Aku tengah berkutat dengan pakaian yang akan kusetrika ketika bel pintu rumah berbunyi, menandakan kalau Farhan sudah pulang. Aku berdiri, agak terburu-buru menuju ruang depan untuk membukakkan pintu. Walaupun pintu rumah tak pernah kukunci, tetapi sudah menjadi kebiasaaanku dan Farhan menyambut suka cita momen “kepulangan suami” yang menjadi rutinitas sehari-hari. Aku memang menyukai momen membukakkan pintu ketika Farhan pulang kerja. Begitu juga sebaliknya, Farhan suka ketika pintu baru dibuka yang pertama kali dilihatnya adalah diriku. Sebenarnya agak alay membayangkannya, tapi ya sudahlah ya, namanya juga pengantin baru. Aku membuka pintu dan menemukan sosok Farhan berdiri di depan pintu. Kami saling melempar senyum, kemudian masuk bersama dengan tangan saling bergandengan. “Gimana

