Pastikan tap love dan follow ya! Saya jamin cerita ini lebih seru ketika masih On Going.
-St.Ives-
Beberapa orang dari tim penyelamat datang ke dalam rumah sakit Peaceful Health untuk melakukan pendataan ulang para korban sembari beberapa orang lagi mengirimkan korban-korban yang ditemukan dari dalam lautan. Sebagian besar di antara mereka terluka cukup parah dan membutuhkan penanganan darurat.
Nico sama sibuknya dengan tim dokter yang lain. Mereka masih harus berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain untuk melakukan pemeriksaan dan penanganan. Sayangnya, sebagian besar di antara mereka tidak terselamatkan. Segala macam daya upaya yang dikerahkan tim dokter tetap tidak membuahkan hasil. Banyak yang tidak berhasil bertahan.
Beberapa orang petugas tim penyelamat datang dan meminta data dari pihak rumah sakit terkait korban yang berada di sana. Tim administrasi sibuk memberikan data pasien yang diminta kepada tim penyelamat.
Marshall sendiri yang datang untuk mengawasi jalannya proses itu. Ia mengambil salah satu daftar yang dipegang anak buahnya dan melihat daftar nama yang ada di sana. Jari telunjuknya menyusuri nama per nama yang tertera dalam daftar. Ia mencari nama Angelica Roberts dan ia tidak menemukannya. Ini pertanda pewaris Cybertech dinyatakan hilang di dalam laut.
Ia sudah menyisir baik dari udara maupun mengumpulkan data dari berbagai rumah sakit yang menangani para korban, namun tak satupun yang mencantumkan nama Angelica Roberts di sana. Dan rumah sakit Peaceful Health adalah rumah sakit terakhir.
Ini sebuah kabar dukacita bagi seorang Gregory Roberts, pikirnya. Ia harus segera mengabarkan berita itu pada Greg. Ia mengambil ponsel dan menekan tombolnya lalu menghubungi Greg. Sayangnya, yang mengangkat ponsel Greg kali ini adalah Lewis.
“Mohon maaf Mr Greg sedang dalam meeting. Saya Lewis, asisten beliau. Ada yang bisa saya sampaikan?”
Marshall menghela nafasnya sebelum akhirnya mengungkapkan ucapan dukacita itu pada Lewis. Lewis menutup ponsel itu dan tangannya terjatuh. Ia memejamkan matanya dan tetesan air mata meleleh di pipinya. Jika tubuh Angelica dinyatakan menghilang, ini berarti putranya pun juga kecil kemungkinannya untuk hidup.
***
Tubuh Nico terasa sangat letih dan ia membaringkan dirinya ke atas ranjang periksa sambil sebelah tangannya mengeluarkan ponsel. Setidaknya ia ingin melihat berita yang muncul. Matanya terhenti saat ia melihat tayangan berita yang muncul di layarnya. Berita itu tentang ledakan kapal yang terjadi hari ini.
Liputan itu berganti menjadi daftar penumpang kapal yang telah ditemukan. Nico bangkit dari tidurnya dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia mengamati semua nama yang tertera di dalam layar. Ada sebuah nama yang mengusiknya. Angelica Roberts dan dinyatakan hilang atau tewas dalam ledakan kapal.
Ia begitu terkejut. Jika Angelica benar-benar tewas atau hilang, lalu siapakah wanita yang ada di kamar perawatan saat ini? Nico ingin memastikan sesuatu bahwa wanita itu adalah Angelica dan masih hidup. Tidak seperti yang diberitakan di televisi. Nico bergegas keluar dari ruangannya dan melangkah lebar bahkan berlari untuk menuju ke kamar perawatan wanita itu.
Ia membuka tirainya dan menemukan wajah pulas wanita itu terbaring di ranjangnya. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya dan selang infus masih terpasang pada lengan wanita yang masih tak sadarkan diri itu. Nico melangkah maju dan mengamati wanita itu lekat-lekat. Mengamati setiap jengkal paras cantik yang sedang terlelap itu.
Tatapannya turun ke arah lengan Angelica. Jika wanita itu adalah Angelica, ia pasti memiliki tanda lahir kehitaman di lengannya. Nico menarik tangan wanita itu. Ia terkejut, menemukan tanda lahir Angelica di sana.
Tak terasa setetes air mata itu jatuh di pipi Nico. Ia sungguh merindukan wanita itu dan sekarang ia terbaring lemah di hadapannya. Ia menggenggam erat telapak tangan wanita yang masih terasa dingin itu.
“Apa yang terjadi padamu, Angelica? Mengapa kau bisa berada dalam kapal itu dan hampir meregang nyawa karenanya? Dan mengapa kau ada di sini sementara tim penyelamat tidak bisa mengidentifikasi keberadaanmu?” Air mata Nico sekali lagi menetes dan kali ini menyentuh permukaan kulit telapak tangan Angelica yang mulus.
Jemari lentik wanita itu bergerak sejenak dan sebelum Nico menyadarinya pundaknya ditepuk seseorang. Nico berjingkat dan menoleh ke arah datangnya sentuhan di pundaknya itu. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan jarinya.
“Maafkan saya, Dok sudah mengagetkan dokter. Apa dokter mengenal wanita ini?” tanya Kattie, sang perawat dengan membawa clipboard di tangannya. Nico membalikkan tubuhnya untuk mendengar penjelasan Kattie lebih lanjut.
“Kami tidak menemukan identitas lain pada pasien sehingga kami tidak bisa menghubungi pihak keluarga. Bahkan tim penyelamat pun tidak mendapatkan data apapun dari pasien selain namanya adalah Esther Douglas.”
Nico terhenyak saat mendengar nama Esther Douglas.
“Kau bilang namanya siapa?”
“Esther Douglas.”
“Esther Douglas?”
“Benar. Itu nama yang kami temukan di pakaian yang dikenakannya tadi dan itu satu-satunya data yang kami miliki,” jelas Kattie dan menambah kebingungan di pikiran Nico. Bagaimana bisa Angelica berubah menjadi Esther Douglas? Apakah ada perubahan identitas yang ia tidak ketahui sebelumnya atau apa?
“Dok…” panggil Kattie untuk menyadarkan Nico yang tenggelam dalam pikirannya sesaat.
“Oh ya… aku akan menjadi wali sementara dari wanita ini. Mana berkas yang harus kutandatangani?” Untuk mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi, Nico harus lebih dekat dengan wanita itu. Ia pun menyetujui menjadi wali dari wanita itu.
Kattie kemudian menyodorkan berkas administrasi milik Esther Douglas dan Nico menandatanganinya. Dalam benaknya ia terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada hidup Angelica? Mengapa identitasnya menjadi sebuah teka-teki?
***
Seorang pria sedang berbaring dengan sekujur tubuh dibalut dengan perban. Beberapa bagian tubuhnya terlihat hitam akibat luka bakar. Ia baru saja sadar setelah beberapa jam tidak sadarkan diri. Ia sendiri pun tidak tahu di mana dirinya berada saat ini. Yang ia tahu sepertinya ia terdampar sendirian hingga diselamatkan seseorang dan berakhir di rumah sakit ini.
Pria itu memandang kosong ke layar televisi yang sedang menayangkan berita tentang ledakan kapal Sea Master. Kini pembawa berita mengarahkan penonton untuk melihat daftar korban ledakan kapal Sea Master. Matanya mencari nama seorang wanita. Jantungnya berdebar saat deretan nama itu berganti perlahan. Ia hanya berharap nama wanita itu tidak ada di dalam daftar korban tewas.
Ia menatap layar itu dengan serius. Ia terkejut saat nama Angelica Roberts muncul dalam daftar korban ledakan kapal yang hilang/tewas tapi ia tidak terlalu kaget dengan itu. Ia sudah menduga bahwa hal ini memang harus terjadi. Tapi kini ia bernafas dengan lega, setidaknya sekarang ia tahu wanita itu masih hidup. Sebab, ia sendiri yang mengubah identitas yang melekat pada tubuh wanita itu menjadi Esther Douglas.
Tugasnya sekarang adalah memulihkan kondisinya sendiri sebelum akhirnya mencari wanita itu dan membawanya kembali.
***
Wanita itu akhirnya membuka matanya. Seketika ia melihat bahwa ia dengan pakaian formal khas kantoran sedang duduk dalam sebuah ruangan dengan meja besar yang dibentuk huruf U. Ada sekitar lima puluh orang yang ada di dalam ruangan itu. Setiap orang duduk di belakang meja dan perhatian mereka sekarang tertuju pada sebuah layar LCD raksasa di hadapan mereka.
Wanita itu mengedarkan matanya ke sekitarnya. Ada beberapa orang pria berjas hitam dengan earphone di belakang telinganya sedang berdiri di area belakangnya. Di samping kanannnya duduk seorang pria dengan rambut putih yang dikuncir kecil di bagian belakangnya. Pria itu sedang menatap fokus pada layar lebar yang terpasang di tengah ruangan.
Sayangnya pandangan wanita itu kabur. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di sampingnya tersebut. Ia memutar kepalanya untuk melihat siapa orang di samping kirinya. Ia mengenali sosok itu. Caleb! Ya, ada Caleb di sana dan sedang berkutik dengan laptopnya seolah sedang mencatat sesuatu. Saat ia menatapnya, Caleb menghentikan aksi mengetiknya dan menatap balik wanita itu. Merasa canggung, wanita bermata biru itu memalingkan wajahnya ke arah yang lain.
Ia hanya mengenali Caleb di ruangan itu tapi entah mengapa namanya tidak muncul dalam pikirannya bahkan hingga saat ini. Lalu siapa semua orang di hadapannya sekarang? Siapa pria berambut putih di sampingnya itu? Mengapa auranya terasa mencekam? Bulu kuduknya berdiri. Ia gemetar.
Dari arah depan ia melihat orang lain lagi sedang menyapa para tamu undangan di dalam ruangan itu. Lalu setelahnya ia mempersilakan pria dengan kuncir itu untuk memulai presentasinya. Pria di samping kanannya berdiri lalu dengan langkah mantap maju ke area depan panggung. Pria itu mengambil microphone dan mulai mengatakan sesuatu. Entah mengapa kata-kata awal pria itu terdengar samar-samar di telinga wanita itu. Hingga telinganya kembali bisa mendengarkan dengan jelas, pria itu sudah sampai di bagian tengah sambutannya.
Layar LCD di depan panggung tiba-tiba sudah menyala dan menampilkan gambar-gambar berwarna-warni. Sinarnya sungguh membuat matanya silau. Ia menutup matanya dengan sebelah tangannya. Dan tiba-tiba saja layar berubah menjadi putih dengan sebuah tulisan besar di atasnya “Memory Bank”. Begitu tulisan itu muncul pria itu berteriak.
“MEMORY BANK!”
Seketika ruangan riuh dengan tepuk tangan. Saat semua orang bergembira mengapa Angelica merasa perasaannya tidak enak. Kepalanya terasa berat dan berputar sekarang. Bahkan telinganya berdengung. Ia memegangi kepalanya yang berputar dan menjambak rambutnya ketika suara pria itu terus bergaung di telinganya. Ia berteriak dengan kencang.
Tiba-tiba situasi yang dilihatnya itu berubah.
Ia terbangun dalam posisi duduk di dalam sebuah ruang kerja dengan sebuah komputer besar dengan logo apel tergigit di belakangnya. Nafasnya tersengal-sengal dan detak jantungnya tak karuan. Ia mengambil pena di tangannya bermaksud menuliskan sesuatu. Tapi ia kehilangan kata-katanya. Tatapannya sekarang tertuju pada layar monitor di hadapannya.
Ia mengambil mouse di pinggir komputer itu lalu menekan sebuah tombol tertentu. Layar di hadapannya muncul sebuah kotak dialog dan ia menekan tombol berwarna hijau. Ia bisa merasakan degupan jantungnya kembali berdegup kencang seperti tadi. Ia menutup matanya sejenak, merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba ada sesuatu yang menutupi pandangannya. Gelap!
Tiba-tiba situasi yang ia alami berubah kembali.
Kali ini terasa lebih mencekam dan menakutkan. Aura membunuh ada di sekitarnya. Ingin rasanya ia lari, tapi ia tidak bisa. Ia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya tapi ia tidak bisa bergerak. Ia tahu tubuhnya sekarang seperti diikat dalam sebuah ranjang. Ia tidak dapat membuka matanya karena matanya seperti ditutup dengan sesuatu. Ia ingin berteriak meminta tolong tapi mulutnya seperti tersumpal sesuatu. Ia tak berdaya.
Ia meronta-ronta tapi tak ada satu orang pun yang ada di sana. Sekian lama ia berada dalam situasi menyesakkan itu, akhirnya ia menangis karena frustasi. Ia tidak tahu situasi apa yang sedang dihadapinya saat ini dan cerita apa yang akan ia alami berikutnya. Ia sungguh takut, sangat takut.
Hingga terdengarlah suara derap langkah di telinganya, Ia menahan isak tangisnya dan mengumpulkan harapannya. Ia hanya berharap siapapun yang datang adalah untuk menyelamatkannya.
Seseorang tiba-tiba membuka penutup mata dan sumpalan di mulutnya. Ia terkejut melihat kedatangan pria yang wajahnya tidak bisa ia lihat itu. Tapi gadis itu bisa merasakan bahwa aura mencekam ada di sekitar pria itu. Ia menjadi takut, sangat takut.
“TIDAK… TIDAAKK… AMPUNI AKU! AKU TIDAK AKAN MENGULANGINYA LAGI.” Ia hanya mampu meneriakkan kata-kata itu. Tapi para pria di hadapannya tidak menggubris ucapannya. Bahkan mereka terlihat tertawa di tengah tangis dan ratapannya.
Ia menangis, berteriak dan memohon hingga suaranya terdengar serak dan ratapannya terdengar begitu memilukan tapi semua orang tertawa. Pria berambut putih itu tertawa sekuat tenaga hingga akhirnya ia berhenti.
“BUNUH DIA!” satu perintahnya membuat gadis itu makin ketakutan. Tangannya ditarik dengan kasar oleh seseorang dan sebuah jarum suntik mengenai tangannya.
“TIDAAKKK…. TI…. DAK…”
Wanita itu tiba-tiba tersadar dari mimpi buruknya. Seorang perawat yang sedang mengganti infusnya terlihat terkejut melihat pasiennya bangun tiba-tiba. Tangan perawat itu tiba-tiba dicekal si pasien kuat-kuat di saat wanita itu sedang tertidur. Kini gadis bermata biru itu bangun dengan nafas terengah-engah, peluh bercucuran dari atas kepalanya dan mata yang berkaca-kaca. Terlihat jelas ia terbangun dengan ketakutan akibat mimpi buruknya.
“Aku di mana? Aku di mana?” tanyanya dengan penuh ketakutan dan panik yang luar biasa. Perawat yang terkejut itu pun berusaha menetralkan perasaannya sebelum menjawab pertanyaan si pasien.
“Anda sudah siuman, Miss Douglas? Sekarang Anda tidak perlu kuatir, Anda berada di rumah sakit,” ucapnya dengan sopan dan dengan nada yang meneduhkan agar wanita itu tidak panik.
“Rumah sakit? Rumah sakit…” Esther terus mengulang kata-kata itu. Entah mengapa ada seberkas trauma yang memenuhi pikirannya saat ini. Ia merasa tidak nyaman dengan semua yang ada di hadapannya sekarang.
“Dan siapa kalian?” tanya Esther dengan nada bingungnya. Perawat itu jelas heran dengan pertanyaan wanita yang baru siuman ini.
“Kami akan merawat Anda hingga sembuh, kenalkan nama saya Cally,” sapa perawat itu sambil menyurungkan tangannya. Tapi wanita itu bukannya menyambut uluran tangan itu, ia menampiknya seolah perawat itu adalah musuhnya.
Tanpa mempedulikan situasi, ia bangkit berdiri dari ranjangnya. Tapi kepalanya terasa begitu berat dan kakinya terasa begitu lemas. Perawat itu terkejut dengan tindakan tiba-tiba Esther.
“Anda belum boleh bangun, kondisi Anda belum pulih!” seru perawat itu sambil membantu Esther untuk kembali ke atas ranjangnya. Tapi Esther menepis tangan perawat itu. Ia sungguh tidak merasa nyaman dengan semua yang terjadi sekarang. Ia melepas selang di hidungnya lalu menarik keras selang infus yang menancap di lengannya dan seketika pipa infus di tangannya terlepas.
“Miss jangan pergi! Anda masih belum pulih.”
Pikirannya sekarang dipenuhi dengan keinginan untuk segera pergi dari tempat menyesakkan itu. Ia sungguh takut akan apa yang terjadi berikutnya.
“Miss Douglas, saya mohon Anda kembali ke ranjang Anda.”
“Minggir! Jangan halangi aku!”
Perawat itu terus berusaha menghalanginya tapi Esther mendorong tubuh perawat itu.
“Miss Douglas…”
“PERGI!” Esther menghardik keras perawat itu dan ia mendorong keras tubuh perawat itu hingga kepalanya membentur pinggir ranjang dan tak sadarkan diri.
***
Nico mengambil langkah lebar ke pavilion bougenville. Ia ingin memastikan kondisi Angelica. Sesampainya di kamar wanita itu, ia menarik tuas pintu kamar lalu melangkah masuk. Tapi ia begitu terkejut ketika ia melihat seorang perawat tidak sadarkan diri di pinggir ranjang, kamar yang kacau balau dan yang paling penting pasien wanitanya tidak ada di kamarnya.
Ia bergegas membangunkan perawat itu.
“Cally! Cally!” ia menepuk-nepuk pipi perawat itu hingga akhirnya matanya terbuka. Cally mendengar suara Nico dan ia begitu terkejut menyadari pasiennya menghilang. Ia ingat apa yang terjadi hingga ia pingsan di pinggir ranjang.
“Di mana pasiennya?” tanya Nico dan Cally nampak terlihat panik.
“Tadi dia ada di sini lalu memaksakan diri untuk berjalan dan ia memaksa untuk keluar kamar.”
“Apa? Keluar kamar???”
Nico bergegas berdiri dan mencari pasien wanita itu. Wanita itu belum pulih betul dan ia takut jika sesuatu terjadi padanya. Ia memutuskan untuk mencari wanita itu sebelum segala sesuatu berubah menjadi buruk.