BOLOS BARENG?

3460 Words
Keluarga Alexander telah berkumpul di meja makan, untuk sarapan pagi. Sudah tiga minggu lama nya mereka tidak makan bersama seperti pagi ini. Pasal nya semua nya pergi sebelum jam setengah tujuh. Dan hanya tertinggal Regan dan Ruby yang sarapan berdua, itu pun tidak berlangsung tiap hari. Kondisi meja makan yang besar itu hanya di penuhi dengan bunyi sendok yang beradu dengan piring, tanpa pembicaraan sama sekali. Berbeda dengan yang lain, Liana justru sibuk menatap tangan kanan putri bungsu nya yang terlihat berbeda dimata nya. Terlihat bintik-bintik halus dan agak kemerahan di kulit putih milik Ruby. Dan sesekali melirik Ruby yang menunduk, memakan sarapan nya. Liana tau, gadis itu tidak benar-benar makan, terlihat dari gerakan suapan yang pelan. Dia ingin bertanya, tapi mulut nya seakan masih berat. Pasal nya komunikasi nya dengan putri bungsu nya itu renggang sejak dua tahun lalu. "Nih! Dari Pak Dadang! Karna kemarin praktek kimia lo belum siap, lo disuruh ngerjain tugas." Suara Ralin lah yang memecah keheningan meja makan itu. Semua anggota keluarga yang tadi nya menunduk, kini mengangkat kepala menatap Ralin yang memberikan secarik kertas pada Ruby. Ruby meraih kertas itu, dan menatap nya sebentar. Tanpa berkata apa-apa dia meletakkan kertas itu di atas meja. "tangan kamu kenapa By?" akhir nya Liana bertanya tentang hal yang membuat nya gelisah sedari tadi. Ruby melirik tangan nya sekilas. "Ketumpahan cairan kimia." jawab nya tanpa menoleh barang sebentar kepada mami nya itu. Liana cukup tersentak mendengar jawaban putri nya itu. Bukan karna suara itu terdengar dingin, melainkan apa yang keluar dari mulit kecil milik anak nya itu lah yang membuat nya kaget. "Kok bisa?" kali ini Digta yang bertanya. Menatap Ruby lalu beralih pada Ralin. Karna memang hanya Ralin lah yang bisa di tanya. Ralin mengangkat bahu nya. "Gak tau. Dari info yang gue dengar gak sengaja kesenggol sama temen satu kelas nya." jawab nya seraya melirik Ruby. "Lain kali hati-hati. Cairan kimia berbahaya loh." Ruby mengangguk samar atas ucapan Papi nya. "Trus gimana tangan kamu? Masih sakit?" tanya Dirga dengan suara kalem milik cowok itu. Ruby yang sedari tadi menunduk, mengangkat kepala nya, menatap seisi meja bergantian, lalu berhenti pada Regan yang juga menatap sama datar nya seperti diri nya. "Yang pasti gak bikin nyawa melayang." Ruby menjawab pertanyaan Dirga namun tatapan nya pada Regan. Suara nya terdengar dingin nan beku. Seisi meja termangu, termasuk Regan. Dia ikut menatap sekilas pada tangan Ruby, tapi tidak bertanya apa-apa. Tanpa berkata-kata lagi, Ruby meninggalkan meja makan seraya membawa tas beserta kertas yang di berikan Ralin tadi. Dia berlalu begitu saja, tanpa pamit. ALex menghela nafas berat nya, lalu menatap kepergian mobil putri bungsu nya. "Apa sih yang salah sama tu anak." gumam nya pelan, nyaris tak terdengar oleh siapa pun. ☔☔☔☔☔ Drttt.... Ruby melirik ponsel nya yang tergeletak di kursi penumpang. Benda pipih itu bergetar, dan layar nya kedap kedip. Sebelah tangan nya yang menyetir meraih ponsel tersebut. Dan membuka pesan yang tertera atas nama Nesya. Dimana lo? Pak Dadang nyari in elo. Dengan sebelah tangan dia mengetikkan balasan. Jalan Setelah membalas pesan singkat itu, dia kembali fokus menyetir dan jalanan yang ada di depan. Ruby tak lama mendesah saat di lihat nya dari kejauhan ada dua mobil yang melintang di tengah jalan, menghalangi hampir separuh jalanan. Di tambah sepasang orang yang tangah mengobrol di sana. Dia seketika menginjak pedal rem mobil, saat mata salah orang itu menoleh tepat saat mobil nya sampai di depan sana. Mata Ruby terus menatap datar dan dingin orang tersebut. Sebelum akhir nya melangkah turun. "Minggirin mobil kalian! Gue mau lewat!" seru nya sarat akan kedinginan dan perintah. Ruby menatap kedua orang itu bergantian. "Ini jalan raya, bukan persidangan tempat menyelesaikan urusan rumah tangga." sambung nya, di sertai dengan sorot mata yang berhenti pada seorang cewek yang tepat di depan nya. Ruby masih menatap datar cewek itu, walau tatapan cewek itu bahkan telah menatap nya dengan kemarahan tertahan. Sangat tajam. Sedangkan si cowok menatap Ruby dengan berbagai tanda tanya. "Setelah sekian lama anti cowok. Dan sekali nya pedekate, malah sama pacar orang. Ini yang di panggil queen bee sama orang-orang?!" Ruby tak merespon ucapan sinis yang berasal dari mulut si cewek. Orang yang sudah di kenal nya, namun bukan orang yang ingin di lihat nya lagi. Jean Friska, orang yang sudah berstatus sebagai musuh nya sejak kelas 1 sd sampai sekarang. "Oh atau jangan-jangan, seorang queen bee Saga sekarang telah menjelma menjadi seorang pho?" Jean menatap Ruby penuh dengan kerendahan. "Kasihan ya! Yang udah gak laku." lanjut nya sinis. Ruby masih menatap lawan bicara nya dengan tenang. Pandangan nya beralih pada si cwok di samping Jean yang juga ikut menatap ke arah nya. "Dia pacar lo?" tanya nya dingin seraya menatap Jean kembali. "Gak ada urusan nya sama gue." jawab nya santai, dan berbalik menuju mobil. Jawaban dan sikap tenang milik Ruby membuat Jean geram. Dengan satu tarikan kuat di lengan Ruby, dia berhasil membuat gadis itu kembali berbalik ke arah nya. Dan hanya satu kali sentakan, Ruby berhasil melepaskan cekalan Jean, lalu menatap mata musuh nya itu yang telah menajam dan penuh kegeraman. "Apa mau lo?" "Jauhin Genta! Atau lo---" "Atau apa?" potong Ruby dan menantang Jean. "Atau lo bakal ngehancurin gue. Iya? Lo pikir lo lahi ngomong sama siapa? Sama cewek cupu di sekolah lo, yang bisa lo tindas, dan lo ancam hm?" Ruby tersenyum sinis, dan melangkah mendekati Jean, membunuh jarak antara nya dan gadis itu. Mata nya bersitatap tajam dengan mata bulat milik Jean. "Gue gak pernah takut sama lo. Dan takut, gak akan pernah ada di kamus gue. Jadi kalau lo mau ngancem, lo salah orang." seru nya dengan suara santai namun penuh penekanan. "Gue gak ada urusan sama cowok lo itu. Dan gue juga gak peduli sama siapa pun. Termasuk sama lo. Jadi jangan pancing gue untuk peduli dengan lo, tapi pakai cara gue sendiri." Ruby memberi jeda pada omongan nya. "Dan lo tau kan, cara gue kayak apa?" Ruby mundur selangkah dari Jean, lalu menatap tangan lawan nya itu yang telah terkepal, memperlihatkan buku-buku jari yang memutih. Rahang gadis itu bahkan telah mengeras, dengan kilatan kemarahan di mata nya. Senyuman sinis hadir si wajah Ruby. "Wow ! Baru di umpan kayak gitu. Lo udah menunjukkan reaksi nya." kata Ruby sinis, dan kembali menatap wajah Jean yang tampak menahan emosi. "Gue tunggu, bom lo jatuh. Atau justru lo yang nunggu bom gue jatuh?" Setelah mengucapkan itu. Ruby melanglah menuju mobil nya. Sebelum dia mememasuki mobil, dia sempat beradu pandang dengan Genta. Pandangan yang tidak dapat di artikan. ☔☔☔☔☔ "Jadi Jean pacar lo?" Genta seketika menoleh pada sumber suara yang tepat di samping nya. Dia tidak menjawab, melainkan hanya menatap gadis di samping nya itu. "Berarti lo harus benar-benar minggat dari hidup gue." diam nya Genta adalah sebuah jawaban bagi Ruby. "Jangan coba-coba masuk terlalu jauh! Karna gue gak mau berhubungan dengan orang yang mempunyai hubungan dengan musuh terbesar gue." lanjut nya datar. Genta menghela nafas nya perlahan. "Gue mantan Jean. Tapi dia selalu ngusik hidup gue sampai sekarang. Dan gue juga gak ngerti kenapa dia ngomong kayak gitu ke elo." akhirnya dia membuka suara untuk pertama kali nya. "Gue boleh nanya gak?" Pertanyaan Genta lantas membuat Ruby menoleh untuk pertama kali nya pada cowok itu. "Lo punya masalah apa sama Jean?" tanya Genta sedikit hati-hati. Ruby menghembuskan nafas nya perlahan. Lalu kembali menatap ke depan, dengan kedua tangan yang masih betah berada di dalam saku jaket genk BlackHeart yang di pakai nya. "Banyak." Untuk sesaat Ruby tertegun lama setelah menjawab singkat pertanyaan cowok di samping nya itu. Sebuah ingatan masa lalu kembali muncul di benak nya, bayang-bayang wajah kejam dan iblis milik Jean berputar hebat di kepala nya. Tangan nya tanpa sadar terkepal erat, dan wajah nya mengeras menahan setiap gejolak emosi kemarahan yang sangat ingin di lepaskan nya. Menjatuhkan bom mematikan ke arah Jean, berharap beban hidup nya berakhir. Genta, tanpa disadari Ruby menoleh ke arah gadis itu. Dengan jelas dia dapat melihat rahang gadis itu mengeras, dengan mata yang berubah tajam. Dan suara itu pun terdengar geram seakan menahan amarah. Dia tidak mengerti akan perkataan itu, tapi dia tau, bahwa ada dendam tersembunyi di antara Rubt dan Jean. Reaksi ini juga tadi di lihat nya ada di wajah Jean, saat berhadapan dengan Ruby. Seakan ingin memangsa lawan bicara nya sendiri, dengan tatapan tajam dan sarat akan kebencian. Ruby perlahan menarik nafas nya, dan meredakan emosi yang bergejolak dalam jiwa nya, saat dia menyadari bahwa dia tidak sendiri di taman ini. Dia menoleh pada Genta yang terlihat melamun, wajah nya telah kembali normal seperti biasa. Datar dan dingin. "Ngapain lo masih disini?" cowok itu menoleh dengan sedikit kaget, menatap nya dengan kerutan di dahi. "Sana ke sekolah! Mau bolos?" "Oh. Ya udah bareng yuk!" Genta tanpa sadar menarik lembut lengan Ruby. Namun langkah nya terhenti saat dia menyadari bahwa gadis pemilik tangan hanya diam, tak bergerak. Dia menoleh, dan melihat Ruby yang memandang ke arah tangan nya yang di genggam nya. "Eh sorry!" Genta yang baru sadar segera melepas pegangan nya dengn sedikit salah tingkah. Terlihat jelas saat di langsung berpaling menatap lain. Ruby masih tertegun, bahkan saat pegangan itu telah terlepas. Dia menatap tangan kiri nya yang masih berada di udara. Entah apa yang terjadi, dia merasakan kehilangan saat genggaman itu terlepas. Kehilangan yang sama persis di rasakan nya, jika Dafa melepas genggaman di tangan nya. "Ruby!" Genta akhirmya kembali bersuara setelah dilihat nya gadis itu diam, masih pada posisi semula. Ruby tersentak, lalu mengalihkan pandang ke arah lain. Enggan untuk bersitatap dengan Genta. "Gue hari ini gak masuk." jawab nya singkat dan pelan. Niat nya yang tadi ingin ke sekolah, hancur sudah setelah bertemu dengan orang yang paling anti untuk di temukan nya di penjuru mana pun. Mood nya seakan hancur lebur. Genta mengangkat bahu nya. "Ya udah. Kalau gitu kita bolos bareng aja. Berhubung gue juga lagi males ke sekolah." Jawaban santai Genta membuat Ruby seketika menoleh pada cowok itu, yang telah menampilkn senyuman yang tidak jelas, dan alis yang di naik turun kan. Dia menghela nafas nya, lalu berlalu. ☔☔☔☔☔ Entah untuk ke berapa kali nya dalam hari Ruby menghela nafas nya. Namun kali ini lebih gusar. Pasal nya sejak tadi pagi, dia memutuskan untuk bolos, Genta tak beranjak dari samping nya, barang sebentar pun. "Lo ngapain sih disini?" tanya nya gusar. Genta menoleh. "Loh emang kenapa? Kan gue juga bolos." jawab nya simpel. "Trus harus banget lo disini terus?" "kan lo disini. Tadi kan gue bilang, kita bolos bareng, berarti dimana elo, gue juga harus di situ." Ruby mengusap wajah nya gusar, di sertai dengan hembusan nafas berat. "Mending lo cabut deh! Mood gue udah hancur sejak ketemu sama mantan pacar lo itu. Dan sekarang lo nambahin dengan kehadiran lo disini." Genta mengangkat bahu nya cuek, tidak peduli dengan ucapan Ruby sama sekali. Dia malah mengelurkan ponsel, dan memainkan nya. Sedangkan Ruby yang melihat hanya menggelengkan kepala nya, dengan wajah yang masih datar. "Lo biasa ya bolos sendiri. Trus cuman duduk di taman ini berjam-jam? Ini udah 4 jam loh kita disini." seru Genta seraya meilrik jam tangan nya. "Gak ada yang ngajak lo." balas Rubydingin tampa menatap lawan bicara nya. "Apa seru nya nih kalau kayak gini doang." Ruby kembali menghembuskan nafas berat, lalu menoleh pada cowok yang terus berkomentar itu. "Kan gue udah nyuruh lo buat cabut." tekan nya. Genta menatap Ruby dengan senyuman manis nan menawan yang di punya nya. "Kayak nya tempat sunyi dan sepi itu favorit lo ya?" Ruby tidak merespon, sampai di rasakan nya sebuah tangan kekar menggenggam jemari nya. Dia mendongak, saat Genta telah berubah posisi menjadi berdiri. "Ikut gue yuk! Gue tau tempat yang cocok buat orang kayak lo." Tanpa menunggu jawaban dari Ruby, Genta sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu menuju mobil Mercedes Bent milik nya. "Mobil gue?" "Udah tenang aja. Entar suruh pak Sentosa ambil aja." ☔☔☔☔☔ SMA Saga hari ini di buat sedikit bernafas lega, saat mengetahui bahwa ketua genk BlackHeart sekaligus queen bee sekolah tidak hadir. Paling tidak penderitaan mereka sedikit berkurang. Walau sebenarnya masih ada empat orang tersisa dari genk BlackHeart yang sama-sama kejam nya seperti sang leader. Bel istirahat telah berbunyi. Siswa siswi berhamburan keluar dan sebagian besar menuju kantin. Namun tidak dengan anggota genk BlackHeart, mereka berkumpul di meja Nesya. "Gila! Ruby berani banget gak hadir. Kan tadi ulangan Matematika." Ranaya lah yang pertama kali membuka pembicaraan. "Tadi gue wattshap dia. Tapi dia bilang di jalan." tanggap Nesya. "Di jalan nggak mungkin sampai jam segini." sanggah Stefi. "Atau jangn-jangan Ruby gak sekolah karna ada ulangan matematika. Atau malas ngerjain tugas pak Dadang." tebak Yuma. Stefi berdecih. Dan menatap malas pada satu teman nya itu. "Lo pikir Ruby itu orang yang punya otak minim. Takut tu bukan dia banget tau gak." "Ya trus kenapa dong? Lo gak ngechat lagi Nesy? biasa nya kalau dia bolos pasti ngajak." Ranaya menatap Nesya. "Udah. Gue juga coba telpon. Tapi hp nya gak aktif." balas Nesya seraya mengangkat ponsel nya yang tampak menelpon Ruby. "Aneh." gumam mereka hampir bersamaan, kecuali Nesya. Setelah sekian lama hening. Suara Yuma memecah keheningan tersebut. "Udah ah. Gue mau ke kantin, laper." seru nya dan bangkit berdiri. "Kalian mau nitip gak?" Ketiga nya menggeleng bersamaan. "Ya udah gue pergi dulu." pamit Yuma dan berlalu keluar kelas. Namun tidak selang beberapa menit. Yuma kembali masuk, namun kali ini lebih tergesa-gesa. "Kenapa sih lo?" tanya Stefi menatap Yuma dengan heran. "Tauk. Ngos-ngosan gitu." komentar Ranaya. Yuma masih berusaha mengatur nafas nya, dengan membungkuk kan tubuh. "Kenapa sih ni anak." "Udah pokok nya kalian ikut gue aja. Ayok!" Yuma menarik tangan Stefi yang terdekat berada di samping nya. Stefi dengan wajah bingung, hanya membiarkan Yuma menarik tangan nya entah kemana. Sedangkan Nesya dan Ranaya mengikuti di belakang,dengan tatapan tak kalah heran dan bingung nya. Sampai Yuma berhenti menarik Stefi tepat di tepi lapangan basket. Dia langsung menunjuk ke tengah lapangan yang di kerubuni oleh anak-anak SMA Saga. "tuh kalian liat!" Baik Nesya, Ranaya, dan Stefi mengikuti arah tunjuk Yuma. Mereka sama-sama membulatkan mata, menunjukkan reaksi kekagetan luar biasa. Kecuali Nesya, gadis itu malah teretgun dalam diam saat melihat siapa yang menjadi pusat perhatian dan antusias siswa dan siswi yang lain. "Sumpah. Itu---" Ranaya dan Stefi berucap secara bersamaan dan sama-sama menoleh pada Yuma. Yuma mengangguk. "Iya. Dia balik." "O my god, alamat perang nih, pertanda buruk banget." gumam Ranaya dan kembali menatap ke tengah lapangan yang masih di penuhi siswa dan siswi. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang di lihat nya. Di tengah keterkagetan Yuma, Ranaya, dan Stefi. Nesya tak kalah kaget, namun dia selalu bisa menyembunyikan reaksi seperti itu, sama hal nya seperti Ruby. Dia tertegun, menatap cowok yang tengah berdiri di tengah lapangan basket, tampak tersenyum sumringah, dan bercengkrama bersama Ralin. Di kelilingi oleh siswa siswi SMA Saga yang tampak antusias. Cowok tinggi, dan mempunyai kadar kegantengan yang tinggi.Jantung nya secara spontan berdetak cepat, saat mata nya dan mata cowok itu bertemu. Sama-sama sebuah tatapan, tanpa senyuman sedikit pun. "Kita harus bilang apa sama Ruby?" tanya Yuma menatap ketiga sahabat nya. "Jangan bilang apa-apa. Biar dia yang lihat pake mata kepala nya sendiri." Nesya yang menjawab dengan suara dingin dan tenang ciri khas nya. Lalu berbalik memasuki kembali gedung sekolah. ☔☔☔☔☔ Mobil Mercedes bent itu tepat berhenti di tepi jalan yang terlihat sepi. Namun yang menarik perhatian Ruby adalah pemandangan yang ada disana. Tidak jauh dari posisi mobil yang di tumpangi nya, ada sebuah rumah pohon dengan ukuran sedang berada di sana. Dan tempat duduk dan meja yang ada disana terbuat dari beton. Yang menambah menarik nya tempat itu adalah hiasan bunga di sekitar rumah pohon itu, seperti taman kecil yang sangat indah. "Turun yuk!" Lamunan Ruby buyar saat suara itu hadir. Tanpa menjawab apa pun, dia melangkahkan kaki nya turun dari mobil dan mengikuti Genta dari belakang. Hingga dia dan Genta sampai tepat di depan rumah pohon itu. "Ngapain lo bawa gue ke sini?"tanya Ruby menatap Genta datar. "Naik dulu yuk!" bukan nya menjawab Genta justru mulai menaiki tangga rumah pohon itu yang sama-sama terbuat dari kayu. Ruby masih diam di bawah, sampai Genta telah duduk manis di atas sana. "Ayolah!" dan sampai suara itu mengintruksikan nya untuk naik. Ruby menghela nafas nya perlahan, dan mulai menaiki setiap anak tangga yang ada. Setelah itu duduk di samping Genta. Rumah pohon itu tidak terlalu tinggi, tapi lumayan indah jika melihat penjuru dari atas sana. "Rumah pohon ini dulu nya di bangun sama nyokap bokap nya Tata. Ya buat tempat main gue sama dia aja. Kalau gue ke Indonesia." Genta mulai membuka suara nya, dengan pandangan terus ke depan. "Gue sama Tata sering banget ke sini. Biasa nya sih piknik disini sama nyokap bokap gue dan nyokap bokap nya Tata. Sampai akhir nya, Tata gak mau lagi ke sini, semenjak nyokap dan bokap nya meninggal." Ruby terus menatap ke depan, tanpa sedikit pun melirik pada Genta yang bercerita. Tapi bukan berarti dia tidak mendengarkan dengan baik. Dia sangat menyimak setiap apa yang keluar dari mulut cowok itu. "Dan jadilah tempat ini sebegai tempat dimana gue lagi jenuh sama kehidupan. Biasa nya gue kesini, kalau lagi pingin sendiri. Suasana nya mendukung banget." Genta kembali bersuara kali ini di sertai dengan senyuman tipis. Genta lalu menoleh pada gadis yang duduk di samping nya, yang sedaritadi tidak memberikan respon apa pun. "Dan lo adalah orang luar pertama yang gue bawa kesini. Bahkan Ralin aja gak tau tempat ini." kata nya seraya menatap lekat Ruby dari samping. Ruby tersenyum simpul. "Trus lo pikir gue tersanjung?" tanya nya menatap tanpa mintat pada Genta. Genta terkekeh pelan. "Gue tau gak mudah untuk bikin lo tersanjung. Tapi lo liat aja suatu saat nanti juga lo bakal tersanjung sama apa yang gue lakuin." ujar nya terlampau pede. Kembali seperti awal, Ruby tidak merespon, dan Genta mulai tidak mengeluarkan suara. Mereka sama-sama diam dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Tempat ini membuat Ruby mengingat seseorang, suasana hening yag mendukung membuat rasa rindu dalam diri Ruby kembali bergejolak hebat. Genta tanpa sengaja melirik ke arah Ruby yang tampak melamun. Dia tau, bahwa gadis itu tengah memikirkan sesuatu. Tapi enggan bertanya, karna sudah tau gadis itu tidak akan menjawab. Dia memilih untuk menatap ke depan lagi. "Kenapa lo memilih gue sebagai orang yang ingin lo deketin?" Sampai akhir nya suara Ruby membuat Genta kembali menoleh pada gadis itu. Bersamaan dengan itu, Ruby juga menoleh, sehingga tatapan mereka bertemu cukup lama. "Gue bukan orang baik, gue bukan orang yang pantas buat lo kenal." Genta tertegun memdengar lanjutan kata-kata Ruby itu. Dia terus menatap lekat manik mata hitam milik gadis itu. Mencari selama ini sesuatu yang tersembunyi di balik sorot dingin mata itu, menjadikan alasan kenapa dia ingin mengenal jauh sosok yang di anggap nya misterius ini. Teka teki yang harus di pecahkan nya. "Lo tau gak. Gak akan ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar jahat 100%. Dari 100% jiwa yang dia punya, pasti ada setengah atau seperempat persen jiwa kebaikan." "Tapi gue bukan orang yang kayak gitu. Gue gak pernah mikirin siapa pun dalam hidup gue, gue gak akan pernah mikirin orang itu menderita atau enggak setelah gue bully habis-habisan." suara Ruby mendadak naik satu oktaf di sertai dengan tatapan tajam nya. "Iya, lo emang orang jahat yang gak punya hati. Tapi itu menjadi karakter lo sekarang. Gue yakin seseorang berubah pasti ada alasan, dan gue juga yakin lo mejadi jiwa kayak gini karna sebuah alasan, yang lo sembunyiin dan gak ingin terekpos ke orang lain." Ruby termangu mendengar perkataan Genta. "Gue tau, orang kayak lo. Pasti pernah dalam hidup nya melakukan kebaikan. Walau tanpa lo sadari." "Lo tau kenapa gue bisa ngomong kaya gini?" Genta masih setia menatap lekat pada Ruby. Gadis itu menoleh kembali, bersamaan dengan dia yang mengeluarkan sebuah foto. "Karna lo dulu pernah tersenyum kayak gini." Ruby terdiam menatap foto tersebut. Foto yang memperlihatkan diri nya, dengan pose berbeda. Yang satu dia ingat, itu adalah foto saat dia masih merasakan kebahagiaan yang sempurna, foto itu di ambil saat dia liburan ke korea, terlihat dari senyuman yang hadir di sana. Dan foto yang satu nya adalah foto saat pertama kali, genk BlackHeart ada. Foto tanpa senyuman, hanya ada tatapan tajam. "Itu yang bikin gue yakin. Kalau lo berbeda 180° dari yang dulu. Gue gak minta lo buat cerita, karna itu memag bukan hak gue. Tapi lo harus tau. Perubahan diri yang terjadi atas masa lalu, gak akan bikin masa lalu itu terhapus begitu saja. Dan gak akan bikin lo merasa lebih baik." Ruby memalingkan wajah nya dari Genta, menghadap ke sebelah kiri di saat di rasakan nya setetes air mata jatuh di pipi nya. Dia tau, Ralin merindukan sosok nya yang dulu. Tapi dia jauh lebih merindukan diri nya sendiri. ☔☔☔☔☔
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD