Hari ini Pak Farhan sudah mulai aktif bekerja kembali di kantor. Itu berarti sudah saatnya timku harus melepas kebebasan yang kami nikmati seminggu ini dan kembali ke rutinitas seperti biasa. Hari ini, Pak Farhan mengumpulkan tim accounting untuk briefing pagi membahas pekerjaan kami selama seminggu ini.
“Jadi, gimana pekerjaan kalian seminggu ini? Aman?” Pak Farhan memulai briefingnya.
Aku membuka suara, “Aman, Pak. Untuk agreement dengan pihak Y sudah siap, tinggal menunggu tanda tangan Bapak.”
Pak Farhan mengangguk-angguk, “Bagus. Yang lain?”
“Saya juga sudah menyelesaikan masalah ekspor tembakau tempo lalu, Pak. Semuanya aman.”
Kami satu persatu melaporkan hasil kerja kami pada Pak Farhan. Dia terlihat puas mendengar penjelasan kami. Tentu saja, kami bekerja dengan baik seminggu ini tanpa ada tekanan darinya. Pulang lebih awal dan tidak lembur membuat hasil kerja kami lebih maksimal.
“Rapat hari ini selesai. Silakan kembali ke tempat kerja masing-masing dan selamat bekerja.”
“Gila, hampir kena serangan jantung gue tadi.” Aris menyandarkan tubuhnya ke kursi begitu keluar dari ruang meeting.
“Yang penting semuanyan aman, kan? Sebenernya performa kerja kita bakal maksimal kalau setiap hari bisa pulang tepat waktu.”
Aku menyetujui ucapan Mbak Nindi. “Gue juga setuju, sih. Waktu istirahat kita jadi lebih banyak kalau bisa pulang tepat waktu.”
“Ya, itu kan maunya lo. Kayak ngga tau aja sifat Pak Farhan. Segala sesuatunya itu harus dipersiapkan dari awal, biar dapet hasil yang sempurna.”
“Dia waktu masih di dalem kandungan diajak ngidam apa sih sama nyokapnya. Sampe bisa gila kerja gitu,” celetuk Feni.
“Waktu bikin dia, ML-nya di kantor kali. Biar lebih hot,” celetuk Aris.
“Duh, otak lo pagi-pagi udah kotor aja.” Feni melempar kemoceng pada Aris, “Nih bersihin, biar ngga m***m lagi otak lo.”
“Ini tuh bukan m***m, tapi menyampaikan pendapat.”
“Iya. Pendapat m***m!” Feni mencibir.
“Udah, jangan bicara sembarangan di kantor. Ke-gap sama Bos baru tau rasa lo.” Aku menengahi percakapan, lalu bangkit dari kursi untuk pergi ke ruangan Pak Farhan.
“Mau kemana lo, Nay?” tanya Feni.
“Mau ke ruangan Bos. Muasin dia.” Aku mengedipkan sebelah mata genit.
“Duh, neng gelis omongannya. Kayak pernah ciuman aja sok-sokan mau muasin si Bos.”
Aku mencibir, “Dih, lo kira muasin apaan, hah? Gue tuh mau muasin dia sama hasil kerja gue. Nih.” Aku mengibaskan dokumen yang akan kubawa untuk ditanda tangani oleh Pak Farhan di depan wajah Aris.
“Mau ngejar predikat karyawan teladan bulan ini ya, Nay.” Mbak Nindi ikut menimpali.
“Gue sih mau-mau aja Mbak dapet predikat karyawan teladan, tapi kalau harus mengulur waktu buat ketemu jodoh gue, kayaknya engga dulu deh. Gue masih pengin punya pacar dan cepet nikah.”
“Duh, lo kayaknya ngebet banget pengin nikah deh, Nay. Dari kemarin bahasan lo jodoh mulu, ngga ada habis-habisnya.”
“Jelas dong, makanya bantu gue cari pacar, biar gue bisa cepet nikah dan terbebas dari sini.”
“Ehem.”
Jantungku hampir saja melompat ketika deheman Pak Farhan terdengar di belakang. Dia berdiri di depan pintu penyekat antar departemen dengan wajah datarnya.
“Itu dokumen yang harus saya tanda tangani?” Pak Farhan menunjuk kertas yang dipegangku. Kertas ini berisi dokumen yang memang akan kubawa ke ruangannya untuk ditanda tangani.
“Iya, Pak,” jawabku setengah berbisik.
“Bawa ke ruangan saya sekarang!” Setelah itu Pak Farhan berbalik, membuatku meringis mengekorinya masuk ke ruangan.
“Ini Pak, dokumennya.” Aku meletakkan dokumen itu ke atas mejanya, lalu berdiri di samping meja, menunggu Pak Farhan selesai menandatangani.
“Keliatannya kamu sedang sibuk mencari jodoh.” Pak Farhan membuka suara, membuatku meringis kecil menyadari bahwa Pak Farhan mendengar percakapanku dengan Aris tadi.
“Bukan begitu, Pak. Itu cuma candaan saya sama Aris,” sanggahku.
“Memangnya kamu tidak mau mencoba dengan saya?”
“Maaf, Pak?” Aku tidak mengerti maksudnya.
Namun, Pak Farhan hanya diam dan tidak menjelaskan ucapannya tadi. Dia seakan lupa pernah mengatakan sesuatu, membuatku gemas ingin mencekiknya. Tolong, ada yang bisa menerjemahkan kalimatnya tadi? Sepertinya aku butuh penerjemah setiap kali berbicara dengan Pak Farhan agar aku bisa langsung mengerti tanpa harus dijelaskan secara rinci olehnya.
“Kalau gitu saya permisi, Pak.” Aku memutuskan kembali ke ruangan setelah Pak Farhan selesai menandatangani dokumennya. Bodo amat dia bicara apa tadi, aku tidak mau memikirkannya.
Bos Galak : Lunch bareng, saya tunggu di lobi.
Kalian lihat sendiri tingkah Bosku yang tidak jelas ini. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya. Setelah tadi dia hanya diam, tak menjelaskan ucapannya yang bagiku masih ambigu, sekarang dia malah mengajakku makan siang bersama.
Ginaya P : Maaf Pak, saya sudah ada rencana lunch bareng sama temen saya.
Aku memang tidak sepenuhnya berbohong. Hari ini Salma akan datang ke kantorku untuk janjian makan bersama. Dia ingin curhat soal teman kencannya yang kemarin ditemuinya.
Bos Galak : Saya mau menjelaskan ucapan saya tadi.
Aku agak sedikit kepo setelah membaca pesan yang dikirimkan Pak Farhan, tapi aku berusaha untuk tidak peduli dan mengabaikan pesannya.
“Mau lunch bareng nggak, Nay?” Feni bertanya sambil membereskan mejanya ketika waktu istirahat tiba.
“Nggak dulu, deh. Hari ini gue ada janji sama Salma.”
“Ya udah kita duluan, ya. Yuk, Mbak.”
Aku melambaikan tangan ketika Feni dan Mbak Nindi keluar dari ruangan. Kini tinggal aku yang tersisa di dalam ruangan. Aris sendiri sudah lebih dulu keluar dengan temannya sebelum Feni dan Mbak Nindi.
Aku membereskan mejaku, berniat untuk menyusul mereka makan siang di bawah bersama Salma. Namun, baru saja akan berdiri meninggalkan kursi, Pak Farhan sudah ada di belakangku. Mau apa dia?
“Saya mau bicara sama kamu.”
Aku berusaha menghindar, “Kalau ini soal kerjaan, kita bisa bicarain nanti, Pak. Sekarang saya harus ke bawah dan menemui teman saya. Dia sudah menunggu.”
“Kamu tidak penasaran dengan maksud ucapan saya tadi?”
Oke, seharusnya sekarang aku tegas menjawab tidak dan segera pergi meninggalkan Pak Farhan. Namun, tubuhku menghianati otakku dengan tetap diam berdiri, menunggu Pak Farhan berbicara.
“Apa kamu ngga mau mencoba berhubungan dengan saya?” Kalimat yang meluncur dari mulut Pak Farhan berhasil membuat mulutku menganga. Dia bilang apa tadi? Tolong, bisa diperjelas tidak apa maksudnya?
“Maksudnya Bapak mau menyewa tubuh saya gitu? Mohon maaf ya, Pak, saya memang terlihat tidak laku, tapi saya tidak semudah itu menerima hubungan satu malam. Saya tid ….”
“Sssttt, diam dulu, dengarkan saya.” Pak Farhan menempelkan jari telunjuknya ke bibirku, menahanku untuk berbicara.
“Bukan itu maksud saya. Sekarang saya sedang mencoba membujuk kamu menerima pernyataan cinta saya.”
Kali ini aku tidak bisa menahan rasa terkejutku. Ini maksudnya Pak Farhan sedang menembakku sekarang? Bosku yang super galak dan sumber kesengsaraan dalam hidupku menyatakan perasaannya padaku? Ini aku benar tidak salah dengar kan? Memangnya kami pernah sedekat apa sampai aku bisa menarik perhatiannya?
“Bapak kalau bercanda suka kelewatan deh, Pak.” Aku mencoba menyangkal pernyataan cintanya tadi. Bisa saja kan ini hanya aka-akalan Pak Farhan membuat lelucon untuk mengerjaiku.
Namun, tidak ada reaksi tertawa yang kubayangkan jika ini memang sebuah lelucon. Pak Farhan masih bertahan dengan wajah seriusnya, membuatku menelan ludah susah payah.
Aku berdeham, menyusun kata yang akan kulontarkan pada Bosku. “Jadi ceritanya Bapak sedang menembak saya sekarang?”
“Ya!” jawabnya tegas.
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Jujur saja, ini sulit bagiku. Tiba-tiba menerima pernyataan cinta dari Bosku tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya. “Jadi begini, Pak. Bapak kan Bos saya di kantor, atasan saya langsung. Jadi saya berpikir aneh saja kalau tiba-tiba Bapak menyatakan perasaannya ke saya.”
“Apanya yang aneh?”
“Coba Bapak pikir sendiri, deh. Saya ini cuma karyawan biasa. Saya ngga punya kelebihan apa-apa yang bisa dijadikan alasan Bapak tertarik sama saya. saya cuma perempuan biasa, bahkan kalau dibandingkan dengan karyawan Bapak yang lain, saya kalah jauh. Saya terlalu biasa buat Bapak yang sempurna.”
“Saya mengerti keraguan kamu, tapi saya tidak bisa mengatur hati saya untuk jatuh cinta dengan siapa. Ini terjadi begitu saja dan saya baru menyadarinya sekarang.”
“Tapi kenapa harus saya, Pak? Kenapa bukan yang lain?” Aku menjerit setengah frustasi mendapat kejutan bertubi-tubi dari Bosku.
“Sudah saya bilang, saya tidak bisa mengatur hati saya jatuh pada siapa. Saya juga ngga tahu kalau pada akhirnya saya akan suka ke kamu. Itu semua di luar kendali saya, tapi ketika hati saya maunya kamu, saya bisa apa?’
Aku benar-benar tak bisa berpikir jernih sekarang. Otakku buntu dan tidak bisa bekerja sama. Mendapat pernyataan cinta dari Bosku – orang yang tak pernah aku duga sebelumnya benar-benar menguras kinerja otakku lebih dari saat menghadapi jurnal dan angka. Ini nggak mungkin, aku pasti Cuma mimpi kan?
Saat aku bingung harus berbuat apa, Tuhan mengirimkan pertolongan-Nya padaku lewat Salma. Ponselku berdering di tengah-tengah percakapan kami. Aku mengambil ponsel yang kuletakkan di atas meja dan mengangkat panggilan Salma.
“Iya halo Sal?”
“…”
“Iya ini gue masih di atas, bentar lagi otw kok.”
“…”
“Tunggu gue, lima menit lagi gue sampe.” Aku menutup panggilan teleponku dengan Salma, lalu menatap Pak Farhan yang masih menunggu jawabanku.
“Pak, saya harus ke bawah sekarang, soalnya temen saya udah nunggu dari tadi.”
“Terus, pembicaraan kita bagaimana?”
“Ah, itu, nanti kita bicarakan lagi, Pak. Saya pamit dulu.” Aku segera kabur dari hadapan Pak Farhan sebelum pria itu mencegahku untuk tetap di ruangan. Di dalam lift, aku memegang dadaku yang berdetak lebih kencang. Akhirnya aku bisa lepas juga dari situasi tadi.
“Gila, lo lama banget sih, Nay. Gue udah nungguin lo dari tadi, sampe jamuran badan gue.” Salma mengomel ketika aku sampai di kantin bawah dan menghampirinya.
“Sori, sori, tadi tuh ada masalah urgent yang harus gue selesain.”
“Lo lagi sibuk emangnya? Bukannya tanggal-tanggal segini harusnya longgar ya, buat departemen accounting?”
“Bukan masalah kerjaan, ini lebih penting dari itu.”
“Apaan sih, gue jadi kepo.”
Aku menarik napas panjang sebelum mengatakannya pada Salma. “Jadi tadi tuh, gue ditembak sama Bos gue di atas!”
Aku segera membekap mulut Salma ketika cewek itu akan berteriak. “Sumpah demi apa lo?!”
“Beneran, gue juga kaget banget tadi.”
“Terus terus, gimana?” Salma memajukan tubuhnya, menunjukkan gelagat bahwa dia tertarik dengan ceritaku.
“Gue belum jawab tadi, keburu lo telepon dan ngomel-ngomel.”
Salma mendesah kecewa, “Yah, gagal dong sahabat gue ngelepas predikat jomlo.”
“Daripada itu, gue bingung harus jawab apa.”
“Terima aja lah, apa susahnya.”
Aku menyentil dahi Salma, membuatnya mengaduh kesakitan. “Lo gampang banget, ngomong asal terima aja.”
“Ya lo mau cari yang kayak gimana lagi? Bos lo itu udah sempurna, ganteng iya, tajir iya, kurang apa lagi coba?”
“Masalahnya aneh aja ngga sih, tiba-tiba Bos gue bilang kalau suka sama gue. Padahal dia tuh ngga pernah nunjukkin gelagatnya kalau dia tertarik sama gue, tiba-tiba asal nembak aja.”
“Itu mah, lo-nya aja kali yang ngga peka, Nay. Lo kan orangnya gitu. Nggak pekaan. Mana sadar lo kalau Bos lo diem-diem merhatiin elo.”
Aku mendesah frustasi. Rasanya kepalaku mau meledak membahas ini. “Udahlah ngga usah dibahas, pusing gue lama-lama. Kita pesen makan aja yuk.”
“Lo jangan sampe melewatkan bujang tajir kayak Bos lo itu Nay. Pokoknya jangan biarin dia sampe lolos. Lumayan kan, nanti lo bisa menikmati hartanya kalau dia udah ngga ada.”
Aku menatap tak percaya pada Salma. “Sinting lo!”
***