Aku buru-buru menghubungi Farhan ketika mendapati ponselku dipenuhi notifikasi spam darinya. Ada 39 panggilan tak terjawab dan 51 pesan belum dibaca. Aku memang tidak mengaktifkan ponsel sejak sampai di puncak. Selain karena tidak ada sinyal, juga karena kami dilarang mengaktifkan ponsel selama acara berlangsung. Setelah meminta izin untuk menghubungi suamiku, aku buru-buru balik menghubunginya. “Kamu di mana?” itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari bibirnya yang diucapkan dengan nada datar. “Di puncak, Mas.” “Siapa yang ngizinin kamu ke sana?” ucapnya penuh penekanan. Aku jadi menciut mendengar nada suaranya. “Tadi pagi aku udah ada ngirim pesan ke kamu kok, bilang kalo aku mau pergi ke Puncak.” “Ada aku bilang ngizinin kamu pergi?” Aku menggeleng, walaupun tau Farhan tidak

