Cemas

2213 Words
Bruk.. Pagi² doni sudah meletakkan setumpuk buku di depan alen "Ayo bantuin gue nih bawain buku PR anak² ke ruang guru" Pinta doni. Alen hanya melirik malas, "Bantuin napa, ayo ke ruang guru" Paksa doni. "Lo dewekan aja deh, mager gue" Ujar alen. "Ogah ah, biar semangat lo.. Pagi-pagi udah letoi kaya ga punya tulang. Buru kita sekalian cuci mata" Ujar doni, sambil berlalu pergi membawa setengah buku dan meninggalkan setengahnya lagi di meja alen. Mau ga mau, alen pun beranjak dari kursi nya dengan malas. Baru setengah perjalanan, seketika alen menghentikan langkah begitu melihat mobil yang sangat dikenalnya memasuki halaman sekolah dan parkir ditempat biasanya, tanpa sadar alen pun menyunggingkan senyumnya. Doni yang melihat alen, nampak bingung karena tiba-tiba alen nampak begitu b*******h dilihat dari senyumnya, "Napa si lo ? Ayo ah" Ujar doni. Alen menatap doni dan meletakkan bukunya di tumpukan buku yang dibawa doni, membuat doni kaget. "Sorry ya, gue nitip. Ada urusan penting" Ujar alen sambil berlalu pergi meninggalkan doni yang hendak protes. "Ah kebiasaan lo, bakso ntar" Ujar doni setengah berteriak dan dijawab dengan acungan jempol oleh alen, tanda setuju. Alen memperlambat langkahnya sambil menunggu pengendara mobil tersebut keluar, ia hanya ingin melihat apakah orang yang di dalam mobil adalah orang yang beberapa hari ini dirindukannya. Ketika orang di dalam mobil itu keluar, alen tak dapat menahan senyumnya dan langsung mempercepat langkahnya. Pelan tapi pasti alen menghampiri gadis yang beberapa hari ini sangat dirindukannya, dia adalah arina. Alen menghentikan langkahnya tepat di belakang arina, sekuat tenaga alen menahan dirinya untuk tidak memeluk gadis itu ketika arina berbalik ia nampak terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Kemudian alen berjalan mengiringi langkah arina menuju ruangannya. Alen mengungkapkan ke khawatiran yang selama ini dirasakannya. Alasan kenapa ia tidak sanggup untuk menanyakan keadaan arina lewat ponsel karena alen takut tidak bisa menahan diri untuk bertindak lebih jauh kepada arina. Alen menunduk menutup matanya dengan lengannya. Tiba-tiba arina menarik tangan alen dan menatapnya sambil tersenyum. Hati alen berdebar dan membuatnya semakin ingin memeluk arina. "Karena aku merindukanmu, saking sangat rindunya sampai ingin memelukmu" Ujar alen dari dalam hatinya, ia sangat berusaha dengan keras menahan perasaan itu. "Kamu ga perlu berusaha sekeras itu, aku..." Belum sempat arina melanjutkan kalimatnya, alen sudah menarik arina kedalam pelukannya. Alen mendekap erat arina, awalnya arina berusaha untuk menolak namun karena pelukan alen begitu erat arina pun menyerah lalu menyandarkan kepalanya dibahu alen. Membuat alen tersenyum senang karena mengira arina mengizinkannya untuk memeluknya. Beberapa hari ini alen amat sangat khawatir dan berusaha keras untuk menahan kerinduannya. Sekarang ketika bertemu kembali alen merasa sangat bahagia dan melepaskan semua kerinduannya kepada pujaan hatinya. Sebenarnya alen enggan melepaskan pelukannya, namun apa daya ia harus kembali ke kelas untuk belajar. "Aku akan kembali nanti" Kata alen dengan berat hati. Arina hanya mengangguk, dengan langkah berat alen pun berlalu dari hadapan arina menuju kelasnya. "Lo sering banget ke ruang BK.. Ngapain si lo ?" Tanya doni penasaran. "Konsultasi" Jawab alen asal. "Hah konsultasi, mang ngapain lo ? Masalah apaan ?" Tanya doni makin penasaran dengan sahabatnya, tumben amat ni anak, Biasanya cuek bebek. "Akhir-akhir ini gw ga bisa fokus kalo belajar. Gw butuh bimbingan, kata emak gw. Yauda gw ke BK, daripada nyokap ngajak nya ke psikiater.. Ntar dikira gw sakit jiwa" Ujar alen. Doni mendengar itu langsung tertawa. Dalam hati alen merasa bersalah, dia merasa belum saatnya doni mengetahui kebenaran tentang perasaannya terhadap guru BK mereka. Doni itu ceplas ceplos kadang suka keceplosan bicaranya, alen khawatir kalo hal itu diketahui teman-temannya akan membuat arina tidak nyaman lagi berada di sekolah mereka. Image murid pacaran dengan guru masih begitu tabu hal yang seharusnya tidak dilakukan, karena inilah alen masih merahasiakannya. Seandainya arina bukan guru mereka, sudah pasti alen akan langsung mengatakannya. Mengungkapkan kebenaran masa lalu mereka dan menyatakan perasaannya pada arina. Perasaan yang dari dulu tidak pernah berubah, bahkan sampai sekarang. "Gue ke BK dulu" Ujar alen sambil merapikan buku dan alat tulisnya. "Masih jam belajar keles" Kata doni. "Gue denger yang ini ga ada gurunya, paling ngerjain tugas doank. Bentar lagi miss arin mau pergi ke kampusnya, gue mau konsultasi dulu" "Oh yauda oke" Ujar doni sambil menggelengkan kepalanya melihat alen bergegas meninggalkan kelas. Ketika sampai didepan ruang BK, alen berpapasan dengan rima yang baru saja keluar ruangan. "Eh rima, abis ketemu miss arin ?" Tanya alen basa basi. Rima mengangguk, "Kamu mau ketemu miss arin juga ?" Tanya rima. "Iya, gue mau konsultasi" Jawab alen asal. "Sebelum itu, bisa kita bicara sebentar alen ? Ada yang mau aku sampaikan" Ujar rima. Meski bingung, alen tetap mengangguk dan mereka pun berbicara di samping ruangan BK. Rima berada di lorong sedangkan alen berdiri tak jauh dari pintu ruang BK. "Apa yg mau dibicarakan ?" Tanya alen, karena rima tak kunjung memulai obrolan. "Besok aku akan pindah sekolah" Ujar rima. "Semoga lo betah ya dilingkungan yang baru, lupain masalah-masalah yang kemarin dan membuka lembaran baru di sana" "Tapi sebelum aku pergi, aku mau bilang satu hal sama kamu kalo sebenernya selama ini aku sayang sama kamu. Aku suka kamu dari kita SD" Ujar rima. Mendengar itu alen tampak kaget, baru mau mengatakan sesuatu rima sudah kembali melanjutkan omongnnya. "Kamu tidak perlu mengatakan apapun, cukup dengarkan aku. Aku merasa sebelum aku meninggalkan kota ini dan membuka lembaran baru, aku perlu mengungkapkan perasaanku supaya aku tenang dan tidak ada yang mengganjal. Maaf, kalo aku menyukaimu. Walaupun aku merasa sudah tidak pantas mengatakan hal itu, aku tetap harus mengatakannya" Ujar rima sambil mengusap air mata yang menetes ke pipinya. "Rima, ka.." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, rima kembali memotong pembicaraan alen. "Cukup dengarkan aku, kali ini saja biarkan aku mengungkapkan semua yang ada dihatiku. Kamu cukup mendengarnya saja" Pinta rima disela isak tangisnya, alen hanya mengangguk. "Aku menyukaimu dari kita SD, waktu itu kamu sempat pindah sekolah. Disitu hati aku sedih, aku kehilangan semangat belajar. Tapi mama meyakinkan aku, kelak kalo kamu kembali ke sini dipastikan kita akan satu sekolah lagi. Mendengar janji mama aku tenang dan bisa kembali ke sekolah. Lalu ternyata kamu kembali ketika lulus SD dan melanjutkan SMP di kota ini. Kamu tau betapa bahagianya aku, perasaanku melebihi ketika dapat mainan baru. Dapat mainan baru aku seneng,, tapi kehadiranmu jauh lebih menyenangkan. Padahal di usia itu bisa dibilang kita masih terlalu kecil untuk main suka-sukaan, tapi tidak buat aku. Dari SD kamu sudah tersimpan rapi di dalam hati aku, sampai sekarang" Alen masih terdiam mendengarkan rima yang sesekali mengusap air matanya yang jatuh. Alen bisa mengerti perasaan rima, karena hal itu sama dengannya. Dia juga menyimpan arina di dalam hatinya, seolah tidak ada yang bisa menggantikannya. "Aku tidak meminta jawaban, aku juga tidak sedang nembak kamu dan meminta kita pacaran. Karena aku sadar hal itu sudah tidak mungkin" Ujar rima sambil menangis. Alen tergerak melangkahkan kakinya agar dapat menenangkan rima, meski tidak dengan pelukan. Setidaknya ia ingin menepuk-nepuk bahunya, sekedar ingin menguatkan. "Tidak usah mendekat, aku masih ingin mengatakan hal yang ingin aku utarakan. Aku takut goyah jika kamu mendekat, jadi tolong tetap disana dan dengarkan aku saja" Pinta rima lagi. "Aku tau, kamu menyukai miss arin. Makanya kamu sering ke sini. Aku menyadarinya ketika kamu datang bersama dengan miss arin kerumahku. Pasti kamu khawatir takut miss arin kenapa-kenapa gara-gara papa aku. Beruntungnya miss arin punya malaikat penjaga seperti kamu. Sejujurnya aku iri, apalagi orang itu adalah kamu. Cinta pertama aku" Rima terdiam dan terisak, "Maaf" Hanya itu yang alen katakan. "Kamu ga perlu minta maaf, aku berencana untuk mengakhiri kisah cinta pertamaku hari ini. Tapi sebelum itu, aku punya satu permintaan. Bolehkah ?" Tanya rima menatap alen dalam. "Hmmm.. Apa ? Kalo gue mampu, gue usahain" Ujar alen sambil mengangguk. "Ijinkan aku memelukmu sekali ini aja, untuk yang pertama dan terakhir kalinya" Kata rima sambil menghampiri alen dan memeluknya, alen refleks langsung menoleh ke arah ruang arina dan mendapati arina juga sedang menatapnya. Alen menatap arina yang bersembunyi merapatkan badannya kedinding, seolah-olah tidak ingin terlihat. Namun alen dapat melihat dengan jelas, raut wajah arina saat rima memeluk dirinya. Sebentar hanya sebentar tapi terlihat jika arina sempat terlihat kecewa. Apakah arina cemburu ? Batin alen. Alen tersenyum memikirkannya, melihat arina yang sedang berusaha menyembunyikan dirinya sambil menunduk. Membuat alen gemas dan ingin menghampirinya. "Terima kasih, sudah mendengarkan isi hati aku. Semoga kamu bahagia selalu alen, jika orang itu miss arin aku rela melepasmu. Miss arina adalah orang yang baik, Tolong jaga dia dan bahagiakan dia, jangan pernah menyakitinya. Aku rela melepasmu karena miss arin" Ujar rima masih tetap memeluk alen. "Gue akan selalu ada buat dia. Dia segalanya buat gue. Tanpa lo minta pun, gue akan selalu menjaga dan melindungi dia. Kebahagiaan dia prioritas utama gue" Ujar alen masih sambil menatap arina yang bersembunyi, ia sengaja mengeraskan sedikit volume suaranya agar arina mendengar perkataannya. Rima mengangguk, ia melepaskan pelukan dan menatap alen dengan perasaan sedih. Untuk pertama kalinya alen mengusap air mata yang jatuh ke pipi rima, membuat rima tak kuasa menahan tangisnya. "Lo pantas bahagia, semoga lo bisa mendapatkan laki-laki yang baik yang mencintai lo apa adanya. Lupain gue, lupain perasaan lo ke gue karna gue g pernah bisa membalasnya. Hati gue udah sepenuhnya milik seseorang" Ujar alen. Rima mengangguk, "Hmm, jaga diri kamu. Sampai jumpa alen" Ujar rima sambil berlalu pergi. Sepeninggal rima, alen langsung menghampiri arina yang masih mematung di tempatnya. Ia sampai tidak sadar dengan keberadaan alen yang sudah berdiri di depannya sejak tadi. "A.. Alen.. " Ujar arina terbaru-bata melihat kehadiran alen yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapannya. Alen tersenyum, "Rima cuma mau mengucapkan salam perpisahan kog, yang tadi juga cuma pelukan pertemanan ga lebih" ujar Alen menjelaskan. Arina mengangguk, "Ohh, dia sudah pergi ?" Tanya arina. Alen mengangguk, "Hmm,, kenapa kamu ngumpet ?" tanya alen. "Ga tau, aku juga ga tau kenapa bersembunyi. Refleks aja" Jawab arina yang juga heran. "Kamu dengar obrolan aku sama rima ?" Arina mengangguk, "Iya sedikit, tapi aku ga bermaksud nguping loh. Aku cuma.. mau lewat tapi ga enak, takut ganggu obrolan kalian" Ujar arina. "Kenapa ga enak ? Masa guru mau lewat depan siswa nya pake ga enak segala" Ujar alen tertawa. "Karena ini bukan obrolan biasa..." Arina melirik alen dan segera mengubah kata-katanya, "Hmm.. maksudnya kayanya rima lagi ngomong yang serius sama kamu, kalo tiba-tiba aku lewat nanti dia ga jadi ngomong" Ujar arina. Alen tersenyum, "Bukan obrolan biasa ? Ngomong yang serius ? Maksudnya gimana ?" Tanya alen bermaksud menggoda arina. "Itu... Ah tau ah, pokoknya tentang itu lah. Aku ada kuliah bentar lagi takut terlambat" Ujar arina mengalihkan pembicaraan. Arina hendak pergi sambil sedikit menggerutu namun alen dengan sigap mengarahkan tangannya ke tembok menahan langkah arina. Arina yang shock langsung menoleh kanan kiri khawatir ada yang melihat ulah alen, khawatir menjadi kesalahpahaman. "Aleeeennnnnn..." Ujar arina gemas, "Ini disekolah kalau ada yang lihat nanti mereka jadi salah paham. Turunkan tanganmu" Ujar arina. Alen langsung menurut sambil tersenyum, "Rima nembak aku tadi" Ujar alen ingin melihat reaksi arina. "Iya tau, aku yang ngasih saran. Bukan nembak sihh, dia cuma mau menyampaikan perasaannya aja sebelum pergi" Ujar arina. "Kenapa nyaranin kaya gitu ? Kan udah jelas aku pasti ga bisa nerima dia. Aku udah suka orang lain" Jawab alen. "Ya gapapa, perasaan itu baiknya disampaikan ke orangnya langsung. Biar hatinya lega, ga ada beban. Diterima atau tidaknya itu urusan nanti yang penting ngomong aja dulu" Ujar arina. Alen menatap arina lalu mengarahkan lagi tangan nya ke dinding menahan arina "Kalau emang begitu menurut kamu, aku jadi pengen nyampein perasaan aku langsung ke orangnya sekarang, boleh ?" Ujar alen serius. Arina kembali shock, ia khawatir ada yang melihat lalu dengan cepat menurunkan tangan alen. "Ga boleh" kata arina sambil beranjak pergi di ikuti alen dibelakangnya yang masih tersenyum. Alen mengikuti arina sampai keparkiran, dan pergi ke kelas begitu arina sudah pergi dari sekolah. Namun baru beberapa langkah ponselnya berdering, alen sedikit mengerenyitkan keningnya lalu tersenyum begitu dilihat nama arina tertera di layar ponselnya. "Halo arina" alen menjawab telponnya namun tidak ada sahutan dari arina, "Arina, Hei" Panggil alen lagi. "Ugh" alen terdiam mendengar arina meringis kesakitan dari ponsel nya. "Arina, hei arina jawab aku. Ada apa ?" Ujar alen mulai panik. Apalagi ketika alen mendengar dibalik ponselnya terdengar suara laki-laki memaksa arina untuk bicara, meskipun pelan alen mendengarnya dengan jelas. "Apa yang telah kamu lakukan pada arina ?" Tanya nya geram. "Alen dengarkan aku, kamu ga usah dengerin omongan orang. Kalo ada yang nelpon pake nomor aku ga usah diangkat, okey ?!" Ujar arina, setelah arina mengatakan itu terdengar bunyi tamparan dan telepon pun berakhir. Alen mencoba menghubungi terus namun panggilan ditolak, membuat alen sangat cemas. Arina.. Arinaaa apa yang terjadi sama kamu, gumam alen penuh kekhwatiran. Tak lama ponselnya pun berdering lagi, nama arina nampak di layar dengan segera alen mengangkatnya namun yang terdengar bukan suara arina. "Datang sendirian, kalo pengen dia selamat" Ujar seseorang dari balik ponselnya. "Kemana ?" Tanya alen. "Nanti gue share lokasinya, datang tepat waktu kalo lo ga pengen ngeliat gue main-main sama dia. Sayang kan kalo cewe cantik dianggurin" Ujar seseorang itu sambil terkekeh. "b******k, lo sentuh dia gue ancurin idup lo" Ujar alen menahan emosi. "Buktikan !!" Ujar orang itu sebelum mematikan panggilannya. Dada alen bergemuruh menahan marah, ia segera ke kelas mengambil tasnya tanpa sepatah katapun. Doni sampai bengong melihat tingkah sahabatnya. Doni paham alen sedang marah, dia pun mengejar alen namun alen sudah pergi dengan motornya secepat kilat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD