“Jangan terus-terusan bikin naik darah dong, sekali-kali ajak naik pelaminan kek.”
----
“Masuk.” Bella mempersilakan orang yang mengetuk pintu.
“Ini saya, Miss.” Ternyata Devon yang mengetuk pintu. Anak yang sudah membuat Bella pusing di hari pertama mengajarnya.
“Kamu tau kenapa saya minta kamu menemui saya sekarang?” Bella melepas kacamatanya dan menatap Devon serius.
“Mungkin, Miss kangen sama saya,” jawab Devon sambil mengangkat bahu.
Bella membuang napas kasar. Ia kehabisan akal menghadapi anak nakal seperti Devon. “Devon saya serius!” bentak Bella. “Kamu tau kalau nilai kamu di pelajaran saya kosong semua?” Bella menyerahkan absensi nilai kepada Devon.
“Ya terus kenapa, Miss?” Devon dengan santainya bersandar pada bagian belakang kursi yang empuk.
“Kamu harus kerjakan semua tugasnya, Devon. Kamu itu udah kelas dua belas. Apa kamu gak mikir, gimana nanti kalau nilai kamu masih kosong begini? Kamu di sekolah ngapain aja sih? Ya minimal kamu salin dari temen kamu lah, daripada kosong begini, ada satu yang diisi pun nilainya gak manusiawi.” Bella menunjuk absensi yang terletak di atas meja.
“Miss, nyontek kan gak boleh, itu cikal bakal korupsi lho, Miss. Emang, Miss ini mau menciptakan calon koruptor buat masa depan?”
Gaya bicara anak itu sudah seperti orang benar saja. Padahal, mengerjakan tugas atau bahkan sekedar masuk di jam pelajaran saja malas.
“Devon! Bukan itu maksud saya! Ya setidaknya, kamu bertanya pada yang lain. Lama-lama saya pusing ngadepin kamu.” Bella menggelengkan kepala.
“Miss jangan mikirin saya makanya, biar gak pusing,” jawab Devon enteng.
“Sabar, Bella sabar! Dasar anak alien!” batin Bella.
“Oke enough! Back to topic, kenapa saya panggil kamu? Bu Aini minta kamu kerjakan semua soal ini, yang dari dulu gak kamu kerjakan sama sekali.” Bella berbicara dengan penuh penekanan.
“Tapi, Miss, saya--“
Bella memotong pembicaraan Devon. “Jangan membantah! Dalam waktu satu minggu kamu harus mengerjakan semuanya!” Gadis itu kehilangan kesabarannya.
“Miss, saya kan gak bisa.” Devon menunduk lesu. Anak yang sejak tadi sibuk menyangkal pembicaraan guru magangnya itu, kini hanya bisa menunduk pasrah mendengar keputusan Bella.
“Saya bilang jangan menyanggah dulu, Devon. Saya yang akan bantu kamu! Setiap jam istirahat temui saya di sini! Tanpa bantahan! Tanpa alasan!” Emosi Bella memuncak.
“Tapi, Miss. Masa saya gak ada istirahatnya?” Devon tak terima dengan keputusan guru magangnya itu.
“Memangnya saya juga gak kehilangan waktu istirahat saya? Saya juga sama, Devon! Waktu istirahat saya di pakai buat ngajarin anak nakal macam kamu! Memangnya saya gak keberatan?” Bella menggebu-gebu.
Devon kini hanya terdiam melihat guru magangnya yang sudah kehilangan semua kesabarannya.
“Gini ya, Devon! Nanti saya ujian di kelas kamu. Dan saya gak mau nilai ujian saya rendah karena di kelas yang saya pegang ada anak yang bermasalah macam kamu! Kalo kamu gak mikirin nasib kamu, ya terserah! Tapi setidaknya, kamu mau bekerjasama! Saya gak mau, nanti nilai saya cacat dan harus mengulang gara-gara satu orang murid! Saya lebih baik menghadapi seribu murid daripada harus berurusan sama satu orang murid seperti kamu!” Bella mulai berkaca-kaca. Setegas apapun ia, tetap saja sisi perempuannya keluar di saat seperti ini. Perempuan akan menangis ketika menghadapi sesuatu yang sangat menjengkelkan.
Devon masih menunduk. Ia tak berani bertatap muka dengan gadis di depannya yang tengah terbakar emosi.
“Kamu peduli atau enggak! Kamu suka atau enggak! Kamu harus tetap temui saya setiap istirahat pertama di sini! Besok mulai mengerjakan semua tugasnya sampai seminggu ke depan! Terimakasih atas kekacauan yang anda buat dalam pelajaran saya! Sekarang silakan meninggalkan ruangan ini!” Bella menyeka air mata yang tanpa ia sadari sudah hampir mengalir di pipinya.
“Baik, Miss.” Devon berdiri. Namun, bukannya meninggalkan ruangan, anak itu malah menghampiri Bella dan mengelus bahu gadis itu mencoba menenangkan.
Bella sontak kaget dengan perlakuan muridnya itu.
“Miss, jangan nangis dong, saya kan jadi gak enak. Iya deh saya mau. Soalnya, saya gak mau liat perempuan nangis. Apalagi gara-gara saya.” Devon masih menepuk bahu Bella.
“Oke kalau kamu gak mau saya nangis, kamu harus kerjain tugas kamu yang dulu dan kerjakan semua tugas sampai saya selesai magang!” Bella mengusap air matanya dan agak gugup karena terlihat cengeng di depan murid nakalnya itu.
Devon membentuk tangannya hormat dan Bella terkekeh melihat muridnya itu. Murid nakalnya yang ganteng.
“Terus kenapa kamu masih di sini? Kamu gak denger bel masuk?” Raut wajah Bella kembali serius.
Devon menggaruk tengkuknya dan terkekeh kemudian menyeka sisa air mata di pipi Bella bersamaan dengan masuknya teman-teman magangnya yang baru saja kembali dari kantin.
“Ekhm... Yang gak ke kantin tapi malah ehem-ehem sama ehem,” sindir Gita yang notabene sahabat Bella sambil melirik ke arah Devon yang nyengir kuda karena tertangkap basah memperlakukan guru magangnya dengan manis.
“s**l!” Bella menatap Gita tajam.
Devon yang menyaksikan pertengkaran kedua guru magangnya itu tertawa kecil dan kemudian pamit. “Permisi, Miss, Bu.” Anak lelaki itu meninggalkan ruangan dan masih tertawa hening, hanya bahunya yang terlihat naik turun.
“Hutang penjelasan dua kali.” Gita membereskan buku di atas mejanya dan bersiap mengajar kembali. “Lo ngajar kelas apa, Bel?”
“Gue gantiin Alan ngajar biologi. Gak nyambung kan? Inggris ke biologi? Kenapa harus gue? Padahal, ada yang lain,” gerutu Bella. Emosinya yang tadi masih belum reda.
“Itu namanya jodoh. Udah terima aja. Oh iya, secepat itu lo move on dari Alan? Dan malah ngecengin degem,” tawa Gita.
****
“Oh, Bella. Kamu gantiin Alan ya?” Bella bertemu Pak Wira di koridor dan diajak langsung ke kelas yang akan diajarnya menggantikan Alan untuk sementara. “Kamu sama Alan gimana? Sudah menikah ya?” Pertanyaan Pak Wira menyentak Bella.
Hubungan Bella dan mantannya, Alan memang sudah terjalin sejak mereka duduk di bangku SMA. Jadi, wajar saja jika guru yang mengajar mereka dulu masih menganggap mereka masih memiliki hubungan.
Sebelum ia menjawab, mereka sampai di kelas. Ia melangkah lesu di belakang Pak Wira saat mengetahui bahwa kelas yang akan diajarnya adalah kelas yang sama seperti tadi pagi. 12 IPA 2.
“Siang, anak-anak. Kalian sudah kenal, kan siapa di samping saya? Beliau yang akan mengajar biologi kalian hari ini, menggantikan suaminya yang berhalangan hadir.” Penjelasan Pak Wira mengejutkan Bella lagi. Kini, matanya membulat sempurna.
“Jadi, Miss Ara udah nikah?”
“Yah dikira single.”
“Hilang harapan.”
Celetuk murid-murid lelaki dan seketika kelas menjadi riuh dengan ocehan-ocehan mengenai status Bella.
Setelah Pak Wira meninggalkan kelas, Bella langsung berbicara mengenai pelajaran dan membuat murid-murid melupakan masalah statusnya.
****
Bella meneguk es jeruknya hingga habis. Hari ini cukup melelahkan baginya, terlebih belum ada asupan makanan yang masuk ke perutnya sejak pagi. Maka, di istirahat kedua, ia langsung menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sudah tak bisa diajak kompromi lagi.
“Kak Bebel!” Seseorang menepuk pundak Bella membuat gadis itu berbalik dan menutup ponsel yang sedang dimainkannya.
“Eh, Syifa.” Bella tersenyum tipis saat mengetahui yang memanggilnya adalah Syifa, sepupunya. Karena, memang hanya Syifa yang memanggilnya Bebel.
Syifa yang memposisikan duduk di samping Bella itu kemudian tertawa sehingga Bella mengernyit heran sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Syifa. “Lo kenapa, Fa? Kesurupan?”
“Gue lucu aja, Kak. Pas tadi Pak Wira bilang lo istrinya Kak Alan.” Syifa masih terbahak.
“Pak Wira main ngambil kesimpulan aja. Sebel gue!” Bella mengerucutkan bibirnya. “Eh udah gak usah bahas Alan. Gue mau makan nih, ntar gue mual dan kehilangan selera makan,” ujar Bella saat pesanan makanannya datang.
“Kalian emang couple goals, Kak. Gue aja iri liat keserasian lo sama Kak Alan.” Syifa membuka suara lagi setelah tahu Bella sudah menghabiskan makanannya.
“Masalalu, Fa.” Bella menunduk lesu. “Lo gak makan?” Bella mengalihkan pembicaraan.
“Gak, beli pop ice aja nih.” Syifa menunjukkan pop ice cokelatnya.
“Oh ini, Fa. Gue mau nanyain soal Devon, anaknya gimana sih?”
“Ih, Devon ya? Emang ngeselin gitu, Kak. Sering bikin masalah sama guru! Nyebelin deh pokoknya! Kakak mesti eksta sabar menghadapi anak kayak dia!” Syifa menggebu-gebu membeberkan segala kejelekan Devon.
“Udah gue duga! Hari pertama aja gue udah dibikin stress sama anak itu.” Bella membayangkan kejadian beberapa jam lalu.
“Iya emang. Devon itu ngeselinnya super, Kak.” Syifa menggeretkan giginya.
“Ngatain gue terus, Siput!”
Devon yang baru masuk ke kantin dan mendengar Syifa sedang menjelek-jelekan dirinya langsung menoyor kepala gadis itu dari belakang.
“Kurang ajar! Sini lo, Alien! Kalo berani jangan main belakang!” Syifa menggebrak meja dan berdiri. Sedangkan, Devon hanya tertawa dan duduk bersebrangan dengan gadis itu.
“Siput, kalo marah sambil diri, kalo duduk gitu mana serem?” Devon meledek postur tubuh Syifa yang memang kecil diiringi tawa teman-temannya. Esa, Restu dan Fandi yang terkenal sering membully Syifa di kelas.
Syifa mengerucutkan bibirnya dan kembali duduk, tidak ada gunanya terus berdebat dengan Alien Squad seperti mereka.
“Tuh, Kakak liat kan gimana kelakuannya?” Syifa menunjuk ke arah gerombolan lelaki itu.
“Ngadu terus!” teriak Devon dari seberangnya. Ternyata, anak itu mengetahui Bella yang duduk bersama Syifa. Namun, tak menghalangi kejahilannya.
“Devon! Syifa ini teman kamu! Gak baik bully-bully kayak gitu!” bentak Bella.
“Saya gak punya temen liliput kayak si Siput itu!” Squad itu kembali tertawa.
“Jangan banyak gaya! Nilai pikirin!” bentak Bella lagi sebelum meninggalkan kantin dan sempat melirik tajam ke arah Devon.