Seorang pasien dengan rambut tergerai berjalan tertatih-tatih. Tangannya memegangi dinding lorong sebagai penopangnya untuk berjalan. Lorong itu terasa sepi dan gelap. Tidak ada seorang pun di sana tapi entah mengapa wanita itu merasa ia sedang diincar seseorang. Suasana mencekam mulai mendatanginya. Ia ingin berlari tapi kakinya terasa sangat lemas. Ia tidak kuat menopang tubuhnya sendiri.
“Aku harus pergi dari sini. Aku harus pergi dari sini. Mereka akan membunuhku!” gumamnya terus untuk menyemangati dirinya. Ia masih terbayang akan mimpi buruknya tadi. Ia merasa terancam dan terdesak kali ini. Entah mengapa semuanya begitu nyata sekarang. Ruangan yang ada dalam mimpinya terlihat sama seperti di rumah sakit ini.
Ia berhenti sejenak. Kakinya terasa lelah dan sekarang ditambah ada dengungan keras di telinganya. Ia menjambak rambutnya kuat-kuat. Wanita itu terengah-engah tapi ia tetap terus berjalan maju. Ia merasa harus pergi dari tempat itu karena membahayakan nyawanya.
Wanita yang dikenal bernama Esther itu berjalan melewati sebuah lorong lain yang menghadap ke lautan luas. Sejenak ia berhenti dan memandangi lautan.
“Ini di mana?” gumamnya karena ia merasa tempat ia berada saat ini sungguh sangat asing. Sejenak ia kagum dengan lautan lepas di hadapannya tapi ia akhirnya sadar bahwa ia harus melangkah.
Ia melanjutkan langkahnya. Walau kakinya masih terasa lemas, tapi ia terus merasa seperti dikejar-kejar rasa takut. Ia berjalan menyusuri taman di tengah rumah sakit. Matanya terus menengok ke sekitarnya, berharap tidak ada orang yang mengikutinya.
Seorang perawat lewat di sebelahnya dan melihat Esther kesulitan berjalan. Perawat itu langsung memapah Esther. Esther menatap perawat itu dengan penuh ketakutan seolah perawat itu hendak membunuhnya.
“Miss, mau ke mana? Saya bantu,” ucap perawat itu menawarkan bantuan. Tapi Esther menepis tangan perawat itu.
“Tidak perlu. Lepaskan aku!” sahut Esther lalu kembali berjalan walau terasa sulit.
“Miss, jangan seperti itu. Tubuh Anda sepertinya belum pulih. Mari saya antar ke kamar.”
Esther berhenti dan menatap nyalang perawat itu.
“TIDAK PERLU! TINGGALKAN AKU SENDIRI!” Esther menjawab ketus dan seketika perawat itu melepaskan tangannya yang menggandeng tangan Esther. Ia mengangkat tangannya ke atas, tanda menyerah.
Esther mendengus sebal dan melanjutkan langkahnya menuju ke sisi lain dari taman. Tubuhnya terasa makin berat dan kepalanya juga terasa berputar. Ia berhenti sejenak sambil memegangi dinding di sebelahnya.
Dari bagian atas lorong, Nico sedang berjalan ke kamar Esther. Ia hanya belum tahu jika wanita itu sudah keluar dari kamarnya dan berjalan ke sisi yang lain.
Esther menguatkan tenaganya dan terus berjalan. Betapapun sulitnya ia berjalan, ia tetap melakukannya. Dengan sekuat tenaga ia berjalan hingga kakinya melangkah di depan meja resepsionis. Perawat lain yang melihat kesulitan Esther langsung mendekatinya.
“Miss, apa yang Anda lakukan? Mari saya antar ke kamar.” Kata-kata yang sama terlontar dari perawat yang berbeda. Walau sebenarnya tidak ada maksud buruk dari kalimat itu, tapi entah mengapa kata-kata itu serasa seperti ancaman. Esther harus masuk ke kamar untuk dibunuh. Itu terus yang berputar di otaknya.
Dan lagi-lagi Esther menepis tangan perawat itu. Ia tetap melangkahkan kaki. Tapi perawat itu tidak putus asa. Ia menemani Esther berjalan sambil berusaha terus menawarkan bantuan untuk mengantar Esther ke ruangannya.
“PERGI! JANGAN GANGGU AKU!” hardik Esther. Ia sungguh tidak bisa mempercayai siapapun karena semua terasa seperti hendak membunuhnya.
“Membawaku ke kamar? Heh! Jangan mimpi. Aku sudah tahu rencana busuk kalian,” gumam Esther dalam hati.
Kaki Esther sampai di depan pintu depan rumah sakit, tapi langkahnya dihentikan oleh petugas keamanan.
“Maaf, pasien tidak boleh meninggalkan rumah sakit tanpa seizin dokter.” Esther merasa geram dengan semua ucapan yang selalu didengarnya sepanjang perjalanan.
“JANGAN HALANGI AKU! AKU MAU PERGI DARI SINI!” Teriak Esther histeris. Tapi tangan security menahan tubuhnya untuk melangkah lebih jauh.
“Maaf, Miss. Kami harus menjalankan sesuai prosedur!”
Esther menatap petugas itu dengan tatapan membunuh.
“KALIAN INGIN MEMBUNUHKU! KALIAN AKAN MEMBUNUHKU! TIDAK… AKU TIDAK AKAN BIARKAN KALIAN!” Esther seolah terjebak dalam halusinasinya sendiri. Walau teriakan Esther sungguh histeris, tapi petugas keamanan tetap pada posisi mereka.
“PERGI KALIAN SEMUA!!!!” Esther meluapkan seluruh emosinya dengan sisa tenaga yang ada. Tiba-tiba mata Esther berkunang-kunang. Pandangannya buram. Ia memegangi kepalanya tapi suara berdengung di telinganya makin kuat. Tubuhnya terasa lemas dan kakinya terasa loyo seperti es mencair. Esther terjatuh dan tak sadarkan diri.
“Miss… Miss…” suara perawat di sampingnya terdengar samar-samar. Matanya pun terpejam.
***
“ESTHER! ESTHER!” teriak Nico sambil berlari mencari keberadaan Esther ke seluruh rumah sakit. Ia mengitari setiap lorong rumah sakit tapi ia tidak menemukannya. Esther mungkin sudah berjalan jauh. Ia memanggil Angelica sebagai Esther karena nama itu yang dikenal oleh seisi rumah sakit.
Ia mengarahkan kakinya menuju ujung barat rumah sakit yang menghadap ke lautan lepas tapi lagi-lagi tak ada jejak Esther di sana.
“Ke mana kau pergi?” gumamnya.
Nafasnya tersengal-sengal tapi ia tetap merasa panik. Bagaimana bisa wanita itu begitu keras kepala untuk meninggalkan rumah sakit seolah ia dilanda trauma terhadap rumah sakit? Sejenak ia bertanya-tanya sungguhkah wanita itu adalah Angelica? Jika diingat dahulu Angelica malah suka berada di rumah sakit. Bahkan wanita itu malah ingin berlama-lama di rumah sakit jika bisa. Rumah sakit seolah menjadi tempat bermain yang menyenangkan baginya. Sungguh ini sebuah keanehan dan ia jadi bimbang dengan sosok pasien wanita itu.
Kaki panjang Nico melangkah ke area taman rumah sakit. Matanya terus mencari-cari sosok wanita itu. Tapi yang ia lihat hanya ada beberapa orang pasien didampingi perawatnya sedang beristirahat di bawah rindangnya pohon.
Harris yang baru saja datang dari arah cafetaria bertemu Nico.
“Hei, Nic! Kau terlihat kebingungan. Mencari sesuatu?”
Nico memegang pundak Harris dan menatap pria itu.
“Kau lihat Angelica?”
“Maksudmu si Esther yang mirip dengan Angelica itu?” Harris terlihat berpikir sebentar.
“Bukannya dia harusnya ada di kamarnya?” tanya Harris heran. Nico menghela nafas lalu menyugar rambutnya frutasi.
“Ia sudah siuman dan memaksakan diri untuk keluar dari kamarnya.”
“A-APA?”
“Tolong bantu aku mencarinya. Seharusnya ia tidak akan berjalan sejauh ini mengingat tubuhnya belum pulih betul.”
Harris mengangguk lalu berlari ke arah berbeda untuk membantu mencari wanita itu. Nico memandang sekelilingnya dan tidak bisa melihat keberadaan Esther. Ia memutuskan untuk bertanya pada seseorang tentang keberadaan Esther. Tapi tak ada yang melihatnya. Hingga ia bertemu dengan seorang perawat yang bertemu dengan Angelica di taman.
“Apa kau melihat pasien wanita dengan rambut panjang dan mata birunya lewat sini?”
“Oh wanita itu. Iya, Dok! Tadi aku ingin membantunya kembali ke kamarnya tapi ia malah marah-marah.”
“Lalu di mana dia sekarang?”
Perawat itu mengedarkan pandangannya untuk mengingat arah mana Esther berjalan lalu menunjuk arah menuju resepsionis.
“Ke sana.” Nico langsung menyampaikan terima kasih dan mempercepat langkahnya menuju ke arah yang ditunjukkan perawat itu padanya. Ia bergegas menuju ke resepsionis. Dan ia pun melihat ada kerumunan orang di sana. Ia mempercepat langkah kakinya dan melihat seseorang pingsan di depan resepsionis. Tanpa basa-basi, Nico menerobos kerumunan itu untuk melihat situasi. Ia takut jika itu memang benar Esther. Begitu bisa melihat wajah pasien itu, mata Nico terbelalak. Itu benar Esther dan sekarang wanita itu tidak sadarkan diri.
Nico segera mengambil alih Esther. Ia menggendong Esther kembali ke kamarnya.
***
Mata gadis itu terus bergerak-gerak. Ia tidur dalam gelisah seperti sedang dikejar sesuatu. Bibirnya meracau tidak jelas. Nico terkejut saat gadis itu dengan mata terpejam menggerak-gerakkan tangannya ke udara seperti hendak menggapai sesuatu.
“TIDAK… TIDAKK… JANGAN LAKUKAN ITU! KUMOHON…. KUMOHON…” rengek gadis itu. Setetes air mata jatuh di pipinya dan ia merasakan tubuh wanita itu bergetar hebat.
Nico mengambil telapak tangan wanita itu dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Mata Nico menangkap tanda lahir kehitaman di pergelangan tangan wanita itu. Ia terkejut dan ia bisa memastikan bahwa wanita itu adalah Angelica.
“Angelica… sadarlah! Angelica…” Nico tidak perlu ragu lagi memanggil wanita itu sebagai Angelica. Ia yakin dan sangat amat yakin wanita itu adalah Angelica. Tidak mungkin orang lain memiliki tanda lahir yang sama. Bahkan kembar identik pun tidak akan memiliki tanda lahir yang sama.
Nico berupaya membangunkan wanita yang dikenal sebagai Esther di rumah sakit itu. Gadis itu pasti memiliki mimpi buruk sehingga ia bisa bertingkah seperti itu. Tak berapa lama tubuh Angelica kembali tenang. Nafasnya mulai teratur dan Nico mulai bisa bernafas dengan lega. Ia terus menggenggam tangan Angelica dengan erat agar wanita itu merasa lebih tenang.
“Ada apa denganmu, Angelica? Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Nico di telinga gadis itu. Tangan kanannya membelai lembut rambut Angelica yang kemerahan. Ia menatap Angelica dengan tatapan mengiba. Ia cukup terpukul serta terkejut dengan kemunculan Angelica seperti ini.
Tiga puluh menit kemudian, setelah dirasa sudah tertidur Nico perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Angelica. Ia mengambil tangan Angelica dan memasukkannya ke dalam selimut lalu menarik selimut Angelica hingga sebatas leher sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Angelica. Begitu selesai menutup pintu, ia menyandarkan dirinya di depan pintu kamar.
Nico memutuskan untuk menghubungi keluarga Angelica. Ia yakin betul bahwa wanita yang ada di dalam rumah sakit ini adalah Angelica. Ia bisa memastikan itu dan wanita itu tidak tewas seperti yang diberitakan dan keluarganya harus tahu tentang itu.
Nico mengeluarkan ponselnya dan mencari nomer telepon Cybertech. Ia melihat jam tangannya dan menghitung perbedaan waktu antara Inggris dengan Amerika. Masih pukul dua pagi di San Fransisco dan tidak mungkin ia menghubungi perusahaan itu di tengah malam seperti ini. Meskipun ada layanan panggilan 24 jam tapi ia pikir tidak baik menelepon di tengah malam seperti ini. Ia menghela nafasnya dan mengurungkan niatnya. Ia berniat untuk mengabarkan keberadaan Angelica, tapi hari sudah terlalu malam di seberang sana.
“Mungkin beberapa jam lagi aku akan menghubungi mereka.”
Saat akan beranjak dari kamar Esther, Harris datang menemuninya.
“Bagaimana kondisinya? Aku dengar dia tak sadarkan diri di lobby?” tanya Harris dengan panik.
“Dia sudah tertidur sekarang. Aku memberikannya obat penenang agar dia bisa beristirahat lebih lama untuk memulihkan kondisinya.”
Harris bernafas lega mendengar kabar tentang Esther. Karena, ia sendiri pun juga ikut panik karena menghilangnya Esther tadi. Walau ia tidak mengenal wanita itu, tapi ia sama kuatirnya dengan sahabatnya.
“Kurasa ia mengalami hari-hari yang berat saat dalam kapal itu,” ucap Nico tiba-tiba. Harris menatap Nico dengan kebingungan karena ucapannya barusan.
“Mengapa kau berpikir seperti itu?”
“Entahlah. Ia terlihat seperti sangat ketakutan. Bahkan di saat tidak sadarkan diri seperti ini pun, ia masih mengingau dan mengalami mimpi yang sangat buruk. Seperti ada yang seseorang yang ingin mencelakakannya.” Nico membuang nafasnya kasar. Semua kemungkinan buruk itu muncul begitu saja di otaknya.
Harris menepuk-nepuk pundak Nico untuk memberidukungan.
“Jangan berpikir negatif dulu. Kita tidak tahu faktanya kan? Aku rasa lebih baik kita menunggunya siuman terlebih dulu. Siapa tahu memang benar itu hanya mimpi dan itu jelas tidak nyata.”
“Semoga.”
Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar suara barang-barang yang berjatuhan.
KROMPYANGG… PRANG… PRANG…
Nico dan Harris berjingkat dari tempat mereka berdiri lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Wanita itu sudah bangun dan ia kembali memporakporandakan seisi kamarnya. Ia sudah hampir mencapai pintu kamar sebelum akhirnya kedua orang itu membuka pintunya.
“Kalian siapa? Apa kalian akan membunuhku?” tanyanya dengan amarah yang berkilat dari sorot matanya dan ia menuding kedua orang di hadapannya itu dengan tatapan mengancam. Nico dan Harris berusaha menenangkan Esther yang sekarang terlihat sebagai seseorang yang depresi.
“Tenanglah dulu. Kami tidak akan mencelakaimu,” ucap Harris dengan kedua telapak tangannya di depan d**a, berusaha untuk menenangkan Esther. Tatapan tajam dan deru nafas Angelica terdengar mulai reda saat ia melihat Nico di samping Harris. Entah mengapa ia seperti merasa pernah melihat pria itu. Sepertinya pria itu bukan pria yang akan membunuhnya seperti yang ada dalam mimpi.
Ia melangkah mundur beberapa langkah, menuju ke ranjangnya. Ketika dirasa sudah tenang, Nico dan Harris berjalan perlahan mendekati wanita itu. Wanita itu makin mundur hingga punggungnya membentur meja kecil di samping ranjang pasien.
“Tenanglah. Kami tidak akan menyakitimu. Aku dokter Adams, Harrison Adams. Dan dia dokter Johnson, Nicolas Johnson,” kata Harris sambil menunjuk ke arah Nico untuk memperkenalkan dirinya pada Esther.
“Kau…” telunjuk tangan Esther mengarah pada Nico. Nico menelan ludahnya karena ia sungguh berharap wanita itu mengingatnya.
Air mata Esther tiba-tiba telah menetes di pipinya seolah ada perasaan rindu yang amat dalam pada sosok pria itu. Tapi ia sungguh tidak tahu siapa dia.
Nico mengangguk pelan menunggu jawaban Esther sambil menelan ludahnya. Gadis itu mengernyitkan dahinya. Saat kondisinya dirasa telah tenang, Nico pun memberanikan diri mendekati Esther lalu melakukan pemeriksaan mata dan bagian tubuh lain dari wanita itu.
Walau terlihat tenang, pikiran wanita itu terus berputar, mencari onggokan ingatan yang mungkin tersisa tentang dokter tampan di hadapannya itu. Tiba-tiba bunyi dengung itu kembali di telinga wanita itu. Dan, seketika itu juga bunyi itu menghilang. Saat wanita sudah terlihat lebih tenang, Nico kembali berbicara.
“Apakah kau mengingatku? Aku Nico,” tanya Nico sambil menepuk dadanya. Ia hanya berharap wanita itu mengangguk karena ia sangat merindukan Angelica.
“Si-siapa kau? Dan siapa itu Angelica?”
Betapa terkejutnya Nico saat mengetahui wanita di hadapannya ini tidak mengenalinya.
***
A/N: Gimana rasanya nggak diingat sama wanita yang dicintai ya? Sakit banget kali ya…