi. Inilah ganjaran yang harus kau terima karena berani melawanku.
Kini kesabaranku sudah habis dan kau harus menjalani hukumanmu. Pergilah ke neraka dan bayarlah dosamu!” Pria itu berbalik badan dan menjauh
“TIDAK… TIDAAKK… AMPUNI AKU! AKU TIDAK AKAN MENGULANGINYA LAGI.” Angelica terus memohon tapi bukan pria itu kukuh dan tidak mau menarik kembali apa yang sudah diucapkannya. Pria itu sepertinya sudah mematikan perasaannya sendiri. Melihat penderitaan bahkan kematian orang-orang yang membangkang adalah hal yang menyenangkan baginya. Setidaknya satu musuh telah lenyap. Bagaimanapun masalahnya, ia akan mengatasi semuanya hingga tak ada lagi masalah. Jika perlu, ia melenyapkan sumber masalahnya.
Dengan senyum sinis dan mata tajamnya ia melirik sang Profesor di sudut sana.
“Lakukan yang kuperintahkan!” perintah pria menyeramkan itu dan seketika penjaga itu melepaskan Bernard, Profesor bermata biru itu hingga pria paruh baya itu tersungkur di tanah. Di belakang kepalanya sudah ditodongkah beberapa pistol yang siap meletus kapan saja. Nyalinya menjadi ciut. Ia pun hanya bisa pasrah dan menurut.
Dengan tertatih-tatih ia berdiri dan berjalan menuju ke sebuah meja dengan berbagai macam cairan dalam botol serta sebuah suntik.
“TIDAKK… TIDAK… KUMOHON JANGAN LAKUKAN INI! “Angelica tidak henti-hentinya memohon pada pria menyeramkan itu dengan terisak. Tapi pria itu malah dengan santai duduk di sebuah kursi dan melihat apa yang akan terjadi pada Angelica.
Dengan tangan bergetar, Bernard membuka lengan Angelica. Angelica berusaha meronta tapi tangannya terikat sangat kuat. Ia merengek minta dilepaskan namun Bernard harus melakukan tugasnya di hadapan penguasanya. Dengan penuh ketakutan, Bernard terpaksa menyuntikkan cairan itu ke dalam tubuh Angelica sambil memejamkan matanya tak tega. Air matanya jatuh di pipi saat melihat ia harus melakukan itu pada Angelica.
“TIDAAKKK…. TI…. DAK…” Tangan Angelica jatuh tergeletak. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir sebelum akhirnya tubuhnya menjadi kaku. Bernard merosot di pinggir ranjang sambil menangis. Ia melakukan sebuah kesalahan yang akan ia sesali seumur hidupnya.
Tawa pria menyeramkan itu menggema begitu melihat Angelica sudah tak berkutik. Ia beranjak dari kursinya lalu berjalan keluar dari ruangan.
***
-Swiss-
PRANGGG!!!!
Sebuah gelas jatuh dari tangan Nico. Jantung Nico berhenti berdetak untuk sekian detik. Entah mengapa firasatnya terasa begitu buruk saat itu tanpa ia tahu apa yang terjadi.
Jollyn buru-buru mendekati putranya.
“Ada apa, Nic?” tanyanya panik. Nico tersenyum dan berusaha untuk menenangkan Ibunya yang cemas.
“Aku tidak apa-apa. Mama kembalilah bersama dengan yang lain. Aku akan membereskan ini sebelum Princess atau yang lain menginjaknya.” Nico mendorong tubuh Ibunya menjauh. Tapi hatinya terasa tidak tenang sekarang entah karena apa.
“Angelica, apa kau baik-baik saja?”
***
NB: Apa yang terjadi dengan Angelica? Apakah Angelica meninggal?