Pak Farhan menyusulku ke rumah begitu jam pulang kantor tiba. Aku memang sengaja pulang cepat-cepat saat jam pulang kantor tiba. Aku malas berpapasan dengannya di lift. Aku juga yakin ketika kami berpapasan Pak Farhan pasti akan memaksaku untuk pulang bersamanya. Keputusanku soal perpisahan kami adalah hal yang paling benar. Aku tidak mau menanggung rasa sakit lebih lama lagi dengan berhubungan dengannya. Walaupun ini agak menyakitkan di awal, tapi aku yakin lama-lama aku akan terbiasa. “Ginaya, tunggu saya!” Pak Farhan berhasil menahan lenganku yang baru saja keluar dari taksi dan buru-buru mau masuk ke rumah. Aku menarik napas panjang. Mau apa lagi sih dia? “Kamu harus dengerin penjelasan saya dulu. Kamu ngga bisa meninggalkan saya begitu saja Naya! Tidak bisa! Saya tidak akan mem

