Genta dengan sangat hati-hati mengobati iritasi yang terjadi di tangan Ruby. Dengam merendam tangan itu ke dalam air dingin, sebagai bentuk pertolongan pertama yang pernah di baca nya lewat artikel. Dengan tujuan agar meghilangkan rasa panas dan nyeri.
"Gue sedikit tahu sih, kalau masalah pertolongan pertama saat terkena cairan kimia gini. Tapi mungkin ini agak perih, jadi lo tahan ya?" Genta terus berbicara sembari mengeluarkan tangan Ruby dari rendaman. Lalu mengoleksi nya perlahan dengan salaf khusus untuk iritasi.
Genta melirik Ruby yang duduk di depan nya, dia memperhatikan wajah gadis itu yang sama sekali tidak menunjukkan ringisan atau wajah kesakitan. Gadis itu hanya diam, dengan tatapan lurus ke depan, seakan dia tidak merasakan apa pun.
"Udah?" untuk pertama kali nya Ruby membuka suara, saat Genta telah selesai mengolesi salaf ke tangan nya. Cowok itu mengangguk, dan hendak membaluti tangan nya dengan perban. Namun langsung di tarik nya.
"Tangan gue iritasi, bukan amputasi." kata nya dingin sembari memalingkan wajah ke arah lain.
Genta terus menatap gadis dingin di depan nya itu. Di dalam uks yang hening itu hanya di isi oleh diri nya dan Ruby.
"Tadi itu emang gak sakit ya?" akhir nya setelah sekian lama diam dan di baluti keheningan, Genta kembali membuka suara.
"Lo pikir aja sendiri, kena cairan kimia, meurut lo sakit apa enggak?" Ruby malah balik bertanya, kali ini menoleh ke arah Genta dengan wajah datar nya.
Genta menghela nafas nya. "Ya sakit lah."
"Trus ngapain lo masih nanya?"
Lagi-lagi Genta menghela nafas nya mendengar suara Ruby yang terdengar ketus di telinga nya. "Kenapa lo gak ngeringis, atau teriak-teriak gitu pas gue obatin? Cewek-cewek kan biasa nya kayak gitu."
Ruby menatap tanpa minat pada cowok di depan nya itu yang telah menatap nya dengan kedua alis terangkat. "Harus banget gue teriak-teriak alay kayak gitu. Gue kena cairan kimia doang, bukan mati kena tembak." balas nya sekena nya saja.
Genta spontan terkekeh pelan. "Lucu ya lo. Ngomong nya terdengar asal, tapi masuk akal juga." seru nya.
Ruby tidak merespon lagi. Dia kini malah menatap tangan kanan nya yang terlihat memerah dengan bintik-bintik kecil disana. Pikiran nya kembali melayang pada kejadian di laboratorium tadi. Sudah tiga tahun dia melakukan pratikum kimia, namun jangankan ketumpahan banyak cairan kimia. Setetes pun dia tidak pernah mencoba tetesan cairan kimia berbahaya itu. Tapi dia masih bersyukur, karna cairan yang tumpah bukan lah berupa air keras. Namun pikiran nya tidak berhenti pada kejadian itu saja, kejadian yang hampir sama dua tahun yang lalu juga terlintas di benak nya.
"Hati-hati dong Ruby! Ini tu cairan kimia, cairan berbahaya, termasuk keras juga. Kalau ini kena tangan kamu, kulit kamu bisa kebakar dan luka parah. Jangan ceroboh dong!"
"Iya iya. Orang gak sengaja juga."
"Ruby! Aku mohon ya sama kamu. Hilangin sikap ceroboh kamu. Karna belum tentu aku akan selalu bisa jagain kamu, dan belum tentu aku bisa selalu stay di samping kamu."
Ruby tersenyum samar saat mengingat omelan tersebut. Dulu, dia sangat sering mendengar omelan itu dari mulut seseorang jika dia bertindak ceroboh dan membahayakan diri sendiri. Dan dia pasti akan mengangguk, dan menjawab iya tanpa minat. Terkadang, dia juga akan mendengus bosan setiap di omeli. Tapi sekarang, dia seakan merindukan omelan itu. Merindukan setiap moment yang dia yakin sudah tidak akan dapat di ulang lagi.
Dan itu juga termasuk omelan terakhir yang di dengar nya, sebelum akhir nya sang pemilik suara dan omelan itu pergi untuk selama-lama nya. Meninggalkan nya, dan merubah nya menjadi sosok yang berbeda. Tanpa kecerobohan lagi, tanpa senyuman lagi, dan tanpa kebahagiaan lagi. Semua seakan hilang tertiup angin.
Genta tertegun sesaat melihat senyuman tipis milik Ruby. Pasal nya ini adalah pertama kali nya dia melihat gadis itu tersenyum, walau sangat tipis. Dan entah kenapa, dia terhipnotis dengan senyuman tipis milik queen bee sekolah itu. Hingga tatapan nya bertemu dengan tatapan Ruby, saat gadis itu mengakat kepala dan langsung terarah ke arah nya. Dalam waktu cukup lama, hanya mata lah yang saling berpandangan, tanpa kata. Dan menciptakan keheningan.
Sebuah kilasan bayangan datang seiring dia yang terus menatap mata milik Genta. Dengan gerakan cepat dia mengalihkan pandangan ke arah lain, sebelum bayangan itu kembali mengusai diri nya, dan menguras segala emosional yang ada dalam diri nya. Sampai dia tidak sanggup untuk sekedar menarik nafas lagi.
Suasana hening itu terpecahkan saat langkah kaki terdengar memasuki uks. Bukan hanya satu, melainkan 4 orang memasuki uks secara bergantian.
Ruby mengarahkan pandangan nya ke arah pintu masuk. Dan orang pertama yang di lihat nya adalah Pak Dadang.
"bagiaman keadaan Ruby, Genta?" tanya guru itu pada Genta yang masih saja menatap Ruby.
Genta yang sadar di tanya oleh Pak Dadang, mengalihkan pandangan ke arah guru itu "Bapak tenang saja, saya sudah mengobati nya." jawab nya.
Pak Dadang mengangguk. "Lain kali kamu hati-hati ya Ruby!" pesan nya pada Ruby. Gadis itu hanya mengangguk.
"Ruby udah hati-hati kali pak. Si Siska aja yang kurang ajar." sindiran itu berasal dari mulut Stefi. Gadis itu berdiri di tepi pintu masuk dengan bersidekap d**a, dan tatapan yang terlihat ketus.
Semua mata langsung tertuju pada Stefi. Termasuk Ruby, dan Genta. "Saya udah baik-baik aja pak. Bapak bisa melanjutkan mengajar." seru Ruby pelan, melirik Pak Dadang sebentar.
"Ya sudah, saya keluar dulu. Kamu boleh izin di pratikum kali ini Ruby. Dan kamu Genta, kembali ke labor." Genta mengangguk, namun masih duduk di kursi samping brankar uks, tempat Ruby duduk sekarang.
Stefi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, mulai melangkah masuk seiring dengan masuk nya Nesya. Sedangkan Ranaya, dan Yuma telah lebih dulu masuk, bahkan sudah berdiri di samping brankar yang di duduki Ruby.
"Siapa yang ngobatin nih? Pmr bukan nya lagi pelatihan ya!" kali ini Ranaya yang membuka suara, seraya menatap tangan Ruby yang merah.
"gue gak yakin kalau ini elo By." tambah Nesya dengan seringaian ciri khas gadis itu.
Ruby tidak merespon, sampai Nesya melirik Genta yang kini menatap nya. "Elo yang obatin?" Genta mengangguk. "berbakat." Nesya manggut-manggut.
Ruby mendesah. "Ngapain sih lo pada kesini? Sana balik ke labor!" usir nya dengan menatap malas ke arah teman-teman nya.
"Bilang aja lo mau berduaan kan sama Genta?" mendadak Yuma menggoda Ruby dengan senyuman geli milik gadis itu.
Genta yang sadar menjadi pusat perhatian ke tiga teman Ruby yang lain, memilih untuk pergi. "Gue ke lab dulu ya! kan udah ada teman-teman lo." seru nya.
Tanpa menunggu jawaban dari Ruby. Genta telah berlalu keluar, di ikuti dengan pandangan yang lain nya.
"Jadi, apa yang akan kita lakuin?" suara Stefi memecah keheningan uks.
Baik Ruby, Nesya, Ranaya, dan Yuma kini menatap Stefi yang masih bersidekap d**a, dengan satu alis terangkat.
"Maksud lo?" tanya Nesya dengan wajah datar dan super tenang milik gadis itu. Berbeda dengan Stefi yang terlihat jutek, galak, dan ketus.
"Maksud gue. Kita gak mungkin tenang aja kan akan kejadian ini? Siska harus di kasih pelajaran, biar dia tu gak seenak nya." suara Stefi meninggi.
"Mungkin dia gak sengaja Stef."
Stefi menatap tajam ke arah Yuma. "Gak sengaja? Kalian percaya gitu aja sama omongan tu cewek. Cih, gue sih enggak." sinis nya, seraya memalingkan wajah.
"Jadi maksud lo dia sengaja?" tanya Ranaya.
"Ya iya lah. Logika aja, jalan yang tersedia besar kali di lab. Kenapa dia milih jalan di samping meja Ruby. Dan tiba-tiba dia nyenggol Ruby, tanpa ada seseorang yang ngedorong dia sehingga keseimbangan tubuh dia tertanggu. Emang dia gak ngelihat Ruby berdiri di situ apa?" suara Stefi kembali terdengar menggebu-gebu sarat akan emosi. Dia menatap teman-teman nya satu persatu dengan mata yang melotot tajam.
"Pikiran lo terlampau drama Stef." komentar Nesya.
"Itu bukan drama. Itu cuman masalah analisis logika." bantah Stefi.
"Stefi ada benar nya juga sih. Masa iya sih, dia gak ngelihat Ruby berdiri di situ." kali ini Ranaya satu pendapat dengan Stefi.
Nesya menghela nafas berat nya. "Serahin ke leader aja lah." seru nya mengambil jalan tengah.
Kini empat pasang mata itu menatap ke arah Ruby yang masih diam mendengarkan perdebatan ke empat teman nya. Dan sekarang ke empat nya menatap nya, seakan meminta keputusan. Dia menarik nafas nya perlahan.
"Gue tau apa yang harus gue lakukan. Jadi kalian jangan khawatir."
☔☔☔☔☔
Ruby perlahan bangkit dari posisi berbaring nya, seraya menahan nyeri di tangan kanan nya yang tadi terkena cairan kimia. Tangan nya memang sudah tidak merasakan panas saat pertama kali kena tadi. Namun meningglkan nyeri jika di gerakkan. Dan dia harus berhati-hati dalam menggerakkan sebelah tangan nya itu.
Dengan pelan dia meraih tas dan jaket kulit yang tergeletak di sofa uks. Dia nemang menyuruh Yuma untuk membawakan tas nya, sebelum teman-teman nya itu pulang. Sekarang memang sudah pukul 03.00 sore, dan sekolah telah bubar sekitar 30 menit yang lalu. Dan Ruby memilih beristirahat di uks, ketimbang pulang. Karna dia yakin, tidak ada hal menarik di rumah itu, kecuali para pekerja rumah. Sedangkan yang lain di jamin pasti belum pulang. Termasuk Ralin yang kini tengah rapat osis.
Tanpa di sadari Ruby, dia sudah sampai di parkiran sekolah. Tepat nya di depan mobil bmw sport nya. Tangan nya berhenti di udara, saat akan mebuka pintu mobil. Karna sebuah tangan menahan pintu tersebut.
Ruby berbalik tubuh, berniat melihat siapa pemilik tangan tersebut. Wajah nya seketika berubah semakin datar dan sorot mata yang semakin dingin, saat melihat siapa pemilik tangan kekar itu.
"biar gue yang nyetirin lo. Tangan lo lagi cidera, jadi gue yakin gak bakal bisa nyetir dengan normal."
Ruby menghela nafas nya, saat kata demi kata itu keluar dari mulut cowok bernama Genta tersebut. Dia lalu bersidekap d**a, menatap sinis pada cowok itu. "Dibayar berapa sih lo sama Ralin buat ngurusin hidup gue?" sinis nya.
Genta mengerutkan dahi nya tidak mengerti. "Maksud lo?"
"Gue tanya ya sama lo. Urusan nya gue yang kenapa-kenapa di jalan sama lo apa an? Ada? Mau gue nyetir gak bener, kecelakaan dijalan sekalipun, itu gak ada urusan nya sama lo. Jadi berhenti ngurus gue!"
"lo boleh bantuin Ralin. Tapi bukan dalam ngurus hidup gue. Bantu dia dengan hal yang lain, jangan libatin gue dengan trik pedekate lo ke Ralin!"
Dada Ruby naik turun setelah mengucapkan kaimat-lalimat itu. Entah kenapa emosi nya seakan naik.
"Lo kenapa sih kayak gak nyaman gitu sama kehadiran gue?' tanya Genta menatap Ruby dengan tatapan teduh milik nya.
"Gue emang gak pernah nyaman. Karna apa? Karna lo tu ganggu hidup gue tau gak." balas Ruby sakartis, yang langsung membuat Genta tertegun tidak percaya.
"Jadi berhenti bikin hidup gue gak nyaman!"
Setelah mengucapkan kata-kata terakhir itu. Ruby mememasuki mobil nya, dan berlalu meninggalkan parkiran sekolah.
Genta masih termangu dengan semua perkataan yang keluar dari mulut Ruby. Suara gadis itu bahkan terngiang-ngiang di pendengaran nya. Bahkan mata nya mengikuti kepergian mobil itu sampai menghilang di gerbang sekolah.
"lo boleh bantuin Ralin. Tapi bukan dalam ngurus hidup gue. Bantu dia dengan hal yang lain, jangan libatin gue dengan trik pedekate lo ke Ralin."
Kata-kata itu berputa di otak Genta. "Kali ini bukan Ralin. Melainkan keinginan alam sadar gue untuk menggali hidup lo yang menurut gue misterius. Dan mempunyai sisi kelam yang berusaha lo tutupi." gumam nya seorang diri. Seraya menatap sebuah foto yang di dapati nya jatuh dari tas Ralin beberapa hari yang lalu. Dua foto yang saling bersanding dengan orang yang sama. Namun dengan pose yang berbeda 180°.
☔☔☔☔☔
Seperti malam-malam biasa nya. Ruby akan berdiri menghadap danau itu, jika dia merasakan hati nya tidak tentram dan membutuhkan ketenangan. Dan malam ini dia membutuhkan hal itu untuk diri nya.
"Ternyata lo suka juga ya tempat-tempat kayak gini."
Hingga sebuah suara hadir di tengah keheningan malam itu. Suara itu sudah cukup familiar bagi Ruby, maka tanpa menoleh pun dia tau siapa pemilik suara tersebut. Namun dia menghela nafas nya, tidak mengerti kenapa pemilik suara itu bisa hadir di samping nya. Tanpa di undang.
"Lo sering ya ketempat ini? Kemarin waktu mobil lo mogok, kayak nya gak jauh dari sini."
Ruby kali ini menoleh dengan tampang datar nya, bersamaan dengan menoleh nya Genta dengan wajah yang selalu lebih bersahabat di bandngkan nya. Lagi dan lagi, dia menghela nafas nya, kali ini lebih berat. "Mau lo apa sih?"
Genta mengerutkan dahi nya tidak mengerti mendengar pertanyaan dari suara dingin itu.
"Mau belajar jadi stalker?" tanya Ruby lagi, masih dengan suara dinigin dan tatapan datar. "Sekarang lo jawab. Mau lo apa? Dan gue akan kasih apa yang lo mau. Setelah itu gue minta jangan pernah muncul lagi di depan gue." kali ini suara Ruby terdengar lebih ketus.
Genta masih menatap gadis di depan nya itu. Dia sendiri bingung kenapa dia bisa berada disini, langkah nya tanpa di suruh bergerak begitu saja ke tempat ini, dan mata nya mengikuti setiap kemana pergi nya mobil Ruby.
Genta memilih memalingkan wajah nya ke arah depan, memandang tenang nya air danau di malam hari. Sebelum akhir mya menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan. "Gue sendiri juga gak tau kenapa gue bisa disini." dia membuka suara nya. "Semua terjadi begitu aja." sambung nya.
Genta lalu kembali menoleh pada Ruby. Menatap lekat gadis itu. "Gue gak mau apa-apa. Kecuali satu---" dia menahan perkataan nya, sebelum akhir nya bersuara kembali. "Gue hanya ingin dekat sama lo. Mengenal lo seperti anggota genk lo mengenal diri lo."
Lanjutan perkataan Genta membuat Ruby tertegun, terdiam dalam waktu lama. "Lo sadar gak, sama apa yang barusan lo omongin?" tanya nya dengan suara yang masih sama.
Genta mengangguk tanpa ragu. "Ya, gue sadar. Bahkan sangat sadar. Mungkin ini aneh bagi lo, tapi bagi gue, mengenal lo lebih jauh, itu keharusan."
Ruby mengehela nafas nya, lalu membalikkan tubuh membelakangi Genta. "Mending lo pikirin ulang kata-kata lo tadi. Dan lo sadarin lagi logika lo. Mana tau tadi lo mau bilang, bahwa ingin mengenal Ralin lebih jauh melalui gue. Bukan ingin mengenal gue."
"Kenapa lo selalu mengaitkan ini dengan Ralin?" suara Genta naik satu oktaf. Mendadak dia tidak suka, nama Ralin selalu di bawa-bawa.
"Karna itu yang gue pikirin. Logika nya, orang asing yang tiba-tiba masuk dalam hidup gue, tanpa permisi,ingin mengenal jauh tentang hidup gue. Lo pikir bisa?" Ruby berbalik menatap Genta. "Orang yang udah kenal bertahun-tahun sama gue aja, belum berani masuk terlampau jauh dalam hidup gue."
Genta terdiam atas perkataan Ruby tersebut, dengan mata yang masih menatap manik mata datar milik gadis yang menjadi lawan bicara nya itu.
"Satu lagi! Mending lo mikir dua kali untuk mengenal gue. Karna gue yakin, lo akan menyesal saat lo tau siapa gue sebenarnya."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu. Ruby melangkah menuju mobil nya, dan meninggalkan tempat tersebut bersama dengan Genta yang masih diam mematung di tempat nya.
Genta tidak mengerti dengan diri nya sekarang, seakan seperti cowok bodoh yang mengejar seorang gadis dingin dengan mulut tajam. Dengan harga diri nya yang telah di injak-injak berulang kali. Namun dia masih saja melakukan kebodohan itu. Ada apa dengan diri nya?
☔☔☔☔☔
"Woi! Ngelamun aja lo. Udah malem nih."
Genta tersentak kaget saat tiba-tiba Tata memukul pundak nya cukup kuat. Kondisi nya yang dalam keadaan melamun lah yang membuat nya terkaget.
"ck, ngagetin aja sih lo." kesal nya.
"lagian elo. Ngapain ngelamun tengah malam begini? Tidur sana!" Tata berucap seraya duduk di batu besar tepat di samping Genta.
"lo sendiri ngapain masih melek jam segini?" Genta balik bertanya pada sepupu nya itu.
"Gak bisa tidur gue." jawab Tata simpel, dan ikut menatap ke langit malam yang di penuhi bintang.
Genta menatap Tata dari samping. "Inget nyokap bokap?"
Pertanyaan itu membuat senyuman tipis hadir di wajah Tata, senyuman yang terlihat kecut, dia lalu menoleh pada Genta. "Tiap hari, tiap malam, tiap detik dan menit gue melangkah. Gue selalu ingat mereka." jawab nya pelan, sarat akan kerinduan.
Genta tertegun dengan kata-kata itu. Dia masih saja menatap Tata dari samping, gadis itu telah kembali menatap langit. Dia selalu tau bahwa tatapan teduh milik Tata, adalah dimana dia sangat merindukan kedua orang tua nya yang telah tiada. Dulu dia tidak mengenal Tata sedekat ini. Semenjak kedua orang tua Tata meninggal 5 tahun lalu, gadis itu di angkat oleh mama nya sebagai anak, karna mama Tata adalah adik dari mama nya sendiri. Terkadang Genta berpikir, nasib nya jauh lebih baik ketimbang Tata. Dia masih di dampingi oleh kedua orang tua nya sampai sekarang, sedangkan Tata telah di tinggal pergi, bahkan saat gadis itu masih labil dan butuh perhatian dan bimbingan.
"O iya. Gue denger tadi si queen bee kena tumpahan cairan kimia ya?" Tata mengalihkan topik ke arah lain. Dia menatap Genta penasaran.
"Tau darimana lo?"
Tata berdecih. "Berita itu bahkan udah nyebar, 1 jam setelah kejadian tau gak."
Genta mengangguk. "Iya tangan kanan nya."
Tata spontan tertawa. Yang langsung di tatap aneh oleh Genta. "Kenapa lo ketawa?"
"Ya bersyukur aja. Cewek kayak tu orang memang harus sekali-sekali dapat musibah. Biar dia tu gak semena-mena. Karma tuh." seru Tata dengan tawa yang masih tersisa.
Genta menggeleng kan kepala nya menatap Tata. Dia tau gadis itu masih belum terima tentang perlakuan Ruby dulu. "Jangan gitu lah. Jahat lo." tegur Genta seraya menyenggol lengan sepupu nya itu.
"Jahatan mana sama dia? Dia tu bukan jahat lagi. Tapi kejam kayak iblis."
"hus. Sembarangan banget sih lo."
"Emang bener kok." sahut Tata tak mau kalah, dengan pundak yang di naikkan.
"Tuh kan sikap lo yang kayak gini nih, yang kadang bikin gue males. Lo tu selalu aja ngejudge orang, dan selalu dendam sama orang lain." kata Genta.
"Ih kok ngejudge sih. Yang gue omongin itu fakta. Satu sekolah juga tau, siapa dia." balas Tata tak terima dengan ucapan sepupu nya itu.
Genta menatap serius Tata. "tapi lo pernah gak sih menganalisis seseorang secara dalam? Tanpa hanya melihat fakta di luar?"
Tata mengerutkan dahi nya, seakan tidak mengerti dengan perkataan Genta yang terkesan ambigu bagi nya. "Pernah gak lo denger kata-kata ini?"
"Orang yang terlihat keras di luar, sebenarnya adalah orang yang punya tingkat kerapuhan lebih tinggi."
Tata tampak berpikir. Lalu membuka suara nya setelah otak nya berputar, memahami ucapan Genta barusan. "Jadi maksud lo. Dia orang yang kayak gitu?"
Genta mengalihkan pandangan nya ke arah depan. Lalu mengangkat bahu nya. "Gak tau. Tapi dari yang gue lihat dia adalah satu diantara seribu orang yang mempunyai sikap keras, tapi gue yakin ada kerapuhan di balik itu yang berusaha dia sembunyiin."
Genta lalu kembali menoleh pada Tata. Menatap lekat sepupu nya itu. "Orang yang benar-benar mempunyai sikap keras gak akan memerdulikan orang-orang di sekitar nya, barang hanya dalam diam sekali pun."
☔☔☔☔☔