"Tumben kamu bangun pagi." Mama menatap heran ke arahku yang pagi ini bangun lebih dulu dari orang-orang. "Bangun siang ngomel, bangun pagi juga ngomel. Serba salah deh jadi Naya." Aku mendengus. "Mama kan cuma bilang tumben kamu bangun pagi, siapa yang ngomel." "Tapi nada Mama tuh nyebelin, kek sinis gitu." Mama mengibaskan tangannya. "Ada apa kamu tiba-tiba bangun jam segini?" Aku menyengir. "Mau masak." Mama seakan tak percaya mendengar jawabanku. "Kamu yakin mau masak? Emang mau ditunjukkin ke siapa sih, sampe bela-belain masak pagi gini." "Naya lagi pengin bawa bekal aja." Sebenarnya alasanku masak adalah karena Farhan. Hitung-hitung sebagai tanda damai untuk hubungan kami berdua. Kemarin, setelah perdebatan kami soal Karenina, aku mengatakan semua ketakutanku pada Farhan. Dia

