Sejak kejadian malam itu, terjadi perang dingin antara aku dan Farhan. Malamnya dia dengan sengaja tidur terpisah dariku, seakan memperjelas “perang” yang terjadi di antara kami. Dia bahkan melewatkan ritual sarapan pagi kami yang berakhir dengan sarapan yang sudah susah payah kubuat berakhir di lemari. “Bi, mungkin nanti saya bakal pulang telat, jadi tolong siapin makan malam buat Mas Farhan, ya,” pesanku pada bibi. “Baik, Nyah.” “Kalo gitu saya berangkat dulu.” Aku mengambil tas, kemudian melangkah meninggalkan meja makan dengan makanan yang masih tersisa di piringku. Mau bagaimana lagi, melihat tingkah Farhan yang menyebalkan pagi ini, membuat selera makanku jadi ikutan hilang. Hariku tambah makin suram ketika aku tak berhasil memesan taksi online yang entah kenapa pagi ini susah k

