03. Bella's Ex

1113 Words
"Kertas yang sudah lecek itu gak layak dipakai lagi. Kayak cinta. Kalo udah lecek gak bisa dipertahanin lagi, harus diganti sama yang baru.” ---- Bella tergesa-gesa menuju kantin sebelum ia memberikan private kepada Devon. Perutnya mesti disejahterakan sebelum berhadapan dengan anak lelaki itu. Karena menurutnya, berurusan dengan Devon itu menguras banyak tenaga. "Bel, thanks ya kemarin udah gantiin aku." Lelaki yang diketahui bernama Alan itu merangkul Bella yang sedang mengantri membeli makanan. "Sama-sama. Syukur lo udah sembuh! Jadi gue gak repot lagi!" Bella menyingkirkan tangan Alan yang masih mencengkram bahunya. Ia risih dengan perlakuan Alan. Selain lelaki itu mantannya, lingkungan sekolah juga tidak tepat dengan perlakuan Alan padanya. Namanya Xavier Alano, lelaki blasteran Perancis-Indonesia yang merupakan mantan Bella. Biasa dipanggil Alan atau ia yang menginginkan panggilan tersebut, karena aksen orang-orang yang menyebutkan Xavier bukan Za-vye, melainkan Savier. Nama yang merepotkan, begitu kata Bella setelah mereka putus. Bahkan, Bella pun menyebut lelaki itu gado-gado. Saat pacaran sayang-sayangan, setelah putus malah memaki. Bukan tanpa alasan Bella berlaku demikian. Alan itu cinta pertamanya dan mereka sudah berpacaran selama hampir lima tahun dan kandas begitu saja dua bulan lalu. Tidak mudah bagi Bella melupakan lelaki itu. Makanya, ia mencoba membenci dan menghindarinya agar lebih cepat melupakannya. Ia tak peduli bila disebut childish. Karena, yang mengerti permasalahannya hanya ia sendiri. Orang lain hanya menilai dan mencibirnya. Bella segera meninggalkan kantin setelah membeli makanan. Namun, langkahnya tertahan karena Alan menangkap lengannya cepat. "Alan, lepasin gue! Gue sibuk!" Bella mencoba melepaskan genggaman Alan. Namun, lelaki itu mencengkram lengannya begitu keras. "Bel, maafin aku. Aku sayang sama kamu. Please dengerin aku dulu." Alan mencoba menatap wajah Bella yang terus berpaling. Bella melepaskan genggaman Alan dengan bantuan tangan kanannya. Kemudian, kehadiran Devon saat itu seperti dewa penolong bagi Bella. "Oy, Devon! Nyari saya ya? Yuk! Maaf lama." Bella segera menarik lengan anak lelaki yang baru muncul di kantin dan mengajaknya keluar cepat. "Kok udahan, Miss?" tanya Devon. Lengannya masih digenggam Bella. Bella mengernyit mendengar pertanyaan Devon dan menatap anak itu meminta penjelasan lebih. "Tadi, dramanya. Lumayan kan tontonan gratis," jawabnya polos. Tentu saja Bella sangat kesal mendengar perkataan Devon. Wajahnya berubah merah padam. "s****n!" "Lho, itu kan suami Miss?" Lagi-lagi, Devon membuatnya kesal. Mengapa anak itu selalu berbicara yang tidak-tidak. Benar saja, energi Bella sudah hampir habis bahkan sebelum membimbing anak itu. "No! Dia mantan saya, kita pacaran dari SMA dan guru-guru tau hubungan kita. Jadi wajar kalo mereka mikir ke arah situ,” tutur Bella lesu. "Ah kenapa saya jadi curhat sama kamu? Udah nih kerjain!" Bella menyodorkan kertas tugas pada Devon. "Miss, ini gimana?" Devon mengacak rambutnya dan menggigiti bolpoinnya. Anak dengan paras nyaris sempurna seperti Devon sangat tidak sesuai kenyataan otaknya yang enggak banget. Sepertinya, first impression akan menipu kalian saat bertemu Devon. Seperti halnya yang terjadi pada Bella. "Itu kan ada buku paket, Devon. Kamu baca dulu sih, saya mau koreksi tugas dulu!" jawab Bella ketus. Devon membaca buku paketnya dengan serius, terlihat dari dahinya yang mengerut. Sepertinya, anak itu memang kesulitan dalam pelajaran bahasa inggris. Diam-diam, Bella memperhatikan ekspresi anak lelaki itu, seluruh koreksiannya selesai dan kini ia hanya sibuk melihat detail wajah Devon. Alis tebal, hidung mancung, kumis tipis, rahang tegas dan bibir merah muda. Tatapan Bella tak berpindah dari bibir Devon, gerakan bibir anak lelaki yang tengah kesulitan membaca itu menarik perhatiannya. Ia mengagumi anak lelaki yang jika tidak memakai seragam putih abu tampak seperti lelaki dewasa. Namun, kesadarannya kembali setelah mengingat bagaimana anak lelaki itu membuatnya jengkel, terlebih lagi Devon kurang pandai dalam pelajaran yang ia ajar. Bahkan, bukan kurang lagi tapi memang tidak pandai. Bella menggelengkan kepalanya, melawan semua khayalannya tentang Devon. Anak lelaki itu tak boleh menarik perhatiannya. Devon biar hanya menjadi anak yang menyebalkan dan tidak menambah beban pikirannya dengan hal lain. "Miss, kenapa geleng-geleng?" tanya Devon melihat tingkah guru magangnya itu. "Saya cuma agak pusing,” kilah Bella. “Gimana? Kamu bisa?" Bella memeriksa lembar jawaban Devon sambil membungkuk dan jika menoleh langsung mengarah pada d**a bidang Devon. Satu lagi, yang membuat khayalan Bella kembali, wangi parfum anak lelaki itu khas sekali, menenangkan saat dihirup, refleks Bella memejamkan matanya menikmati wangi anak lelaki itu. Bella kembali menyayangkan mengapa Devon menjadi senakal itu dengan tampangnya yang luar biasa itu. Terlebih anak itu lemah dalam pelajaran bahasa inggris, pelajaran yang menjadi kesukaannya sejak kecil. "Gimana, Miss?" Suara Devon kembali menyadarkan Bella yang sedang terbang dengan khayalannya. Alhasil, kepala Bella sukses membentur d**a bidang Devon dan di waktu yang bersamaan Alan masuk ke ruangan itu dan melihat kejadian yang akan membuat orang yang melihatnya berpikiran macam-macam. "Bella!" Suara bariton milik Alan menyentak mereka berdua. "Oh, jadi ini alasan kenapa kamu gak mau balikan sama aku?" Tatapan tajamnya mengarah pada Devon. "Apa? Kamu mau mikir apa? Kamu pikir aku lagi ngelakuin apa yang kamu lakuin dulu? Aku gak serendah itu ya, Alan. Memangnya kamu yang melakukan itu jelas di depan muka aku!" Bella menunjuk wajahnya sendiri dan menghampiri Alan yang masih berdiri di dekat pintu. Sedangkan, Devon mematung di tempatnya, menyaksikan kedua guru magangnya yang tengah memperdebatkan sesuatu yang sama sekali tak ia mengerti. "Pak, maaf bukannya saya lancang, tapi, tadi Miss Ara lagi periksa tugas saya, gak lagi macem-macem kok." Kini, Devon membuka suara dan mencoba menyimpulkan apa yang didengarnya. "Diam kamu!" bentak Alan pada Devon. "Kamu yang diam!" Bella balas membentak Alan. "Yang dibilang Devon bener, aku jadi pembimbing dia!" "Oh jadi kamu belain dia?" Alan menunjuk Devon tepat di wajahnya. "Pembimbing? Jadi, sekarang kamu lebih suka anak ingusan yang minus di pelajaran yang kamu ajar? Selera kamu serendah itu ya sejak putus dari aku!" Alan menatap Devon dengan tatapan meremehkan. "Alan stop! Sikap kamu gak pantes buat seorang pengajar. Ini, satu hal yang aku butakan dulu, Alan yang pintar, aktif, terkenal dan selalu menjadi pemimpin. Ternyata, tak lebih dari seorang lelaki angkuh. Lan, sehebat apapun orang, akan terlihat rendah saat ia menganggap rendah orang lain. Terlebih dia murid kamu! Ini sosok guru yang patut di contoh?" Bella masih mengamuk di depan Alan dengan suara bergetar. "Terimakasih pujiannya, Pak! Saya sangat tersanjung dengan kata-kata Bapak Alan yang terhormat!" sindir Devon sambil berjalan keluar ruangan karena bel tanda masuk sudah berbunyi. Alan mengepalkan tangannya mendengar sindiran Devon. Baru beberapa langkah, anak itu kembali lagi, "Oh iya, Miss. Saya akan kerjakan ini di rumah. Saya janji besok sudah selesai. Permisi." Devon tersenyum ke arah Bella. Senyuman Devon membuat hati Bella menghangat, emosinya perlahan turun. Ia segera menyiapkan buku-bukunya dan bersiap kembali mengajar dan meninggalkan Alan yang masih mematung. Emosinya masih memuncak, terlihat dari gerakan dadanya yang naik turun dengan cepat. d**a yang dulu menjadi tempat bersandar Bella di saat ia bersedih dan kini ia bahkan tak ingin berada di dekat lelaki itu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD