Sepulang dari kantor, aku dan Farhan pergi bersama ke rumah orang tua Farhan untuk merayakan ulang tahun pernikahan beliau. Setelah melewati drama perdebatan tentang siapa yang akan memilih kado, akhirnya aku mengalah, meluangkan jam kantorku untuk pergi ke mall membeli hadiah. Selain karena Farhan yang enggan repot mencari hadiah untuk orang tuanya, aku juga tidak percaya dengan pilihannya. Selera Farhan itu termasuk norak menurutku. Daripada, membuat malu, lebih baik aku sendiri yang turun tangan untuk membeli kado pernikahan mertuaku. Sesampainya di rumah mertuaku, seperti biasa aku disambut dengan baik oleh keluarga Farhan. Inilah menyenangkannya jadi menantu kesayangan keluarga Abasstiawan. Semua orang di keluarga ini memperlakukanku layaknya ratu – yang terkadang membuatku tidak ena

