Bagian 13 : Hutang Obligasi

1682 Words
 Aku langsung merebahkan diri di atas kasur sepulang kerja. Baru kali ini aku bisa pulang tepat waktu tanpa ada drama lembur. Andaikan saja setiap hari bisa begini, sempurna sudah hidupku. Kebahagiaanku juga bertambah karena di kantor tidak ada yang mengomeli. Sebenarnya ini terdengar sangat jahat sih, tapi aku sedikit bahagia dengan tidak adanya Bos di kantor. “Assalamualaikum.” Sayup-sayup aku mendengar suara seseorang dari arah depan. Sepertinya ada tamu yang berkunjung ke rumah. Aku bangkit dari kasur, berniat membuka pintu dan melihat siapa yang datang. “Waalaikumsalam.” Bisa kulihat Kak Ivana, Mas Arka, dan Arsya – anak laki-lakinya berdiri di depan pintu ketika aku membukanya. “Ontiii ….” Arsya langsung menghambur ke dalam pelukanku begitu melihatku. Aku menangkap tubuh mungilnya dan membawanya ke dalam gendonganku. Sudah lama sekali aku tidak melihat keponakanku yang lucu dan menggemaskan ini. “Hai, jagoan. Apa kabar? Onti kangen banget nih sama Arsya.” Aku mencium pipi kanannya yang gembul bergantian mencium pipi kirinya. “Arsya juga kangen sama Onti.” “Kalau kangen, cium dulu dong.” Aku mengetuk sebelah pipiku, mengisyaratkan Arsya untuk menciumnya. Satu kecupan berhasil aku dapatkan. Aku tersenyum gemas kemudian balik menciumi pipinya bertubi-tubi. “Mama mana, Nay?” Kak Ivana melihat sekeliling, mencari keberadaan Mama. “Oh, ada kok tadi di belakang. Masuk aja.” Kak Ivana dan Mas Arka masuk ke dalam rumah, langsung ke belakang untuk menemui Mama. Sementara aku membawa Arsya ke ruang keluarga untuk menonton televisi. “Onti kenapa ngga pernah main ke rumah Arsya? Arsya kan jadi ngga punya temen main di rumah.” Arsya mengerucutkan bibirnya mirip seperti ikan koi, membuatku tertawa gemas dan tidak tahan untuk tidak menciumnya. “Onti jangan cium-cium Arsya mulu. Kata Ibu guru cewek sama cowok engga boleh ciuman, dosa tahu.” Duh, sejak kapan keponakanku jadi sepintar ini. “Itu kalau Arsya ngelakuin sama temen Arsya. Ini kan Onti Naya, adiknya Bunda, berarti dia keluarganya Arsya, jadi boleh cium-cium.” Kak Ivana datang dan menjelaskan pelan-pelan ke Arsya. Di umurnya yang sekarang Arsya selalu ingin tahu banyak hal, jadi kita harus menjelaskan secara perlahan agar dia mengerti. “Oh gitu, berarti Arsya juga boleh cium nenek sama kakek dong?” Kak Ivana menjawil hidung Arsya, “Ya boleh dong, kan mereka nenek sama kakeknya Arsya.” “Asyik.” Arsya berteriak kegirangan. “Tadi siapa yang katanya mau cium nenek, ya?” Mama datang dari arah dapur disusul Mas Arka di belakangnya. “Arsya, Nek. Arsya.” Arsya melompat-lompat sambil mengacungkan jari, membuatku ikut-ikutan mengacungkan jari menirukan gayanya. “Onti Naya duluan, nanti Arsya ciumnya habis Onti.” Aku mendekat ke arah Mama, pura-pura ingin mencium pipinya untuk meledek Arsya. Bocah itu tidak terima lalu turun dari sofa menghampiri Mama. Tingginya yang hanya selutut membuat bocah itu hanya bisa memeluk kaki Mama sambil merengek minta cium sebelum keduluan olehku. Aku jail menahan lengannya agar tidak mencapai pipi Mama. Bocah itu merengek-rengek yang membuatku makin bersemangat menjailinya. “Kamu tuh, Nay. Jail banget sih. Sini cucu kesayangan nenek sun dulu, Onti Naya jail ya, udah jangan nangis lagi, cup, cup, cup.” Aku baru berhenti menjailinya saat tangis Arsya menggelegar memenuhi rumah. Aku tertawa. Seakan belum puas, aku berniat menjailinya lagi, namun langsung mendapat pelototan dari Mama. “Heran Mama sama kamu, tuh. Seneng banget jailin ponakan-ponakannya, sampe nangis gini, nih.” Mama menggendong Arsya sambil menenangkan bocah itu agar berhenti menangis. Aku hanya menyengir mendapat pelototan dari Mama. Kalau kata Kak Ivana dan Kak Gisel, aku itu balas dendam pada mereka karena sewaktu kecil kedua kakakku sering membuatku menangis, jadi sekarang aku melampiaskannya pada anak-anak mereka. Aku hanya tertawa mendengar tuduhan mereka. Hanya saja bagiku rasanya belum afdol kalau keponakanku belum menangis ketika main ke rumah. Itu kenapa aku suka sekali mengusili mereka. Kak Ivana dan Kak Gisel sendiri tidak keberatan, malah kadang mereka berdua menikmati, hanya saja Mamaku yang terkadang mengomel panjang jika aku mulai rusuh pada keponakanku. “Tumben kalian ke sini sore-sore gini, ada apa?” Mama menurunkan Arsya dari gendongannya ketika tangis bocah itu mereda. “Niatnya Nana sama Mas Arka mau titipin Arsya sebentar di sini, Ma. Soalnya kami mau dateng ke pesta ulang tahun temennya Mas Arka malam ini.” “Iya Ma. Kami mau bawa Arsya, tapi di sana pasti Arsya bakal rusuh,” tambah Mas Arka. “Oh, gitu. Ya udah gapapa kalian titipin aja Arsya di sini. Nanti biar Mama sama Naya yang jagain Arsya.”  “Makasih ya, Ma. Kalau gitu Nana sama Mas Arka berangkat dulu, takut kena macet.” Kak Ivana dan Mas Arka bangkit dari duduknya lalu berpamitan pada Mama dan aku.  Aku mengambil alih Arsya dari gendongan Kak Ivana. “Arsya jangan nakal, ya. Nurut kata nenek sama Onti Naya.” Arsya mengangkat tangannya, mengambil sikap hormat. “Siap Bun.” Mas Arka mendekatiku, beralih mengusap kepala Arsya lalu berpesan pada bocah itu, “Inget kata Bunda tadi. Ayah sama Bunda pergi dulu, ya.” Kami melambaikan tangan ke arah mobil Mas Arka yang sudah jauh meninggalkan halaman rumah. Setelah itu, aku dan Mama berbalik lalu membawa Arsya masuk ke dalam rumah. “Arsya mau main ke mall nggak?” tanyaku pada Arsya. Arsya berteriak kegirangan, “Mau Onti, mau.” Mama melotot ke arahku yang sengaja sekali kuabaikan. Aku sudah lama tidak menemani Arsya bermain di play group. Terakhir mungkin tiga bulan yang lalu. “Nggak ada ya, main ke mall. Di rumah aja.” Mama tegas melarang kami pergi keluar. Aku mendesah kecewa lalu membisikkan sesuatu pada Arsya untuk membujuk Mama. “Nek, Arsya mau main perosotan.” Mama menggerakan jari telunjukknya. “No, no. mainnya di rumah aja ya sayang. Ini udah malem.” Namun, semakin dilarang bocah itu makin merengek, membuat Mama mau tidak mau mengiyakan keingananya. “Kamu tuh, pinter banget ya kalau masalah ngehasut orang gini.” Mama melirikku sebal yang hanya kutanggapi dengan cengiran kuda. Kami memutuskan pergi ke mall terdekat dan membawa Arsya bermain di play group. “Kaki Mama tuh udah ngga kuat kalau dipake buat jalan-jalan gini. Udah sana kamu aja yang jagain Arsya Mama tunggu di restoran itu.” Aku mencibir, “Bilang aja kalau Mama laper, pake alasen kakinya udah ngga kuat dibuat jalan.” Mama menjewer telingaku membuatku mengaduh kesakitan. “Yang tadi ngajakin Arsya main ke sini siapa? Kamu kan? Ya sudah sana tanggung jawab jagain dia.” Mama mendorongku untuk masuk ke area play group dan mengawasi Arsya. Mau tidak mau aku harus menjaga bocah kecil itu. Lagipula ini ideku membawanya ke sini, jadi aku harus bertanggung jawab. Cukup lama Arsya bermain bolak-balik mencoba berbagai permainan di play group sampai aku yang mengawasinya bermain pusing mengikutinya kesana-kemari. Maklum saja, di umur segini Arsya memang sedang aktif-aktifnya. Dia sedang dalam masa pertumbuhan. Pola pikirnya sedang berkembang, keinginannya mencoba hal-hal baru membuat orang yang menjaganya harus sabar menghadapi dan menanggapi ocehan bocah kecil itu. “Onti, Arsya mau es krim.” Setelah lelah bermain dan mencoba banyak hal, kami berdua keluar dari area play group. Arsya langsung menunjuk salah satu kedai es krim yang dilihatnya dan merengek padaku untuk dibelikan es krim. Aku menggerakan jariku, melarangnya. “Ngga boleh, nanti Bunda sama Ayah bakal marah kalau tau Arsya makan es krim.” Namun, Arsya tak memedulikan peringatanku. Bocah itu tetap saja merengek meminta es krim. Aku sampai dibuat kelimpungan oleh tingkahnya. Tidak tahu bagaimana cara membuatnya diam. “Ya udah kita beli es krim.” Akhirnya aku mengalah, membawa Arsya menuju kedai es krim dan menuruti keinginan bocah itu. Biarlah urusan kak Ivana dan Mas Arka bisa diurus nanti, yang penting bocah ini tak merengek yang membuatku jadi pusat perhatian orang-orang. “Loh, itu Naya bukan?” Aku mendengar seseorang memanggil namaku, membuatku menoleh dan terkejut mendapati Pak Farhan dan Karenina ada di sini. Bukannya seharusnya Pak Farhan ada di rumah sakit, ya? Kenapa sekarang pria itu malah berkeliaran di mall? “Kan, bener dugaan aku. Hai, Nay.” Karenina menyapaku yang kubalas dengan seyuman canggung. Aku masih belum terbiasa jika harus bertemu dengan kerabat Pak Farhan secara mendadak. “Kamu sama siapa ke sini?” Karenina melirik Arsya yang berada dalam gendonganku. Aku menjelaskan, “Ah, ini anak kakakku, kebetulan lagi dititipin, jadi aku ajak ke mall.” “Wah, lucu banget. Ganteng, namanya siapa?” Arsya yang masih belum kenal dengan Karenina bersembunyi di belakang kakiku. “Itu ditanyain sama Onti, namanya siapa.” Aku menunduk dan menyejajarkan wajahku dengan Arsya. “Arsya.” Arsya menjawab malu-malu. “Kenalin, ini Onti Karen, temennya Onti Naya, ayo salim dulu.” Aku menyuruh Arsya untuk menyalami Karenina. Bocah itu menuruti perkataanku dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Karenina. “Mau kenalan sama Om-nya nggak?” Karenina menunjuk Pak Farhan yang sedari tadi hanya diam melihat interaksi kami. Arsya menggeleng, lalu kembali bersembunyi di balik kakiku. “Loh kenapa ngga mau?” Karenina bertanya. Arsya menjawab ragu, “Om-nya serem, Arsya takut.” Aku hampir saja menyemburkan tawa mendengar pengakuan Arsya. Good job, Sya. Keponakanku ini memang patut dibanggakan, mewakili Ontinya sekali. Aku berusaha terlihat menjadi seperti Onti yang baik dan menegur Arsya. “Arsya nggak boleh ngomong gitu sama Om-nya. Ayo minta maaf.” Arsya menggeleng keras. “Nggak mau, Arsya ngga mau deket-deket sama orang itu.” Arsya menunjuk Pak Farhan yang kini terkejut karena tak disukai oleh bocah dalam pertemuan pertamanya. Aku bersusah payah menahan tawa agar tidak tersembur. “Onti, ayo beli es krim, Arsya mau es krim.” Arsya menggoyang-goyangkan kakiku, merengek lagi. Aku meraihnya dalam gendongan, “Ya udah ayo kita beli es krim. Aku duluan ya, Ren, soalnya keponakanku agak rese.” Karenina tersenyum maklum. “Iya nggak papa kok, lain kali kita ngobrol banyak.” Aku berbalik meninggalkan mereka berdua, sebelumnya masih mendapati wajah masam Pak Farhan yang menatapku. Mungkin dia menyadari kalau aku sempat menahan tawa ketika Arsya mengatai wajahnya seram tadi. Bodo amatlah! Yang penting aku bahagia sekarang. Rasanya menyenangkan bisa mengatai Bos secara tidak langsung seperti tadi. “Good job, Sya, kamu emang keponakan Onti yang paling pinter.” Aku mencium pipi Arsya bolak-balik, sementara bocah itu menatapku bingung. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD