“Iya. Baru cere beberapa bulan yang lalu, hm … enam or tujuh bulan. Haha … bareng lo putus ma Geo,” ujar Tesa lagi. “Ha?” Icha lalu menertawai nasibnya yang telah putus dari Geo. “Bisa bareng gitu ya,” gumam Tesa disertai tawa ringannya. “Yah … iseng-iseng berhadiah.” Tesa melirik wajah cantik Icha. Icha akhir-akhir ini sangat serius dengan kuliahnya. Apa karena dia semangat dibimbing Pak Dosen yang ganteng? Icha padahal sering mengeluh soal Geo dan sekarang dia sudah tidak peduli lagi. “Hm … jangan-jangan lo semangat juga dibimbing Pak Andra.” “Iya, semangat dong. Lagi pula dia sangat responsive, dan nggak kejam seperti yang lo bilang.” Tesa memandang Icha dengan perasaan iri. Bukan iri Icha dibimbing pria ganteng, tapi Tesa iri kepada Icha karena proses bimbingan skripsinya yang sa

