-Swiss-
Jalanan di kota itu sekarang dipenuhi dengan bunga-bunga bermekaran yang indah. Suasa musim semi sudah mulai merebak di mana-mana. Suhu udara sudah mulai menghangat beberapa hari ini dan waktu yang sangat cocok bagi setiap orang untuk menikmati hari mereka. Tak terkecuali dengan Nico.
Ia mengenakan kemeja biru dipadukan dengan celana jeans dan sepatu kanvas. Pundaknya memanggul tas ransel berwarna hitam berisi semua buku-buku tebal khas kedokteran. Kaki jenjangnya melangkah dengan mantap menuju ke dalam sebuah café.
Café kuno yang terletak di pinggir sebuah jalan raya yang padat. Tempat favorit para muda-mudi untuk berkencan atau sekedar berkumpul dengan teman-teman mereka. Aroma kopi panas yang baru diseduh bercampur dengan wangi roti yang baru matang dari oven tercium hingga ke bagian depan café. Membuat siapa saja yang melewatinya merasa tergiur untuk mencobanya.
Pria dengan tinggi 180 cm itu masuk ke dalam café yang kebetulan memiliki cukup banyak pengunjung. Ada beberapa orang yang sedang mengantre menunggu sarapan pagi dan kopi hangat mereka. Ia berdiri dan ikut mengantre untuk membeli minuman pagi favoritnya, Caramel Machiatto.
Puluhan pasang mata sedang memandangi Nico dengan penuh kekaguman. Wajah pria itu seolah dipahat dengan sempurna. Garis rahangnya tegas, alis hitam yang melengkung sempurna, hidung yang cukup mancung untuk ukuran orang Asia dan mata sipit khas oriental terpatri di atas wajahnya. Walau berwajah oriental tapi tak ada yang memungkiri bahwa Nico sangatlah tampan. Siapapun wanita yang memandangnya pasti akan jatuh cinta. Belum lagi tubuhnya yang atletis. Otot lengannya terlihat kokoh dari balik lengan kemejanya.
Beberapa orang nampak berbisik-bisik. Sepertinya mereka tahu sebuah fakta bahwa pria yang sedang mengantre itu adalah seorang dokter. Dokter tertampan yang pernah mereka lihat. Tak terkecuali barista yang sekarang sedang melayaninya. Wajahnya tiba-tiba saja merona saat melihat Nico ada di hadapannya saat ini.
Pria itu mendongak untuk melihat papan menu yang terpasang di hadapannya. Barista wanita itu meneguk ludahnya karena guratan wajah Nico bak keturunan Dewa itu. Begitu menentukan pilihan, Nico memandang barista itu sambil menyebutkan pesanannya.
“Caramel Machiato dan Butter Croissant,” ucapnya sambil tersenyum. Seketika barista itu merona. Senyuman Nico sungguh lebih indah dibandingkan dengan semua kemewahan yang ditawarkan dunia padanya. Sejenak barista itu terpaku hingga akhirnya dehaman Nico membuyarkan lamunannya dan ia kembali berkutat dengan mesin hitung uang lalu menyiapkan pesanan Nico. Di sela-sela menyiapkan pesanannya, diam-diam ia membuka dua kancing bajunya untuk menunjukkan tonjolan tubuhnya pada Nico.
Barista dengan potongan rambut pendek yang dipotong miring itu kembali dengan pesanan Nico di tangannya. Ia menggigit bibirnya dengaan gaya menggoda. Ia memiringkan tubuhnya saat meletakkan pesanan Nico di atas nampan, berharap Nico melirik tonjolan pada dirinya.
Namun sayang beribu sayang, Nico tidak pernah tertarik dengan itu. Ia sudah cukup puas melihat anatomi tubuh wanita. Nico malah asyik dengan ponselnya dan tidak mengindahkan apa yang barista itu lakukan.
“Semuanya… sepuluh euro,” ucap barista itu dengan nada mendesah-desah.
Nico mengambil dompet dari dalam saku belakang celananya dan mengambil uang dari dalamnya. Matanya tidak lepas dari ponselnya tanpa mempedulikan barista yang sekarang sudah bertingkah seseksi mungkin. Alhasil, para pria yang baris di belakang Nico berbisik-bisik dan bahkan bersiul karena tergoda.
Merasa tidak dipedulikan, barista itu mengambil selembar tissue dan menuliskan beberapa deret angka di atasnya lalu menyodorkannya pada Nico. Nico melirik sekilas pada barista itu. Begitu mendapat perhatian, barista itu memberikan kode dengan tangannya. Berharap Nico menghubunginya setelah ini. Tapi Nico hanya tersenyum tanpa merespon apa yang Barista itu lakukan.
“Simpan nomormu untuk mereka saja,” ucapnya setengah berbisik sambil menunjuk diam-diam pada pria di barisan belakangnya yang masih bersiul-siul karena mendapatkan tontonan gratis karena Nico. Nico mengedipkan sebelah matanya lalu pergi dengan membawa pesanannya setelah membayar. Meninggalkan luka dan perasaan kecewa di hati barista muda itu.
Nico membawa tumbler dan croissant dalam kertas coklatnya keluar dari Café. Ia menyesap kopi panas itu dan sambil berjalan ia menggigit croissant hangat yang baru keluar dari oven itu. Ia menyusuri jalanan dan melihat ada begitu banyak bunga bermekaran di sekitarnya.
Pikirannya melayang dan membayangkan bahwa ia akan menikmati musim semi itu bersama dengan gadis yang mengisi hari-harinya lima tahun belakangan ini. Angelica. Senyumannya merekah saat melewati beberapa orang pria dengan sketsel dan canvas di hadapannya sedang melukis sesuatu. Pelukis jalanan itu mengingatkannya pada Angelica.
Ia berhenti sejenak lalu melihat lukisan-lukisan yang dijual oleh pelukis jalanan itu. Dan memutuskan untuk membeli salah satunya lalu menjepitnya di bawah lengan sambil berjalan menuju rumah sakit tempat ia praktik.
Nico harus menyelesaikan masa praktiknya di sana hingga tiga bulan ke depan sebelum pada akhirnya akan diwisuda dan ditempatkan pada rumah sakit yang ditunjuk oleh universitasnya. Maklum, ia adalah penyandang beasiswa dan Badan Kesehatan Dunia menentukan bahwa setelah penyandang beasiswa menyelesaikan masa studinya,mereka harus melayani di rumah sakit yang ditunjuk oleh badan kesehatan dunia selama dua tahun. Sebelum pada akhirnya mereka memutuskan jalan profesi mereka sendiri.
“Good morning, Doc!” sapa seorang pria dari dalam Jeep dengan atap terbuka pada Nico. Nico pun tersenyum lalu bergegas masuk ke dalam Jeep. Jeep itu milik Harrison Adams atau yang biasa disebut Harris. Ia adalah sahabat Nico. Pria dengan mata hitam terang, wajah metroseksual yang tampan namun menggoda dan senyuman yang selalu mengembang di wajahnya.
“Lukisan lagi?” tanya Harris.
“Ya, begitulah.”
“Pasti ini demi wanita itu kan?” Kali ini Nico hanya menjawab pertanyaan itu dengan senyuman mautnya dan Harris sudah tahu apa yang terjadi. Ia melajukan mobilnya membelah jalanan. Pagi ini mereka memiliki dijadwalkan menjadi asisten dalam sebuah operasi pengangkatan tumor otak seorang anggota parlemen Swiss.
Nicolas Johnson dan Harrison Adams adalah dua orang sahabat. Keduanya sekarang menjalani studi lanjut mereka di bidang yang sama. Bedah Syaraf. Sebuah studi spesialis bagi para dokter yang mau mendalami hal-hal terkait pembedahan di area otak. Cabang ilmu paling sedikit minatnya karena kerumitan dan kesulitan yang dihadapi saat proses belajarnya.
Namun mereka yang menyukainya akan merasa membedah otak manusia adalah sesuatu yang menantang. Mereka merasa seperti seorang ahli menjinakkan bom yang cukup rumit. Satu kesalahan bisa membuat bom meledak. Begitu juga dengan bedah otak. Sekali melakukan kesalahan resikonya adalah pasien mati atau menderita kelumpuhan.
Kedua pria itu saling bercengkrama dan saling menggoda satu sama lain. Jika kalian berpikir para dokter adalah kumpulan manusia-manusia kutu buku nan serius, sepertinya kalian salah. Harris bukanlah orang yang seperti itu. Di balik meja operasi ia menjadi sangat serius tapi beda halnya ketika dalam pergaulan. Harris adalah orang yang sangat menyenangkan. Mudah diajak bicara, cerdas dan sangat perhatian pada semua orang, khususnya pada wanita.
Tapi berkebalikan dengan Harris, Nico adalah dokter yang sudah terkenal berwajah dingin sejak ia menyandang gelar sebagai dokter tujuh tahun yang lalu. Ia sudah terkenal sebagai dokter dengan wajah paling dingin sekaligus paling tampan dibandingkan dokter lainnya.
Keduanya menjadi sahabat sejak mengenyam pendidikan spesialis mereka di sini. Mereka berdua sangat cocok satu sama lain dan bertingkah layaknya seorang saudara dalam berbagai situasi. Entah apa saja yang sudah diobrolkan kedua pria itu, tiba-tiba saja Harris menyeletuk.
“Sampai kapan kau akan memendam perasaanmu sendiri, Nic?”
Nico yang semula terdiam tiba-tiba mengulum senyumnya. Hatinya menghangat ketika ia berbicara mengenai Angelica. Ia sudah memendam rasanya pada wanita itu sejak lima tahun yang lalu dan ia tidak kunjung mengungkapkan perasaannya.
“Tunggu sebentar lagi. Aku pasti akan menemuinya.”
***
Begitu kakinya melangkah ke rumah sakit itu, lagi-lagi semua tatapan wanita tertuju padanya. Para perawat dengaan otomatis langsung berusaha menampilkan diri terbaik mereka di hadapan Nico. Tujuannya hanya agar mereka bisa mendekati Nico yang masih lajang. Namun, Nico tidak tertarik dengan mereka semua. Ia sudah menyimpan seseorang dalam hatinya dan ia akan menunggu hingga datang waktunya untuk mengungkapkan isi hatinya.
Kedua pria itu masuk ke dalam ruangan. Nico bersiap dengan jas putih khas dokternya setelah sebelumnya meletakkan lukisan itu di atas kubikal miliknya. Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka seseorang hingga kedua pria itu menoleh ke arah pintu.
“Akhirnya kalian datang juga,” kata seorang rekan dokter yang sudah menunggunya. Ia terlihat habis berlarian karena mencari Nico dan Harris yang baru saja tiba.
“Apa ada masalah?”
“Ayo kita segera ke ruang operasi. Operasinya mendadak dimajukan.” Keduanya langsung berlari bersama dan bersiap melakukan operasi.
Lima belas jam kemudian proses operasi akhirnya selesai juga. Segala macam pembedahan yang dilakukan pada otak selalu memakan waktu yang tidak sebentar. Ada begitu banyak kerumitan dan dibutuhkan kejelian untuk melakukannya. Karena sekali salah melangkah, nyawa atau lumpuh pilihannya.
Seluruh orang yang terlibat operasi rumit itu keluar dengan wajah lelahnya. Begitu juga Harris dan Nico. Mereka keluar dengan memijit pundak mereka lalu membersihkan tangan serta menyeka wajah mereka dengan air. Mereka merasakan lelah di sekujur tubuh mereka.
Harris menghela nafas panjang.
“Mau ke mana kau sore ini? Menghubungi wanita itu?” goda Harris. Ia tahu keseharian sahabatnya itu. Setiap sore dan pagi hari ia pasti menelepon wanita misterius di seberang sana. Harris hanya tahu nama wanita itu tapi ia tidak pernah tahu wajahnya.
Nico hanya tersenyum sambil membasuh tangannya yang basah dengan handuk.
“Ia sedang repot dan kami memutuskan untuk tidak saling menghubungi satu dengan yang lain untuk sementara waktu.”
“Repot?”
“Yah, pekerjaannya menuntutnya untuk fokus. Sementara ayahnya selalu mengawasinya dengan ketat akhir-akhir ini. Ditambah lagi ada produk baru yang akan mereka garap. Jadi, yah… aku bisa memakluminya.”
Kini kedua pria itu berjalan beriringan kembali ke ruangan dokter residen untuk bersiap kembali ke mess.
“Lalu apakah kau tidak rindu padanya?” tanya Harris sambil mengambil air dari dispenser untuk membuat kopi.
“Mana ada orang yang tidak rindu jika terpisah sedemikian lama? Kau dengan kekasihmu juga begitu kan? Apa yang akan kau rasakan saat ia harus pergi dinas selama beberapa bulan?”
Harris terkekeh. Ia tahu betul sahabatnya yang terkenal dingin masih memiliki perasaan. Setidaknya ia yakin sahabatnya tidak berhati batu atau mirip dengan zombie yang tidak punya hati.
Haris menyenggol bahu Nico saat mengetahui seorang perawat yang sangat cantik masuk ke dalam ruangan mereka. Make up tipis dengan rambut bergelombang yang sengaja digerai, seragam perawat yang dikenakannya terlihat sangat ketat hingga setiap lekukan tubuhnya tercetak jelas. Belum lagi area dadanya yang berisi itu. Sungguh penampilan yang menggoda untuk seorang perawat.
Tidak mungkin ada pria yang tidak melirik perawat itu jika ia lewat di depannya, termasuk Harris. Bahkan sekarang matanya tidak berkedip mengamati kemolekan tubuh wanita itu.
Mungkin seumur hidup baru kali ini ia menemukan wanita dengan kecantikan seperti itu. Bahkan mengalahkan kecantikan kekasihnya sendiri. Matanya seakan keluar dari tempatnya memandangi indahnya ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.
“Dia cantik sekali,” kata Harris sambil melongo dan mengamati pergerakan perawat itu. Ternyata perawat itu datang ke hadapannya dan Nico. Ia sudah bersiap untuk melakukan jurus rayuan mautnya tapi langsung patah hati. Wanita itu menatap Nico dengan tatapan malu-malunya dan sebelah tangannya menyerahkan sebuah lunchbox untuk Nico.
“Dokter, saya membuat kudapan untuk Dokter. Semoga dokter suka,” ucapnya centil namun malu-malu. Wajah Nico terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi. Harris memahami maksud wanita itu, ia langsung merebut kotak makan itu.
“Aku mewakilinya untuk menerima ini. Terima kasih,” ucap Harris cepat dan langsung disambut dengan wajah sebal karena Nico tidak merespon wanita itu. Lalu perawat itu pergi dengan sedikit menyentakkan kakinya.
Ketika sosok wanita itu menghilang dari balik pintu ruangan, Harris menatap heran pada Nico.
“Hei, Nic! Kau tidak mengerti wanita cantik ya? Dia itu sedang menantikan responmu dan kau acuhkan begitu saja. Dia menyukaimu,” seloroh Harris sambil mulutnya kini sudah penuh dengan biscuit coklat yang dberikan perawat itu.
“Oh ya?” Nico mengeluarkan senyuman miringnya. Harris menatapnya heran. Memang Nico sungguh berhati es. Ia tidak peka untuk urusan seperti ini.
“Hanya itu responmu? Kau ini…” cibir Harris dengan tetap melanjutkan makanannya.
“Ini namanya komitmen. Aku sudah memutuskan untuk mencintai satu wanita dan akan selalu hanya dia di dalam hati. Tidak seperti dirimu yang menyukai banyak wanita tapi tak ada satupun yang menetap di hati,” sindir Nico. Kini ia sudah melepas pakaian dokternya dan bersiap untuk meninggalkan ruangannya.
“Kuenya enak. Bagaimana jika aku menyamar menjadi dirimu saja?” seloroh Harris sambil mengunyah kue kering buatan perawat itu.
“Maksudmu? Kau tertarik pada Renata?” Harris mengangguk dengan semangat.
“Aku akan berpura-pura menjadi dirimu dan menghubunginya setiap hari melalui chatting. Bagaimana? Oh… lihat saja bibirnya, merah merekah dan tebal. Sungguh sangat seksi. Belum lagi tubuhnya. Gitar saja lewat. Dan dia pandai memasak. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan wanita sesempurna itu. Sayangnya aku sudah memiliki kekasih. Jika tidak, dia pasti mengejarku bukannya dirimu,” gumam Harris dengan pikiran mesumnya.
Nico tertawa mendengar ucapan konyol sahabatnya.
“Ya… ya… ya… terserah kau saja,” jawab Nico dengan malas.
“Oh… Renata…”
Nico mengeluarkan ponselnya lalu memfoto ekspresi wajah m***m Harris dengan cepat.
“Bagaimana jika Jessie mengetahuinya? Bahwa ternyata kekasihnya memikirkan wanita lain,” ucap Nico sambil menekan asal tombol layar sentuh ponselnya. Harris langsung terkejut. Ia takut jika Nico melaporkan yang tidak-tidak pada kekasihnya. Seketika terjadilah tindakan rampas merampas ponsel disambi dengan tertawa hingga akhirnya sebuah buku agenda jatuh dari atas meja.
BRUKKK!!!
Kedua pria itu berhenti karena terkejut. Rupanya buku agenda Nico yang jatuh dari atas meja. Ia segera memungut buku agendanya dan meletakkannya kembali ke atas meja. Tapi selemar foto jatuh ke tangan Harris saat ini.
“Wuahhh… wanita yang ini jauh lebih cantik dari Renata. Apakah dia yang namanya Angelica?” ucap Harris dengan penuh kekaguman. Nico langsung merebut foto Angelica dari tangan Harris dan dengan cepat ia menyelipkan lagi foto itu ke dalam agenda keramatnya.
Harris masih penasaran dengan sosok dalam foto itu.
“Eh tunggu. Benar kan kalau itu Angelica, Nic? Mengapa kau tidak pernah mau berbagi cerita sedikit saja. Aku kan ingin tahu kisah cintamu yang pelik itu?” rengek Harris. Tapi Nico tidak menanggapi.
“Kau pikir aku akan merebutnya darimu jika aku mendengar ceritamu? Aku tidak serendah itu, Nic. Oh, please!”
Nico terkekeh.
“Memang memiliki sahabat yang playboy itu mengerikan. Semua wanita akan dibilang cantik. Aku kuatir kau akan merebut Angelicaku,” sindir Nico lagi. Harris sudah gemas dengan Nico. Andai saja Nico bukan sahabatnya sekarang ia sudah melayangkan beberapa tinju ke wajahnya. Untunglah ia mampu mengendalikan diri.
“Tunggu! Kau sebut Angelica itu wanitamu? Jadi kau sudah mengakui bahwa kau berpacaran dengannya?” selidik Harris dengan wajah konyolnya dan disambut dengan senyuman maut Nico.
“Percuma berbicara denganmu. Aku sudah lelah. Aku pulang dulu!” Nico meninggalkan Harris tanpa mempedulikan pria itu sedang meronta-ronta karena ditinggalkan sendirian di dalam ruangannya.
“Kau ini. Tidak seru. Memang pangeran tampan berhati es!”