Ingatan yang terlupakan

1862 Words
Aku meninggalkan alen yg masih menatap kepergianku. Ini sudah kesekian kalinya alen menunjukkan perasaannya padaku, hanya saja aku merasa ini bukan hal yang wajar. Aku meyakinkan diriku mungkin perasaan alen hanya bentuk kekaguman murid kepada guru, tidak lebih. Tapi jika itu bentuk kekaguman, tidak mungkin sampai memeluk bahkan mencium. Alen sudah beberapa kali memeluk ku bahkan dia pernah menciumku, tanpa sadar aku mengusap bibirku. Dan bodohnya, aku terhanyut oleh semua itu. Bruk... Lamunanku terhenti ketika tersadar ternyata aku menyenggol pengendara motor sampai terjatuh. Dengan segera aku menepikan mobilku dan menghampiri pengendara motor itu. "Maaff" Kataku sambil membantu pengendara itu. "Ada apa nih ?" Aku menoleh ke asal suara ternyata ada beberapa orang yang mendatangi kami. "Saya ga sengaja menyenggol motor mas ini" Kataku berusaha menjelaskan. "Mas gimana ? Mau kerumah sakit aja ? Saya antar" Tanyaku ke orang yang motornya aku senggol. "Iya boleh" Katanya. Aku pun segera membuka pintu belakang mobilku, namun ketika pintu terbuka tiba-tiba seseorang mendorongku masuk lalu diikuti beberapa dari mereka juga ikut kedalamnya. Termasuk orang yang tadi aku tabrak. Saat ini posisiku terjepit, aku ga bisa kabur. Orang-orang ini ada disamping kanan kiriku. Juga bangku kemudi dan samping bangku penumpang. Mereka menguasai mobilku. Ckck, aku mengerti situasi apa yang sedang aku hadapi. Ternyata mereka bersengkokol merekayasa kecelakaan ini agar bisa mendapatkan sesuatu dariku. "Apa yang kalian lakukan ?" Tanyaku tegas. "Maaf, tapi cuma ini satu-satunya cara memancingnya keluar" Ujar orang yang duduk di bangku depan sambil merogoh tasku. "Memancing siapa ? Apa yang kalian cari di tas saya ?" Tanyaku heran tetap dengan intonasi yang tegas. Kalo dilihat dari perawakan mereka, sepertinya mereka masih anak sekolahan. "Kalau kalian mencari uang, kalian salah sasaran. Saya tipe orang yang tidak suka membawa uang cash" Lanjutku. "Apa kode sandinya ?" Tanya orang itu ketika mendapatkan hape dari dalam tasku. Aku menghela napas, lalu memberikan kode handphoneku pada mereka. Sambil berpikir apa yang mau mereka lakukan dengan handphone itu. "Aku harap anda bisa bekerja sama" Ujarnya, lalu dia menelepon seseorang dengan handphoneku. Aku mengerenyitkan keningku, lalu membuang muka ke arah jendela. Aku tidak tau mobil ini mengarah kemana, meski begitu aku tidak merasa takut atau khawatir entah kenapa. "Hallo Arina" Panggil suara dari handphoneku yang membuat aku terkejut, Alen. Seseorang berusaha memaksaku agar aku mengeluarkan suara namun aku hanya diam saja. Aku tidak mengerti apa yang mereka inginkan dari alen, ada apa dengan dia. "Ugh" Aku meringis kesakitan ketika seseorang mencubit lenganku. Lalu terdengar suara alen yang bergetar, seperti merasakan cemas yang luar biasa. "Alen dengarkan aku, kamu ga usah dengerin omongan orang. Kalo ada orang yang nelpon pake nomor aku ga usah diangkat, okey !?" Aku mengatakan itu agar alen tidak cemas namun malah tamparan yang kudapat. Dan panggilan dengan alen pun terputus. "Kamu ga seharusnya bicara begitu" "Apa yang kalian inginkan ?" Tanyaku. "Alen, kami butuh anda untuk mendapatkan alen" "Kenapa membutuhkan saya ? Saya tidak ada hubungan spesial dengan alen selain guru dan murid" Jelasku. "Ternyata anda ga tau apa-apa ya" Ujarnya sambil beberapa kali menolak panggilan alen. Tak lama ia kembali menghubungi alen melalui ponselku, "Datang tepat waktu kalo ga pengen liat gue main-main sama dia" Ujar orang itu sengaja memancing emosi alen dan ternyata berhasil. Aku bisa mendengar jelas suara alen yang penuh emosi dan setelah itupun percakapan dengan alen terputus. "Kenapa kalian ingin mendapat kan alen ?" Tanyaku. "Anda lupa insiden waktu itu ?" Ujannya balik bertanya. Aku mencoba mengingat insiden apa yang pernah terjadi antara aku, alen dan juga mereka. Namun berapa kali aku mencoba mengingat, aku ga bisa mengingatnya. "Aku ga ingat sama sekali" Jawabku. Ia terlihat menyunggingkan senyumnya, "Wajar sih, mungkin itu bukan hal yang penting untuk anda. Tapi itu jadi penting buat kami" "Aku ga ngerti" "Masih ingat insiden deket lokasi PS ga jauh dari sekolah kami ? Tiba-tiba anda bersama teman anda datang menyelamatkan b*****h itu" Aku kembali mencoba mengingat insiden itu, kalo tidak salah itu kejadian ketika aku bersama bagas pulang dari toko buku dan melihat alen sedang dikeroyok. Aku pun tersenyum, "Hanya gara-gara insiden itu ? Kalian balas dendam ?" Tanyaku meremehkan mereka. "Ini bukan hal sepele buat kami, alen sudah menginjak harga diri kami. Dan dia harus bertanggung jawab" "Memang apa yang sudah alen lakukan sampai kalian harus balas dendam ?" Tanyaku lagi penasaran, mungkin karena aku guru BK aku dapat dengan mudah menginterogasi mereka tanpa mereka sadari. Bagaimana pun mereka masih anak-anak. Anak itu pun menceritakan kronologi kejadian yang sudah lama itu. Dimana ketika mereka datang ke tempat bermain PS, alen duduk ditempat seharusnya bos mereka duduk. Mereka sudah meminta alen untuk pindah namun Karna merasa itu tempat umum mungkin alen merasa dia tidak harus pergi dari itu. Ternyata hal sepele itu yang membuat anak-anak ini marah, aku menghela nafas dan tak lama kemudian kami tiba di suatu tempat. Aku memandang bangunan yang sepertinya sudah lama tidak dipakai, mungkin basecamp mereka. "Ayo" Ucap seseorang membuyarkan lamunanku, ia meraih tanganku dan memintaku berjalan mengikutinya. Anak ini yang tadi duduk disampingku dan hanya diam saja selama perjalanan. Daripada itu, dia memperlakukanku bukan seperti sandera. Dia tidak mengikat tangan atau menarik-narik tanganku seperti disinetron-sinetron tapi anak ini malah menggenggam tanganku. Seolah hendak menjagaku. Aku mengikuti langkah cepat mereka hingga kelelahan. Bagaimana tidak lelah, aku harus naik kelantai tiga pake tangga jelas itu hal yang melelahkan. Dipertengahan aku meminta anak itu untuk istirahat sebentar. "Aduhh, tunggu sebentar. Ini cape banget" Kataku sambil menahan tangannya yang sedang menggenggamku. Aku melihat yang lain sudah ke atas. Tinggal aku dan dia yang terakhir. "Kamu tenang aja, aku ga bakalan kabur, aku udah ngos ngosan begini. Ga kuat juga kalo lari" Lanjutku sambil mengatur napas. Ia tidak menjawab tapi seperti mengiyakan. Aku duduk sebentar ditangga, mengatur napas ku. Seandainya ada minuman, aku haus banget. "Kita jalan pelan-pelan" Katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku meraih tangannya, dan mengikuti nya berjalan pelan-pelan. Sesekali aku meliriknya, anak ini bukan seperti mereka yang terlihat anak nakal. Anak ini cukup baik tapi kenapa dia harus bergabung dengan mereka. "Kamu bukan seperti anak lain, kamu terlihat baik" Kataku disela-sela langkah kami. Dia tidak menjawab, "Aku harap kamu bisa bekerja sama dengan baik" Katanya ketika kami sudah sampai di depan pintu. Ketika dibuka ternyata anak-anak yang semobil denganku sudah ada disitu dan ada lagi yang sepertinya bos mereka. "Sudah datang !?" Ujar seseorang yang wajahnya baru kali ini aku lihat. "Ini bos, cewe itu" Kata salah seorang kurcaci yang tadi bersamaku dimobil. "Ohhh ini toh orang berharganya alen, bawa sini bi" Ujarnya. Anak ini mengajakku menghampiri bos mereka tanpa melepaskan genggaman tangannya, setelah ia memberikanku tempat duduk anak itu bergabung dengan anak-anak lainnya. "Wajar alen tergila-gila sama gurunya, gurunya masih muda dan cantik begini" Ujarnya sambil menyeringai. "Jangan salah paham, alen hanya menghormati saya sebagai gurunya. Bukankah memang harus begitu sikap seorang pelajar kepada gurunya" Sindirku. "Kamu memang tidak tau apa-apa ya. Padahal sepenting itu kamu buat alen, tapi ternyata kamu tidak seperti itu. Hah kasihan sekali alen" "Apa maksud kamu mengatakan hal yang sama seperti anak buahmu, bahwa aku tidak tau apa-apa ?!" Tanyaku geram. "Nanti aku kasih tau, tunggu sampai anak itu datang aku akan katakan semuanya padamu" "DIA TIDAK AKAN DATANG !!!" "Jangan terlalu yakin, kamu ga lihat dia sudah ada dibawah" Aku tersentak, dasar alen bodoh. "Sepertinya kamu sudah bukan anak SMA seperti mereka, tapi anehnya sikap kamu lebih kekanak-kanakan dari mereka" Ujarku kesal. "Apa katamu ?!" Ujar bos itu emosi. "Kamu merencanakan balas dendam seperti ini hanya karena hal sepele ? Bukan kah itu tingkah yang paling kekanak-kanakan ?!" Kataku sinis. Plak.. Bruk.. Kejadian itu sungguh cepat, bos itu menamparku dan membuat ku terjatuh hingga membentur kursi. Aku merasakan darah segar mengalir dari pelipisku. Dan seseorang berlari kearahku. "ROBI" Bentak seseorang keras. Mungkin itu adalah nama anak yang sekarang menghampiri ku karena aku terluka, ya dia adalah anak yang dari tadi menggenggam tanganku. Dia tetap mendatangiku meskipun bos dan rekan-rekannya memperingatkannya. "Aku gapapa, jangan dekat-dekat nanti bos kamu marah" Kataku dan dia pun menurut kembali bergabung dengan teman-temannya. Tiba-tiba... "Arinaa" Panggil seseorang yang sangat familiar, suara itu adalah... Alen. Aku menatapnya dengan sedih, kondisi alen tangannya terikat dan lebam-lebam disekitar tubuhnya. Mungkin sebelum keruangan ini, mereka memukuli alen terlebih dahulu. Tanpa sadar air mataku menetes, alen.. Lirihku dalam hati. "Anda benar tidak ingat dia siapa ?" Tanya bos mereka padaku. Aku hanya terdiam sambil menatap alen yang juga menatapku. Ada perasaan khawatir dari tatapannya. "Anda ga ingat teman masa kecil dirumah nenek anda ? Apa mereka tidak mirip !?" Tanyanya sambil menunjuk alen. "Cukup !! Hentikan Marcel !!" Teriak alen, Buaghhh... Alen mendapat bogem mentah dipipinya. "Hahahaha, kenapa ? Gue cuma mau bantu biar cewe lo inget sama masa lalu nya. Harusnya lo berterima kasih" Ujar Marcel, nama bos anak-anak itu. Marcel mengisyaratkan anak buahnya untuk menutup mulut alen. "Cukup marcel" Aku hendak menghampiri alen namun marcel menggenggam kuat tangan ku. "Ada banyak yang mau aku sampaikan, jadi dengarkan aku baik-baik arina. Aku menutup mulutnya supaya Dia tidak bisa menyela pembicaraan kita" Jelas Marcel. "Sebenernya apa maumu ? Bukankah kamu sudah berhasil membalas dendam ? Dia datang sendirian, dan bersedia dipukuli oleh kalian tanpa melawan. Apakah itu belum cukup ?!" Tegasku. "Lumayan lah, sudah cukup puas" "Kalau begitu lepaskan kami !! Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan bukan !?" "Tapi aku masih penasaran, kenapa kamu sama sekali ga inget alen. Padahal dulu kalian begitu dekat, seperti tak terpisahkan" Ujar marcel dengan intonasi yang dibuat-buat. "Aku ga ngerti" Ucapku tegas. "Coba kamu perhatikan muka alen, apa dia ga mengingatkan kamu tentang seseorang. Seseorang yang kamu rindukan sewaktu kecil, bukankah kalian bertemu dan berpisah karena pekerjaan orang tua kalian. Dikampung halaman nenek kalian, hayolahhh kalo kamu lupa kasian dong selama ini alen mengingat itu sendirian" Ujarnya sambil tertawa jahat. Aku menatap alen yang menggelengkan kepalanya, ughh tiba-tiba kepalaku sakit. Aku melihat ke arah marcel yang tersenyum puas. "Seharusnya kamu bisa menyadari kalo sikap alen bukan semata-mata karena kagum sama gurunya. Tapi itu perasaan rindu karena bertemu kembali dengan teman masa kecilnya, bisa dibilang cinta pertamanya. Masa sih kamu ga merasakan apa-apa ? Yaaa walaupun kamu lupa ingatan harusnya bisa merasakan donk. Kan kalian pernah saaaaangat dekat" Ujar Marcel girang. Benar, semua yang dikatakan marcel benar. Aku memang merasakan ada yang aneh apabila berdekatan dengan alen. Tatapannya, sentuhannya mampu menyentuh hatiku membuatku merasa nyaman. Terlebih lagi sikapnya padaku, bisa dibilang tidak seperti perlakuan murid ke guru. Alen selalu menampakkan perasaannya padaku, sejak awal saat pertama kali bertemu. Benarkah alen teman masa kecilku ? Kenapa aku tidak ingat sama sekali ? Apa yang terjadi ? Aku mencoba memutar kembali ingatan sejak bertemu alen pertama kali, dan memang alen sudah menunjukkan perasaannya sejak saat itu. Tapi kalau memang benar, kenapa alen tidak menjelaskan apapun padaku ? Uhhhh, semakin dipikirkan semakin mau pecah rasanya kepala ini. "Ahh rasanya sudah cukup bermain-mainnya. Ini semua peringatan buat lo alen" Ujar marcel menghampiri alen lalu meninju wajahnya sebelum pergi, lalu diikuti anak buahnya yang menghajar alen dengan membabi buta. Seseorang mengambil kayu hendak memukul alen, dengan cepat aku berlari kearahnya untuk melindunginya. Hingga akhirnya karena pukulan kayu itu aku merasakan kaku sekujur tubuh, mataku buram. Sayup-sayup aku mendengar alen memanggil-manggil namaku, namun mataku terlalu berat untuk kubuka kembali. Dan aku pun tak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD