Bagian 22 : Cost of Merchandise sold

2078 Words

“Gue kok makin lama makin yakin, ya kalau Pak Bos beneran punya pacar.” Feni menempel padaku, pertanda bahwa dia akan memulai sesi gosipnya. “Masa sih?” Aku berusaha terdengar biasa, pura-pura memfokuskan diri pada layar komputer. “Beneran deh. Aura dia tuh keliatan beda. Lo emang ngga perhatiin kalo akhir-akhir ini Pak Farhan jadi ramah banget sama kita?” “Enggak tuh. Perasaan lo aja kali.” Aku menyangkal Feni. “Eh, tapi bener deh, apa kata lo. Pak Farhan emang jadi lebih ramah ke kita. Padahal kemarin lusa gue udah siap-siap ditanyain report jurnal waktu papasan di lift, eh dia malah nyapa gue sambil senyum.” Aris menyambung dari kubikelnya. “Dan kalian tau nggak, apa yang gue liat sebelum itu?” Feni mendekat kepo, begitu juga dengan Mbak Nindi yang awalnya hanya mendengarkan samb

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD