Tidak terasa sudah 5 jam lama nya Ruby di rumah pohon itu. Bersama Genta pasti nya, namun kali ini dia di tinggal sendiri oleh cowok itu yang tengah mencari makanan. Ruby melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Sudah satu jam cowok itu pergi, dan tak kunjung kembali.
"Awas aja tu cowok ninggalin gue! Liat apa yang bakal gue lakuin besok." gumam nya pelan, dengan sesekali mengarahkan pandangan ke bawah. Dia masih berada di atas rumah pohon tersebut.
Ruby sempat melihat ke dalam rumah pohon itu, tidak ada yang benar-benar menarik. Hanya ada beberapa mainan anak-anak. Robot, boneka, mobil-mobilan, dan barbie. Seperti nya cerita cowok itu benar, kalau rumah pohon ini untuk tempat bermain nya dulu bersama sepupu nya.
Tak lama Ruby melihat dari atas sana, mobil mercedes bent berwarna hitam itu berhenti di tempat awal. Dan turun lah, Genta dengan membawa sebuah kantong.
Lima jam dia disini, tapi tidak ada yang di lakukan selain diam satu sama lain. Memang tidak seru, tapi entah kenpa Ruby merasakan ketentraman yang sama saat dia berada di danau tempat favorit nya bersama Dafa. Mungkin karna tempat ini sama-sama sepi, dan sunyi. Tempat yang sama-sama bisa memberikan ketenangan untuk nya.
"Nih gue beliin lo nasi goreng keju, menu kesukaan lo!" akhir nya Genta sampai di atas rumah pohon itu dan duduk di samping Ruby.
Ruby menatap kotak yang di berikan cowok itu, lalu memilih mengambil nya. Dia menatap Genta dengan tatapan datar, tapi malah membuat cowok itu terkekeh pelan.
"Kenapa? Lo kaget kok gue bisa tau makanan kesukaan lo?" tanya nya.
Ruby memalingkan wajah nya dan memilih tidak menjawab. "Ralin sih yang ngasih tau, waktu lo nyuruh adik kelas nganterin makanan ke kelas nya."
Gerakan Ruby yang sedang membuka kotak itu terhenti seketika. Dia mengangkat kepala nya, namun tidak menatap ke arah Genta, melainkan menatap ke depan.
Genta menatap Ruby dari samping, di sertai dengan suapan nasi goreng yang masuk ke mulut nya. "Lo tu lucu ya. Di luar bersikap dingin banget sama Ralin. Tau-tau perhatian dalam diam." seru nya dengan senyuman geli.
Ruby masih diam.
"Ralin bilang kalau dia suka sama menu yang lo bawa. Trus dia cerita deh, kalau lo paling suka sama nasi goreng keju. Maka nya gue tau."
Ruby mendesah. Sebenarnya tanpa Genta harus menjelaskan dia sudah tau. Dari siapa lagi cowok di samping nya ini tau apa yang di suka nya, kalau bukan dari Ralin.
"Kenapa sih lo pingin tau banget sama hidup gue? Sampi lo nyimak apa yang di bilang Ralin." Untuk pertama kali nya Ruby bersuara dan menoleh pada Genta yang terus memakan makanan nya.
"hmmm." Genta bergumam, seraya menelan nasi goreng nya. "Gak tau." lalu mengedikkan bahu nya. "Gue cuman penasaran sama lo. Gue pernah bilang kan. Lo itu orang pertama yang gue temuin paling dingin. Dan kesan nya itu lo unik."
Ruby menggelengkn kepala nya, di sertai seringaian tipis. "Banyak kali orang dingin."
"Iya banyak. Tapi yang dingin, cuek, ratu bully, bad girl, sekaligus pintar kayak lo itu langka." jawab cowok itu se simpel mungkin.
Ruby tidak lagi membuka suara. Dia mulai memakan nasi goreng itu sesuap demi sesuap. Menciptakan keheningan selama mereka makan. Sampai bunyi ponsel Ruby, memecah keheningan. Baik Ruby dan Genta mnghentikan suapan mereka. Ruby langsung meraih ponsel nya yang tergletak di atas tas nya. Dia menggeser tombol hijau, setelah melihat siapa penelpon tersebut.
Sepeeti biasa nya. Belum sempat dia menjawab, suara di sebrang sana sudah lebih dulu berseru. Siapa lagi kalau bukan Ralin.
"Kali ini lo kemana? Tadi lo gak masuk sekolah, sekarang belum pulang jam segini." Ruby masih meletakkan ponsel itu di telinga nya, dan membiarkan Ralin mengomel.
Suara saudara kembar nya itu terus berceloteh, dia yang mulai gerah mendesah. "Bisa diam gak sih lo? Kebiasaan banget ngomong tanpa jeda gitu." seru nya untuk pertama kali.
Ruby menghela nafas nya perlahan. "Gue balik sekarang. Lo gak perlu jemput,atau nungguin gue." Tanpa menunggu jawaban dari Ralin, dia menutup telpon itu dan membuang nya ke atas tas.
Genta yang sedari tadi melihat dengan bingung mulai bertanya. "Siapa?" menatap Ruby.
"Temen lo. Berisik nyuruh gue balik." jawab Ruby pelan dengan suara dingin milik gadis itu.
Genta yang mengerti mengangguk. "Wajar sih. Ini juga udah malam."
Ruby melirik Genta. "Malam? Bagi gue ini masih sore. Yang malam itu, kalau udah jam 11. " seru nya santai.
Genta melirik jam tangan nya, sudah pukul 9 malam, dan gadis iu mengtakan masih sore. Jawaban yang ajaib bagi nya.
"Lo biasa ya pulang jam segitu?" tanya Genta pada Ruby yang tengah meneguk air mineral.
"Gak. Biasa nya gue pulang jam 12 malam."
Balasan Ruby sontak membuat Genta membulat kan mata nya, seakan tidak percaya. Seorang cewek pulang jam 12 malam, dan sendirian. Itu amat mengerikan bagi nya. Dia saja yang cowok tidak berani pulang jam segitu, ini cewek pulang nya malah luar biasa.
Ruby menatap Genta yang kaget tanpa minat. "Kenapa? Kaget? Kan gue udah bilang sama lo. Gue bukan orang baik. Lo salah udah mau kenal sama gue."
Genta tertegun mendengar perkataan Ruby. Apa benar dia salah? Salah karna telah ingin mengenal seorang gadis yang bisa di bilang liar,walau hidup nya pun sebenarnya sudah serba cukup dan membahagiakan. Tapi apa lagi yang di cari oleh gadis di samping nya ini?
"Kadang rumah mewah, besar dan serba cukup gak akan menjamin seseorang nyaman. Cukup rumah kecil, atau rumah tanpa atap sekalipun bahkan cukup, untuk bikin seseorang nyaman."
Genta untuk sekian kali nya tertegun, dengan sorot mata terus pada Ruby.
☔☔☔☔☔
Hujan mulai deras di luar rumah, dan malam semakin larut tapi Ralin tidak beranjak dari depan jendela, menunggu seseorang yang sedaritadi tak kunjung pulang. Dia sesekali melirik jam yang terpajang di dinding, sudah menunjukkan pukul 10.00 malam tapi tanda-tanda kepulangan saudara kembar nya tak kunjung tampak. Di tambah lagi hujan yang deras, membuat nya semakin gelisah menunggu. Walau Ruby sudah menyuruh nya untuk tidak menunggu, tapi dia tidak bisa tidur begitu saja di saat saudara kembar nya belum pulang. Dia bukan Regan yang bisa cuek. Juga bukan Dirga yang selalu bisa berpikiran positif.
"Ruby belum pulang juga?"
Ralin menghembuskna nafas berat nya seraya menggeleng pelan. Mata nya tak berlaih sedikit pun dari jendela.
"Ya udah lo tidur aja! Biar gue yang nungguin Ruby pulang." Digta mengusap pelan rambut Ralin. Gadis itu menolak seraya nenggeleng.
"Gue gak mungkin bisa tidur pulas."
Digta mendesah, ikut gelisah dengan dimana keberadaan adik bungsu nya itu sekarang. Hujan sudah turun deras sekitar 30 menit yang lalu. Dan adik perempuan nya di luar rumah malam-malam seperti ini. Bagaimana mungkin dia tidak khawatir. Dia tau, Ruby memang sudah biasa pulang tengah malam, tapi tetap saja, cewek di luar rumah malam-malam pasti akan mengkhawatirkan banyak orang.
"Tadi gue lihat mobil dia di garasi deh. Kok orang nya gak ada?"
"Mobil itu di bawa sama pak Sentosa tadi. Kata nya, Ruby nyuruh dia bawa mobil itu pulang. Tapi pas gue tanya Ruby nya dimana. Dia bilang dia gak tau."
"Ya udah kalau gitu, pasti Ruby baik-baik aja. Lo gak usah khawatir. Dia pasti bisa jaga diri, gue percaya." Digta memegang pundak Ralin, dan menenangkan gadis itu yang tampak khawatir.
"Jadi. Sekarang lo tidur! Biar gue yang nunggu. Besok kan sekolah, sedangkan gue besok libur."
Ralin akhir nya mengangguk, dan berjalan menaiki tangga. Dia menyerah dengan mata nya yang semakin mengantuk.
Digta menatap kepergian Ralin, sebelum akhir nya menatap keluar jendela seperti yang di lakukan gadis itu tadi. Dia menarik nafas nya perlahan, dan menghembuskan nya secara perlahan juga. Ada dua orang yang belum pukgsng di rumah ini.
Ruby dan Regan. Putra putri keluarga Alexander yang paling sering pulang malam, dan yang juga sama-sama dingin. Digta akhir nya memutuskan untuk duduk di sofa. Mata nya tanpa sadar melihat ke arah foto keluarga yang terpajang di dinding ruang tamu itu. Dia tersenyum tipis menatap satu persatu wajah disana. Hingga mata nya berhenti pada Ruby. Gadis yang tampak tersenyum di foto itu. Tapi seksrang, jangan kan sebuah senyuman lebar yang di lihat nya, senyuman tipis sekalipun tak pernah lagi di lihat nya muncul di wajah gadis itu.
Entah apa yang salah, dan entah apa yang terjadi. Semua berubah saat pertama kali dia kembali menginjakkan kaki ke rumah ini lagi. Tidak ada lagi sosok Ruby yang menyambutnya dengan senyuman, juga tidak ada lagi Regan dengan senyuman konyol yang menyebalkan. Apa sudah begitu lama dia meninggalkan keluarga nya? Sampai begitu banyak yang di lewatkan nya. Tapi sedikit pun, anggota keluarga lain tidak ada yang mengungkit akan perubahan kedua saudara nya itu. Semua masih bersikap seperti biasa. Dirga dengan dia yang kalem. Ralin dengan senyuman manis milik nya. Kedua orang tua nya sibuk namun masih memperhatikan anak-anak nya. Dia ingin bertanya, namun pada siapa? Dirga bisu, dan Ralin diam.
"Apa sih yang terjadi saat gue gak disini? Kenapa keluarga ini asing untuk gue. Terutama elo dan Regan." Digta menatap sendu foto Ruby.
Lamunana Digta seketika terhenti saat pintu terbuka. Dia menoleh dan menatap Regan yang telah berdiri di sana dengan tubuh yang basah kuyup, karna cowok itu memakai motor sport yang biasa di pakai nya.
Regan hanya menatap Digta sekilas, lalu berjalan melewati saudara nya itu tanpa berkata apa pun.
"Ruby belum pulang." Digta bersuara dan Regan berheni di anak tangga pertama.
Tanpa berbalik dan memberikan respon apa pun, dia kembali menaiki setiap anak tangga lalu memasuki kamar nya.
Ini lah salah satu tanda tanya terbesar dalam hidup Digta. Sikap Regan yang seakan semakin tidak peduli dengan keluarga nya. Dulu Regan memang orang cuek, dan tidak peduli dengan sekitar. Namun tidak secuek sekarang. Apa yang terjadi?
Digta mengusap wajah nya gusar. Dia menyesali segala yang terjadi. Kenapa dulu dia harus mengalami kecelakaan dan harus di rawat ke luar negeri? Kalau saat dia pulang, saudara-saudara nya seakan asing untuk dia kenal.
Tanpa Digta tau. Seseorang menatap nya dari sela pintu kamar yang terbuka. Seseorang yang menatap nya sendu, disertai mata nya yang mulai basah.
"Maafin gue. Hukum gue suatu saat nanti Dig." gumaman itu sangat pelan. Dan hanya diri nya sendiri lah yang dapat mendengar. Regan. Dia adalah orang di balik pintu itu.
☔☔☔☔☔
Sedaritadi Ruby tidak henti nya mendengarkan Genta yang terus berdecak kesal. Sesekali dia melirik cowok itu yang tampak kesal menatap hujan yang turun semakin deras.
Mereka memang masih berada di atas rumah pohon itu. Atas nya yang cukup lebar mampu melindungi mereka dari setiap tetesan hujan. Rerumputan sekitar sudah basah karna hujan yang terus turun semakin deras. Suasana malam yang dingin semakin dingin.
Ruby mengeratkan jaket kulit nya. Menatap hujan yang terus turun dari langit membasahi bumi. Posisi mobil yang cukup jauh, menjadi kendala mereka untuk turun dengan kondisi hujan deras seperti ini. Sudah dapat di pastikan, kalau pun berlari pasti akan basah juga. Alhasil mereka menunggu di atas rumah pohon itu sampai hujan sedikit reda. Namun tampak nya hujan tak kunjung reda.
"Ya elah. Lama banget sih ni hujan berhenti." itu adalah dumelan Genta untuk pertama kali nya, sejak sedari tadi hanya berdecak-decak tak jelas.
Ruby menoleh pada cowok itu. "Lo gak suka hujan?" entah kenapa prtanyaan itu meluncur begitu saja.
Genta menghela nafas nya perlahan. Lalu menggeleng, seraya menoleh ke arah lawan bicara nya. "Hujan tu bikin ribet. Gue gak suka. Karna bikin ruang gerak gue terbatas, mana basah lagi." desis nya tidak suka.
Ruby tertegun mendengar penuturan itu. Jawaban itu mengingatkan nya akan sesuatu hal. Jawaban yang nyaris sama seperti malam ini.
"Kamu kenapa sih? Gak suka gitu sama hujan."
"Ruby. Hujan tu bikin males. Bikin aku gak bisa pergi kemana-mana. Ruang gerak aku terbatas, dan mana genangan air dimana-mana. Buat baju aku basah tau gak. Pokok nya gak seru."
Ruby menelan saliva nya susah payah. Lagi dan lagi, jawaban yang hampir sama terus di dengar nya keluar dari mulut Genta. Ada apa ini? Kenapa apa yang pernah di dengar nya dari Dafa. Juga di dengar nya sekarang dari Genta. Dan kenapa setiap bersama Genta, dia seakan merasakan kehadiran Dafa di samping nya. Kenapa setiap moment itu seakan terulang kembali?
Ruby seakan merasakan bertemu dengan orang yang sama, tapi nyata nya mereka berebeda. Dia memalingkan wajah nya, sesaat di rasakan nya jantung nya mulai berdetak cepat, dan emosional dalam diri nya kembali bergejolak.
Skenario apa lagi yang sedang engkau siap kan Tuhan?
"Udah makin malam. Kaya nya hujan nya juga gak bakal berhenti. Kita lari aja!"
Suara Genta menyadarkan Ruby. Cowok itu telah bangkit seraya melepas jaket nya, dan mengembangkan nya di udara.
"Yuk!"
Ruby menatap cowok itu bingung, seakan mengerti dengan isyarat mata Genta. Dia ikut bangkit dan menyandang tas nya. Cowok itu menjadikan jaket sebagai payung untuk mereka menembus hujan. Ruby ikut berlari, saat Genta mulai berlari, dia menyeimbangi langkah lebar cowok itu dengan langkah nya, dengan kepala yang berlindung di bawah jaket cowok itu.
Sebelah tangan Genta membuka pintu penumpang, dan mempersilahkan Ruby masuk dengan masih melindungi kepala gadis itu agar tidak terkena air hujan.
Genta menghembuskan nafas lega, setelah berada di dalam mobil. Walau sudah di lindungi jaket, tubuh nya masih saja basah separuh. Tapi itu lebih baik. Dia lalu menyandarkan kepapa nya ke kursi, seraya melirik Ruby yang seperti nya juga ngos-ngosan setelah berlari.
"Sorry ya! Gara-gara gue. Lo jadi pulang kemaleman." seru nya pelan.
"Lo kan juga gak tau kalau bakal hujan." respon Ruby singkat, sembari mengusap wajah nya yang sedikit basah karna air hujan.
Genta mengangguk. Dan terus menatap Ruby dari samping. Ruby yang merasa di perhatikan menoleh pada Genta. Benar saja, cowok itu tengah menatap nya lekat. Tanpa berkedip sedikit pun. Dia sedikit gugup saat Genta tak kunjung berpaling dari nya. Hingga sebuah sentuhan lembut di rasakan nya di pipi nya, membelai lembut anak rambut nya yang basah.
"lo bener. Gue emang gak tau siapa elo. Justru itu gue ingin mengenal lo."
Ruby tertegun menatap mata Genta yang terus menatap nya lekat. Sentuhan itu membuat jantung nya berdetak cepat. Seakan ada sesuatu yang berdesir di dalam sana. Sesuatu yang tidak di mengerti nya.
☔☔☔☔☔
Mobil mercedes bent milik nya berhenti mulus di depan pagar rumah bercat abu-abu. Di balik pagar itu terlihat halaman dan rumah yang besar, dan beberapa deretan garasi mobil disana. Genta melirik gadis di samping nya itu, yang masih diam seraya mentap ke depan. Hujan sudah cukup reda, dan hanya menyisakan gerimis.
"Sorry ya! Gue bawa pulang lo kemaleman." seru Genta memecah keheningan.
Ruby menghembuskan nafas nya, sembari menoleh ke arah Genta yang lebih dulu menatap nya. Dia membalas tatapan itu dengan tatapan datar milik nya.
"Ini yang pertama dan untuk terakhir kali nya." ucapan dingin Ruby membuat Genta tertegun. "Dan anggap semua ini gak pernah terjadi." lanjut gadis itu.
Genta dengan sigap menahan tangan Ruby, saat gadis itu akan keluar dari mobil nya. "Kenapa? Gue pikir lo udah mulai enjoy sama kehadiran gue." Tanya nya bingung.
"Kalau gitu lo salah. Bagi gue lo masih seorang yang gak penting, dan gak harus gue kenal." balas Ruby tanpa membalikkan tubuh nya, lalu menarik tangan nya, dan keluar dari mobil tersebut.
Genta tertegun di dalam keheningan mobil nya. Kenapa semua seakan berubah begitu cepat? Dia tau, gadis itu masih bersikap datar dan dingin tapi dia dapat merasakan bahwa apa yang terjadi tadi sudah bisa di bilang cukup nyaman. Dia menatap ke arah Ruby yang mulai memasuki rumah.
Berbeda dengan Genta yng seakan tidak mengerti. Ruby justru terus berjalan dengan wajah datar yang di pertahankan nya, tanpa berniat menoleh sebentar ke belakang, dia tahu bahwa mobil yang membawa nya tadi masih berdiri di luar pagar. Tapi tubuh nya enggan untuk sekedar berbalik barang sebentar saja.
"Hujan tu bikin ribet. Gue gak suka. Karna bikin ruang gerak gue terbatas, mana basah lagi."
Kalimat itu masih terngiang sempurna di telinga nya, pemicu segala yang begejolak dalam d**a nya. Dia tidak mengerti kenapa dan apa maksud dari segala kesamaan yang di temui nya dalam diri Genta dan Dafa. Kesamaan yang selalu menyeret nya ke masa dimana tidak ingin lagi di ingat nya. Karna itu sebelum dia kembali terseret terlalu jauh dia memilih untuk menjauh dari sekarang. Sebelum skenario Tuhan kembali membuat nya kalah.
Langkah nya terhenti saat seseorang berdiri tepat di depan pintu masuk rumah. Dengan tatapan datar dia memandang Digta yang berdiri di sana menatap ke arah nya.
"Akhir nya lo pulang!" seruan itu terdengar lega.
Ruby hanya menatap sebentar ke arah kakak nya itu, sebelum akhir nya memilih untuk memasuki rumah tanpa berkata apa pun. Melewati Digta begitu saja. Hingga suara Digta kembali membuat langkah nya terhenti.
"Lo habis darimana?"
"Gue udah bilang sama Ralin untuk jangan tungguin gue pulang." balas Ruby tanpa berbalik tubuh menghadap Digta.
Digta menatap nanar punggung milik adik nya. "Apa selama itu gue pergi. Hingga banyak yang berubah. Perubahan yang gak gue mengerti." desis nya pelan dan lirih namun dapat dia yakin dapat di jangkau oleh pendengaran Ruby.
Ruby terdiam sesaat mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang paling di hindari nya untuk tidak pernah di dengar nya. Dia menarik nafas nya perlahan. "Waktu udah berputar terlalu banyak. Hanya jarum jam yang terus berputar pada poros nya. Tapi tidak dengan keadaan yang ada. Kapan pun bisa berubah." respon nya dan kembali melanjutkan langkah nya menaiki tangga.
Digta menatap kepergian Ruby di iringi dengan setets air mata yang jatuh. Dan Ruby, melangkah di sertai dengan mata yang berkabut. Air mata yang tidak mereka tahu satu sama lain nya.
☔☔☔☔☔
Ruby menutup pintu kamar nya bersamaan dengan luruh nya air mata yang sedari tadi ditahan nya agar tidak jatuh ke pipi nya. Air mata yang mati-matian di tahan dan di cegah nya agar tidak meruntuhkan dinding pertahanan yang selama ini sudah di bangun nya. Dia tersandar di pintu kamar itu, dengan tubuh yang semakin meluruh ke lantai. Air mata nya semakin deras seperti hujan yang tadi nya turun mebasahi bumi. Nafas nya mulai tidak beraturan, di gigit nya bibir bawah nya agar tidak mengeluarkan isakan sama sekali. Dulu tidak serumit dan semenyakitkan ini, dulu semua nya penuh kebhagiaan dan senyuman tanpa henti. Tapi kenapa semua nya seperti ini? Dia tidak pernah menginginkan ini, tapi semua terjadi tanpa di minta nya. Semua terjadi diluar kendali nya.
Ruby membekap mulut nya, saat air mata nya semakin deras dan isakan tak dapat di tahan nya lagi. d**a nya sakit akibat menekan tangis yang berusaha di usir nya. Semua kenanangan yang pernah ada terlintas di benak nya. Saat dimana semua nya penuh kebahagiaan, saat dulu dia tidak seasing ini dalam keluarga nya.
Semua terlalu berharga unuk di lupakan nya. Tapi semua terlalu menyakitkan untuk sekedar di kenang nya.
"Jangan tanya kenapa gue berubah! Jangan tanya kenapa gue kayak gini! Karna semua terjadi di luar kendali dan keinginan gue. Gue hanya orang yang berusaha mengusir kesedihan dalam diri gue sendiri."
Ruby bergumam di tengah isakan tertahan nya. "Gue juga capek kayak gini. Gue kangen semua nya, tapi gue gak bisa kembali. Kembali hanya membuat gue merasakan kehancuran yang gak pernah kalian tau." mata nya yang di penuhi air mata menatap foto keluarga nya yang terpajang indah di dinding kamar nya.
"Jangan minta gue untuk kembali!" isak nya di tengah keheningan malam.
Namun Ruby tidak sadar bahwa di balik pintu kamar nya yang tertutup seseorang mendengar segala ratapan yang di keluarkan nya.
Ralin sama-sama terduduk di balik pintu itu dengan air mata yang deras. Dia tau saudara nya itu menangis di setiap keheningan malam. Dan dia dapat meradakan perih yang di rasakan Ruby. Tapi apa yang dapat di lakukan nya selain selalu menguatkan dan berdiri di samping kembaran nya itu.
"Gue janji akan bikin lo kembali. Tanpa lo harus merasakan kesakitan lagi. Gue janji By! Gue janji!" gumam Ralin pelan di sela air mata nya. Jika bukan dia, lalu siapa lagi yang akan melakukan nya. Tidak ada orang yang lebih mengenal saudara kembar nya kecuali diri nya sendiri. Dia yang menyaksikan segala nya dengan mata kepala nya. Saat kebahgaian Ruby di renggut begitu saja oleh takdir.
☔☔☔☔☔